
BAB 116
H-6 Resepsi pernikahan Arjuna dan Emira.
Sementara Arjuna dan Emira sedang berbahagia menantikan hari diadakannya resepsi pernikahan mereka, di sebuah kamar, seorang gadis tengah senyam senyum sendiri mengingat seorang pria yang baru baru ini memenuhi pikirannya, bagaimana pria pemalu itu melawan rasa grogi dalam dirinya, agar bisa berkomunikasi dengan dengan seorang gadis tanpa rasa canggung.
Yah … dialah Ayunda, adik sepupu Juna yang saat ini tengan kasmaran pada pria yang hampir sepuluh tahun lebih tua darinya, sikap Rio yang sangat dewasa membuat nama Arjuna pelan pelan pudar dari hati nya, Rio yang dingin tapi begitu dewasa sungguh sempurna di matanya, Ayu sudah kehilangan sosok ayah sejak masih balita, jadi sangat wajar jika ia mengidolakan seseorang yang bisa bersikap dewasa serta pengayom, yang mana sifat itu selama ini melekat dalam diri Arjuna sang kakak sepupu, karena itulah perasaan cintanya pada Juna, tumbuh tak terkendali.
ting ting
Lamunan Ayu buyar manakala ada pesan masuk ke ponselnya, Ayu tak bisa menahan senyumannya manakala mendapati nama Rio tertera di layar ponselnya.
-Lusa saya ke Jakarta, mengantar Alea kontrol- Rio
Ayu tertawa lebar tanpa suara, ia bahkan membenamkan wajahnya ke bantal, kemudian berteriak sekeras kerasnya menyuarakan perasaan bahagianya saat ini.
Tapi kemudian, Ayu kebingungan harus menjawab apa, jika menjawab terlalu cepat, bahkan dengan kalimat penuh harap, pasti kentara sekali jika dirinya memiliki perasaan yang sama, tapi kalau tidak di balas, ia takut Rio akan merasa diabaikan, sementara Ayu masih ingat betapa hangat dan ramahnya sikap Rio dan keluarganya selama Ayu tinggal di desa x.
Flashback
Karena harus menghandle pekerjaan kantor, maka Arjuna, dan Emira, kembali lebih dulu ke kota, sementara Ayu dan tim nya masih tinggal dan menyelesaikan pekerjaan mereka diantaranya adalah terus melihat dan meneliti kualitas padi yang akan menjadi beras siap panen, kemudian dikemas dan dipasarkan, melalui Rio juga Ayu belajar bagaimana mengemas beras agar awet ketika berada dalam kemasannya.
Sore itu, Rio sedang mengajak Ayu mengunjungi salah satu sawah hasil garapan para petan desa tersebut, setelah beberapa hari di desa x, Ayu mendapati sebuah fakta mencengangkan, bahwa sebagian besar lahan persawahan di desa tersebut adalah milik keluarga Rio, dan keluarga Rio memberdayakan bahkan memberikan edukasi pada para pemuda desa tersebut agar mereka bangga menjadi seorang petani.
“Awas hati hati …” ujar Rio ketika membimbing tangan Ayu agar tak terperosok, ketika kini mereka berjalan melewati pematang sawah.
Ayu menuruti perkataan Rio, karenanya ia memegang erat tangan besar yang kini membimbingnya melewati pematang sawah, angin sore berhembus pelan meniup dedaunan dan menerbangkan ranting ranting kering. “Pak Rio gak ingin tinggal di kota?” tanya Ayu sebagai obrolan ringan selagi mereka berjalan menghampiri motor yang tadi Rio pergunakan sebagai alat transportasi menuju sawah.
Sebisa mungkin Ayu tetap berbicara dengan bahasa formal, demi meminimalisir kecanggungan.
Rio hanya tersenyum, Ayu bukan orang pertama yang bertanya demikian, dan setiap kali ada yang bertanya padanya, Rio hanya menjawab, “TIdak, aku suka tinggal di sini.” jawab Rio ringan saja, sama sekali tak ada beban hidup. “Kalaupun nanti aku menikah, aku akan mengajaknya tinggal di desa ini, seperti mamaku.”
Ayu mengerutkan alisnya, “Oh iya, memang mama pak Rio orang mana?”
