CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 44


__ADS_3

BAB 44


Arjuna menyeret Febiola ke lorong rumah sakit yang jarang dilalui orang lain. 


Setelah beberapa kali berselisih jadwal jaga di rumah sakit, kini akhirnya Febiola berada di jadwal yang sama dengan Arjuna, Tujuannya hanya satu, menanyakan keberadaan Mira. 


"Ada apa kak?" Tanya Febiola datar. 


"Jangan pura pura tak tahu, aku yakin kamu tahu keberadaan Mira." Tuduh Juna to the point. 


Febiola tak menampik hal itu, tapi dia juga merasa aneh kenapa beberapa hari ini Emira tak menampakkan diri di rumah sakit, dengan alasan dirinya sedang sakit, bahkan telp dan pesan singkat nya pun diabaikan. 


"Maaf kak, tapi hari reuni itu hari pertama kami bertemu," Bohong Febiola, karena ingat larangan Emira, "dan kakak tahu sendiri malam itu aku buru buru pamit, karena harus jaga shift malam."


Arjuna tersenyum hampa, "apa kalian bahkan tak sempat bertukar nomor ponsel?"


Febiola menggeleng, tak sanggup lagi ia berbohong, ia adalah seseorang yangbtak memiliki kemampuan lihai dalam hal kebohongan dan menyembunyikan rahasia, jadi lebih baik ia diam, daripada menjadi ember bocor. "Memang ada apa kak? Dulu kakak juga pernah menanyakan perihal Mira, tapi kakak tak gelisah seperti saat ini. 


"Saat itu tak pernah ada apa apa diantara kami, tapi malam reuni kemarin sesuatu yang mengerikan terjadi." Ingin rasanya Juna meneriakkan hal itu pada Febiola, tapi tentu saja itu tak mungkin, karena menyangkut aib dirinya dan juga Mira. 


"Ya sudah, maaf aku mengganggu waktumu." Ujar Juna lemah. 


Febiola mengangguk kemudian berlalu pergi, diam diam ia kembali mengirimkan pesan singkat pada Emira, tapi nihil, lagi lagi pesannya terabaikan, Febiola semakin penasaran, "apa sebenarnya yang sudah terjadi diantara mereka?" Gumam Febiola seorang diri. 


__ADS_1




Siang hari nya, Juna terlihat buru buru menuju cafe, ia punya waktu tiga puluh menit untuk makan siang yang sudah sangat terlambat, tentu penyebab nya karena partnernya masih belum memberi kabar, sakit apa gerangan Emira hingga belum bisa kembali bertugas di rumah sakit, ada secubit rasa khawatir di hatinya, bahkan terpikir olehnya untuk datang sendiri ke Geraldy Kingdom guna memastikan kondisi rekan kerja nya tersebut. 


Arjuna membawa nampan berisi nasi dan semangkuk soto ayam, ia juga sudah memesan cappucino dingin sebagai dopping sekaligus menghilangkan kantuknya, biasanya Juna menyukai americano dingin, tapi semenjak kedatangan Emira, dan seringnya gadis itu membeli cappucino untuk dibagi bagikan pada rekan satu tim mereka, maka lama kelamaan Juna pun menyukainya. 


Tanpa sadar Juna menyunggingkan senyumnya di tengah kegiatannya mengunyah makan siang, ia benar benar seperti orang tak waras kala mengingat betapa konyolnya pertengkaran mereka di awal awal perjumpaan, pelan pelan pandangan nya tentang gadis cantik mulai berubah, melihat betapa luar biasanya seorang Emira, gadis cantik yang pesonanya sungguh memukau, ceria dan tak pernah takut dengan tantangan, hal itu sudah Arjuna lihat dan buktikan selama beberapa minggu belakangan bekerja sama dengan Emira. 


'Kenapa mendadak rindu?' 


Yah Arjuna tak bisa menampik perasaannya, beberapa hari tak bertemu gadis itu, ternyata ia cukup merindu. 


Ternyata mengingat Emira mampu menghapus gelisah hatinya akibat kegagalannya mencari Mira, Arjuna jadi merasa aneh dengan dirinya sendiri, di saat ia seharusnya cemas karena masalah berat yang menghimpitnya belum menemukan jalan keluar, kenapa mendadak hatinya merasa rindu dan tenang kala mengingat pertner kerjanya? 


'Bukan salahmu Juna, semua salah Mira yang tiba tiba menghilang'


'Jadi Lelaki yang tegas, jangan plin plan, bilang nya cinta sama Mira, tapi rindunya buat Emira, pantas saja Mira tak percaya padamu'


Suara suara itu terus bertarung dalam benak Juna, hingga Juna terus menerus menggelengkan kepala nya guna menetralisir suasana hatinya, mungkin benar apa yang di katakan hati kecilnya, ia memang durjana, lelaki bre ng sek yang tak seharusnya mendapatkan maaf, setelah mengambil kehormatan seorang gadis, bisa bisa nya ia merindukan gadis lain, bahkan sempat sempatnya ia bernostalgia dengan minuman favorit gadis tersebut. 


Tak ingin terus kacau karena pemikirannya sendiri, Arjuna vangkit dan membawa piring kotornya ke meja yang telah tersedia di dekat kasir. 


"Kusut sekali wajah mu?" Sapa Kevin yang kebetulan juga baru selesai makan siang. 

__ADS_1


"Eh dok, sendirian saja?"


"Iya… Istriku sudah pulang, karena si Kembar ingin mengunjungi aunty mereka yang sedang sakit?" Jawab Kevin, yang tentu saja kembali membangkitkan rasa penasaran Juna. 


"Emira sakit apa dok?" Juna semakin Kepo. 


"Kamu tak bertanya padanya?"


"Gak di jawab dok, telepon juga gak di angkat."


"Mommy bilang, dia demam tinggi, dua hari kemarin sampai menggigil, tapi gak mau di bawa ke rumah sakit." jelas Kevin singkat.


Arjuna manggut manggut. “Dok … bolehkah aku datang menemui nya?”


Kevin mengerutkan keningnya, “datang saja, gak ada salahnya datang mengunjungi orang sakit.” jawab Kevin santai, “Eh tunggu … jangan jangan kamu menyukai adikku?”


Arjuna terkesiap, sungguh tak menyangka pertanyaan itu terucap dari mulut Kevin, sekali lagi Arjuna menelan ludahnya, ia bingung harus menjawab seperti apa, karena ia juga sedang dalam kondisi bingung dengan perasaannya saat ini.


.


.


.


dung deng... ayo mas Juna berani datang gak?? 🤓😁

__ADS_1


💜💜


__ADS_2