CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 114


__ADS_3

BAB 114


Arjuna pun menoleh ke asal suara, meski ia cukup terkejut, namun sikapnya datar saja, justru kesal karena bertemu dengan orang orang yang tak ia harapkan, terlebih ia sedang bersama Emira, bukan apa apa, ia hanya takut istrinya tersinggung, karena sudah yakin teman temannya akan mulai membully sang istri, karena penampilan culunnya saat ini. 


"Ngapain lo pada? Ganggu gue aja, sana jauh jauh … hush …  hush…" Usir Juna kesal.


"Ya elah gitu amat ama temen, santai aja kali." Egi. 


"Iya nih, kaya ketemu siapa aja." Rafi. 


"Jadi beneran nih sama si culun? Gak menyesal?" Atar memastikan. 


"Jadi sepasang tangan yang nongol di IG lo… tangannya si culun?" Rendi mulai mengamati tangan Juna dan juga Emira. 


Juna sama sekali tak menghiraukan kalimat teman temannya, ia hanya sibuk memikirkan perasaan sang istri, tapi Emira yang ia khawatirkan justru bersikap santai, lebih memilih melanjutkan memakan hidangan di hadapannya, sebelum terlanjur dingin, Menyadari tengah di tatap, Emira pun mendongak. "Kenapa mas?" Tanya Emira. 


"Are you okay?" Tanya Juna khawatir. 


Emira mengangguk, karena kini mulutnya penuh makanan. 


Juna berpaling menatap keempat kawan kawannya, "kalian lagi gak ada kerjaan?"


"Binggo… benar sekali, karena ini hari minggu." Jawab Rendi. 


Juna hanya men d es ah kesal, "kenapa sih? Gitu amat ama kami, lagian kami kesini juga mau makan, kapan lagi dapat traktiran." 


"Traktiran?"


"Iya… Ini si Egi dapet gaji pertama,"


"Gaji pertama? Kamu pindah kerja lagi?" Tanya Juna pada Egi. 


Egi mengangguk bangga. "Yooii.." Jawab nya bangga. 


"Kerja dimana lagi lo?" 


"Di mall ini? Gue asisten baru pak Dirut yang empunya emol ini," Jawab Egi, "g i l a tu orang, gak kira kira kekayaannya, bener bener gak habis dimakan tujuh turunan," Dengan semangat Egi memulai ceritanya. 


Emira yang semula acuh, mendadak menatap Egi, yang kini berstatus sebagai asistennya Reza. 


"Ah biasa aja kali." Jawab Juna yang malas menanggapi ocehan Egi. 


"Kok gitu sih? Lo hargai dong kalo temen lagi cerita, masa gak seneng, temen baik lo ini dapet kerjaan baru, dengan gaji lebih gede, plus fasilitas lebih menggiurkan." Rafi menambahkan. 


"Yah… okelah gue seneng sih, dia dapet kerjaan baru, tapi jangan kaya yang sudah sudah, karena males, dan gak suka tantangan baru, akhirnya resign, begitupun seterusnya setiap dapat pekerjaan baru, seperti memutar kaset rusak." 

__ADS_1


Egi yangendengar kalimat Juna hanya garuk garuk kepala, "iya sih… tapi kali ini beneran, gak akan coba coba lagi, beneran kali ini bos gue baik banget, masih muda lagi." Jawab Egi membanggakan sang atasan. 


"Btw… lo belum jawab pertanyaan gue, postingan lo waktu itu, beneran tangan kalian?" Tanya Rendi. 


Juna menatap Emira, kemudian mengangguk. 


"Lo pacaran beneran ama si culun?"


"Bukan pacaran gaes, kami udah married, nih…" Juna menunjukkan cincin di jari kanan nya, tak lupa ia juga menunjukkan jari tangan Emira. 


"What…" Seru keempat kawan Juna berbarengan. 


"Seriusan?" Rafi memastikan. 


Arjuna kembali mengangguk yakin. 


"Waahhh gue gak nyangka, Lo bener bener ngebuktiin kata kata lo."


"Jangan nyesel yah?" 


"Kenapa gue harus menyesal? Bini gue baik dan cantik dimata gue, terserah kalau kalian gak menganggap dia cantik, kalian bilang dia membosankan kan? Nggak juga tuh, kamar gue jadi rame semenjak married ama dia, sebentar lagi bertambah rame setelah anak kami lahir." Juna mengungkapkan perasaan nya, rasa bahagia dan syukur tak terhingga karena menikahi wanita yang selalu diejek teman temannya hanya karena dia culun. 


"Yaa kan lo bakal terus terusan sama dia, seumur hidup loh, mending lo pikir lagi deh."


Keempat temannya benar benar tak habis pikir dengan pilihan hati Juna, sementara Juna lebih heran lagi dengan pemikiran teman temannya, apa masalahnya jika seseorang memiliki wajah culun? Bukankah mereka tak berhak merendahkan seseorang hanya karena ia berpenampilan culun? Benar benar kuno, mereka bahkan sudah hidup di era serba modern, tapi pola pikirnya masih tradisional. 


Makanan yang di pesan Egi, Rendi, Atar, dan Rafi pun tiba, mereka makan sambil sesekali berbincang, dengan Juna walau pria itu ogah ogahan, bahkan ia pun jadi malas makan, hingga masih menyisakan dua mangkuk mie yang belum tersentuh sama sekali, tapi Juna bersyukur, setidaknya Emira tetap makan dengan santai, walau ocehan teman teman Juna sedikit menyebalkan, dia hanya mengingat kalimat Juna, percaya pada ketulusan hati sang suami. 


