
BAB 117
Jika Ayu sedang merasakan perasaan tak karuan, maka lain hal nya dengan Rio yang bahkan hingga beberapa menit berlalu ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya, pemuda berusia dua puluh sembilan tahun ini, tengah merasakan perasaan aneh ketika untuk pertama kalinya ia menerima pesan dari seorang gadis, bukan pesan yang panjang, tapi cukup membuat hatinya berbunga.
Pak Kades muda ini, pria yang sangat tertutup, ia juga pemalu seperti sang papa, pernah memiliki masa lalu yang ia tutup rapat rapat, hingga othor bulan pun dilarang menceritakannya ke para reader, masa lalu bersama seorang gadis yang membuatnya trauma, hingga tak ingin memiliki kekasih.
Tapi beberapa hari nya bersama Ayunda sang ibu Kades abal abal, membuat perasaannya kacau balau, ketika bersama Ayunda si gadis kota ia merasa seperti pria yang tahu segalanya, begitu banyak pertanyaan yang Ayu lontarkan, hingga Rio kewalahan memberi jawaban, bahkan hatinya senang bukan kepalang, karena kadang di tengah obrolannya dengan Ayu, gadis itu terlihat melontarkan kalimat yang dimaksudkan untuk menggoda, namun Rio berpura pura tak dengar, atau menanggapinya secara berlebihan.
“Yah … Yah … Yah … kok ilang?” tanya Rio panik karena Ayu menghapus pesannya beberapa saat yang lalu. “Kenapa kamu menghapusnya? bukannya pesan yang sudah kamu kirim harusnya sudah jadi milikku? enak aja main hapus menghapus aja.” secara tak sadar, Rio berdiri dan seperti orang tak waras memaki ponsel yang tergeletak diatas kasur.
Rio kembali naik ke atas kasurnya, kemudian menekan tombol hijau, tapi … lagi lagi ia ragu, kemudian putus asa, menganggap bahwa Ayunda hanya salah mengirimkan pesan, “Yah … mungkin dia hanya salah mengirim pesan.” gumam Rio dengan suara lemah.
.
.
.
H-5 resepsi pernikahan Arjuna dan Emira
“Yang …” Arjuna yang baru keluar dari kamar mandi segera mencari cari keberadaan istrinya.
Arjuna yang masih menutup tubuhnya dengan selembar handuk sebatas pinggang, masuk ke walk in closet nya, karena ia lihat Emira belum menyiapkan pakaian kerja nya, dengan cepat Juna berpakaian, tak lama kemudian Emra datang menghampiri, “lho sudah selesai mandi nya?” tanya Emira.
“Hmmm … dari mana yang? sampe pakaian kerjaku belum kamu siapin.” tanya Juna, bermaksud mengajukan protes, karena sang istri melupakan tugasnya, “Gimana nanti kalo kamu sudah melahirkan, kamu pasti akan melupakanku.” gerutunya.
Emira mencubit hidung suaminya, akhir akhir ini Arjuna jadi lebih manja, sungguh aneh, karena ia bahkan cemburu dengan anaknya sendiri yang bahkan belum lahir kedunia.
“Dih … manja, biasanya kalau aku belum pulang dari rumah sakit, mas gak protes tuh, harus ambil baju ganti sendiri, bahkan kadang bisa tidur sendiri.” Emira membalas protes yang Juna ajukan, jari jemari tangannya kini tengah membantu mengancing kemeja , kemudian mulai membuat simpul untuk mengikat dasi.
“Tapi kan ini berbeda yang, karena ada kamu aku jadi pengen disayang sayang.”
Cup …
Emira mengecup bibir Arjuna yang masih mencebik, “Sayang kok mas, jangan khawatir, aku selalu menyayangimu, bahkan semuanya sudah aku persembahkan buat mu, hati, cinta, bahkan kehangatan diatas ranjang, apa lagi yang kurang?"
Arjuna menggeleng, "terima kasih sayangnya aku." Kemudian menggendong Emira, bahkan melingkarkan kaki Emira ke pinggangnya, kemudian menciumi wajah Emira.
“Udah … udah … “ teriak Emira ketika Juna menciumi wajah dan bibirnya, “mas … ampun … geli …” lanjut nya ketika Juna mulai mencium area leher dan menggelitik telinganya.
Arjuna tergelak puas, mendengar teriakan istrinya, “Siapa suruh cantik, bikin aku makin gemes kan, pengennya di kamar terus, gak keluar keluar,”
“Ish … dasar laki laki … mikirnya urusan kamar melulu.”
“Iya lah … apalagi kalo yang nemenin di kamar secantik kamu, aku jamin bisa hamil setiap tahun, hahaha …”
Emira tercengang mendengar pengakuan suaminya, “MAS … jahat banget sih … tega kamu,”
“Nggak yang … aku bercanda, tapi maaf kalau gak bisa nahan, malah kelepasan dan keluar didalam.”
“Pokoknya gak mau tahu yah, aku mau melanjutkan masa residenku dulu setelah melahirkan.”
“Iya sayang, aku selalu mendukung cita cita mu, apapun itu, selama bertujuan baik, untuk menolong sesama manusia, aku akan merelakan waktu malamku denganmu.”
“Awas kalo cari selingan yang lain!!!” ancam Emira.
__ADS_1
“Nggak yang, gak akan, hatiku aja rasanya mau meledak saking sudah kepenuhan dengan namamu, wajahmu, rasa cinta padamu, bahkan semua tentangmu, lagi pula aku gak mau mati konyol di hajar Daddy, karena aku mencoba menghianatimu.”
