
BAB 130
Menjadi orang tua baru, seperti membuka jalan menuju dunia baru, dengan warna baru, orang baru pastinya, dan juga tantangan baru, itulah peran yang saat ini dijalani oleh mereka, kehadiran Baby Kenz melengkapi hidup keduanya, mulai dari adaptasi dengan suara tangisan, serta harus merasa tersisih karena ternyata orang orang di sekitar lebih memperhatikan sang baby yang langsung membuat semua orang jatuh hati, terlebih baby Kenz adalah cicit perdana eyang Suryo Dewanto, karena Ayah Satrio adalah putra sulung keluarga tersebut.
“Sini mah … ayah juga pengen gendong, sejak selesai mandi tadi mama terus yang menggendongnya.” Rengek Ayah Satrio seperti anak kecil yang meminjam mainan baru.
“Sek to mas, mama belum puas lihat wajah Kenz,”
“Lha mama pikir aku sudah puas?” bantah ayah Satrio tak terima, karena sang istri begitu memanjakan cucu pertama mereka. “Lagi pula keseringan digendong membuat bayi jadi manja.”
Begitulah keributan yang terjadi setiap hari di rumah keluarga Dewanto, kehadiran Kenzo seperti sebuah keajaiban, karena setelah Bisma, tak ada lagi tangisan bayi di rumah tersebut, bahkan setelah pulang kuliah, Bisma buru buru mandi dan segera meminta jatah menggendong keponakan tampannya tersebut, sementara kedua orang tuanya harus rela gigit jari di siang hari, karena tugas mereka adalah menjaga baby Kenz ketika di malam hari meminta di temani begadang.
Seperti malam ini, baby Kenzo tampak belum mau di lepaskan, ia maih nyaman dalam dekapan sang ayah, bahkan ketika Emira bermaksud mengganikannya, yang terjadi adalah tangisan baby Kenz, jadi semakin kencang.
“Ya sudah … kamu istirahat saja yang, biar aku yang jaga baby Kenz.” pinta Juna yang tak tega melihat raut muram di wajah istrinya.
“Bukan begitu mas, aku nyaris tak pernah menggendongnya, baby Kenz hanya bersamaku ketika meminta ASI, dan selebihnya mama, ayah, atau Bisma yang menggendong nya.”
Jika para kaum ibu umumnya akan bersyukur ketika ada yang menggantikan tugasnya, maka Emira bersikap sebaliknya, karena ini pun pengalaman pertama nya menjadi seorang ibu, jadi ia sangat excited.
Juna mengusap kepala sang istri dengan sebelah tangannya yang lain, kemudian mengecup nya perlahan, “terima kasih yang, karena kamu sudah jadi ibu yang luar biasa buat baby Kenz, karena aku yakin, walau sekarang baby Kenz selalu melekat dalam pelukan orang lain, tapi tak ada yang bisa menggantikan peranmu dalam hidup baby kenz.” hibur Juna.
Emira tersenyum sambil memeluk pinggang Juna kemudian mencuri curi ciuman di pipi baby Kenz yang mulai berisi di usianya kini yang menginjak satu minggu.
“Sepertinya sudah tenang, aku akan coba menidurkannya,” Juna pun membawa baby Kenz ke ranjang mereka.
“Lho mas, kok ke sana?” tanya Emira heran, karena baby Kenz sudah punya tempat tidur sendiri.
“Nggak papa kan? kalau dia tidur diantara kita, siapa tahu tidurnya lebih berkualitas, karena ada ayah dan bunda di dekatnya.”
Pelan dan sangat perlahan Juna menidurkan baby Kenz di tengah tengah tempat tidur, kemudian menutupi tubuh mungil sang bayi dengan selimut lembut, agar bayinya tetap merasa hangat.
“Kemarilah …” Juna menepuk sisi kosong di sebelah kanan baby Kenz, sementara dirinya berada di sisi kiri baby Kenz.
__ADS_1
Akhirnya dengan senyum mengembang di wajahnya, Emira pu bergabung bersama suami dan anak nya, “Boleh juga idemu mas, dengan begini, aku bisa tetap memelu baby Kenz, tanpa takut ia terjatuh kalau aku ketiduran.”
“Hehehe … lagi pula tak ada yang bisa kita lakukan di ranjang ini, selain berpelukan dan berc*iuman, yaaahh sedikit Cu*mbuanlah biar gak pahit pahit amat puasa nya.” kelakar Juna, yang membuat Emira membelalakkan kedua matanya sekaligus mencubit pinggang Juna.
“Aw … sakit yang,” Keluh Juna.
“Rasakan … mesum aja bawaanya.”
“Ya … kan alami yang, normal, aku kan lelaki biasa yang masih haus bela*ian, lagipula aku kan hanya meminta nya dari mu, bukan dari yang lain.”
Gerutu Juna yang tak lagi Emira hiraukan, karena akan panjang sekali jika membahas urusan ranjang mereka, yang sementara waktu harus terhenti.
.
.
