
BAB 20
Emira meletakkan ranselnya di depan loker milik nya.
“Love you.” ucap Reza begitu saja, seakan sudah biasa mengucap hal itu tanpa mendapatkan jawaban.
Emira mengukir senyuman di wajahnya, sebelum mematikan panggilan.
ia menghembuskan nafas pelan, memikirkan ada dua lelaki yang kini berseliweran di hadapannya, jika dulu hanya ada Reza, kini ada Arjuna yang akan terlihat seperti seorang mata mata yang mengawasinya.
BRAK !!!
Emira menutup pintu lokernya, kemudian menuju ruang ganti, guna mengganti pakaian casualnya dengan seragam rumah sakit.
“lho sudah datang, ku pikir kamu akan datang siang?” sapa Febiola ketika ia masuk ke ruangan ganti.
“itu bukan gayaku, mommy bisa menghajar anak anaknya jika ada yang tak disiplin waktu.” jawab Emira. “kupikir kamu jaga malam hari ini?”
“ini hari senin, dan residen tahun pertama seperti kita selalu diwajibkan jaga pagi di hari senin, karena hari minggu kita libur.”
Emira manggut manggut, kemudian menutup tirai bilik untuk mengganti pakaian.
“Apa semua peralatanmu sudah siap?”
“Tentu saja,”
“Ah iya aku lupa, kamu pasti dengan mudah mendapatkan semua peralatanmu.”
“Tidak, aku memakai barang Endorse bekas mommy,” jawab Emira apa adanya.
barang bekas Stella tentu bukan barang murah, karena Stella mendapatkannya secara gratis dari perusahan farmasi yang mensponsorinya, semasa ia masih Aktif di rumah sakit menangani pasien.
“hahaha masa’? kamu pikir aku percaya?”
__ADS_1
“Heiiii aku masih Emira yang dulu, tak suka berlebihan, aku berulah hanya karena ingin mengerjai kedua kakak ku saja, sisanya masih sama.”
“Aku tak bisa membayangkan, apa dokter kevin juga galak dan tegas ketika di rumah?”
“Sedikit, biasanya sih lebih ke jahil, sama kaya anak anak nya.”
Emira sudah siap dengan Snelli, serta peralatan medis standar yang berjajar di saku snelinya, dan tentu saja stetoskop kebanggaanya, stetoskop itu seperti benda keramat nya, penyemangat dari mommy Stella, alias dokter Risa, karena menurut sang mommy, itu barang langka limited edition, made by order, dengan lapisan emas asli di bagian lengkungannya.
Hal itu membuat Febiola membelalakkan netranya.
"Ya… ini limited edition," Seketika Febiola bisa menilai barang yang berada dalam genggaman Emira, karena dua juga sering searching peralatan medis, tentu tahu mana yang kualitas standar, menengah, premium, hingga high quality product, "kalo begini sih, aku juga rela dapet sekennya."
"Dasar lo, matre juga ternyata."
"Ya iya lah calon emak emak wajib matre, daripada duit suami diambil pelakor." Gurau Febiola.
Keduanya berjalan ke ruang utama, disana sudah ada Kenan dan Ricko, yang juga menunggu pasien dengan berbincang di meja perawat.
Febiola memperkenalkan Emira, pada para perawat, tentu dalam batas biasa, karena Emira melarangnya memberitahukan latar belakangnya, "kok kamu tiba tiba akrab sama Emira sih?"
"Lo ama gue gak pernah ngobrol ampe berbusa gitu." Protes Kenan yang sejak lama caper pada Febiola.
"Males amat, di rumah sakit ketemu, masa di rumah masih nyambung ngobrol dari hape, sepet mata gue liat wajah lo…"
Skakmat, Febiola seakan mematikan langkah Kenan.
"Tapi kan aku pengen selalu denger suara kamu, pengen selalu lihat wajah kamu juga." Nada suara Kenan berubah manja.
"Diiiihh jijay banget suara lo… jauh jauh sana, gak usah sok asik."
Ricko tertawa geli melihat tingkah kedua teman senasib nya tersebut, bagaimanapun ini hiburan menyenangkan, kala penat dengan jadwal jaga di rumah sakit.
"Dok… dulu magang dimana?" Tanya salah seorang perawat pada Emira, gadis itu tengah melihat lihat beberapa status pasien dan mulai mempelajari nya, siapa dokter yang menanganinya, apa penyakitnya, tindakan apa yang sudah diberikan, serta obat apa yang boleh dan yang tidak boleh diberikan.
__ADS_1
Ketika teman teman seangkatannya masih sibuk adu mulut, Emira sudah bersiap dengan beberapa status pasien yang ia pelajari.
"Rumah sakit ini juga sih, tapi di Singapura."
"Oooww…" Suster Oya ber O ria, mendengar jawaban Emira. "Tapi kenapa terlambat ikut tes masuknya?" Tanya nya lagi.
"Iya… ada beberapa masalah di Singapura yang harus dibereskan," Emira beralasan, padahal bohong lagi.
"Suster O, tau gak, terlalu banyak tanya membuat seseorang berumur pendek." Tiba tiba Ricko berbisik jahil, membuat bulu kuduk Suster Oya meremang.
PLAK!!!
"Dan pelakunya pasti kamu, awas kamu yah, kalo aku beneran berumur pendek, aku akan sering mendatangimu di manapun."
Gelak tawa mengga di ruangan tersebut.
"Pagi semua…" Suara sapaan Juna menyedot atensi semua orang yang berada di sana.
"Pagi dok…" Jawab seluruh dokter Residen yang bersiaga pagi itu.
Ketujuh dokter muda tersebut berdiri membentuk circle di depan Arjuna, lelaki itu sudah memakai seragam biru muda rumah sakit, serta Sneli.
Tanpa sengaja pandangan Juna mengarah pada benda berkilat yang ada di saku Sneli Emira.
Yah… Juna melirik, Stetoskop milik Emira.
'Benda itu? Kenapa bisa ada padanya?' Arjuna membatin serius. 'Bukankah itu barang langka, yang hanya dimiliki beberapa dokter terkemuka, bahkan di negara ini Arjuna yakin hanya Ada tiga dokter yang memilikinya, dan salah satu dokternya ada di William Medical Center, dokter Stella Marisa William', Juna yakin sekali, karena DENt PHARMATION sendirilah yang memesan barang langka tersebut, sebagai hadiah pada dokter dokter yang sudah berjasa merekomendasikan obat obatan DENt PHARMATION.
Arjuna masih terus dikepung dengan pemikiran pemikiran nya, jadi siapa sebenarnya Emira? Kenapa dokter Kevin langsung merekomendasikan Emira, padahal setiap dokter Residen di William Medical Center melalui seleksi yang ketat, dan sekarang gadis itu bahkan memiliki Stetoskop yang gak kaleng kaleng harganya, mobil yang Emira kendarai pagi ini pun tak luput dari perhatian Juna.
.
.
__ADS_1
.
💙💙💙