CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 93


__ADS_3

BAB 93


Sejak keluar dari mobil, Arjuna sengaja tak melepaskan genggaman tangannya, ia sangat bahagia bisa memamerkan wanita cantik yang kini menjadi pemilik hati nya, terlebih ketika para karyawan berbisik bisik menatap ke arah mereka.


Senyum mereka terus mengembang, hingga tiba di depan ruangan Juna, seorang sekretaris menyambut kedatangan mereka. “Selamat pagi pak …” sapa Ayunda dengan senyum manisnya.


Senyum di wajah Emira memudar seketika, kenapa Juna tak mengatakan pada nya, kenapa harus Ayu yang menjadi sekretaris Juna, dan apa ini maksud Juna membawanya ke kantor pagi ini? 


Emia menatap tajam pada wajah suaminya, menyampaikan apa yang ada di dalam benaknya saat ini, “Yang … aku bisa jelaskan, kasih aku kesempatan untuk menjelaskan.” ujar Juna, ketika Emira hendak melepaskan genggaman tangannya, bahkan sudut matanya berkaca kaca, dan Arjuna merasa bersalah karenanya. 


“Tidak, tolong jangan salah paham,” Pinta Ayu, ia mendekati Juna dan Emira yang sedang bersitegang tanpa kata.


“Apa maksudnya ini Yu? beberapa hari lalu aku kemari, dan bukan kamu yang ada di meja sekretaris?” Tanya Juna menegaskan, ia tak ingin lagi ada kesalahpahaman antara dirinya dan Emira.


Ayu nampak gugup, ia memainkan jari jari tangannya sendiri, “Emmm … sebelumnya aku minta maaf, karena tak memberitahukan hal ini, tapi aku yang meminta pada papa Hari agar menempatkanku di sini, tapi tolong jangan salah paham dengan maksudku, bagaimanapun DENt PHARMATION adalah milik keluarga kita, bukan hanya mas Juna yang berkewajiban menjaganya, tapi aku juga ingin ambil bagian dalam misi penyelamatan ini,” 


Juna menghela nafasnya, ia tahu perasaan istrinya pasti resah memikirkan, bahan membayangkan dirinya yang akan lebih sering berinteraksi dengan Ayu ketika sedang berada di kantor. 


“Plis mas … tolong izinkan aku ikut membantu … aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku akan melupakan perasaanku pada mas Juna.” Mohon Ayu dengan sangat, ia menyadari perasaannya harus tetap terkubur, demi menghormati kakak sepupu nya yang sudah memiliki seorang istri.


Arjuna menatap bergantian ada Ayu dan Emira, berharap Emira mengatakan apa yang sedang bersarang di pikirannya, karena sejak tadi Emira memilih diam.


Arjuna membawa Emira ke ruangannya, “Yaang … plis percaya padaku, bukan aku yang meminta Ayu jadi se…” kalimat Juna terhenti, ketika Emira meletakkan jari telunjuknya di bibir Juna. 


“Aku tahu,” Jawab Emira dengan sedikit senyum di bibirnya.


“Kamu percaya padaku kan?” Tanya Juna memastikan.


“Harus, karena hanya itu yang kita punya, supaya cinta ini tak hilang begitu saja, bahkan harus terus dipupuk supaya tumbuh subur.” Emira memeluk pinggang suaminya, menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik sang suami, serta menikmati aroma maskulin di tubuh Juna, “Asal kamu bisa memastikan hatimu terjaga hanya untukku, siapapun yang jadi sekretaris mu, tak masalah bagiku.”


Juna begitu bahagia, asalkan Emira tak salah paham itu sudah cukup, bahkan sesaat lalu ia sudah berniat menggantikan posisi Ayu dengan sekretaris yang lain, jika Emira tak menyetujui nya.

__ADS_1


.


.


Dan sepanjang hari itu, Ayu mampu membuktikan kata kata nya, gadis itu benar benar cekatan menjalankan tugasnya sebagai sekretaris, Emira mengaku itu, dan ini kali pertama Arjuna bekerja di belakang meja dan komputer, bukannya di meja operasi memainkan pisau bedah.


Hari pertama yang sibuk, Emira sampai di buat mati gaya karena terlalu bosan menunggu, ketika Hans tiba tiba datang menyambangi ruang kerja Juna, Emira sedikit merasa terhibur, walau tak ada keperluan dengannya, sedikit sedikit Emira bisa ikut berbincang bersama Hans dan juga suaminya.


“Sudah lama kamu tak berlatih.” Tegur Hans ketika ia membereskan barang barangnya, karena besok atau mungkin secepatnya ia akan memulai penyelidikan terhadap dua orang yang diam diam mengambil alih aset DENt PHARMATION.


