
BAB 125
Pesta pernikahan berlangsung meriah, seluruh tamu undangan datang dan pergi silih berganti, antrian panjang menuju panggung utama pun terjadi, karena kedua orang tua mempelai adalah orang terpandang, serta memiliki rekam jejak yang baik di dunia bisnis, jadi tak heran jika yang datang hari ini pun tak terhitung banyaknya.
Bahagia, lega, haru, campur aduk menjadi satu, tak terhitung pula yang memberikan ucapan selamat berbahagia serta doa agar senantiasa rukun dan langgeng sampai akhir hayat, kilatan cahaya kamera pun tak henti hentinya mengabadikan momen, bahkan beberapa artis yang kebetulan diundang pun menampilkan persembahan secara cuma cuma, mereka suka rela melakukannya karena sudah merasa sangat terhormat bisa di undang ke acara pernikahan salah seorang konglomerat ternama negeri ini.
Sementara orang orang dewasa sibuk menerima tamu undangan, para nanny pun sibuk mengawasi bocah bocah lucu yang tak pernah bisa diam walau sejenak, nanny nanny tersebut, sudah di wanti wanti agar tidak lengah sedikitpun, mengingat jumlah tamu undangan yang tak terhitung banyaknya, bila perlu, jika si kembar lelah, maka sebaiknya di ajak beristirahat saja di kamar, agar lebih mudah mengawasi dan mengkondisikan anak anak tersebut.
.
.
Kita tinggalkan sejenak kemeriahan pesta.
Di hotel yang sama namun kamar berbeda, seorang gadis tengah menangis sedih, memeluk bantal di balik selimut, lagi lagi ia mendapati kenyataan bahwa Reza memang sudah menyerah terhadapnya, hari sebelumnya, Alea kembali bekerja, dan lagi lagi ia mendapati kenyataan menyakitkan, siang kemarin Reza kedatangan tamu, seorang gadis cantik, modis, bahkan sexy, gadis itu bahkan hanya melempar senyum manis ketika melewati meja nya, ia segera ke ruangan Reza karena sepertinya sudah biasa kesana, dan terpenting sudah diberi izin khusus oleh si pemilik ruangan.
Reza tak mengatakan apa apa pada Alea perihal tamu tersebut, justru Meneleponnya hanya karena meminta tolong dibuatkan minuman, dengan perasaan dongkol luar biasa Alea mengerjakan perintah Reza, ketika mengantar minuman ke ruangan Reza, Alea melihat dua orang itu tengah berbincang akrab, duduk saling berhadapan di sofa panjang,
dari kacamata pandang Alea, Reza terlihat santai san rileks, bahkan membiarkan dasinya melorot, serta lengan kemejanya digulung hingga mendekati siku, sesekali tergelak Sesekali mereka berbicara menggunakan bahasa inggris dengan fasih.
Bahkan di sore harinya Reza lagi lagi meminta asistennya mengantarkan Lea pulang kembali ke hotel, karena Reza harus menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda, setelah sebelumnya menerima tamu.
Alea tak tahu sudah berapa lama ia menangis seorang diri, bahkan Rio sang kakak terlihat bahagia ketika berpamitan padanya, pria itu bahkan melakukan hal diluar kebiasaan, ia membeli kemeja batik mahal, karena katanya ia akan menghadiri undangan resepsi pernikahan dokter Arjuna dan dokter Emira, maka penampilannya pun harus di upgrade.
Alea menyibak selimut nya, karena kini ia sungguh lapar, karena pagi tadi melewatkan sarapan, ia hendak memesan makan siang via telepon, tapi di kejutkan dengan suara ketukan di pintu.
"Apa mas Rio sudah kembali? Kenapa cepat sekali?" Pikir Lea.
Dengan langkah malas ia menghampiri pintu, kemudian membukanya begitu saja, tanpa melihat siapa yang datang, Alea berbalik kembali menuju meja telepon.
"Masuk saja mas, kenapa masih bengong di pintu." Kata Alea ketika ia sedang mencari cari nomor customer service, dan sepertinya Rio memang masih di depan pintu, karena Alea tak mendengar suara langkah kaki memasuki kamar.
Setelah berhasil memesan makan siang, Alea pun berbalik, karena tiba tiba suasana kamar terlihat berbeda, alangkah terkejutnya Lea ketika berbalik, yang ada di hadapannya kini bukan Rio sang kakak, melainkan Reza sang bos.
