CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 122


__ADS_3

BAB 122


Pukul enam sore, Alea gelisah melongok jam tangannya, tak ada tanda tanda Reza keluar dari ruangannya, padahal biasanya ia meninggalkan tempat kerja bersama pria itu, dan kini ia terjebak, tak ingin pulang, berharap Reza berinisiatif mengajaknya pulang. ‘Yah Lea … mungin mas Reza memang sudah menyerah terhadap gadis manja sepertimu’, gumam Lea pasrah. 


tok 


tok 


tok


Reza mengalihkan perhatiannya dari layar komputer di hadapannya, “Masuk.”


Lea melangkah masuk ke ruang kerja Reza, “Permisi pak, ini jadwal anda esok hari, dan ini daftar para pengunjung VIP yang anda minta siang tadi.” 


“Terima kasih Le, pekerjaanmu sempurna seperti biasa,” 


“Pak … eh Mas … aku permisi …”


“Permisi bos, saya butuh tanda tangan anda, karena laporan ini harus dikirimkan esok hari ke kantor pusat.” pintu ruangan masih sedikit terbuka, hingga Egi bisa langsung masuk tanpa mengetuknya.


“Iya … letakkan di sini, aku akan memeriksa dan menandatanganinya nanti,” Jawa Reza memijat pelipisnya, biasanya di saat seperti ini, Alea yang menemaninya lebur, tapi kali ini ia harus bertahan seorang diri, demi kelancaran misi nya.


“Tapi bos ini sudah jam pulang anda,” seru Egi mengingatkan.


“Iya aku tahu, kamu bilang ini harus ditandatangani dan diserahkan besok kan?”


“Iya bos,” jawab Egi, “tapi …”


“Kalian pulang saja, dan tolong antarkan Lea sampai hotel dengan selamat.” perintah Reza, yang membuat hati Lea tercubit sakit, apakah ini layak disebut patah hati? Lea belum pernah mengalaminya.


“Baik Pak.” jawab Egi penuh semangat.


“Istirahatlah Le … sampaikan salamku untuk mas Rio yah.”


Alea hanya mengangguk, kemudian berbalik dengan wajah semakin muram.


Sepeninggal Egi dan Alea, Reza buru buru membuka ponselnya.


-Setelah mengantar Lea, kembali ke kantor- Reza


-Jaga mata- Reza


-Jaga sikap- Reza


-Pastikan Lea tiba dengan selamat- Reza

__ADS_1


-Sedikit saja ia tergores, habis kamu di tanganku-Reza


Sementara Egi, rasanya seperti dihempaskan ke dataran paling rendah, setelah melambung setinggi tingginya ke angkasa, bayangkan saja, baru beberapa saat lalu ia diizinkan pulang oleh sang bos, dan kini tak sampai lima menit, sang bos menarik kembali kata kata nya. 


-Saya kira anda sungguh sungguh menyuruh saya pulang- Egi


-JANGAN MIMPI- Reza


-Bawahan maca apa yang meninggalkan bos nya dengan setumpuk pekerjaan- Reza


-Segera kembali atau uang gajimu terancam- Reza


-Baik bos 😑- Egi


Egi kembali menyimpan ponselnya.


.


.


Hoeeek …


Hoeeek …


Emira menegakkan tubuhnya, sementara Juna menekan tombol flush agar closet kembali bersih, Emira membasuh wajahnya di wastafel, kemudian mengeluarkan minyak kayu putih dari dalam tas nya.


“Sini biar aku saja,” Juna mengambil alih minyak kayu putih dari tangan Emira, kemudian membalurkannya di perut, d a d a, serta punggung sang istri, “Masih ingin muntah?” tanya nya, usai menyimpan kembali minyak telon di tas Emira.


Emira menggeleng lemah, wajahnya tampak pucat kemerahan, Arjuna sungguh iba melihatnya, ia menyingkirkan anak rambut yang berserakan di wajah Emira. “Kasihan sekali istriku, baru juga makan, sudah muntah, mau makan lagi?” Tanya Juna ketika Emira masuk dalam dekapan hangat nya.


“Mau … tapi tidak di sini.” jawab Emira dengan suara lemah.


“Baiklah … kita pindah restaurant,”


“Tidak … aku gak mau restaurant.” Jawab Emira lagi, kedua tangannya memeluk pinggang Juna, sementara wajahnya menengadah manja. 


“Trus mau apa sayangku?” Tanya Juna lagi.


“Martabak manis.” 


