CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 57


__ADS_3

BAB 57


“Selamat siang mas Juna…” sapa security yang pagi itu bertugas di lantai dasar Apartemen tempat Arjuna tinggal.


“Selamat siang pak.” Balas Juna.


“Ini ada titipan untuk mas Juna.” security itu mengangsurkan sebuah koper besar berwarna peach.


Arjuna tersenyum, “oh iya … ini pasti barang barang istri saya.” 


“Oh … mas Juna sudah nikah, kok nggak undang saya mas?” 


“Belum pak, resepsinya menyusul, kami masih sama sama sibuk di rumah sakit.”


“Yang … kenalin, ini pak Tarjo, nanti kalau ada apa apa pas aku gak di apartemen, kamu bisa langsung minta tolong beliau.” Emira yang sejak tadi acuh dengan percakapan Juna, mulai memberikan atensi, terlebih ketika Juna memanggilnya dengan sebutan ‘Yang’, ingin protes … tapi masih terlalu malas. 


“Saya Emira pak,” Emira mengulurkan tangannya.


“Selamat yah, saya doakan semoga langgeng, rukun selalu, sampai maut memisahkan.” doa pak Tarjo.


“Amin …” Juna menjawab sepenuh hati, harapannya memang demikian … karena ia bukan seorang player yang mudah berganti ganti pasangan, ketika kini ada yang spesial, tentu tak akan begitu saja dilepaskan.


“Mari pak … kami mau istirahat dulu, karena nanti malam kami harus bertugas di rumah sakit.” pamit Juna.


“Silahkan mas.”


Arjuna menyeret koper milik Emira, sementara Emira hanya mengikuti langkahnya dalam diam, ia belum terbiasa dengan situasinya kini, menghadapi sikap dingin daddy Alex saja ia masih shock, kini bertambah muram karena ternyata barang barangnya pun sudah dikemas dan langsung diantar ke tempat tinggal baru nya saat ini, padahal inginnya Emira, kembali ke rumah dengan alasan membereskan barang barangnya, dan jika sudah begini, rasanya benar benar seperti di usir dari rumah oleh kedua orang tuanya.


Arjuna menyalakan seluruh lampu ruang tengah ketika mereka sudah berada di dalam ruangan, secara otomatis pandangan Emira menyapu seluruh ruangan, apartemen tersebut tak begitu besar, hanya ada 2 kamar, satu kamar utama dan satu kamar lagi untuk kamar tamu, tapi Juna membiarkannya kosong tanpa lemari bahkan tempat tidur, karena selama ini hanya ada dirinya seorang di sana, ada banyak buku di ruang tengah, dan semua tertata dengan rapi.

__ADS_1


“Ada banyak buku di sini, karena aku selalu pulang ke sini jika ingin belajar, ada si mbok yang bersih bersih dan cuci pakaian seminggu sekali, tapi karena sekarang ada kamu, aku akan bilang pada si mbok untuk datang dua kali seminggu.”


“Tak perlu, aku bisa mengurus barang barangku sendiri,” jawab Emira sesimpel itu.


“Barang barang kita yang … jangan lupa, sekarang aku dan kamu sudah menjadi kita.” seloroh Arjuna dengan pede seperti biasa.


Emira menatap malas ke wajah suaminya, “Gak usah buru buru bisa nggak, aku belum terbiasa,” protes Emira.


“Oke … senyamannya kamu aja,” Arjuna melepas jas dan dasi nya, “Mau makan apa? aku pesan delivery sekarang.”


“Ikut aja …”


Arjuna nampak sibuk dengan ponselnya memilih menu makan siang pertama mereka sebagai pasangan.


“Aku mau ganti baju, mana kamarku?”


Arjuna meletakkan ponselnya, ia membawa koper Emira ke kamar utama, “lemari di sisi kanan masih kosong, isi aja dengan barang barangmu, kalau kurang nanti aku beli lemari baru, kamar mandi disebelah sana,” Arjuna menjelaskan seluruh isi ruangan, sembari menyalakan pendingin udara. “Cepatlah … aku tunggu di luar, kita makan siang bareng.”


Emira kembali ke ruang tengah, Arjuna masih setia menunggu dengan makanan yang sudah ada di atas meja, sementara note book tampak menyala di pangkuannya, entah apa yang ia baca.


Melihat kedatangan Emira, Arjuna pun menyingkirkan note book yang masih menyala, “Duduk sini.” Arjuna menepuk tempat kosong di sisi nya, namun Emira memilih duduk bersila di lantai, hingga pemandangan p*ha putih mulus itu terpampang nyata, karena saat ini Emira hanya mengenakan hot pants, Arjuna mulai gelisah, ia memalingkan wajah sembari membuang nafas perlahan, rasanya cukup gerah juga, tapi ia cukup tahu bahwa ini belum saatnya, ia masih harus menahan sabar sepenuh dada mengingat sang istri yang juga belum sepenuhnya menerima pernikahan mereka. 


Arjuna memilih ikut duduk di lantai, dan mereka menikmati makan siang dalam diam, tak ada yang mereka bicarakan, bahkan usai makan pun Arjuna masih diam. 


“Maaf jika tadi aku bersikap berlebihan, katakan apa yang kamu inginkan agar kita sama sama nyaman menjalani ini semua.” Juna mulai membuka topik


Emira menghela nafas, setelah dipikir pikir lagi, percuma rasanya ia menginginkan perceraian, karena sudah menjadi kebiasaan, bahwa daddy Alex sendiri yang akan menyimpan semua dokumen pernikahan anak anak nya, memastikan bahwa mereka tidak akan sembarangan mengambil keputusan untuk bercerai.


"Entahlah … Aku masih berusaha beradaptasi, belum ingin terburu buru juga,"

__ADS_1


"Okey… berapa lama waktu yang kamu perlukan? Sebulan? Dua bulan?"


"Mungkin lebih, aku sendiri tak tahu berapa lama waktu yang ku butuhkan agar hatiku benar benar siap untuk menerima semua ini dengan ikhlas."


"Asal kamu mau berjanji. "


"Apa??"


"Jangan lagi membahas perceraian,"


Mereka kembali bertatapan, Arjuna melihat kebimbangan dalam sorot mata Emira. 


“Jika kamu menatapku seperti itu, aku jamin satu jam lagi kamu sdah jatuh cinta padaku.”


Seketika Emira berpaling, ia beranjak menuju kamar, lebih baik tidur membuat pikiran waras, lagipula nanti malam ia masih harus menyiapkan tenaga ekstra karena mereka akan bertugas mengisi shift malam, terlalu lama bertatap muka dengan Arjuna membuat kadar kewarasan nya semakin berkurang.


“Yang … mau kemana?” pekik Juna yang melihat Emira beranjak menjauh. 


“Tidur.”


Emira tak menghiraukan panggilan Juna, ia justru menutup kedua telinganya dengan telapak tangan, rasanya telinganya masih gatal mendengar sebutan ‘Yang’ dari Arjuna.


Seketika otak jahil Juna bereaksi, “Ikuut …”


.


.


.

__ADS_1


mas Junaaa kalem aja 😁


🧡🧡


__ADS_2