
BAB 47
“Om …”
“Om …”
“Om …”
Seru para bocah, mencoba membuyarkan lamunan Juna.
“Oh iya, ada apa?” tanya Juna, walau sesekali masih melirik wajah cantik yang sedang kesal tersebut, Arjuna seperti baru saja mendapatkan durian runtuh, bagaimana tidak Mira yang ia cari cari selama ini sangat dekat dengannya, pantas saja ia merasa ada banyak kemiripan Mira dengan Emira.
“Om mau apa kesini? mau ketemu papa yah?”
“Papa kan dirumah sakit om.”
Celoteh si kembar dengan riang, kedekatan mereka membuat para bocah itu tak canggung menanyakan hal hal remeh pada Juna.
Gadisya dengan celemeknya menghampiri ruang tengah yang terasa ada perubahan suasana.
“Loh dokter Juna? tumben main?” tanya Gadisya tanpa sungkan, ia sudah biasa melempar candaan pada pria muda tersebut.
“Dek … Kok Dokter Juna gak di suruh … ma …suk …” Gadisya tiba tiba tercekat menyadari perubahan penampilan sang adik ipar, rambut di kepang kanan kiri, kacamata bulat, serta lingkaran hitam di pipi kanan, Gadisya seolah tahu apa yang kini tengah dirasakan sepasang muda mudi tersebut.
Emira berbalik, ia menyambar tissue basah, membersihkan lingkaran hitam di pipi kanan nya, melepas kepang rambut dan kacamata nya, dan bim salabim, penampilannya kembali berubah.
‘Cantik sekali’ Arjuna membatin, dadanya berdebar tak jelas, semua gelisah pudar seketika, berganti dengan bahagia tiada tara.
__ADS_1
“Om dokter tampan, ada perlu dengan aunty kalian.” jawab Juna dengan percaya diri maksimal, ketika Emira menghampirinya.
“Ish … ge er, sok ke pede an.” gerutu Emira kesal, di saat ia tengah resah memikirkan segala kemungkinan, justru lelaki di hadapannya ini, sempat sempatnya memuji dirinya sendiri.
Gadisya ikut senyum senyum tak jelas mendengar penuturan Juna, ‘akhir nya puzzle itu tersusun sempurna, semoga kalian memang ditakdirkan berjodoh.’ harap Gadisya lirih.
“Anak anak … Ayo mandi dulu, sebelum kalian makan malam.” bujuk Gadisya.
Anak anak lucu itu nampak cemberut, ketika harus meninggalkan om dokter kesayangan mereka. “Om kami mandi dulu yah, om jangan pulang sebelum makan malam.” pamit Daniel yang ditambahi dengan ancaman.
“Siyap jagoan,” Jawab Juna dengan senyum tersungging di bibirnya.
Setelah kelima keponakannya berlalu, emira menarik lengan Juna.
Emira berjalan di depan Juna, hingga hembusan angin membawa aroma parfume favorit Emira mampir ke indera penciuman Juna.
‘Yah … Ini Aroma parfume yang malam itu menguar dari tubuh Mira.’
Mira terus berjalan kemudian dengan cepat ia membawa lelaki itu ke tempat terpencil di sudut taman yang mulai berselimut remang remang senja, kemudian menghempaskan lengan Juna, “ya ampun biasa aja dong, jangan main kasar.” protes Juna ketika Emira dengan kesal menghempaskan lengannya.
“Mau ngapain kesini?” tanya Emira dingin. Emira tampak tak bergeming walau Juna terlihat memasang senyum di wajahnya.
“Sorry kalo ganggu, tapi sebenarnya aku mau nengok kamu yang kata dokter Kevin sedang demam hingga menggigil, tak kusangka aku malah bertemu kalian berdua, kenapa tak memberitahuku sejak awal jika kamu adalah Mira?”
“Gak penting membahas masa lalu,”
__ADS_1
“Kamu marah karena aku tak menepati janjiku hari itu?”
Emira terdiam, sudah tak ingin lagi ia membahas apa yang ia korbankan lagi di masa lalu, “aku tak ingin membicarakannya, sebaiknya kamu pulang.”
Arjuna tersenyum samar, “Pulang? tidak … kita harus bicara tentang peristiwa kemarin.”
“Pulang lah, aku tak ingin membahas apapun soal kemarin.”
“Tapi aku ingin.” Jawab Arjuna tak mau menyerah.
Emira mendelik kesal, ia tak mengerti kenapa Arjuna begitu santai dan tetap percaya diri seperti saat ini, bahkan ia terlihat lebih menyebalkan dari hari hari biasanya.
“Aku mau masuk, pergilah.” Emira berbalik badan, hendak kembali kedalam Rumah, tapi Arjuna menangkap lengan gadis itu, bahkan tarikannya terlalu kuat hingga membuat mereka bertabrakan, Arjuna reflek memeluk pinggang Emira agar gadis itu tak terjatuh, dan hal itu justru membuat Emira mendongak dengan wajah cukup dekat dengan Arjuna
Sejenak Arjuna terpukau, menatap wajah Emira yang kini begitu dekat dengan wajah nya, hingga membuat Arjuna gagal fokus, menatap bibir dan leher yang pernah ia beri tanda cinta, walau tanda itu sudah pudar tapi Arjuna bisa mengingat dengan jelas, bahwa pagi itu ia melihat beberapa jejak merah di leher dan sekitaran pundak Emira.
Arjuna menggeleng resah, disaat seperti ini bisa bisa nya ia mengingat kejadian malam itu.
.
.
.
keributan mereka masih terus berlanjut yah.
.
__ADS_1
.
💖💖