CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 100


__ADS_3

BAB 100


Seminggu berlalu. 


Hubungan Emira dan Arjuna kembali manis seperti sedia kala, sementara Ayah Satrio pun sudah diizinkan pulang dan cukup melakukan rawat jalan, serta check up rutin setiap bulan. 


Gunawan tak pernah lagi terdengar kabar beritanya, yang jelas pria itu tak pernah melaksanakan niat jahatnya, ia sedang sibuk dengan kekacauan di perusahaan, padahal Alexander pun menepati janjinya, tak pernah melaksanakan ancamannya selam Gunawan tak menyebar video, tapi tanpa campur tangan Alexander perusahaan Gunawan tetap morat marit, bagaimana jika Alexander sungguh sungguh dengan ancamannya, bisa gulung tikar beneran, bertambah parah karena semua ini adalah imbas dari kisruh rumah tangga nya. 


Bisma sudah mulai belajar mendalami Bisnis yang sejak lama di geluti keluarganya, semua ini ia lakukan untuk mengisi sela sela waktu libur, menanti jadwal perkuliahan yang masih baru dimulai satu bulan lagi. 


Mengingat ada banyak masalah yang belakangan ini mendera keluarga Dewanto, Arjuna mengusulkan sesuatu yang membuat Ayah Satrio mulai mempertimbangkan satu hal, tak benar jika hanya seorang saja yang menguasai dan mempelajari bisnis obat obatan keluarga Ini. Semua keturunan eyang Suryo Dewanto, harus mempelajari seluk beluk bisnis keluarga mereka, tak ada lagi anak emas atau anak kesayangan, karena perlakuan demikian tidaklah mendidik, justru berpotensi melemahkan generasi penerus mereka. 


Bahkan usulan Juna tentang pengembangan bisnis ke produk sampingan kini mulai Ayah Satrio pikirkan dengan serius, padahal sebelum sebelumnya, ia tak pernah memikirkan hal itu, mungkin saja ini akan menjadi peluang baru memperluas jaringan bisnis keluarga Dewanto. 





"Belum selesai juga dok??" Tanya suster Oya. 


Emira tersenyum santai walau wajahnya tampak pucat karena kelelahan, sejak siang tadi Rebecca memberinya banyak tugas seperti seseorang yang sedang membalaskan dendamnya. 


Mulai Dari mengganti perban, membersihkan luka, hingga menangani keluhan keluarga pasien, semua dibebankan pada Emira, padahal ada dokter Kenan dan juga dokter Gaby, yang sedang menganggur di ruangan dokter residen. 


Setelah Arjuna mengajukan cuti, secara otomatis Rebecca yang menggantikan posisinya sebagai kepala dokter residen, hal itu ia manfaatkan untuk melampiaskan kekesalannya pada Arjuna, sebab ia tak pernah bisa menang melawan pria tersebut. 


Karena itulah ia melampiaskan kekesalannya pada Emira, selama ini nampak terlihat jelas bahwa Arjuna selalu istimewa memperlakukan Emira, bahkan beberapa kali tanpa sengaja Rebecca memergoki Arjuna membawa Emira ke ruangan tertutup, entah apa yang mereka lakukan, tapi sebagai orang dewasa tentu saja lama kelamaan ia bisa menyimpulkan sesuatu, bahwa Arjuna dan Emira memang memiliki hubungan spesial sebagai sepasang kekasih. 


"Sudah dok, istirahat saja, jam piket anda sudah berakhir dua jam yang lalu," Suster Oya mengambil alih pekerjaan Emira. 


"Terimakasih suster, aku sangat menghargai ini." 


"Pergilah, sebelum dokter Rebecca keluar dari ruang operasi, bisa bisa anda tak pulang semalaman." Seru suster Oya, ia bahkan sengaja mendorong tubuh Emira agar segera meninggalkan meja perawat. 


Emira berlalu pergi, sebenarnya ia tak masalah dengan semua tugas yang Rebecca bebankan padanya, hatinya terlalu bahagia, karena malam ini ia akan menginap di rumah orang tuanya, sampai Arjuna kembali dari Bandung. 

__ADS_1


Arjuna bersama Hans dan Ayunda, pergi ke Bandung untuk urusan penyelidikan, kasus perebutan dan sengketa tanah, rencananya Arjuna akan berada di Bandung selama tiga hari, jadi malam ini Emira sudah meminta izin pada mama Yuna untuk menginap di rumah orang tuanya. 


Emira bergegas menuju ruang ganti, tak lupa ia menghubungi sang suami, beberapa kali terdengar nada sambung, namun Arjuna tak juga menjawab. 


