CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 63


__ADS_3

BAB 63


Sementara itu, pagi hari yang sama di tempat berbeda. 


Pria muda itu tampak memandang benda bulat bening yang berisi air dan seekor ikan hias. 


Sore hari itu usai bertemu Emira, Reza mengantarkan Lea pulang, kemudian ia sendiri pergi dengan alasan menenangkan diri, ia berkendara tak tentu arah, berkeliling mencoba meredakan resah gelisah dan kecewa karena perasaan cinta. 


Entah kenapa ia harus marah, padahal Emira sendiri tak pernah memberinya harapan, sejak awal hubungan mereka hanya teman, tak pernah lebih dari itu, 


Ketika perasaan gundahnya semakin menjadi, ia menghentikan mobilnya begitu saja, tak tahu dimana ia berada, karena ia pun tak pernah berkendara ke daerah ini, Reza menelungkupkan wajah nya di kemudi, cukup lama ia di posisi itu, hingga seseorang mengetuk kaca mobilnya. 


Reza Pun menoleh ke sumber suara, seorang pria berpakaian santai dengan wajah tak ramah nampak menunggu atensi dari nya. "Iya pak ada apa?" Tanya Reza. 


"Bisa minggir gak? Mobil kamu nutupin lapak dagangan ku ini?" Pria itu berbicara dengan nada kesal. 


"Oh iya… maaf pak, maaf…" Ucap Reza tak enak hati. 


"Mentang mentang orang kaya, parkir mobil seenaknya." Gerutu bapak itu, namun masih terdengar oleh Reza. 


"Eh pak… gak usah mancing gitu dong, kan aku sudah minta maaf." Balas Reza. 


"Mancing gimana, emang kenyataannya begitu kan? Dari tadi orang orang cuma lewat doang nih, gak mampir beli ikan, malah mampirnya ke sebelah sebelah,"


Reza mengedarkan pandangan, rupanya ia baru menyadari bahwa ia tengah berada di kawasan pasar ikan hias. 


"Emang ada jaminan, kalo mobil ku gak di sini trus ikan hias situ bakalan laku?"

__ADS_1


"Gak mau tau, terserah … pokoknya kamu minggir sana!!"


"Kalo aku gak mau, trus bapak mau apa? Disini juga gak ada tanda dilarang parkir, artinya mobil bisa parkir bebas."


Keributan terus berlanjut karena masing masing tak ada yang mau mengalah, dan begitulah semua berakhir damai ketika Reza dengan terpaksa membeli seekor ikan hias dengan harga cukup fantastis, 10 juta untuk ukuran seekor ikan yang diameternya kurang dari 5 cm. 


Menurut si bapak penjual ikan, ikan itu sedang banyak di cari pembeli, karena bawa hoki, bisa cepat mendatangkan jodoh dan rezeki, karana tak mau cari perkara, Reza pun membayar ikan tersebut, tanpa penawaran, ia sungguh sedang kesal malah diajak berdebat oleh penjual ikan, padahal seumur umur, sang negosiator ini, belum pernah kalah berdebat. 


"Hah … Terserserah lah." Gumam Reza kesal kala mengingat tragedi yang berakhir dengan melayangnya uang 10 jutanya, Reza menabur pakan ikan untuk si dory, nama ikan lucu teraebut, yang ia tahu, Dory itu nama temannya Nemo, dan dia ikan pelupa, mungkinkah jika ia sering berinteraksi dengan Dory, membuat otaknya juga bisa menghapus nama Emira dari hati nya? 


"Mas sejak kapan suka ikan hias?" Tanya Lea yang sudah rapi dengan pakaian formal nya, hanya rambutnya saja yang masih digulung dengan handuk. 


"Aku gak suka, iseng aja beli, biar gak cuma ada spesies lele di rumah ini."


"Maaass… ngeslin banget sih, pagi pagi sudah bikin orang emosi." Sembur Lea kesal, karena lagi lagi Reza menyamakannya dengan ikan. 


Dengan cepat Lea melepas handuk yang menggulung rambut nya, kemudian melemparkannya hingga mendarat tepat di wajah Reza. 


Para ART hanya senyam senyum melihat keributan kecil tersebut, Rumah besar Harun Sebastian, sudah lama sepi tanpa leributandan kini menjadi meriah kembali sejak kedatangan Lea, tentu nya para ART tersebut sudah diberi peringatan keras oleh nyonya mereka, agar terus mengawasi dua insan yang tak pernah akur ini. 





Emira mengeluarkan food container yang pagi tadi ia bawa dari apartemen, setelah sebelumnya ia menitipkan sarapannya tersebut ke meja perawat, kemudian nugas di pagi hari, dan kini menjelang jam 10 ia bisa agak santai memeriksa status pasien melalui komputer di meja perawat. 

__ADS_1


Tiba tiba dari arah belakang, "Waaaahh enak nih… bagi dong, mulut gue pahit nih dari kemaren ga selera makan." 


Emira menatap tajam, pada Dokter Tommy dan dokter Emil yang juga baru saja bisa mengistirahatkan kaki mereka. "Tapi asem nih," Emira memperlihatkan potongan nanasnya, ia tak bisa memilih nanas, jadilah nanasnya kali ini terasa begitu asam, tapi karena sudah terbiasa dengan buah segar, Emira tak terlalu mempermasalahkan. 


Setelah memastikan tangannya bersih dokter Tommy pun mengambil sepotong nanas dari food container Emira, dan benar saja ketika nanas teranut mulai ia kunyah ia nyengir nyengia tak karuan, "gi la ini asem banget, lo sehat kan Mir?"


"Iya gue sehat, udah biasa juga sih makan buah kaya gini."


Dokter Emil yang penasaran pun ikut nimbrung dan mencicipi nanas tersebut, "hah… ini mah asem nya gak waras, lo mirip kakak ipar gue yang lagi hamil muda, doyannya makan beginian, lo gak lagi hamil kan?" 


PLAK!!! 


Perhatian mereka beralih ke sumber suara, di sana nampak Arjuna yang baru datang langsung menjatuhkan map map berisi status pasien. 


"Juna… kamu ga papa?" Tanya dokter Tommy khawatir karena melihat wajah Juna yang mendadak pias seperti melihat hantu. 


"Hamil?? Siapa yang hamil? Yang kamu hamil? Kok gak bilang aku sih?" 





Ting tong ting tong… nah loh kira kira nyonya muda Arjuna hamil gak?? 


❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2