
BAB 64
"Lo mirip kakak ipar gue yang lagi hamil muda, doyannya makan beginian, lo gak lagi hamil kan?"
PLAK!!!
Perhatian mereka beralih ke sumber suara, di sana nampak Arjuna yang baru datang, usai mengantar pasien ke ruang operasi, langsung menjatuhkan map map berisi status pasien.
"Juna… kamu ga papa?" Tanya dokter Tommy khawatir karena melihat wajah Juna yang mendadak pias seperti melihat hantu.
"Hamil?? Siapa yang hamil? Yang kamu hamil? Kok gak bilang aku sih?" tentu saja Arjuna mengucapkannya dalam hati, tapi tetap saja Emira melihat ekspresi tak biasa dari wajah sang suami.
“Nggak papa kok,” Jawab Juna menetralkan ekspresi terkejutnya, “Emang siapa yang hamil?” tanya Juna pada kedua rekannya.
“Kakak ipar gue …” jawab dokter Emil santai. “Sama kaya EMira nih, sukanya makan yang asem asem.”
Emira hanya mengangkat kedua pundak nya, ketika Arjuna menatap nya.
Drrrt
Drrrt
Ponsel Emira bergetar, ia menatap layar ponselnya, nama Arjuna tertera di sana.
“Yang … kamu hamil?”
“Tidak.”
“Sudah yakin?”
“Iya. aku sedang datang bulan.”
Arjuna kembal membalas dengan emoticon cemberut.
“Kenapa? sudah mulai menyesali pernikahan kita?”
Pancing Emira.
“Tidak yang, sampai kapan pun aku tak akan menyesal, justru aku berharap kamu segera hamil,”
__ADS_1
Jawaban Arjuna sungguh di luar dugaan, Emira pikir Arjuna menyesal, rupanya ia benar benar serius dengan apa yang ia katakan, lantas apa kabar dengan hati nya kini, seminggu ini Juna selalu menanggapi aksi jutek nya dengan gurauan, candaan, bahkan tak jarang ciuman singkat di bibir, entah samapi kapan Juna bersabar menghadapinya.
“Yang … ke ruangan dong.” pinta Juna.
“Mau ngapain?”
Arjuna duduk bersandar santai, sembari menatap Emira yang duduk membelakanginya.
“Kangen … pengen cium dikiiit,”
Jawab juna disertai emoticon cengiran.
“NO …” disertai Emoticon penolakan, “Lagi di rumah sakit.”
“Memang kenapa? aku pernah kok, secara tak sengaja melihat dokter Kevin dan dokter Gadisya berciuman di lorong rumah sakit.”
Tiba tiba wajah Emira memerah, walau bukan ia pelakunya, tapi ia ikut malu dengan kelakuan abang dan kakak iparnya.
“Bodo amat, itu kan mereka, bukan aku.”
“Jangan anti gitu dong, kita hanya belum pernah saja.”
“Haruskah kita mencobanya untuk pertama kali, lalu secara perlahan kita akan seperti dokter Gadisya dan dokter Kevin.”
Emira kembali membalas pesan Juna namun bukan pesan tertulis, dia hanya mengirim animasi, kelinci yang memukuli lawannya, disusul kemudian seseorang yang menyiramkan se ember air pada lawan bicaranya.
“Hahahaha …” tiba tiba Arjuna tertawa keras, ternyata selucu inilah istrinya.
Mendengar suara tawa Juna … sontak semua perhatian kini menatap ke arah Juna yang mendadak tertawa seorang diri sembari menatap ponselnya.
Ternyata sebahagia ini lah bila berada di tempat kerja bersama istri rahasia, rasanya bahkan lebih mendebarkan dibandingkan dokter Kevin dan dokter Gadisya yang mencuri curi waktu berciuman disela sela aktivitas mereka.
Dan sepanjang hari itu, Arjuna melewati hari dengan senyuman yang tak luntur dari bibir nya.
.
.
.
__ADS_1
“Lho … mau kemana kita? ini kan bukan arah apartemen kan?” tanya Emira, ketika sore itu mereka dalam perjalanan pulang, tapi Juna mengambil jalan yang lain dari biasa.
“Maaf aku lupa kasih tahu, mama minta kita menginap di rumah malam ini, gak papa kan? Katanya mau makan malam bersama kita.” tanya Juna, ia mulai khawatir, takut Emira tak setuju karena tak meminta persetujuannya lebih dulu. "Kalau gak mau menginap, nanti malam kita pulang."
Emira berpikir sejenak, ia juga jadi teringat seminggu ini sama sekali belum menghubungi sang daddy, begitupun sebaliknya, biasanya daddy Alex selalu menghubunginya, bahkan kadang laksana sebuah teror, jika Emira belum membalas pesan pesan sang daddy.
“Hei … kenapa diam?” tanya Arjuna, melihat Emira diam menunduk, membuatnya khawatir.
Emira menyimpan rasa sedihnya, ia mendongak dan menggeleng, “Gak papa, kita mampir ke mall dulu yah? aku mau beli beberapa kebutuhanku.”
“As you wish mrs. Juna.”
Mereka pun mampir ke Diamond Mall, Mall mewah milik keluarga Reza.
Sesaat Emira merasa sedihnya berkurang, shopping memuatnya lupa bahwa ia sedang sangat merindukan daddy dan mommy nya, namun tak punya nyali untuk menemui mereka, karena sudah merasa bahwa sang daddy benar benar mengusirnya dari rumah.
Emira membeli beberapa kosmetik dan perlengkapan mandi, serta keperluan lain yang ia butuhkan, setelah semua yang ia inginkan terpenuhi, Arjuna menyerahkan kartu kreditnya, “pakai ini.”
Emira tertegun melihatnya, karena baru saja ia akan mengeluarkan black card hadiah dari kedua kakaknya.
“Mulai sekarang pakai ini saja, kamu boleh pakai kartu yang ada di dompetmu, jika aku sudah meninggal.” tak ada canda dalam kalimat itu, seperti yang setiap hari selalu Juna lakukan jika mereka sedang berdua.
“Tapi … aku …” Emira mencoba menolak, karena ia merasa belum menjadi istri yang layak untuk Arjuna.
“Kini kamu adalah tanggung jawabku, dan kamu tak bisa mengingkari itu, janjiku masih sama, dan tak akan pernah berubah sampai takdirlah yang memisahkan kita.”
Arjuna tak main main dengan kata katanya, ia segera menyerahkan kartu tersebut ke kasir, dan mengurus semua pembayarannya.
“Ada lagi yang kamu butuhkan?” Tanya Juna.
Emira menggeleng, “Kita tak beli apa apa buat mama dan ayah?”
“Tak perlu, melihat menantunya saja, mama pasti bahagia.”
Semburat merah itu kembali tersemat di pipi Emira, tapi hal itu membuat Arjuna semakin bahagia.
.
.
__ADS_1
.
🩷🩷🩷