"Bagaimana mas Reza bisa masuk?" Tanya Lea kesal.
"Kamu yang bukain pintu kan?" Jawab Reza apa adanya.
Sejenak kemudian barulah Alea menyadari kecerobohannya, karena tanpa memeriksa siapa yang datang, ia langsung membuka pintu.
"Ah iya, aku lupa." Jawab Lea. "Mau apa ke sini?"
"Mau kondangan,"
"Trus kenapa nyasarnya ke kamar ini? Kan pengantinnya di bawah."
"Ya masa aku kondangan sendirian sih, mas Rio aja bawa pacar."
Dhuaarr
"Mas Rio? Bawa pacar?" Tanya Alea terkejut, si jomblo abadi itu membawa pacar, pantas saja Rio masih ingin tinggal beberapa hari di ibu kota, rupanya sedang jatuh cinta.
"Ya… Ajaklah pacarmu mas, kenapa malah mampir ke sini." Gerutu Alea kesal, ia pun duduk di sofa sambil melempar pandangan ke luar jendela.
Reza mendekat, ia tahu Alea kembali merajuk karena sikap dinginnya dua hari kemarin, "kan aku gak punya pacar."
Alea tersenyum miring, "kenapa? tak percaya?" Tanya Reza.
__ADS_1
"Wajahmu gak bisa bohong mas…" Dengus Alea, ia sengaja memalingkan wajah untuk menutupi ekspresi sedihnya.
Reza tersenyum, gemas sekali melihat Lea yang cemberut, kini ia yakin bahwa Lea sedang marah sekaligus cemburu, seandainya ada pengeras suara yang sanggup memperdengarkan suara orkestra di dalam dadanya, pastilah saat ini sudah terdengar betapa heboh dan bahagianya perasaan Reza.
"Tidak… sungguh aku tidak bohong Le…" Reza berinisiatif mendekat, ia bahkan duduk di samping Lea, kemudian meletakkan kedua tangannya di pipi Lea agar mereka berhadapan, "lihat mataku… apa aku terlihat sedang berbohong?"
Kedua manik mata Lea yang masih berkaca kaca menatap kedua manik mata Reza, "aku tidak bohong kan?"
Lea mengangguk dua kali, membuat sebaris senyuman terbit dari bibir Reza, beberapa saat bertatapan, hingga Reza kembali memberanikan diri mencium kening Alea, belum habis rasa terkejut Lea, pria itu kembali mencium kedua pipi Lea, tepat ketika Lea hendak mengajukan protes, Reza justru mencium sekilas bibir Lea.
Hanya sekilas, karena kemudian Reza mengambil jarak, ia ingin melihat reaksi Lea, atas ulah nya.
Lea sendiri masih tertegun, sesaat lalu ia merasa bibir nya disengat listrik, dan kini barulah ia menyadari ada yang mengambil ciuman pertamanya, kemudian…
"Iiiiiihhh mas Reza, apanyang mas lakukan, kenapa mencuri ciuman pertamaku?" Teriak Lea marah, Lea bahkan memukul pundak dan d a d a Reza berulang ulang, namun pria itu hanya tersenyum jahil, hingga…
"Aaaahhh… aaaww…" Jerit Reza seraya memegangi dad nya, wajahnya bahkan tampak meringis seakan menahan rasa nyeri luar biasa.
Masih memegang dada kirinya, Reza kini menyandarkan kepalanya, wajahnya kian memerah, dengan rintihan yang terdengar lirih.
"Mas…" Mau tak mau rasa marah Lea kini berganti kekhawatiran. "Mas sakit yah? Sebelah mana yang sakit?" Tanya Lea khawatir.
Namun Reza tak juga menjawab, ia terlihat masih meringis menahan sakit, "sakit Lee…"
"Maaf mas, aku tak bermaksud menyakitimu," Lea mengusap d a d a Reza.
"Iya di situ sakit nya?" Ujar Reza.
"Hah…? Jadi beneran sakit ya mas, gimana nih? Aku telepon dokter yah?" Lea beranjak berdiri, hendak mengambil ponsel dan menghubungi dokter keluarga Reza, tapi Reza menangkap lengan Lea.
Lea kembali duduk, ia melihat wajah Reza memang sedikit rileks, "beneran?"
