CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 94


__ADS_3

BAB 94


Pukul sebelas malam, Alea keluar kamar, ia bermaksud membersihkan piring bekas makannya, ia berpapasan dengan Reza yang hendak naik ke kamarnya.


Tapi sama seperti biasanya, Reza tak akan mengusik, jika Lea tak memancing pembicaraan, jadi mereka hanya berpapasan bagai orang asing yang tinggal serumah.


Karena sudah terbiasa dengan Reza yang dingin dan kadang menyebalkan, kini Lea terbiasa pula mengacuhkan pria itu.


Tapi keesokan harinya, keributan besar tak bisa terhindarkan, Reza yang baru bangun tidur turun ke lantai bawah hendak berolahraga di ruangan Gym, ketika melewati aquarium kecil tempat ikan kesayangannya tinggal, seketika ia meradang marah, pasalnya ikan biru comel yang kini menjadi ikan kesayangannya tiba tiba mengapung, si biru yang biasa bergerak lincah mengelilingi tempat tinggalnya tersebut, kini lemas mengambang mengenaskan.


“Leleee … !!!” seketika teriakan Rea menggema di seluruh sudut rumah besar tersebut, Reza bahkan menggedor pintu kamar Lea dengan kasar, ia tak menyangka Lea benar benar melaksanakan kata katanya yang ingin membunuh si biru kesayangannya. 


Brak !!!


Brak !!!


Brak !!!


“Leleee … !!!” Panggilnya sekali lagi, namun tak ada sahutan dari dalam.


sementara itu di dalam kamar mandi Lea merasa mendengar suara Reza sedang berteriak di depan kamarnya, bahkan gedoran pintu pun terdengar dengan jelas di telinga nya, “Duh … apaan lagi sih pagi pagi udah bikin heboh aja, biasa juga anteng damai gak saling menyapa.” gerutu Alea yang buru buru keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk sebatas menutupi dada hingga pertengahan pa ha nya.


Lea mengabaikan kondisi kamarnya yang masih berantakan, bahkan sepatu yang biasa dipakai kerja, masih tergeletak mengenaskan di dekat pintu tanpa mengetahui dimanakah pasangannya.


Lea membuka pintu kamarnya begitu saja, lupa bahwa ia hanya menutup tubuhnya dengan selembar handuk karena terburu buru, takutnya ada hal darurat yang membuat Reza berteriak pagi pagi. 


“Apaan sih?” jawab Lea ketika pintu terbuka, dan ia bertatapan dengan Reza, yang wajahnya sudah horor menyeramkan.


“Kamu apain Dory ku?” Tanya Reza tanpa basa basi.


“Apaan sih pagi pagi udah nanya gak jelas.” Gerutu Alea kesal, karena mandinya terganggu hanya gara gara seekor ikan.


“Kutanya sekali lagi yah, Kamu apain Dory ku?” Reza melotot dan masih ngotot menanyakan pertanyaan yang sama.


“Ikan apa sih mas, aku bahkan belum keluar kamar sejak bangun tidur.” Jawab Lea keukeuh karena merasa ia tak melakukan apa apa pada si Dory kesayangan Reza.


“Dory ku mati tau gak?”


“Nggak.” jawab Lea tanpa merasa berdosa.


“Kamu pasti beneran kasih sianda buat si Dory, iya kan? ngaku nggak?”

__ADS_1


“Nggak lah, ngapain aku ngeracunin ikan, gak ada untungnya, lagian mana buktinya kalo aku yang ngeracunin si Dory?”


“Kamu …” Reza semakin melotot tajam, melihat wajah Reza yang semakin menyeramkan, Alea menelan ludah ketakutan, hingga tanpa sadar kakinya bergerak mundur, dan Reza bergerak semakin maju mengikuti Alea.


“Beneran mas, berani sumpah, aku nggak ngapa ngapain si Dory, kali aja si Dory mati karena kekenyangan makan vitamin.”


“Ya gak mungkin lah, kalo kekenyangan Vitamin, si Dory bakal makin sehat, bukannya mati.” Reza bergerak maju hingga membuat Lea terpaksa mundur, "kamu…"


"Mas… plis, aku sedang dalam kondisi gak layak menerima tamu." Dengan tegas Lea mengingatkan, karena semarah apapun Reza perihal ikan kesayangannya, ia tak dibolehkan masuk ke kamar Lea, terlebih Lea sedang mengenakan penutup tubuh seadanya. 


Reza terkesiap, kemudian mengamati penampakan tubuh Lea, mendadak wajahnya memerah, "baiklah, maaf… cepat berpakaian, aku tunggu di luar." Reza berbalik dan meninggalkan kamar Lea begitu saja. 