“Mama lahir dan besar di Jakarta, bahkan pernah menjadi guru, sebelum bertemu papa dan mereka menikah.”
Ayu terkejut, rupanya sosok wanita lemah lembut yang beberapa hari ini sering menyapa dan mengajaknya berbincang, dulunya adalah seorang gadis kota.
“Kenapa? terkejut?” tanya Rio ang penasaran karena Ayu tetiba diam tak bersuara.
“Iya … gimana ceritanya kedua orang tua pak Rio bertemu?”
“Papa dan mama, bertemu ketika sama sama kuliah di kampus yang sama, hanya beda fakultas, bahkan papa tak berani mendekati mama karena terlalu canggung, ketika teman teman papa mendesak, agar papa segera mengatakan perasaannya, papa tetap tak bernyali menyatakan perasaannya, tapi mungkin namanya sudah jodoh, pada akhirnya mereka tetap bertemu dan menikah.”
Ayu tersenyum pahit, mengingat bahwa dirinya pun selama ini menggenggam harapan palsu, pria yang ia pikir menjadi jodohnya, rupanya sejak lama menyimpan perasaan pada seorang gadis, yang kini menjadi istrinya. “Iya … pak Rio benar, jodoh memang sebuah misteri alam semesta yang kadang tak kita ketahui bagaimana cara kerjanya.”
“Setuju …”
“Apa pak Rio pernah memiliki kekasih?” tanya Ayu.
Rio hanya menggeleng tanpa suara, “pak Rio pikir aku percaya?”
“Terserah, kalau kamu tidak percaya, tapi begitulah aku, aku sungguh belum pernah berpikir untuk memiliki kekasih.”
“Kenapa? secra wajah anda cukup tampan.”
deg …
__ADS_1
Ayu terkejut menyadari ucapannya, bahkan diam diam diam gadis itu memukul mulutnya, benar benar lancang karena berani terang terangan memuji seorang pria.
Tapi tidak demikian dengan Rio, hatinya sedikit tergelitik, bahkan kini ada debaran halus merambat di jantungnya.
“Pak Kades … pak Kades …” seorang pria tiba tiba berlari menghampiri Rio dan Ayu yang kini berada di dekat motor, “toloooong …” ucap nya dengan nafas tak teratur.
“Ada apa pak Jo …”
“Tolong pak, itu … ibune … anak …. anak … mau … melahirkan.” ujar nya masih dengan nafas tersengal.
“Loh panggil bu bidan pak, kalo saya gak bisa bantu.”
“Bu bidan sedang kekota, katanya belanja obat obatan.” jawab pak Jo,”
seketika Rio siaga satu, “ya sudah saya ambil mobil dulu, sekarang istri pak Jo dimana?”
“Disana pak Kades, dekat sungai.”
Rio segera menyalakan motor, kemudian melaju pergi meninggalkan Ayu begitu saja, Ayu kebingungan sendiri, tapi kemudian ia memilih mengikuti pak Jo kembali menghampiri istrinya, benar saja, seorang wanita tengah duduk bersimpuh menahan kontraksi yang tengah mendera nya, keringat sudah membasahi sebagian besar kepala dan lehernya, Ayu sungguh prihatin, ia pun mendekat dan mencoba menenangkan wanita tersebut.
“Pak … istrinya lagi hamil besar begini kok diajak ke sawah sih?” tanya Ayu, dengan menahan rasa kesalnya.
“Nggak ngajak kok bu … tadi ibune anak anak nyusul sendiri, katanya bosan di rumah." Jawab pak Jo.
Beberapa warga yang melihat ada sedikit kehebohan, segera datang berkerumun.
"Aduh pak… sakit…" Keluh istri pak Jo, seraya mengeratkan genggaman tangannya pada Ayu.
"Iya bu, bapak tau, sebentar yah, pak Kades lagi ambil mobil, untuk ngantar bune ke puskesmas desa," Jawab pak Jo, seraya mengusap perut sang istri.
Ayu sendiri kebingungan bagaimana menyikapi suasana ini, pasalnya ini pertama kalinya ia menemani seorang wanita yang hendak melahirkan.
"Pak… saya gimana?" Tanya Ayu yang masih bingung dengan situasi, karena Rio pun tampak sedikit tegang.