"Halo yang…"


Dari seberang terdengar sahutan. 


"Halo mas…" Jawab Emira, "kok lama?" 


"Iya baru selesai mandi, kenapa? Kangen?"


"Ish… pake nanya." Jawab Emira malu malu, seolah sedang berhadapan langsung dengan Juna. 


"Ganti panggilan video dong, pengen lihat wajah kamu." Pinta Juna. 


Emira segera beralih ke mode video, "mas kebiasaan, kenapa gak pake baju?" Suara Emira melengking tajam, ketika melihat Arjuna sedang duduk di tepi ranjang, tanpa berpakaian dengan handuk menutupi rambutnya yang basah. 


"Kan aku di kamar yang, gak ada siapa siapa, paman Hans dan Ayu juga di kamar masing masing, terus aku harus malu sama siapa?" 


"Yaa tapi kan?"


"STOP… !!! Jangan di bahas, aku malu mas."


"Kenapa malu bukannya kamu sudah di… eh tunggu…" Arjuna mengamati pemandangan di belakang kepala Emira, "kamu kok masih di rumah sakit, bukannya jadwal mu sudah selesai dua jam yang lalu?"


"Iya mas hari ini sibuk,"


"Sesibuk apa? Di bedah umum ada banyak dokter, gak ada yang sampai melewatkan jam pulang, jika masing masing sportif dengan jadwal." Potong Juna mulai emosi, ingin rasanya ia melabrak Rebecca saat ini juga. 


"Gak papa mas, dengan begini aku bisa belajar banyak."


"Tapi gak gini caranya yang… ini namanya pelanggaran hak asasi, kamu juga memiliki hak  yang sama, aku gak suka orang yang gak sportif gini, lagian kamu juga sih, ngapain pake main rahasia rahasia segala, Rebecca jadi semena mena sama kamu kan? …. " Omel Arjuna panjang lebar, bahkan hingga Emira usai berganti pakaian Arjuna masih sibuk melontarkan isi hatinya. 


"Udah dong mas, aku kan kangen, tapi telingaku jadi pegel denger mas ngomel."


"Ya gimana lagi, pokok nya nanti aku bicara sama abang, urusan ini gak bisa dibiarkan." 

__ADS_1


"Dih abang, abang siapa?"


"Ya abangmu lah…"


"Sudah berani panggil abang?" 


Arjuna tersenyum kikuk, di sedang berusaha keras merubah panggilan tersebut, bagaimanapun dokter Kevin tetaplah sosok yang ia hormati dan kagumi, jadi merubah panggilan bisa berarti segalanya. "Sedang berusaha yang, abang yang nyuruh,"


"Tapi mas seneng kan?" 


"Banget, agak deg deg an gimana gitu."


"Apa ku bilang, abang tuh baik, hangat, tapi manja nya amit amit apalagi kalo sama mommy dan istrinya… "


Obrolan itu tiba tiba terhenti karena ponsel Emira yang tiba tiba gelap karena kehabisan daya, padahal mereka belum say goodbye. 


Di ujung sana, Arjuna pun mengerti, "yah… low batt pasti," Gerutunya. 


Di perjalanan pulang, Emira meminta sopir sang daddy berhenti di sebuah supermarket, ia ingin membeli beberapa barang yang diperlukannya selama menginap di rumah orang tuanya. 


Emira menatap ke sekeliling, mencari rak pembalut, ia ingat seharusnya sudah seminggu yang lalu datang bulan, tapi si tamu bulanan tak kunjung datang, bersyukur juga sih, karena dirinya sedang kehabisan stok pembalut. 


Ketika sedang berkeliling, tiba tiba pandangan matanya tertuju pada rak obat obatan, "test pack," Gumamnya, Emira menggeleng dengan senyum miring di bibirnya, "tidak, pasti tidak kan?? Mana mungkin secepat ini, ini pasti karena aku kelelahan saja," Lanjunya, kemudian berjalan santai melewati rak obat obatan tersebut. 


Tatapan matanya kembali beredar, kini ia melihat rak susu ibu hamil dan me ny us ui. 


Perasaan Emira kembali tak tenang, lagi lagi ia terpikirkan kemungkinan tersebut.


.


.


.


mohon maaf yah, jadwal update tidak teratur, karena sering mentok ide, dan anak anak sedang libur sekolah, plus sedang tahap awal bikin cerita ke lima cucu Alexander dan Stella.


mohon dukungannya, like, komen, vote, kembang dan kopi seikhlasnya, terima kasih.

__ADS_1


sarangeeeee 💙


__ADS_2