Sepeninggal Reza, Lea menghembuskan nafas lega, gadis itu kembali mengunci pintu kamarnya, kemudian bergegas memakai pakaian, masih pakaian santai karena waktu kerja, masih dua jam lagi. 


Setelah memastikan kondisi kamarnya rapi, Lea ke luar kamar dari kamar, Di ruang tengah Reza masih berdiri mematung di depan bangkai ikannya, ia melirik Lea dengan tatapan dingin nya. 


"Lihat… ini pasti ulah mu kan?" Tuduh Reza. 


"Ya ampun harus dengan apa lagi aku membuktikan, kalau aku tak pernah memberi makanan apapun untuk si Dory, bahkan setetes air aja nggak." Lea kembali membela diri. 


"Kamu memang gak pernah memberikan apa apa untuk Dory, tapi Siapa yang tahu, kalau kamu hanya berbohong,"


Jleb… 


Kedua bola mata nya berkaca kaca, Lea tak ingin lagi membela diri, karena yang nampak di mata Reza hanyalah kesalahan, walau bukan ia yang berbuat. 


"Baik… kalo memang si Dory bisa membuatmu bahagia, aku akan carikan penggantinya, hari ini aku cuti, terserah mas izinkan atau tidak, kalo memang tak diizinkan, pecat saja aku." Lea berbalik kembali ke kamarnya, membawa rasa kecewa yang bertumpuk. 


Si Dory lebih dari sekedar ikan bagi Reza, walau Reza tanpa sengaja membeli si ikan biru comel tersebut, tapi lama kelamaan Reza merasa damai dan tenang hanya dengan memandang si Dory berenang kesana kemari di dalam kolamnya, dan yang terpenting ikan berwarna biru tersebut selalu membuat Reza teringat akan Emira, cinta pertamanya. 


Dan kini si Dory mati, ketika ia semakin jatuh cinta pada ikan tersebut, tentu ia menolak mengakui bahwa si Dory mati karena sudah takdir, ia yang tengah patah hati lebih suka mencari siapa yang bersalah, daripada mencari bukti bukti kenapa ikan tersebut tiba tiba mengambang di kolam nya sendiri. 





"Aunty…"


"Aunty…"

__ADS_1


"Aunty…"


Kelima keponakan kecilnya berlarian menyambut kedatangan Emira. 


"Aunty… kangen banyak banyak." Ujar Luna yang langsung memonopoli pelukan sang aunty kesayangan. 


Emira menghirup aroma wangi shampo dari rambut Luna. "Aunty juga kangen sayang." 


"Aunty… mana uncle? Aku mau menunjukkan robot baru ku." Daniel si sulung berpura pura cuek dengan kehadiran sang aunty, padahal hampir setiap waktu ia menanyakan keberadaan Emira. 


"Kamu tidak rindu aunty?" Goda Emora pada si gembul menggemaskan tersebut. 


"Nggak," Jawabnya dengan berpaling muka. 


Keempat adik adiknya sontak tertawa keras.


"Bohong aunty, baru bangun tidur aja, dia udah nanyain aunty." 


"Kemarin sore dia merajuk, nangis di pelukan opa, katanya pengen dianter ke rumah uncle, pengen tidur sama aunty." 


Wajah Daniel semakin bersemu merah, karena adik adik yang tak pernah bisa menjaga rahasia hidupnya,  sementara keempat adiknya tersenyum mengejek padanya, yang belum mau mengaku. 


"Baiklah… karena Daniel tidak merindukan aunty, jadi sekarang aunty kembali ke rumah sakit saja yah?"  Pancing Emira. 


"Jangaaaaann!!" Akhirnya Daniel bersuara. 


"Kalo gitu, sini peluk aunty." 


Karena semua rahasianya sudah bocor satu persatu, Daniel pun mengakui bahwa ia pun merasakan rindu yang teramat sangat pada sang aunty, walau dulu mereka seperti anjing dan kucing jika bertemu, tapi jika beberapa hari saja Daniel tak melihat Emira, ia akan terus menerus bertanya pada kedua orang tuanya. 


Si gembul menggemaskan itu pun berlari ke pelukan Emira. 


Pagi tadi usai sang suami berangkat kerja, Emira menemani mama Yuna di rumah sakit, dan siang harinya ia minta izin pada mama mertuanya untuk menemui kelima keponakan lucunya, Emira sudah tak tahan ingin bercengkrama dengan mereka, menghabiskan siang harinya sebelum kembali ke rumah sakit untuk mengisi shift jaga malam. 


.


.


.


othor sedang menyiapkan novel si kembar dan edisi nostalgia opa dan oma mereka, jadi plis jangan protes karena pastinya othor hanya mampu up 1 bab setiap hari nya, tapi jangan khawatir tetap 1000 - 1200 kata setiap hari yah

__ADS_1


sarangeeee 💖


__ADS_2