CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 96


__ADS_3

BAB 96


Reza meraung keras seperti anak kecil, usai melihat secara langsung apa yang Lea alami, ia kini sangat ketakutan, tak tahu siapa yang harus dihubungi untuk mengabarkan kondisi Lea.


Bayangan kedua mata Lea yang berkaca kaca akibat tuduhan kalimat pedasnya, kemudian pergi dalam keadaan marah, kini berputar dalam ingatannya serta mulai menghantui dirinya, bagaimana jika Lea tak selamat? Apa yang harus ia sampaikan pada kedua orang tuanya, serta om Priyo yang sudah seperti saudara kandung bagi kedua orang tuanya. 


Di depan gerbang utama ruang operasi Reza duduk memeluk lututnya, menunggu adalah saat saat paling menyebalkan, bagi Reza lebih baik berdebat di ruang sidang, ketimbang menunggu dalam ketidakpastian, rasanya seperti sebuah siksaan yang tak bisa dihentikan.


Ponsel Reza berbunyi beberapa saat kemudian, wajah mami Elena terpampang di layar ponselnya, jarinya bergetar ketika menggeser tombol berwarna hijau, “Mamiiii …” Reza memanggil sang mami dengan suara bergetar, tak bisa lagi menyembunyikan tangisnya.


“Heiii … kenapa menangis, maaf tadi mami sibuk, jadi tak mendengar panggilanmu, ada apa Hmmm?”  tanya mami Elena, dengan suara canda seperti biasa.


“Mamiiii …” Raungan Reza semakin keras membuat mami Elna semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada putra sulungnya, "Hukum Reza mi… Reza salah mii…" 


Mami Elena terdiam, ia biarkan reza menangis cukup lama hingga dua puluh menit berlalu, akhirnya tangis Reza berhenti, sisa suara sesenggukan yang keluar dari rongga mulutnya, bahkan kerongkongannya terasa sakit akibat tangis yang tertahan.


“Kenapa sayang …” tanya mami Elena Lagi.


“Lele …”


“Iya … kenapa dengan Alea?” 


“Lele …” akhirnya dengan susah payah Reza menceritakan apa yang terjadi, termasuk betapa dinginnya ia memperlakukan Lea selama berdekatan dengan Lea.


“Mami pulang sekarang …” 


Mami Elena tak mengatakan apa apa setelah mendengar penuturan Reza, ia mematikan panggilannya begitu saja, hingga membuat Reza semakin ketakutan, karena kini tak ada lagi tempat baginya untuk mengadu dan menumpahkan tangis, karena bahkan sang mami murka pada sikap dan keegoisannya, hingga membuat Lea celaka.


Pintu kamar operasi terbuka, dokter Purbo keluar dari sana, "keluarga pasien luka tusuk?" 


Reza gegas berdiri kemudian menghampiri dokter Purbo. "Iya dok, bagaimana kondisi adik saya?" Tanya Reza harap harap cemas. 


"Operasi berjalan lancar." Dokter Purbo memulai kalimatnya. 


Kalimat tersebut membuat Reza bernafas lega. 


"Kami Melakukan semua yang kami bisa, Meski di awal operasi korban sempat kritis, karena kehabisan darah, dan luka tusuk yang cukup parah, senjata tajam yang digunakan pelaku, panjangnya hampir dua puluh centi, hingga melukai usus besar, Liver serta beberapa pembuluh darah, sabar ya tuan, mari berharap semoga pasien bisa melewati malam ini,"

__ADS_1


Bahu Reza kembali terguncang hebat, air mata nya kembali tumpah, membayangkan kondisi Lea saja Reza tak sanggup, apalagi dokter mengatakan Lea harus berhasil melewati malam ini, agar harapan hidupnya meningkat. 


Beberapa saat kemudian pintu ruang operasi terbuka, tiga orang perawat pria mendorong bed pasien, dada Reza berdenyut nyeri melihat ada begitu banyak alat yang menempel di tubuh Lea, selang seperti tabung di dalam mulutnya, jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya, dan entah apalagi Reza tak sanggup melihatnya. 


"Reza…" Suara itu tak asing di telinganya, mata birunya menatap dengan banyak pertanyaan. "Za…" Emira mengguncang pundak Reza, membuat Reza tersadar dari lamunan singkat nya. 


"Ra… tolong bilang padaku dia akan baik baik saja…" Reza menatap penuh harap, kemudian melontarkan apa yang tengah ia rasakan. 


"Kamu apanya pasien?."


"Dia udah kaya adek, dia asisten sekaligus sekretarisku, dia juga tinggal di rumahku."


"Kamu… ?"