Rio baru tersadar bahwa tadi ia tak sengaja meninggalkan Ayu, sekarang tak mungkin ia menyuruh Ayu pulang sendiri, karena jarak dari sawah ke rumah cukup jauh, dan hari sudah semakin gelap, "ayo naiklah, kita antar pak Jo dan istrinya." Pungkas Rio.
Ayu bergegas naik ke mobil, ia duduk di kursi depan karena pak Jo menemani sang istri di belakang.
"Pak Kades… bu Kades… maaf kami merepotkan." Ujar istri pak Jo dengan suara lemah karena mulai lemas akibat menahan sakit.
Deg… lagi lagi dua orang berbeda gender yang kini duduk di kursi depan, berdebar tak jelas.
Bahkah keduanya lagi lagi kehilangan topik pembicaraan.
Tak sampai 20 menit mereka tiba di puskesmas desa, karena ini di pedesaan, puskesmas tersebut buka 24 jam, dan menerima pasien rawat inap.
Istri pak Jo segera menerima pertolongan, sementara Ayu dan Rio masih menanti di sana, memastikan Istri pak Jo melahirkan dengan selamat.
Dan benar saja, istri pak Jo berhasil melahirkan bayinya dengan selamat beberapa menit kemudian, Ayu senang sekali karena ini pertama kalinya ia melihat dan mengantarkan seorang ibu yang hendak melahirkan.
Pak Jo keluar dari ruang persalinan, wajah yang beberapa jam lalu nampak pias karena khawatir, kini menjadi sumringah bahagia.
"Sekali lagi terima kasih pak Kades dan bu Kades,"
Ayu tertawa canggung, "maaf pak saya bukan bu Kades, kebetulan saya hanya bertamu ke sini." Jawab Ayu, sebelum kesalahpahaman semakin meluas.
"Oh bukan yah, bapak kira pak Kades diam diam sudah menikah dengan gadis kota,"
__ADS_1
"Nggak pak, doakan jodoh saya segera datang." Rio ikut menimpali.
"Ngapain masih berdoa berharap jodoh datang, udah aja sama bu Kades ini, serasi kok." Jawab pak Jo sambil menunjuk ke arah Ayu, dan jawaban pak jo ceplas ceplos ala kadarnya, menggambar kan memang demikianlah orang desa, selalu apa adanya tanpa tembok pencitraan. "Bapak doakan mbaknya berjodoh sama pak Kades."
Bluuuss…
Wajah Rio dan Ayu merona di waktu bersamaan.
"Ya sudah, kami bersyukur istri pak Jo bisa melahirkan dengan selamat, kami pamit dulu yah,"
"Iya pak Kades, hati hati di jalan."
Flashback end.
ting ting
Lagi lagi suara notifikasi membuyarkan lamunan Ayu.
-bu Kades sudah tidur?- Rio
Wajah Ayu semakin merah, walau Rio tak ada di hadapannya, tapi ia segera menutup wajahnya seakan akan tengah berhadapan dengan pria itu.
-maaf pak, habis ke dapur- Ayu
Jawab Ayu beralasan.
-Jam berapa sampai? Saya jemput yah?- Ayu.
-gak perlu, Reza yang jemput saya- Rio.
-kalau gitu, kirim alamat saja pak, lusa sepulang kerja saya mampir- Ayu.
-mampir? dalam rangka?- Rio.
Ayu diam sesaat, kemudian jarinya mengetik sebuah kata.
-kangen-
Namun Ayu tak mungkin mengirim kata lata tersebut kan, "seandainya saja" Gumam Ayu.
BRAK…
Tiba tiba pintu kamar Ayu terbuka, dan Ayu melonjak terkejut, hingga tanpa sadar jempolnya menekan tombol enter, dan …
Bim salabim …
Pesan terlarang itu pun terkirim.
Ayu masih terdiam menatap layar ponselnya, dua detik berlalu, dan tanda centang di ponselnya pun berubah menjadi warna biru.
"Aaaaaaaaaa… " Suara jeritan Ayu melengking ke seluruh penjuru kamarnya.
.
.
.
__ADS_1
😂
Ayu… apa yang kau lakukan? 😱