
BAB 74
Arjuna dan Emira menikmati makan malam mereka bersama di Geraldy Kingdom, setelah didesak sang istri, akhirnya daddy Alex pun bersedia keluar dari persembunyiannya, walau wajahnya tidak se ramah biasanya, tapi mommy Stella sudah sangat bersyukur karena suaminya bersedia bergabung dan menikmati makan malam pertama dengan formasi lengkap, bersama anak, menantu, dan cucu mereka.
Emira senang sekali ketika akhirnya bisa menatap pria kesayangannya tersebut, walau daddy Alex masih terlihat canggung di depan dirinya dan Arjuna, tak masalah asalkan beliau terlihat di tengah tengah keluarganya.
Usai makan malam, kelima Geraldy cilik masih enggan ditinggal aunty mereka, maka Emira mengalah menemani di kamar mereka, sementata menunggu Juna beserta daddy Alex dan kedua kakak nya membicarakan sesuatu di ruang kerja.
Penasaran juga sih, tapi biarlah, setidaknya Emira bisa bersyukur, jika begitu keadaannya, itu artinya Arjuna diterima dengan baik oleh keluarga nya, terlepas dari apapun yang mendasari pernikahan mereka.
Entah apa yang mereka bicarakan hingga hampir jam sembilan malam keempatnya belum juga keluar dari ruang kerja, sementara si kembar sudah pulas di kamar mereka, Emira hanya menunggu di ruang tengah bersama mommy Stella.
Emira memasih merebah manja di pelukan mommy Stella, "tak kusangka aku sangat merindukanmu mom." Bisik Emira ketika mengusak manja di pelukan mommy Stella.
Mommy Stella mengusap rambut putri bungsunya tersebut, Emira memang anak bungsu, manja, dan kadang bersikap kekanakan, namun disisi lain ia juga anak yang mandiri, ia sudah tinggal seorang diri di Singapura sejak kelas dua SMU, walau itu adalah bentuk hukuman dari daddy Alex, tapi Emira menerima, bahkan menjalaninya tanpa mengeluh, hingga berhasil menyelesaikan pendidikan dokternya dengan gemilang.
"Mommy juga… tapi mommy dan daddy juga harus belajar, bahwa gadis cantik ini, bukan lagi milik kami," Kedua mata mommy Stella berkaca kaca.
"Mom… aku tetap anak mommy dan daddy, aku masih ingin bermanja di pelukan daddy, ingin menangis di pelukan mommy, bahkan masih rindu di gendong di punggung daddy."
Stella tertawa kecil, "daddy sudah tak lagi muda, apa kamu ingin mematahkan tulang punggung daddy mu? lagi pula sekarang ada Arjuna yang pasti bersedia menggendongmu kapan saja."
Wajah Emira kembali bersemu, "iiih mommy…" Jawabnya malu.
"Kenapa tak menginap di sini saja, ini udah malem loh…"
"Besok pagi kami bertugas di rumah sakit mom, dan lagi kami juga harus terbiasa dengan tempat yang kami tinggali."
"Apa suamimu memperlakukanmu dengan baik?" Tanya mommy Stella yang kini mengusap pipi Emira.
Emira mengangguk, "sangat mom…"
"Syukurlah… mommy senang mendengarnya, daddy juga pasti senang mendengarnya, jika demikian, tunjukkan baktimu padanya, hormati dia sebagaimana ia menghormati dan menyayangimu, ceritakan semua keluh kesahmu padanya, dan kamu juga jadilah tempat ternyaman untuknya berkeluh kesah, berbagi kisah sedih dan bahagia, maka pernikahan kalian pun akan bahagia."
.
__ADS_1
.
.
Sudah hampir tengah malam, Arjuna masih kesulitan memejamkan mata, padahal Emira bahkan nyaris tak bergerak ketika tadi ia memindahkannya dari pangkuan mommy Stella hingga ke kamar, yah akhirnya mereka menginap di kediaman daddy mertuanya tersebut, karena Emira sudah tertidur pulas di pangkuan mommy Stella dan hari juga sudah mulai larut.
Arjuna pasrah mengiyakan saja keinginan kedua mertuanya, karena ia melihat sorot mata mommy dan daddy yang sarat akan kerinduan pada putri kecil kesayangan mereka, jadi biarlah ia mengalah, toh keluarga ini juga sudah berbaik hati menerimanya sebagai anggota baru Geraldy Kingdom.
Biarlah besok pagi pagi mereka akan pulang ke apartemen sebelum kembali ke rumah sakit.
Arjuna melepas kaos santai yang membalut tubuhnya, tidur tanpa pakaian seperti sudah menjadi harga mati bagi nya, jadi bukan karena bermaksud menggoda istri baru nya, tapi memang demikian keadaan dirinya.
