CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 54


__ADS_3

BAB 54


Sinar mentari bersinar lembut menyapa cakrawala, membawa binar semangat dan bahagia bagi orang orang yang menunggu kehadirannya, di sebuah kamar berukuran cukup luas serta serta mewah milik putri kesayangan Alexander Geraldy, Emira menatap bayangan dirinya di cermin setinggi dirinya, anggun dengan gaun pengantin simpel dan elegan berwarna putih, serta rambut yang hanya di kepang sederhana menyerupai rambut putri Elsa, dan jangan lupa ring berwarna putih yang melingkar di kepalanya, ring tersebut berhiaskan pita berwarna putih yang menjuntai sepanjang rambut nya.


Bella dan Gadisya tersenyum puas melihat hasil karya mereka, “Cantik sekali …” Gadisya ingin menangis rasanya, gadis remaja yang dulu begitu lengket padanya, kini menjelma menjadi gadis dewasa bahkan sudah ada lelaki tampan yang akan mendampingi dan menyayanginya seumur hidup.   


“Tersenyumlah … ini hari pernikahan mu,” Bella mengusap pipi Emira yang kemerahan.


“Iya … kamu akan menikah dengan lelaki yang sejak lama kamu sukai, kenapa masih saja cemberut.” imbuh Gadisya.


“Bukan pernikahan seperti ini yang aku harapkan kak, aku berharap kami menikah karena sama sama saling menyukai, bukan karena sebuah insiden seperti ini, dan lagi Arjuna tidak mencintaiku,” Keluh Emira.


Gadisya dan Bella saling tatap, “Yang kakak lihat tidak demikian, kedua mata Arjuna berbinar bahagia saat menatapmu, dan itu cukup membuktikan ia menyimpan sebuah rasa untukmu.”


“Yang Arjuna cintai itu Mira yang culun berkacamata, bukan Emira yang cantik.”


“Lalu apa masalahnya, kalian berdua adalah orang yang sama.” ujar Gadisya dan Bella bersamaan.


Emira menunduk menatap jari jari tangannya.


“Tetap saja aku merasa Arjuna mencintai gadis selain aku.” jawab Emira.


Sontak gadisya dan Bella tertawa terpingkal pingkal, ya sudah lah terserah … 


"Apa yang kurang dengan Arjuna kini, yang jelas dia muda, tampan, dokter berbakat, dan berasal dari keluarga cukup terpandang… kakak yakin cinta kalian akan subur dengan sendirinya." Tutur Gadisya. 


Emira menghela nafas berat, mencoba berdamai dengan apa yang kini ada di hadapannya. 


.

__ADS_1


.


.


Iring iringan Mobil itu berhenti di lokasi pernikahan yang sudah Alexander siapkan melalui koneksinya, tak ada yang istimewa, hanya kehadiran keluarga inti dan beberapa kerabat dekat, bahkan si kembar tetap pergi ke sekolah seperti biasa, karena suasana akan rusuh jika mereka semua ikut menghadiri pernikahan aunty dan om dokter kesayangan mereka. 


Richard dan Steven pun tak ketinggalan, mereka menghadiri upacara sakral dadakan tersebut bersama istri mereka, sayangnya kedua kakak perempuan Alexander tak bisa hadir karena mereka berdua kini menetap di luar negeri. 


Arjuna tampak rapi dan memang gagah dan tampan nya tak kaleng kaleng, jika menurun dari sang ayah, mama Yuna cukup bangga akan hal itu, karena ia kini dikelilingi tiga pria tampan menawan, dengan style tuxedo lengkap Arjuna berjalan dengan yakin di dampingi mama Yuna dan Ayah Satrio, serta Bisma dan beberapa kerabat dekat mereka untuk menyaksikan pernikahan dadakan ini. 


Jantung Arjuna bergemuruh hebat, ia grogi luar biasa menghadapi pernikahan yang sudah di depan mata, sampai sampai ia tak berani melirik mempelai wanita nya, takut semakin sesak nafas karena nervous, apalagi menatap wajah kedua calon mertuanya Arjuna sungguh belum bernyali. 