Oeekk … Oeekk … Suara tangid baby Kenz menggema di setiap sudut rumah, padahl para orang dewasa sudah bergantian menimang bayi tampan tersebut, tapi tangisnya semakin kencang, seakan akan ingin mengatakan sesuatu.
“Sayang .. kenapa sih nak, bunda gak tahu, adek mau apa?” tanya Emira lirih mencoba mengajak baby Kenz berbicara.
“Masih belum bisa tenang juga?” tanya Juna yang tergopoh gopoh pulang dari kantor setelah mendengar kabar bahwa baby Kenz sedang tantrum.
“Belum mas … gimana dong?” tanya Emira panik.
“Kita ke rumah sakit, tadi di perjalanan aku sudah telepon abang,”
“Baiklah … aku ganti baju dan menyiapkan perlengkapan baby Kenz.” pamit Emira ketika menyerahkan baby Kenz ke tangan sang ayah.
“Mama ikut yah …” pinta mama Yuna yang tak mau ketinggalan momen bersama sang cucu.
Juna hanya mengangguk, sambil menimang baby Kenz yang masih menangis walau lirih, ia sedikit tenang ketika berada di pelukan Juna.
.
.
__ADS_1
Kevin sudah menunggu di depan emergency room, walau memeriksa kasus seperti ini bukanlah tugasnya, tapi karena baby Kenz adalah keponakannya, maka Kevin sendiri yang akan turun tangan, memastikan keadaannya.
Setelah baby Kenz di baringkan di brankar pasien, Kevin segera melakukan pemeriksaan awal dengan menggunakan stetoskop, memeriksa d a d a dan perut nya, seorang perawat membantu dengan memeriksa suhu tubuh baby Kenz, “37’ … agak demam dok.” lapor suster tersebut.
“Tak apa, bukan demam tinggi, mungkin ini hanya efek samping.” jawab Kevin tenang, kedua tangannya mulai menepuk pelan perut baby Kenz, seketika ia tahu apa penyebab tangisan baby Kenz. “Suster, tolong panggilkan kedua orang tuanya.
“Baik dok,”
Tak lama kemudian, Emira dan Juna mendatangi Kevin, “Kapan terakhir kali dia BAB?” tanya Kevin.
Emira terkejut, saking paniknya ia sampai melupakan bahwa hari ini baby Kenz memang belum BAB, padahal di usia seharus nya ia masih BAB minimal dua kali sehari.
Emira tampak sedikit bernafas lega, “karena panik aku jadi lupa melukan pertolongan pertama pada anakku sendiri.”
Kevin tersenyum, “Tidak papa, itu wajar, siapapun pasti mengalaminya,” Jawab Kevin.
“Lalu apa yang harus kita lakukan bang, tak mungkin memberinya obat pencahar kan?” tanya Juna yang masih awam dengan pertolongan pertama pada bayi.
“Mudah lakukan saja senam bayi, biasanya gerakan ini menjadi stimulus ketika bayi sembelit atau kembung.”
Kevin menyatukan kedua kaki baby Kenz, kemudian menekuk lutut dan paha baby Kenz hingga menyentuh perut, seperti orang dewasa ketika jongkok, hanya saja pada bayi cukup melakukan gerakan ini agar pencernaannya lancar.
Beberapa menit Kevin menstimulasi baby Kenz dengan gerakan tersebut, baby Kenz terlihat nyaman, dan tangis nya pun mulai reda, tak lama kemudian, yang mereka tunggu akhirnya keluar juga, baby Kenz berhasil mengeluarkan kotoran dari perut nya, dan para orang dewasa di sekitarnya ikut tersenyum bahagia.
“Terima kasih dok.” Ucap mama Yuna senang, ketika Emira sedang menggantikan popok baby Kenz. “sudah lama sekali tante tidak berinteraksi dengan bayi, jadi hal hal kecil seperti ini pun jadi terlupakan.” ucap mama Yuna penuh sesal.
“Sama sama bu … tak apa, ini wajar, anggap saja proses belajar bagi kedua orang tua baru tersebut.” Jawab Kevin tenang. “Apakah setelah ini baby Kenz perlu dirawat inap dok?”
“Oh tidak … setelah ini bisa langsung di bawa pulang, tak perlu perawatan lanjutan.”
“Bang … terima kasih yah.” Ucap Emira, seusai menggantikan popok baby Kenz.
“Sini … biarkan papa gendong bayi tampan ini.” Kevin mengambil alih baby Kenz dari pelukan Emira, “Hei tampan … anak papa, apa kamu ingin menemani papa jaga malam?” gurau Kevin, dan seperti mengerti pertanyaan Kevin, baby Kenz tiba tiba tersenyum, “wah wah wah … apa kamu serius dengan jawaban mu? jangan menyesal yah?”
Lagi lagi baby Kenz tersenyum dengan kedua mata masih terbuka sempurna, walau belum bisa melihat jelas, tak ayal lagi orang orang dewasa di sekitarnya pun ikut tertawa bahagia melihat senyum di wajah baby Kenz.
__ADS_1