"Bukan, bukan, ini gak seperti apa yang kamu bayangkan, kamu tahu kan, di rumahku ada banyak orang, dan aku tetap tidur di kamarku, trus Lea tidur di kamar tamu bawah," Reza menjelaskan semuanya seakan akan takut Emira berprasangka buruk padanya, kemudian ia menyadari satu hal, "tapi… bukankah aku tak perlu menjelaskan ini? Kita hanya teman, tidak lebih. " 


Emira pun terkesiap, benar apa yang Reza katakan, mereka hanya teman, tak boleh ikut campur urusan pribadi, yang pasti Reza tak mungkin melakukan hal itu tanpa seizin orang tuanya. "Maaf…" Jawab Emira kikuk. "Tapi kebiasaan lama susah hilang." 


"Gimana kondisi Lea…" Tanya Reza lagi. 


"Dokter sudah menjelaskannya kan?? Yang pasti seperti itulah kondisinya, belum ada perubahan yang berarti, doakan dia bisa melewati malam ini yah??" 


Akhirnya Reza pun mengangguk pasrah. 


"Aku permisi dulu, nanti aku kembali lagi." Pamit Emira. 


Tujuan Emira adalah cafe rumah sakit, ia perlu doping karena sudah sangat lelah, dan kini tak mungkin baginya meninggalkan Reza seorang diri, dua cangkir cappucino panas dan kudapan kini berada di genggamannya. 


Emira kembali ke sisi Reza lima belas menit kemudian, disodorkannya cup cappucino yang ia bawa dari rumah sakit. 


"Thanks… tapi aku belum makan," Jawab Reza jujur, "kalau aku minum ini, maka berikutnya aku yang akan jadi pasien." 


"Iya … aku tahu." Karena sudah sangat mengenal Reza, Emira pun menyodorkan beberapa jenis roti yang tadi ia beli di cafe, "makan dulu, kamu harus sehat, setidaknya pasien perlu wali sampai sampai ia sadar."


Sebenarnya Reza benar benar tak merasakan lapar, tapi Emira benar, sampai Lea sadar ia harus tetap menjaga kesehatan demi menjaga Lea. 


Emira tak bertanya apapun, ia membiarkan Reza menenangkan pikiran, bahkan ia memberi jarak di tempat mereka duduk, jika Reza tak mau cerita tak masalah, Emira sudah cukup senang bisa berada di sisi pria itu untuk mendengar tangis dan tawa bahagianya, yah hanya itu, karena kini ia pun harus menjaga batasan, ada Arjuna yang harus ia perasaannya. 

__ADS_1


Mereka menghabiskan roti dan kopi masing masing, tanpa saling bicara, padahal biasanya mereka berbincang akrab dengan diselingi tawa canda jika sedang makan berdua. 


Hari masih dini hari, dan Emira bisa memanfaatkan waktu ini untuk istirahat, walau tidak tertidur. 


"Jadi kapan kamu menikah?"


"Dua bulan yang lalu, maaf semua serba mendadak… hanya dihadiri keluarga dekat kami."


Reza mengangguk, kemudian menatap Emira, "aku ikut bahagia, semoga kalian juga selalu bahagia," Akhirnya Reza bisa mengucapkan kalimat itu, jodoh memang bukan manusia yang menentukan, Reza bisa apa jika Tuhan yang berkehendak demikian. 


"Thanks…" Jawab Emira, "tau gak… aku kangen kamu," Emira berkata jujur. 


"Bohong banget."


"Serius, tapi dalam tanda kutip yah…" Balas Emira. "Malam hari sebelum hari pernikahan, aku gak bisa tidur, terjebak diantara banyak rasa, marah, kesal, sedih, tapi gak punya pilihan, pengen telpon kamu, tapi nomorku kamu blokir." Emira menerawang membayangkan hari itu. 


"Maaf,"


"Gak papa,"


"Tunggu tunggu, apa maksud kalimat mu tadi? Kenapa kamu merasa terjebak?" Tanya Reza penasaran. "Bukankah kamu bilang kamu mencintai pria itu?" 


"Iya, sangat… tapi saat itu ada situasi yang mengharuskan kedua orang tua kami memaksakan pernikahan tersebut." 


"Do you… ???"


"No no no… please don't judge …" 


"Kalian dijodohkan?" 


"Yah semacam itulah, walau tidak sama persis." Jawab Emira 


Reza memiringkan duduknya, "YAAA!!! Yang Jelas jawabannya, kan aku semakin pusing denger jawabanmu." 


Emira tertawa bahagia … Rezanya sudah kembali seperti semula, inilah Reza yang selama ini ia kenal, biarlah sejenak Reza melupakan kesedihannya. 


Namun kebahagiaan Emira tak sejalan dengan nya, pria itu menatap dingin pada kedua sahabat tersebut, buru buru ia datang ke rumah sakit, tapi kini apa yang sedang ia lihat sungguh tak sesuai dengan apa yang ia bayangkan. 

__ADS_1


__ADS_2