Arjuna tersenyum, “Sepertinya bukan ide buruk,” Jawab Juna.


Mereka pun meninggalkan restaurant, dan Juna benar benar menuruti keinginan Emira, ia membawa sang istri menuju tempat mangkal penjual martabak yang sedang Viral di medsos, bahkan Emira harus berusaha sabar karena antrian yang mengular, tapi semuanya terbayar lunas, ketika seporsi martabak manis dengan topping keju melimpah kini tersaji di hadapannya, bahkan Arjuna juga memesan martabak telur, padahal Arjuna tak ikut memuntahkan makanan, tapi memang sejak kehamilan Emira, selera makan Juna meningkat drastis.


“Gimana?” Tanya Juna, ketika Emira memasukkan potongan martabak manis kemulutnya, si bumil tersebut kelihatan sangat menikmati makanan yang tersaji di hadapannya, bahkan ia tak menghiraukan hembusan angin yang meniup rambutnya, “pelan pelan makannya yang…”

__ADS_1


“Ini enak banget maaass … kenapa tadi tak langsung kesini saja,” 


“Yaaa … aku kan ingin memberimu kejutan sayang, mana tahu kalau berakhir kamu memuntahkan semua yang sudah kamu makan.”


Emira tersenyum dengan mulut penuh, “M a a f.” Ucapnya dengan susah payah.


Arjuna mengambil selembar tissue untuk membersihkan bibir sang istri yang belepotan mentega dan Keju, “Iyaa … gak papa, aku masih sanggup membelikan banyak makanan untukmu, asal kamu bahagia, dan anak kita sehat.”


Emira kembali tersenyum dengan mulut penuh makanan, “Mas sepertinya aku mau lagi,” Emira menunjuk martabak manis di hadapannya yang kini tersisa tiga potong.


“Baiklah … aku pesan lagi yah, manis satu telur satu juga?”


“Iya mas, aku juga mau nyobain yang telur.”


Baiklaaahhh bumil memang harus banyak makan agar bayinya sehat dan bahagia…


Kita tinggalkan Juna dan Emira yang melanjutkan acara  makan malam mereka.


Sementara itu di Twenty Five Hotel, Alea harus menghadapi tatapan tajam sang kakak, pasalnya siang tadi diam diam ia nekat meninggalkan kamar, dan pergi bekerja, jelas saja membuat Rio panik, syukurlah Reza mengirimkan pesan singkat bahwa Alea sedang berada di kantornya.


“Jangan diulangi lagi yah?” 


“Iya mas.”


“Mas khawatir sekali tadi, untung saja Reza mengabarkan pada mas tentang keberadaanmu,”


Alea hanya diam menunduk, ia bahkan tak berselera menyantap makanan yang berada di hadapannya.


“Jadi gimana? kamu akan tetap kerja di Jakarta?” tanya Rio.


“Iya mas, tapi … aku tak mau tinggal di rumah mas Reza.” pinta Alea.


“Nggak bisa, mama papa pasti marah, belum lagi tante Elena dan om Haris.”


“Tapi aku gak mau mas, bagaimana jika calon istri mas Reza salah paham?” 


Diam diam Rio tersenyum tipis, Alea tak tahu bahwa kedua orang tuanya mengirim pesan singkat tadi pagi, atas permintaan Rio, ia ingin melihat seberapa besar perasaan Alea pada Reza, lagi pula yang dijodohkan sejak kecil memang mereka, hanya saja kedua orang tua mereka tak pernah memberitahukan hal tersebut, bahkan menempatkan Alea di rumah Reza juga rencana agar keduanya semakin dekat, eh … siapa sangka ada tragedi diluar dugaan.


“Tidak akan, nanti biar mas yang bicara dengan gadis itu, mas tak tega meninggalkanmu di tempat asing seorang diri.”


“Tetap saja mas, tinggal di rumah mas Reza juga bukan pilihan yang bagus, aku akan mencoba mandiri mas, selama ini kalian menjagaku, sekarang izinkan aku menjaga diriku sendiri,” pinta Lea memelas.


“BIG NO !!!!” jawab Rio, “Jika kamu laki laki, mas akan izinkan, tapi kamu seorang gadis, tak akan mas lepaskan begitu saja jika bukan dengan Reza atau Suamimu.”


Alea kembali cemberut, ia tahu berdebat dengan kakak nya adalah hal yang sia sia, karena sudah bisa dipastikan bahwa dirinya yang akan kalah.

__ADS_1


__ADS_2