
BAB 132
Pagi hari yang heboh, karena kini sepasang suami istri itu, memulai hari dengan memandikan bayi kecil mereka bersama sama.
"Itu mas… lipatan kulitnya jangan terlewat." Seru Emira yang mengomando Juna yang tengah menyabuni baby Kenz.
Juna pun melakukan apa yang diinstruksikan Emira, sementara baby Kenz yang mulai bisa tertawa, tampak memutar bola matanya ke sekeliling seolah memindai pemandangan baru di sekitarnya.
Setelah memastikan semua lipatan di sabun dengan rata, "sudah yang… coba di cek suhu airnya." Perintah Juna pada Emira, sejak tadi sang istri sibuk mengabadikan momen dirinya yang sedang memandikan baby Kenz.
“Sudah mas, Sini Kenz nya,” pinta Emira, Menyabun adalah tugas Juna, dan membilas adalah tugas Emira, atau sebaliknya, pokok nya apapun itu momennya, mereka melewatinya bersama sama, apalagi kini mereka sudah tinggal di rumah mereka sendiri, sebisa mungkin sebelum berangkat kerja, Juna membantu kesibukan pagi sang istri.
Setelah ritual mandi yang membuat basah baju kedua orang tuanya, Baby Kenz kini sudah harum dan tampan dengan style bermain di siang hari, pipi gembulnya mengembang sempurna ketika sedang tertawa lebar.
“Duh gemesnya anak ayah.” Juna menciumi kedua pipi puteranya, membuat baby Kenz tertawa semakin kencang, sementara Emira kembali membereskan perlengkapan baby Kenz dan dikembalikan lagi ke kamar bayi mereka.
“Mas … ayo siap siap, sudah jam berapa ini?”
“Iya, sebentar sayang, masih kangen sama si tampan ini.” Juna beralasan, baby Kenz benar benar menggemaskan, Juna selalu di buat lupa waktu jika sudah bercengkrama dengan bayi kecilnya tersebut.
Tengah asyik bercengkrama tiba tiba Juna mengingat sesuatu, seketika senyum di wajahnya memudar, “sayang …” panggil Juna lirih.
“Iya mas,” jawab Emira yang sudah duduk kembali di tepi tempat tidur, usai membereskan perlengkapan Baby Kenz.
“Semalam aku keluarkan di dalam.” Juna berbicara dengan suara perlahan … ia takut Emira akan mendapatkan serangan jantung mendadak, karena Juna dengan jelas mengingat bahwa Emira akan membuatnya berpuasa selama setahun penuh jika membuat Emira kembal hamil, tiba tiba ia dijalari rasa takut luar biasa.
PLETAK
Ponsel Emira pun terjatuh begitu saja ke lantai, sama seperti suaminya ia pun kini di jalari rasa takut, terlebih baby kenz bahkan belum genap enam bulan, jika dirinya kembali hamil, tentu si tampan menggemaskan ini tak akan mendapatkan ASI eksklusif yang sangat penting bagi tumbuh kembangnya.
“Aku belum minum pil penunda kehamilan, bahkan semalam aku pun langsung tertidur,” Emira berkata lirih.
__ADS_1
“Ya wajar sih yang, semalam teriakanmu sungguh kencang,” goda Juna tanpa sadar.
Bugh … sebuah bantal melayang mengenai wajah Juna, yah Emira dengan kesal melempari wajah suaminya dengan bantal secara bertubi tubi, “Ampun yang … iya … aku yang salah, tenang aja, aku akan bertanggung jawab kok, lagi pula semalam itu emang aku lagi kangen kangennya yang, emang kamu gak kangen aku.” Cuit Juna dengan nada manja andalannya.
“Kamu nyebelin mas, bisa bisa nya disaat genting begini bercanda.” omel Emira.
“Candaan apa yang, gak ada aku bercanda, aku serius, aku lelaki baik, dan aku pasti akan bertanggung jawab padamu … sama seperti keinginanku setahun yang lalu.”
Lagi lagi Emira melempar bantal ke wajah suaminya.
Tak disangka, baby Kenz tiba tiba tertawa kencang karena melihat Ayah dan bunda nya perang bantal, tentu saja tawa itu pun menular pada kedua orang tuanya.