.
.
.
“Sayang … siang nanti aku ga bisa antar jemput kamu ke rumah sakit.” ujar Juna ketika memakai sepatu nya.
“Kenapa?”
“Aku harus menghadiri sidang, karena hari ini aku bersaksi.”
“Baiklah tidak papa, nanti aku naik taxi saja, semoga sukses sidangnya yah?”
Arjuna mengangguk, kemudian melabuhkan kecupan di kening Emira, sesudahnya ia berlalu pergi menuju tempat kerja nya.
"Baik hati sekali dia… merelakan cita cita nya tertunda demi menyelamatkan perusahaan keluarganya… aku akan mendukungmu mas, kita pasti bisa melewati ini semua," Gumam Emira selepas kepergian suaminya.
Emira kembali masuk kedalam rumah, kedua telapak tangannya mengusap lembut perutnya yang mulai sedikit berbentuk, "selamat tiga bulan sayang mama, kamu sehat sehat yah, mama papa menyayangimu." Bisik Emira seorang diri.
.
.
.
Pria tampan itu kembali menekan tombol hijau di layar ponselnya, ia sungguh berharap kali ini, Lea bersedia bicara dengannya, yah dia adalah Reza, jika sebelum sebelumnya ia hanya bisa berbicara dengan orang tua dan kakak Lea, maka kali ini ia ingin berbicara secara langsung dengan gadis itu.
Tok
Tok
Tok
Egi memasuki ruangan Reza setelah mengetuk pintu, "Bos… dokumen dokumen ini butuh tanda tangan anda."
Reza memutar kursi kebesarannya, hingga kembali menghadap meja kerja nya, setumpuk dokumen lagi lagi menghalanginya menghubungi Alea, ia tak bisa begitu saja mengabaikan perusahaan, 'yah… aku akan berusaha lain kali, nanti malam mungkin', gumam Reza dalam hati, ia tersenyum tipis, mengingat bahwa tanpa ia sadari nama Emira tersingkir dari hatinya, hanya gara gara ia sibuk memikirkan cara membujuk Alea.
"Bos… anda baik baik saja?" Tanya Egi memastikan, karena ia melihat Reza tersenyum seorang diri.
"Hmm…" Jawab Reza, tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen yang sedang ia baca sebelum di tanda tangani.
"Lalu, kenapa anda tersenyum sendiri? Ada yang lucu?" Tanya Egi, takut sih sebenarnya, tapi ia hanya mengikuti dorongan hati nya.
Reza menghentikan kegiatannya, kemudian mendongak menatap wajah asisten sekaligus sekertaris nya. "KEPO…" Jawab Reza singkat.
Jelas saja membuat wajah Egi mendadak cemberut, niat hati ingin mencoba lebih dekat dengan sang bos muda, tapi lagi lagi ia gagal. "Tak apa Gi… lo bisa coba lain kali." Gumamnya dalam hati.
Egi pun pamit undur diri hendak kembali ke meja kerja nya sendiri.
"Egi…" Seru Reza.
"Iya Bos?" Egi berbalik,
__ADS_1
"Kamu pernah memiliki kekasih?" Tanya Reza, lagi lagi tanpa menatap wajah lawan bicara nya.
"Pernah sih bos, ada enam atau tujuh gadis yang pernah menjadi kekasihku, ada apa bos?"
Reza menghentikan kegiatannya, untuk sejenak dia ragu ragu, apakah harus menceritakan kegelisahan hatinya pada asisten barunya. "Apa yang kamu lakukan kalau kekasihmu merajuk?"
Egi tak bisa menutupi rasa terkejut nya, rupanya sang bos muda sedang gelisah karena masalah cinta, wajah Egi kini berubah menyeringai.
"Wajahmu mengerikan, jangan tersenyum seperti itu."
"Maaf bos." Egi nyengir memamerkan barisan giginya. "Sebelumnya saya mau tanya bos, apakah pacar anda sedang merajuk?"
"Dia bukan pacarku."
"Heh? Lalu siapanya bos, sampai sampai membuat bos gelisah seperti ini?
Reza menghembuskan nafasnya, kemudian ia mulai menceritakan apa yang terjadi pada nya beberapa minggu terakhir ini.
Egi manggut manggut usai mendengar curahan hati sang bos.
"Bos sudah pernah memberinya bunga?"
"Sudah."
"Menelepon nya?"
"Setiap hari."
"Dia mau bicara?"
"Nggak… Biasanya malah bicara dengan orang tua atau kakak nya."
"Datangi rumahnya?"
"Sudah, bahkan bersama kedua orang tuaku, kami menginap, dua minggu di rumahnya."
"Dan dia masih mengabaikan anda?"
Reza mengangguk lemah.
"Kalau begitu berhentilah bos."
Reza tiba tiba meradang, "kamu menyuruhku menyerah?"
"Nggak bos, bukan begitu, tapi anda menjauh sejenak,"
"Kenapa aku harus menjauh?" Tanya Reza penasaran, maklum selama ini ia benar benar konsisten menjadi pria baik, jadi tak tahu menahu urusan cinta. "Bagaimana kalau dia malah menemukan pria lain?" Tanya Reza gelisah.
"Biar dia merindukan anda."
Kedua bola mata Reza terbelalak, "yakin dia bakal merindukanku?"
"Kalau anda tak yakin, silahkan buktikan, minimal gadis itu merasa kehilangan perhatian yang anda berikan selama ini." Jawab Egi.
"Kalau gagal aku akan menghajarmu."
__ADS_1