Segala persiapan telah usai, petugas yang bersangkutan menyiapkan semua dokumen yang diperlukan, kedua mempelai, saksi dan kerabat yang hadir tampak tenang dan khusyu menyimak ketika sumpah pernikahan terucap, disusul kemudian penandatanganan dokumen oleh kedua mempelai dan juga saksi yang bersangkutan, setelah dokumen sah secara negara dan agama, semua yang ada di ruangan tampak menarik nafas lega, Arjuna bahkan mulai mencuri curi pandang pada gadis yang kini menjadi istrinya, hanya satu kata yang sanggup menggambarkan penampilan Emira, 'cantik', dan senyum itu pun tersungging di bibir Juna. 


"Silahkan saling memasangkan cincin pernikahan," 


Arjuna melongo, cincin?? Ia bahkan tak terpikirkan membeli dua simbol pengikat tersebut. 


Plak 


Mama Yuna menepuk keras pundak Juna, "siapa bilang menyusul saja?" Protes mama Yuna. "Nih sudah mama siapkan."


Semalam mama Yuna menghubungi teman arisannya untuk memesan cincin tersebut, mama Yuna minta yang paling spesial dengan model kekinian, transaksi berlangsung cepat, kemudian perhiasan dikirim pagi ini melalui jasa kurir, yang benar saja, mau diletakkan dimana wajah keluarga Dewanto, jika memberi perhiasan ala kadarnya untuk putri kesayangan tuan besar Geraldy, dan lagi memiliki seorang menantu adalah hal yang paling diidamkan oleh mama Yuna. 


Mama Yuna membuka kotak beludru berwarna maroon tersebut, sepasang cincin berlian lengkap dengan kalungnya yang berkilauan. "Ini semoga ukurannya pas, semalam mama hanya menggenggam sekilas jari tangan istrimu." Bisik mama Yuna ke telinga Juna. 


"Terima kasih ma…" Bisik Juna. 


"Tak perlu seperti itu," Balas mama Yuna, ia mengusap pipi Emira yang kemerahan, "semoga kalian bahagia." Ucapnya tulus. 

__ADS_1


Pandangan mereka beradu, wajah Juna terlihat sangat bahagia, tak bisa ia sembunyikan, sementara Emira hanya mampu tersenyum tipis, agar tak terlihat murung di hari pernikahannya. 


"Berikan tanganmu…" Bisik Juna yang hanya didengar oleh Emira. 


Dengan kikuk gemetar Emira mengulurkan tangan kanan nya, pertama kali tangan mereka bersentuhan secara sadar, genggaman tangan Juna begitu hangat, berbanding terbalik dengan tangan Emira yang masih berkeringat dingin. 


Arjuna memasangkan cincin tersebut sesungguhnya ia gemetar, tapi sekuat tenaga ia tahan, jari lentik itu pun sama seperti dirinya yang juga masih tremor, ketika memasangkan cincin ke tangan Juna, entah karena grogi atau karena sebab yang lain. 


Kilat cahaya yang berasal dari blitz kamera, tak henti mengabadikan momen manis tersebut. 


Tanpa dikomando lagi Arjuna mengangkat dagu Emira yang masih menunduk menatap jari tangannya yang kini tersemat sebuah cincin, Arjuna mencium kening Emira, sebenarnya ingin mencium yang lain, tapi ia terlalu grogi masih malu malu karana disaksikan oleh banyak pasang mata, terutama sekali tatapan tak biasa dari lelaki yang kini menjadi papa mertuanya, namun tatapan Emira membuat rasa groginya mendadak pudar. "Jangan curi curi kesempatan," Tuduh Emira seketika. 


Arjuna tersenyum, ia menunduk hendak mencium pipi Emira, "Tak usah khawatir." Bisik Juna, kemudian mencium pipi kiri Emira "bagimu ini mungkin hanya formalitas, tapi tolong tersenyumlah di hadapan keluarga kita." Kemudian Arjuna beralih mencium pipi kanan Emira. 


Seringai kecil Juna tertangkap oleh kedua mata Emira. 


Arjuna serasa mendapatkan Jackpot, sebaliknya Emira harus meradang kesal dengan ulah lelaki yang kini berstatus menjadi suaminya. 


.


.


.


jangan lupa tanda cintanya gaeees... vote, like, komen, dan sajen sajen bahagia yang lain 😘😘


kritik dan saran boleh banget, ide juga othor siap menampung, dan semoga bisa othor aplikaaikan ke tulisan.


sarangeee

__ADS_1


❣️❣️❣️


__ADS_2