
BAB 92
masih dengan rambut terbungkus handuk, Emira berada di pantry apartemen tengah menyiapkan teh hangat dan segelas susu, usai menjalankan tugasnya sebagai istri, emira benar benar merasa tubuhnya lemas bagai tak bertulang, ketika tengah mengaduk teh hangat, ia merasakan sepasang lengan kokoh memeluknya, disusul kemudian kecupan bertubi tubi di tengkuknya yang terbuka, tentu pelakunya adalah sang suami, yang sejak usai aktivitas panas mereka pagi itu, terus menempel padanya seperti kertas dan lem.
“Sekarang jadi lebih wangi yang …” bisik Juna.
“Jangan bilang kalo mas mau lagi.”
Arjuna terkekeh gemas, “Nggak yang … aku cuma mau cium.”
Emra kembali mengerucutkan bibirnya, seraya menggerutu tak jelas, “Kalo cemberut gini, bikin aku pengen cium lagi.” Arjuna menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Emira yang masih terbuka, pasalnya Emira hanya memakai tank top dan rok denim selutut.
“Jangan modus, semakin lama semakin pro cari alasan.”
“Ya iyalah, ilmu merayu istri harus di upgrade sepanjang waktu, karena aku ingin menghabiskan sepanjang hidupku bersamamu yang.” bisik Juna langsung di telinga Emira.
Emira melempar lirikan jengah ke wajah Juna, walau sedikit kesal, tapi dada nya masih berdebar jika menatap wajah tampan suaminya.
Usai dengan aktivitasnya, Emira membawa teh dan susu tersebut ke depan TV, dengan Arjuna yang masih menempel padanya.
“Makasih yang,” Ucap Arjuna ketika menerima teh hangat dari tangan istrinya.
“Hari ini masih bertugas di rumah sakit kan?” tanya Emira sebelum Arjuna menyesap teh nya.
Arjuna mengangguk, “Iya … sekaligus mengajukan surat cuti.” Kemudian menatap wajah Emira, menanti ekspresi sang istri, namun Emira hanya membalas dengan tatapan datar.
“Yang … kalo aku gak di rumah sakit, kamu bakal kangen aku gak?”
“Entah …” jawab Emira enteng.
__ADS_1
Seketika Arjuna cemberut, yang di balas tawa kecil dari bibir Emira, lucu saja karena pria itu terlihat menggemaskan seperti anak TK.
.
.
.
Pagi hari pertama, Emira membantu suaminya bersiap, bukan ke rumah sakit, melainkan ke DENt PHARMATION, menggantikan sang ayah yang saat ini masih belum juga sadar, serta menggantikan posisi Bisma yang bahkan belum menjadi mahasiswa.
Beberapa hari yang lalu, usai menyerahkan surat pengajuan cuti, ke meja kepala dokter Bedah yakni abang iparnya, Arjuna bertandang ke Twenty Five Hotel menemui kakak ipar kedua nya, menanyakan banyak hal tentang seluk beluk bisnis, termasuk meminta bantuan pada Andre, ia ingin menangkap dua orang yang merampas aset tanah milik keluarganya, dan Andre menyetujui nya, dengan syarat Juna harus memberikan akses pada anak buah Hans yang pastinya akan mengakses rekaman CCTV perusahaan, termasuk memunculkan kembali rekaman yang telah dihapus dengan sengaja oleh orang kepercayaan ayah Satrio, dan Arjuna menyetujui nya.
Dan jika dipikir kembali, dibalik kebencian Juna pada Gunawan, Arjuna merasa tak sepenuhnya bernasib sial akibat ulah Gunawan, justru Arjuna merasa ketiban keberuntungan berlapis lapis, berkat ulah iseng Gunawan Arjuna bisa menikah dengan gadis yang sejak lama ia cintai, memiliki kakak ipar seorang dokter dan juga seorang bisnisman, bahkan menjadi menantu keluarga konglomerat.
Yang Arjuna takutkan hanya satu, jika suatu saat ia tak lagi bisa menjadi suami yang membahagiakan bagi Emira, rasanya ia pasti akan merasa menjadi lelaki tak berguna.
“Sudah … huuuu tampan sekali,” Puji Emira, ini kedua kalinya Arjuna kembali memakai kemeja dan celana formal, karena mulai saat ini Arjuna akan menggantikan posisi Presiden Direktur yang sedang kosong.
Arjuna memeluk istrinya erat, “Hari ini temani aku kerja, mau yah?”
“Kenapa?”
“Entah, sejak menikah kita belum pernah berpisah, dan sekarang membayangkannya saja aku tak sanggup, kita belum pernah terpisah sejak menikah, dan mulai hari ini kita seperti akan menjalani LDR,” Arjuna mengungkapkan keresahan hatinya.
“Tapi aku kan harus menemani mama di rumah sakit, baru setelah itu aku ke rumah mengambil mobilku,”
Arjuna melepaskan pelukannya, “Nggak yang, jangan bawa mobil sendiri, aku sendiri yang akan antar jemput kamu ke rumah sakit,”
“Kan jadwalku berubah ubah?”
__ADS_1
“Kalau jadwalmu berubah, kamu akan diantar sopir mama, tapi jika jadwal kita masih sejalan, aku sendiri yang akan mengantar dan menjemputmu.”
Emira mengangkat kedua pundaknya, “Baiklah, terserah mas saja, tapi lambaikan bendera putih, jika sudah tak sanggup.” Emira melingkarkan kedua lengannya ke leher Juna, membuat Juna semakin memeluk erat pinggang Emira, kemudian Emira menghadiahkan sebuah kecupan di pipi suaminya.
“Jadi … sekarang ikut aku yah?”
“Baiklah, ayo sarapan dulu, sekalian kita pamit mama, dan antar mama dulu ke rumah sakit.”
Keduanya bergabung dengan mama Yuna dan juga Bisma yang sudah siap di meja makan.
Emira mulai mengisi piring suaminya dengan nasi dan lauk pauk yang tersaji di meja, sementara Juna menyodorkan sepiring buah buahan beraneka macam serta warna ke hadapan emira, dan tanpa sengaja pandangan mereka bertemu, kemudian saling melempar senyuman hangat.
"Ma… ke rumah sakitnya sama Bisma aja yah?" Tanya Juna di tengah aktivitas makan mereka.
"Kenapa?" Tanya mama Yuna heran.
Juna tersipu sedikit malu, "Juna pengen hari pertama ditemani istri mah, gak papa kan?" Arjuna kembali memohon dengan wajah cemberut nya yang terlihat lucu.
"Haaaiizz dasar manja…" Ejek Bisma.
"Biarin…" Juna menjulurkan lidah nya.
"Ya sudah mama sama Bisma aja." Pungkas mama Yuna.
Acara makan kembali berlanjut, walau sudah mulai merasa normal, tapi… mendung masih terlihat jelas di wajah mama Yuna, karena Ayah Satrio belum juga sadar.
Usai sarapan Emira bergegas menukar pakaiannya dengan pakaian semi formal yang manis, dress terusan dengan model payung, panjang 5 cm diatas lutut, tampak serasi manakala keduanya jalan berdampingan menuju ruangan Juna.
Namun pemandangan menyesakkan menyambut kedatangan mereka. Gadis itu tersenyum ramah pada Juna dan Emira yang baru saja tiba.
__ADS_1
"Selamat pagi pak…" Sapa Ayunda dengan senyum semanis mungkin.
Segera saja hal itu membuat senyum di wajah Emira memudar seketika.