Emira yang sejak kedatangan teman teman Juna hanya sibuk makan dan irit bicara, tiba tiba melambaikan tangan, seolah melihat orang yang kebetulan ia kenal. "Siapa yang?" Tanya Juna penasaran. 


"Reza…" Jawabnya pelan, hingga tak terdengar oleh kawan kawan Juna. 


"Mana?" 


"Tuh masih di seberang sana, dia lagi jalan kesini kaya nya." 


Juna mengikuti arah pandang Emira, dan benar saja dari kejauhan ia melihat Reza dengan pakaian semi formal, tengah berjalan mendekat dengan wajah full senyuman. 


Reza langsung mendekat ke meja Emira, "pak Dirut lagi ngapain di sini?" Tanya Emira. 


"Biasa inspeksi keliling mall…" Jawab Reza. 


"Udah makan belum?" Tanya Emira. 


"Belum." Jawab Reza merengut. 

__ADS_1


"Sini duduk, nih kebetulan ada dua porsi yang masih utuh." Arjuna mempersilahkan sahabat istrinya tersebut, agar makanan yang ia pesan tak mubazir. 


"Asyiiikkk kapan lagi ditraktir dua dokter muda." Seru Reza senang, padahal bagi Reza sangat mudah jika ia ingin makan makanan tersebut, tapi bisa kembali makan satu meja bersama Emira, adalah hal spesial, terlebih kini ia sudah mulai bisa menetralisir perasaannya pada Emira. 


Sementara itu, di meja sebelah, Egi nampak kebingungan menyembunyikan wajahnya, ia sungguh malu karena ternyata bos nya masih bekerja di hari minggu, sementara dirinya merengek menginginkan libur, setelah sebulan menjalani masa percobaan sebagai pegawai baru, yang lebih mencengangkan adalah, gadis yang gadis yang ia beri label culun dan membosankan, rupanya juga seorang dokter dan lebih mencengangkan lagi karena kenal dengan bosnya tersebut, bahkan Juna pun terlihat tak canggung pada Reza. 


"Eh… Kamu?" Tiba tiba Reza bersuara ketika menyadari kehadiran asisten barunya. 


Egi tersenyum kaku, "hai bos…" Egi menjawab sapaan sang atasan. 


"Kalian… ?" 


"Iya…  ini temen temen sekolah gue." Jawab Juna. 


Reza hanya mengangguk. "Ooohhh…" 


"Bos kenal sama si culun? Eh maksud saya, bos kenal sama Mira?" 


"Iya… kami temen pas sama sama kuliah di Singapura."


Skak mat. 


Jawaban Reza lagi lagi  membungkam ke empat kawan Juna. 


"Kalian ngobrol dulu yah, aku mau ke toilet sebentar." Pamit Emira pada Juna. 


"Perlu aku antar?"


"Aku bisa maaaass… lagian toiletnya di deket situ," Emira menunjuk lorong di samping restoran, benar saja ada label toilet di sana. 


" Ya sudah hati hati."


Emira berlalu meninggalkan Arjuna, Reza, dan teman temannya, "hais dasar, apa tidak bisa mereka menjaga kalimatnya," Setibanya di toilet Emira langsung meluapkan rasa kesalnya. "Bisa bisanya mereka terang terangan mengolokku dihadapan suamiku, padahal suamiku saja tak mempermasalahkan penampilan culunku, awas saja kalian." 


Emira yang sejak tadi berusaha cuek mendadak tak terima, si ibu hamil ini benar benar sedang dalam mode kesal, Emira meletakkan tasnya diatas meja wastafel, kemudian mengeluarkan peralatan make up yang senantiasa ada di dalam tasnya, "mereka belum tahu saja siapa aku," Gerutunya kesal. 


Tak banyak yang tahu, bahwa sejak remaja Emira suka bermain main dengan peralatan make up, karena itulah, semasa Gadisya tinggal di Singapura, ia kerap meminta dibelikan make up dengan merk tertentu, yang sesuai dengan kebutuhan kulit wajahnya, tak disangka keahliannya terasa kala memasuki masa pubertas, yah ia bertemu cinta sejatinya, kemudian dengan keahliannya ia mampu menyembunyikan wajah cantiknya dengan sempurna dibalik kacamata dan tompel besar di pipi kanannya. 


Emira mulai melepas kacamata nya, "maaf mas, mulai sekarang kamu tak akan lagi melihat Mira si culun cinta pertamamu, sebagai gantinya, kamu hanya akan melihat istri cantikmu dimanapun dan kapanpun." Emira membuang kacamata nya di tong sampah, langkah selanjutnya memulas wajahnya dengan micellar water, kemudian kembali membubuhkan make up ala Emira versi asli, kekuatan make up memang luar biasa, dalam waktu sekejap saja, wajah Emira bertransformasi menjadi cantik, hilang sudah Emira si culun bertompel. 


Sekali lagi Emira Mengamati penampilannya, ia melepas cardigan rajut kemudian mengikatkannya di pinggang, membuat pinggang langsingnya tercetak jelas, ia bahkan tak melepas kepangan rambut, tapi penampilannya sungguh terlihat semakin jauh berbeda. 


Dengan langkah penuh percaya diri Emira meninggalkan toilet, kembali menghampiri meja tempat Suaminya berada. 


Dan benar saja, keempat kawan Juna dibuat tercengang di tempat, mereka bahkan tak berkedip ketika mengamati pergerakan Emira, Egi bahkan meneteskan air liur nya ketika melihat perubahan wajah istri sahabatnya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2