“Kamu suka melihat ayah teraniaya? Iya? “ lagi lagi juna menghujani wajah Baby Kenz dengan ciumannya, tawa baby Kenz semakin kencang, tapi tentu saja membuat Juna menyadari bahwa ada mendung di wajah Emira, tiba tiba wanita cantik itu kehilangan senyumnya.
Arjuna membawa baby Kenz di pelukannya, kemudian memindahkan bayi lucu tersebut ke pelukan sang bunda.
Arjuna memeluk erat istri dan anaknya di waktu bersamaan, “Ada aku yang … kalau kamu hamil lagi, aku akan sangat bersyukur, dia juga buah cinta kita, tak adil rasanya jika kehadirannya kelak tak kita sambut dengan penuh rasa syukur,”
“Tapi Kenz belum enam bulan mas, kasihan dia kalau tidak mendapatkan ASI eksklusif.”
“Jangan takut yah, kita hadapi bersama sama, ada aku, ada mommy dan mama yang pasti siaga jika baby Kenz butuh pengasuh tambahan, aku pun akan memundurkan lagi jadwalku kembali ke rumah sakit,”
Juna terus berbicara menyalurkan energi positif demi menyemangati kembali sang istri, agar tak jatuh terpuruk.
.
.
Dua bulan kemudian.
Emira memasukkan tiga buah alat test kehamilan sekaligus ke dalam tabung berisi urine, karena setelah ditunggu selama dua bulan ia tak kunjung mendapatkan menstruasinya, seusai masa nifas nya berakhir, dua bulan lama nya ia menghibur diri, bahwa memang ada kasus yang demikian, seusai nias seorang ibu tak jua mengalami menstruasi hingga dua tahun masa menyusui berakhir, tapi Emira sungguh tak sabar, jadi ia meminta tolong pada suaminya untuk membelikan alat test kehamilan, demi menghilangkan rasa cemas dan penasaran yang sudah di ubun ubun.
__ADS_1
Emira mencuci tangannya sebelum meninggalkan kamar mandi, ia melongok kamar baby Kenz sesaat sebelum kembali ke kamar nya bersama Juna.
“Mas … bangun.” Emira mengguncang pundak Juna.
Arjuna mengerjapkan mata sesaat, sebelum benar benar tersadar dari mimpi indah nya, ia melihat Emira tengah menantinya terbangun, “Ada apa sayang?” tanya Juna, tak lupa mengusap pipi sang istri.
“Lihatin mas, aku takut.” pinta Emira.
“Lihat apa yang, kan aku udah buka mata nih, lihat kamu yang cantik walaupun baru bangun tidur.” Juna mulai menggerakkan telapak tangannya.
“Iiiiihhh … ini tangannya, tolong dikondisikan.”
“Hehehe … ini masih pagi yang, kamu tahu kan gimana reaksiku kalau pagi.”
“Tuh kan, mulai lagi, itu lihatin test pack nya, aku takut.”
“Ohhh … kirain kamu mau ngajakin.” jawab Juna, dengan enggan Juna beranjak dari tempat tidur, “Kamu berharap apa yang?”
“Berharap kamu segera berdiri dan melihat perubahan pada alat test kehamilan istrimu.” jawab Emira gemas, karena sejak tadi Juna terus terusan menggoda nya.
“Baiklah … baiklah … suamimu ini akan segera melakukan tugas mulia dari ibu ratu.”
Juna pun berjalan dengan langkah gontai, karena ia sungguh masih ingin memejamkan mata, tapi tak tega menolak keinginan istri nya.
Kedua matanya menatap tabung berisi urine, dan ada tiga buah alat test kehamilan di sana.
Arjuna kembali mengedipkan kedua matanya, takutnya karena masih mengantuk, pandangannya jadi rabun, tapi sungguh ia tak salah lihat, karena setelah beberapa kali berkedip ketiga alat test tersebut masih terlihat sama, ketiganya sama sama menunjukkan dua buah garis berwarna merah terang.
“Yaaaanggg …” Arjuna berlari meninggalkan kamar mandi, menjumpai Emira yang duduk menanti dengan wajah harap harap cemas.
.
__ADS_1
.
Yang kemarin tanya siapa Leon, sekarang sudah terjawab kan?