CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 40


__ADS_3

BAB 40


Arjuna menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit untuk mandi, ia tak bisa lama lama mengingat tugas sudah menanti, serta Mira yang juga harus membersihkan diri.


Arjuna terkejut, ketika usai mandi, kamar tersebut terlihat kosong dan sunyi, tak ada lagi suara tangis Mira, bahkan pakaian gadis itu yang tadi berserakan di lantai tak lagi terlihat, tubuh Juna kembali terasa lemas, “Mira … apa kamu tak percaya padaku? aku sungguh sungguh dengan perkataanku, sekarang kamu pergi, dan kemana lagi aku harus melacak keberadaanmu?” Lirih kalimat Juna, ia menjambak rambutnya yang memang sudah kusut usai mandi dan keramas.


Tak ada lagi yang bisa Juna lakukan, merenung sedih pun percuma, walau resah, gelisah, cemas dan ketakutan menghantui, ia tak mungkin terus diam, tetap bergerak maju, dan cari informasi sebanyak mungkin tentang Mira. 


Arjuna segera berpakaian, memeriksa kembali ransel yang kemarin ia tinggal di kamar Ketika reuni berlangsung, tak lupa botol air mineral ia bawa, ini adalah bukti kuat, bahwa ia tidak bersalah, ia harus tahu zat apa yang terkandung dalam minuman kemasan yang ia tenggak semalam, hingga ia berakhir di tempat tidur bersama Mira, padahal ia sama sekali tak berniat melakukannya, Juna hanya bermaksud memberi Mira tumpangan untuk beristirahat, sementara ia sendiri akan berbaring di sofa.


Dugaan Juna mengarah pada obat perang sang, kemungkinan besar hanya itu, tapi siapa yang tega melakukan ini padanya? dan apa motifnya? atau ini sekedar perbuatan iseng, seperti perbuatan Voni yang tega mencampurkan obat penenang pada makanan atau minuman Mira, Juna tak pernah mencari masalah dengan teman temannya, bahkan seringnya malah teman teman Juna sering datang padanya untuk meminta bantuan, jika benar dirinya hanyalah korban keisengan teman temannya ini sungguh keterlaluan. 


Pikiran Juna semakin kalut, ia tak ingin lagi berlama lama di kamar tersebut, ketika hendak mengambil kunci mobil di nakas, pandangan Juna mengarah pada bercak darah di sprei putih tempat ia kehilangan apa yang selama ini ia banggakan di tengah maraknya pergaulan bebas, keperjakaan, mungkin bagi Juna tak ada masalah, karena tak pernah terlihat bekasnya, tapi apa yang selanjutnya akan Mira alami setelah kejadian laknat semalam? Arjuna bergidik ngeri mengingat ia sudah jadi pria durjana yang merusak kehormatan seorang gadis. 





Arjuna sudah tiba di lobi ketika tanpa sengaja berpapasan dengan salah satu Geraldy Junior, bahkan Arjuna tak menyangka, kakak kandung Emira tersebut mengenali, bahkan menyapa dirinya. 


"Arjuna kan?" Tanya Andre, ketika berpapasan dengan Juna di lobi. 

__ADS_1


Arjuna mengangguk, "selamat pagi…" Arjuna bingung, harus memanggil Andre dengan sebutan apa. 


"Panggil saja kakak, seperti Emira memanggilku, usia kalian tak berbeda jauh kan?"


Arjuna tersenyum canggung, di tengah gelisah hatinya. 


"Baik… kak…" Jawab Juna sopan. 


"Aku tinggal dulu yah, ada rapat penting pagi ini," Pamit Andre. 


Suami Bellinda itu menepuk bahu Juna sebelum berlalu pergi bersama asisten pribadinya, seseorang yang kini menggantikan Bima yang yang sudah menetap di Jogja karena ingin fokus mengelola dan mengembangkan aset tanah dan perkebunan milik keluarga nya. 


Arjuna melakukan Check out sebelum meninggalkan Twenty Five Hotel, ia harus segera tiba di rumah sakit, walau bayang bayang Mira bersama tangis, dan amarahnya masih terus berputar di kepala nya, tapi sebuah sesal tak lagi berguna ketika semuanya sudah terjadi, fokus Juna kini adalah mencari tahu ada motif apa di balik ini semua, kemudian mencari solusi untuk menyelesaikan masalah ini. 


Ajuna menyalakan mesin mobilnya, ia bergegas menuju rumah sakit sebelum hari semakin siang. 





'Misi berhasil tuan, target masuk dalam jebakan, bahkan lebih mudah dari yang dibayangkan'. 

__ADS_1


Orang itu menatap layar ponselnya, beberapa foto yang ia terima membuat ia sangat bahagia, selangkah lagi mendekati tujuan nya. 


'Selidiki siapa gadis itu'


'Baik tuan'


Orang itu membuka laci meja kerja nya, ia menetap selembar foto wanita yang masih teramat ia cinta, rasa yang harus dipaksa sirna, manakala takdir tak berpihak pada cinta keduanya. 


'Jangan salahkan aku jika semua ini terjadi, Ini adalah akibat dari keputusanmu mengakhiri semua tentang kita, kemudian memilihnya'. 





Siapa hayooo??


jawab di kolom komentar yah


kalo ada yang jawabannya benar, nanti sore othor kasih extra 2 bab lagi 🥰


🧡🧡

__ADS_1


__ADS_2