"Iya bener," Jawab Reza, "tapi ini masih berkurang satu persen." Lanjut Reza yang sudah bersusah payah menahan tawa nya.
"Benarkah, tapi syukurlah…" Lea belum menyadari bahwa Reza sedang menggoda nya.
"Bisakah kamu membantuku mengurangi lagi rasa sakitnya?"
"Iya … bisa mas, aku bisa, apa yang harus kulakukan?"
Reza menunjuk pipi kananya.
"Mas… yang jelas ngomong nya aku gak ngerti."
"Ini…" Lagi lagi Reza menunjuk pipi nya, seraya memajukan bibirnya seperti seekor ikan yang memanyunkan bibirnya.
Walau tak mengerti seratus persen dengan permintaan Reza, tapi dengan polosnya gadis itu menuruti keinginan Reza.
Cup
"Berkurang lagi dua persen."
"Hah baru dua persen?" Tanya Lea
Reza mengangguk lemah, sambil lagi lagi menunjuk pipi kanannya.
Cup
__ADS_1
"Tiga persen."
Lea terbelalak, tapi rasa bersalah dan paniknya membuatnya tak bisa berpikir logis.
Cup
"Empat persen."
Cup
"lima persen."
Cup
"Enam persen"
Cup
"Sepuluh."
Cup cup cup cup cup cup cup cup cup cup cup cup…
"Sebelas, lima belas, dua puluh, tiga puluh, empat puluh, lima puluh, lima puluh tujuh, tujuh puluh lima, sembilan puluh, seratus,"
Reza berbalik dan di ciuman terakhir bibir mereka kembali bertemu, ada jutaan kupu kupu terbang dari dada keduanya, Reza yang juga tak punya banyak pengalaman berciuman, sebisa mungkin membimbing Lea mempelajari nya, hal baru yang baru saja ia rasakan dan pelajari, walau masih terbelalak, tapi kemudian Lea mulai menikmati nya, entah kenapa ia senang memberikan ciuman pertamanya untuk Reza, apa mungkin ia sudah jatuh cinta pada pria ini, hanya hatinya dan tuhan saja yang tahu.
Reza melepas perlahan tautan bibir mereka, nafas nya naik turun tak teratur, jika dilanjutkan, mungkin Lea akan kehabisan nafas, karena gadis itu nyaris tak bernafas ketika keduanya berciuman.
"M… mas…"
"Kenapa hmmm?" Jawab Reza sambil mengusap bibir basah Lea.
"Bukannya mas Reza akan bertunangan?" Tanya Lea getir, Lea memang masih polos, tapi dari film film yang ia tonton, bila seorang pria mencium wanita nya, itu berarti ada cinta diantara mereka.
Reza tersenyum mengangguk.
"Lalu?"
"Tidak benar kita melakukan ini," Hati Lea semakin tercubit nyeri. "Bagaimana jika calon tunangan mas Reza mengetahui ini semua?"
"Dia sudah tahu kok, kalau aku mencintai gadis lain."
Lea terbelalak, ia bahkan membekap mulutnya tak percaya, sungguh sebuah pernyataan cinta yang tragis, Lea seperti terlempar ke dasar jurang paling dalam, air matanya meleleh, "lalu?"
"Dia menangis, dan bertanya 'bagaimana jika calon tunangan mas Reza mengetahui ini semua?' begitu bunyi pertanyaannya." Jawab Reza santai, tak melepaskan pandangannya sedikitpun dari wajah Lea yang terlihat getir.
Lea kembali dibuat terkejut, ia tak percaya ternyata gadis yang dimaksudkan sang mama adalah dirinya sendiri.
"Jadi…???"
"Iya… ketika kamu masih di rawat di rumah sakit, mami baru memberitahuku." Reza mengusap air mata Lea, "aku minta maaf yah, karena pernah menuduh mu, padahal ikan itu tak lebih berharga dibandingkan keberadaanmu di sisi ku, aku sungguh menyesal."
"Iya mas, aku maafkan, walau sangat terlambat aku mengatakan ini." Aku lea malu malu.
"Jadi, sebelum kita benar benar bertunangan, maukah kamu jadi pacar si jomblo ini?"
Lea tersenyum mendengar pertanyaan Reza, kemudian kembali mengangguk malu.
__ADS_1