
BAB 113
H - 7 Resepsi Pernikahan Arjuna dan Emira.
Emira keluar dari walk in closet dengan penampilan yang sudah rapi, sekali lagi ia menatap melenggok ke kiri dan kekanan, memastikan penampilannya sempurna seperti biasa.
Senyum mengembang di wajah cantiknya, ketika ia membingkai kedua matanya dengan kacamata.
"Sudah siap?" Tanya Juna ketika membuka pintu.
Emira mengangguk dan memeriksa kembali isi tasnya. "Sudah…"
"Yuk jalan sekarang." Ajak Juna, pria itu mengulurkan telapak tangannya pada sang istri, dengan senang hati Emira menyambut uluran tangan tersebut.
"Yakin mau begini mas?" Tanya Emira memastikan.
"Yakin," Jawab Juna tanpa keraguan.
"Aku gak malu maluin kamu kan?"
"Kenapa harus malu? Bagiku kamu selalu cantik, yang penting adalah pandanganku terhadapmu, abaikan tatapan orang lain."
Emira tersenyum, kemudian memeluk lengan Juna dengan suka cita.
Keduanya keluar dari kamar, Arjuna bahkan membimbing langkah Emira ketika menuruni tangga, "aku bisa sendiri mas…"
"Iya aku tahu, aku hanya ingin memastikan, kamu dan bayi kita baik baik saja." Jawab Juna cuek, mengabaikan protes sang istri.
Tentu saja kalimat Juna membuat tiga orang yang telah menunggu di ujung tangga menghela nafas malas, dengan sikap protektif Juna, selain sering menemani Emira jaga malam, kini selera makan Juna benar benar naik lima kali lipat dibanding hari hari biasa, karena itulah, jika Emira menginginkan makanan, atau camilan yang aneh aneh, Arjuna yang bersemangat membeli, bahkan sudah pasti makan lebih banyak dari pada si ibu hamil yang jelas jelas mengidamkan makanan tersebut.
Dan hari ini, Juna punya permintaan lebih aneh lagi, ia ingin kencang dengan istrinya, dengan catatan Emira harus berpenampilan culun seperti dahulu, walau heran dan sedikit tercengang dengan permintaan suaminya, Emira akhirnya hanya menurut saja, maka sim salabim, kaca mata bulat nan lebar, tompel di pipi kanan, serta rambut yang sudah ditata ala putri Elsa, kini melengkapi penampilan Emira, mirip seperti dahulu dengan sedikit modifikasi yang membuatnya terlihat manis dan semakin menggemaskan dimata Juna.
"Ini mas…" Bisma mengangsurkan helm ke tangan Juna.
"Lho mau kemana ini?"
"Mau kencan donga ma… maklum gak pernah pacaran, tiba tiba pengen ngerasain kaya orang orang bucin di luar sana." Jawab Arjuna.
"Tau nih mah, mas Juna aneh aneh aja, tiba tiba ngajakin kencan naik motor." Cicit Emira sembari memakai jaket kulit yang ia pinjam dari Bisma, agar bisa couple an dengan sang suami.
__ADS_1
Seketika Arjuna mendapat tatapan tajam memb un uh dari kedua orang tuanya, bahkan mama Yuna tanpa ragu menjewer telinga putra sulungnya. "Bandel yah, sudah tahu istrinya sedang hamil, malah diajak naik motor."
Arjuna meringis menahan sakit di telinganya, "aduh duh duh … Ampun mah."
"Rasain… lagian ada ada aja isengnya."
"Bukan iseng mah, nanya juga aku lagi ngidam mah, gak tau kenapa sejak kemarin pengen ngajakin ayang motoran kaya jaman SMU dulu." Jawab Juna dengan wajah dan telinga memerah.
"Nggak usah ngadi ngadi Juna, dengerin kata mama kamu," Ayah Satrio ikut menambahkan, hanya saja tanpa emosi atau bernada tinggi seperti mama Yuna.
"Nggak papa kok mah … yah… istriku sehat, kuat lagi, bahkan dia sanggup membanting seorang preman, kalian masih ingat kan?" Juna masih tak ingin menyerah.
"Jangan menyepelekan, sebaiknya kalian pergi dengan mobil saja, agar kami yang di rumah merasa tenang, lagi pula sekarang sedang musim hujan, kalau kehujanan, kalian bisa sakit." Ayah Satrio kembali mengingatkan. "Sementara hari resepsi pernikahan kalian semakin dekat."
"Gimana yang?"
"Terserah mas Juna aja, aku gak papa kok, kita bisa naik motor berdua setelah anak kita lahir…"
"Tapi nanti anak kita ileran yang." Ujar Juna dengan wajah memelas, tentu membuat Bisma tak bisa menahan tawa.
"Mas… mas… katanya dokter, tapi masih percaya mitos." Seloroh Bisma.
"Ya sudah…" Jawab Juna lemah karena keinginannya ditentang banyak orang.