Pria itu mulai merapat manja, mengusap dan membelai wajah cantik istrinya, sementara pikirannya kembali menerawang mengingat pembicaraannya bersama dua kakak ipar, daddy mertua nya, dan ada seorang pria yang baru di kenal Arjuna hari ini, dialah Hans dari Agent AG yang memimpin penyelidikan.
Flashback
Andre menyodorkan map berisi hasil penyelidikan, rupanya kakak iparnya tersebut sudah berhasil mengungkap siapa pelaku yang menjebaknya dengan obat pe ra ngsa ng, orang dalam hotel yang terlibat sudah di tandai oleh kakak iparnya tersebut, hanya tinggal menunggu motif yang mendasari kejadian tersebut.
"Apakah kamu atau ayahmu mengenal pria ini?"
Arjuna menatap kosong selembar foto yang di sodorkan ke hadapannya, kemudian mengangguk lemah, dengan tangan terkepal Arjuna bersumpah serapah dalam hati, pria yang selama ini ia anggap angin lalu, rupanya kini mulai berulah.
Andre merrremas pundak Juna, "simpan saja amarahmu, biarkan kami yang menghadapi pecundang ini."
"Tadi daddy sudah mengabari ayahmu, menurut pengakuan beliau, Gunawan mengirimkan ancaman, akan memanfaatkan video kalian untuk menghancurkan citra perusahaan, yang akan berakibat dengan anjloknya harga saham DENt PHARMATION."
Kata daddy Alex, rupanya daddy Alex dan Ayah Satrio berkomunikasi ketika ia dan kedua kakak iparnya menghabiskan sepanjang siang di kolam renang.
"Sekarang, apa yang harus kulakukan?" Arjuna menatap orang orang dewasa di sekitarnya.
Daddy Alex tersenyum, "tenang saja, kami ada dibelakangmu dan Emira, kami akan memastikan skandal itu tak merusak nama baik kalian, percayakan pada kami, dan jangan segan meminta bantuan." Jawaban itu sungguh membuat Arjuna bisa bernafas lega, daddy Alex yang terlihat dingin itu, ternyata seorang yang penyayang dan begitu melindungi keluarganya.
Pembicaraan mereka berlanjut ke masalah bisnis dan perusahaan, syukurlah ayah Satrio sudah menggembleng Arjuna dengan baik perihal perusahaan dan seluk beluknya, jadi ketika berada di antara daddy Alex, Hans, Kevin dan Andre, ia tak merasa tersisihkan, bahkan ia banyak belajar dari obrolan mereka saat itu.
Flashback end
__ADS_1
.
.
.
Beberapa hari berlalu, kesibukan di rumah sakit kembali berjalan seperti biasa, sesuai kesepakatan, Arjuna dan Emira menjalani pernikahan mereka dengan baik, tak ingin bersembunyi, tapi membiarkan saja semua mengalir secara alami, biarkan mereka tahu dengan sendirinya, tentunya mereka harus lebih menjaga sikap, bagaimana mereka di apartemen ketika hanya berdua dan bagaimana mereka di rumah sakit yang harus tetap profesional dan bertanggung jawab.
Seperti sore ini menjelang jam kerja Kedua sejoli ini berakhir, tiba tiba Arjuna mendapatkan panggilan dari Hari, seingat Juna adik bungsu Ayah Satrio tersebut masih menyimpan amarah perihal pembatalan pertunangan dirinya dengan Ayunda.
"Hallo om?" Jawab Juna.
"Juna kamu masih di rumah sakit?" Hari langsung bertanya tanpa basa basi atau sapaan.
"Masih om, sebentar lagi jam kerjaku berakhir,"
"Jangan pulang dulu, om sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, Ayu pingsan lagi,"
Arjuna agak terkejut mendengarnya, pasalnya sudah beberapa tahun ini kondisi Ayu cukup stabil, ia nyaris tak pernah sakit apalagi pingsan.
"Iya om… Aku tunggu di Emergency Room."
Arjuna segera mengakhiri panggilannya, ia bergegas keluar dari ruangan dokter residen, ia berpapasan dengan Emira yang sedang menuju ruangan tersebut.
"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat aneh?" Tanya Emira khawatir.
"Ayu pingsan, dan sekarang om Hari sedang dalam perjalanan kemari, kalo kita pulang sedikit terlambat gak papa kan?"
Emira mengangguk, walau perasaannya mulai tak nyaman.
Arjuna mengecup kening Emira sesaat sebelum melesat pergi ke Emergency Room.
.
.
__ADS_1
.
❤