“Maaf coach … lagi sibuk.”


“Tidak terima alasan sibuk, bahkan keponakanmu semakin rajin berlatih.”


“Oh yah?”


“Yah … Luna sudah berhasil menembakkan busur panahnya dengan tepat, Dean semakin lincah memainkan pedangnya, Darren semakin bisa membidik buah mangga di pohon, Danesh mulai belajar menunggangi kuda dewasa, dan Daniel … tetap membenci matematika.” 


“Hahaha … paman membuatku merindukan mereka.”


“Siap Coach … akan ku usahakan datang.”


“Aku pamit dulu, jika sudah ada hasil, aku akan mengabari kalian,” pamit Hans pada Emira dan Juna.


“Terima kasih paman, aku gak akan melupakan bantuan yang paman berikan.”


“Ini sudah tugasku, dan untuk inilah Mertua anda membayar dengan mahal.”


Hans berlalu pergi, dan Juna kembali sibuk di balik meja kerja nya, bahkan untuk makan siang Emira harus rela berbagi perhatian dengan komputer di hadapan suaminya, sementara dirinya duduk dan menyuapi Arjuna seperti sedang menyuapi bayi besarnya, meski begitu Emira tetap merasa senang, bisa memanjakan suaminya.


Dan ternyata Emira harus mengakui, bahwa suaminya memang tetap menawan dimanapun ia berada, dengan pekerjaan apa yang tengah ia kerjakan, bahkan ketika menjelang sore hari penampilan Arjuna yang terlihat kusut, tetap menawan di mata Emira.

__ADS_1


Menjelang malam, Ayu mendatangi ruangan Juna, mengatakan bahwa pekerjaan hari ini sudah selesai, bahkan pekerjaan untuk esok sudah ia susun di meja Juna. 


“Terima kasih Yu, kamu boleh pulang dulu.”


“Baiklah … aku pamit pak, mari mbak …” tak lupa Ayu pun berpamitan pada Emira yang masih setia duduk di ruangan Juna, dengan laptop menyala, ia masih setia memperhatikan dan mempelajari Video operasi transplantasi Hati.


Emira tersenyum ramah ketika Ayu dengan santun berpamitan padanya.


.


.


.


Di kediaman Harun Sebastian.


Reza pun baru keluar dari mobil kesayangannya usai berjibaku dengan pekerjaan, sejak tak pernah lagi menjumpai Emira Reza kerap makan di rumah, sangat jarang ia membawa Lea makan di luar, hingga kadang gadis itu uring uringan sendiri, karena Reza tak pernah mengajaknya jalan jalan ke tempat hiburan, bioskop, atau sekedar makan bakso di pinggir jalan pun tak pernah.


Kini setelah beberapa minggu tinggal di atap yang sama dengan Reza, hatinya sedikit berdesir dengan debaran aneh, yang ia sendiri sulit mendefinisikannya, ini pertama kalinya ia intens dekat dengan seorang lelaki, bahkan tinggal di rumah yang sama dengannya, “Jika bukan karena keinginan mami Elena, gak sudi aku tinggal seatap sama balok es batu kaya dia.” Gerutu Alea yang lagi lagi di tinggal seorang diri di mobil, karena ia tertidur sepanjang perjalanan pulang dari Diamond mall, tempat Reza berkantor. 


“Ini hati juga, ngapain pake maresa aneh tiap deketan ama dia.” lanjut Lea, yang mulai merasa geli dengan perasaannya sendiri. “Berapa lama aku sendirian di mobil, benar benar tak berperasaan.”


Ketika Lea masuk ke ruangan mewah rumah Almarhum kakek nya Reza, ia melihat Reza sudah berpakaian santai, wajahnya sudah segar usai mandi, dan pastinya sudah makan malam, karena makanan di meja makan tak lagi utuh seperti biasa. 


Lea menjadi semin kesal karena Reza justru asyik memberi makan sang ikan dory biru kesayangannya, seakan mengabaikan keberadaannya.


“Apa aku sianida aja tuh ikan yah.” Gumam Lea seorang diri.


Tak disangka hal itu membuat Reza berpaling menatap Lea,  “Apa kamu bilang?”


Lea kebingungan, ia menoleh kekiri dan kekanan, mencari cari sosok yang tiba tiba bersuara. “Siapa yang bicara?” tanya Lea pada dirinya sendiri.

__ADS_1


“Lele !!! kamu minta di pindahin ke empang yah?” sembur Reza kesal.


“Gimana rasanya diacuhkan? emang enak?” Alea menjulurkan lidahnya sebelum berlalu menuju kamarnya, dengan sepiring makan malam yang akan ia nikmati di kamar sambil melanjutkan tayangan drakor kesayangannya.


__ADS_2