Akhirnya usai drama perdebatan, Arjuna dan Emira mendatangi Diamond mall tempat yang ingin mereka tuju, sekaligus mengantarkan undangan resepsi untuk Reza dan kedua orangtuanya, karena ini hari minggu, jadi mereka nanti akan menitipkan undangan tersebut di customer service mall.
Suasana mall sungguh ramai karena banyak orang memilih tempat tersebut, mengingat cuaca sedang tak bersahabat, Arjuna sendiri kebingungan, berkeliling mall saja pastilah tidak menyenangkan, "yang enaknya ngapain yah? Masa kita kesini cuma ngantar undangan trus keliling kembali ke tempat parkir." Cerocos Juna.
"Main… aku kangen main itu…" Emira menatap mesin dance revolution, Reza adalah partner terbaik memainkan mesin tersebut.
"Aaahhh mesin itu, aku pernah melihatmu sedang bermain di sana bareng Reza." Gumam Juna datar, kini tak ada lagi rasa cemburu sebesar dulu, selama beberapa hari di desa X, Emira sebisa mungkin mendekatkan suaminya dengan Reza, serta berusaha membuat sikap dingin Alea terhadap Reza sedikit melunak, dengan demikian Juna tak akan lagi cemburu dengan keberadaan Reza diantara mereka.
Emira tersenyum, kala mengingat kali pertama mereka mencoba permainan tersebut, seharian mereka berada di mall demi memainkan mesin dansa tersebut, baru hari ke lima mereka berhasil menaklukkan mesin dansa tersebut dengan baik. "Kami mulai belajar bersama sama beberapa tahun yang lalu."
"Aku cemburu yang…"
"Iya aku tahu, aku hanya cerita, ayo kita cari makan saja, sepertinya anak kita ingin di suapi." Emira mengalihkan rasa cemburu suaminya agar tak berlarut larut.
__ADS_1
Mereka mendatangi salah satu restoran ala ala jepang dengan hidangan andalan mie tebal dan kenyal, dengan varian kuah kental yang cukup menggugah, karena antrian begitu padat, Arjuna sengaja memesan dalam jumlah banyak, karena mendadak perutnya bergejolak bahagia ketika mencium aroma makanan.
Mereka makan hidangan yang tersaji di meja secara random, memang begitu yang Juna inginkan, "mas… yang ini kurang pedes, ambilin wasabi dong," Pinta Emira.
"Siap ibu ratu." Jawab Juna sigap.
Emira menanti kedatangan Juna dengan memakan cemilan pendamping yang Juna pesan, sembari menatap lalu lalang pengunjung mall.
"Eh… ada si culun." Sebuah suara membuyarkan keasyikan Emira menikmati suasana.
Empat orang pemuda kini duduk di meja sebelah, manakala melihat meja yang Emira tempati penuh makanan, meja mereka berdekatan, hanya terhalang pagar pembatas yang dipakai restoran tersebut sebagai batas restoran.
Mereka adalah teman teman Arjuna, Rendi, Egi, Rafi dan Atar, Emira mengenal mereka dengan baik, bahkan ketika reuni beberapa bulan yang lalu, Emira melihat kehadiran mereka dari kejauhan, tapi ia malas bertegur sapa, mengingat mereka sering mengejek Juna yang katanya aneh karena menyukai gadis culun dan membosankan seperti dirinya.
"Hai… " Jawab Emira santai menjawab sapaan Teman teman Juna tersebut.
Sesuai perkataan Juna, Emira sama sekali tak merasa rendah diri pada penampilan culunnya kali ini, ia sangat bahagia karena suaminya menyukai dirinya yang cantik ataupun yang culun seperti saat ini.
"Maaf sayang aku terlalu lama?" Juna kembali ke meja membawakan pesanan Emira.
"Gak papa mas…"
"Juna?" Ke empat kawan Juna kompak serentak menyebut nama Juna.
Arjuna pun menoleh ke asal suara, meski ia cukup terkejut, namun sikapnya datar saja, justru kesal karena bertemu dengan orang orang yang tak ia harapkan, terlebih ia sedang bersama Emira, bukan apa apa, ia hanya takut istrinya tersinggung, karena sudah yakin teman temannya akan mulai membully sang istri, karena penampilan culunnya saat ini.
"Ngapain lo pada? Ganggu gue aja, sana jauh jauh … hush … hush…" Usir Juna kesal.
"Ya elah gitu amat ama temen, santai aja kali." Egi.
"Iya nih, kaya ketemu siapa aja." Rafi.
"Jadi beneran nih sama si culun? Gak menyesal?" Atar memastikan.
"Jadi sepasang tangan yang nongol di IG lo… tangannya si culun?" Rendi mulai mengamati tangan Juna dan juga Emira.
.
.
__ADS_1
.
Nah loh… mas Juna jangan diem aja, kickout jauh jauh para mul ut samp ah ini… 😱