
BAB 78
"Aku sangat menyadari, Ayu pasti kecewa, terluka, merana, tapi perasaanku tak bisa dipaksakan, sudah terlalu lama dirimu mengendap di hatiku, bahkan mungkin endapannya sulit untuk dibersihkan," Arjuna menangkup kedua pipi Emira, "sudah berkali kali kukatakan, aku sangat mencintaimu, plis jangan menghindariku lagi, apalagi menolakku… itu sangat menyakitkan, maaf jika di awal awal kita bertemu, aku banyak berprasangka buruk padamu, bahkan meremehkanmu, tapi sejujurnya, di antara para gadis yang berinteraksi denganku, hanya kamu yang jelas jelas berani melawan perkataan ku, bahkan hanya kamu yang sanggup meruntuhkan keegoisanku, berkali kali hatiku oleng, menghianati Miraku yang manis dan baik hati, aku memaki diriku sendiri karena menghianati perasaanku padanya, bahkan setelah melewati malam itu bersamanya, pikiranku resah, gelisah dan jantungku menggila hanya karena mendengar dirimu demam tinggi dan menggigil,” Juna tersenyum lembut, “apa kamu tahu satu hal, aku begitu bahagia ketika mengetahui kalian adalah orang yang sama,”
Arjuna bisa melihat, tatapan mata istrinya telah berubah, kini kedua mata biru indah itu tampak berkaca kaca, oh wanita … sungguh mudah hatinya goyah hanya karena sebuah rayuan, setidaknya Emira patut bahagia, karena ia sedang dirayu oleh suami nya sendiri, sepanjang hidup ia tak pernah kekurangan kasih sayang dan pujian dari seorang pria, yah beruntung sekali ia memiliki seorang daddy yang pandai merayu, memuji, bahkan memanjakannya seperti seorang putri, hingga ia tak mudah ditaklukkan oleh rayuan sembarang pria, yang ada dia jadi setegar batu karang karena memiliki sosok guru ilmu bela diri setangguh sang mommy.
Perlahan telapak tangan Emira mengusap pipi Juna, “Aku pun tak tahu kenapa aku bisa sedalam ini mencintai pria sepertimu, hingga membuatku bertindak bodoh di masa lalu, merubah penampakan wajah cantikku, bahkan memalsukan identitasku.” aku Emira.
Arjuna berjingkat, ia mengambil jarak sesaat, “Sayang … aku tak menyangka ternyata istriku sanggup berbuat senekat itu.”
Emira balas tersenyum, “Beginilah aku, aku lahir di tengah keluarga harmonis, orang orang dewasa di sekitarku begitu menyayangiku, hingga aku mengambil pilihan yang selama ini tak pernah terbayang di benakku, merubah penampilanku, bahkan memalsukan identitasku.”
“Tapi dimana kamu menemukan orang orang yang bisa membantumu memalsukan identitas?”
“Hahaha … ada banyak orang seperti itu, mereka bisa dibayar, dan sim salabim … identitasmu bisa berubah dalam waktu semalam saja, bahkan mungkin beberapa jam jika kamu memiliki uang lebih.”
Arjuna menggelengkan kepalanya, ia sungguh tak percaya, wajah cantik istrinya ternyata sanggup melakukan hal hal yang tak terpikirkan oleh akal sehat, Emira memiliki semua hal yang diinginkan para gadis pada umumnya, tapi ia melalui jalan panjang yang berliku bahkan penuh ranjau, demi obsesi bodohnya terhadap cinta, dan Arjuna layak berbahagia karena pria itu adalah dirinya.
Arjuna kembali merapat, “tapi tak masalah, aku akan mendengarkan semua pengakuanmu nanti, karena kita masih punya banyak waktu bersama di masa depan.” ujarnya dengan senyuman yang entah tak bisa Emira terjemahkan, yang jelas pria itu mulai melabuhkan kecupan lembut dan sangat lama di kening Emira.
“Mau apa?” tanya Emira mulai resah karena kedua tangan Arjuna kembali berulah.
“Masa aku harus menjelaskannya lagi, kode yang kusampaikan sudah sangat jelas sayaaaang … teganya kamu mempermainkan perasaanku.” Rengek Arjuna.
__ADS_1
Emira tersenyum geli melihat tingkah lucu Suaminya, ia memberanikan diri mencium sekilas bibir suaminya.
“Yang kalau kamu tak mau jangan memancingku, ini terlalu berat bagiku, jika kamu masih menolakku.”
“Apa jawabanku masih kurang jelas? haruskah ku beri jawaban kedua?”
Arjuna mengangguk pelan, dan Emira kembali menyatukan bibir mereka, tak ingin membuang banyak waktu, Juna mulai mengambil alih permainan, bahagia hatinya karena istrinya tak lagi menolak nya, rasanya sungguh berdebar tak karuan, karena ia bisa kembali mereguk manisnya memadu cinta bersama wanita yang sejak lama menjadi idaman hatinya.
Tautan bibir itu terlepas sesaat, karena keduanya kehabisan nafas, “benarkah? kamu yakin menginginkannya juga?” tanya Juna dengan tatapan berkabut gairah.
Emira mengangguk dengan senyum malu di sudut bibirnya, rasanya ia pun ingin melompat bahagia karena hari ini tiba.
Juna kembali meraup bibir mungil istrinya, menerobos masuk dan mulai saling membelit diantara rongga papila, mengecap manisnya rasa cinta.
"Tetap saja aku malu, kalau dilihat seperti itu."
"Sungguh malam itu aku tak mengingat bagaimana rasanya, yang kuinginkan hanyalah segera meredakan apa yang membuat kepalaku berdenyut hebat, bahkan tubuhku panas terbakar, tanpa aku tahu penyebabnya, tolong ingatkan aku jika aku menyakitimu kali ini."
Arjuna kembali menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya, menikmati aroma tubuh yang mulai membuatnya candu sekaligus merindu, tak lupa melukis banyak kelap kelip bintang, ia seperti baru saja terbebas dari jeratan rantai penghalang, dan kini ketika terbebas, tak ingin sedikitpun menyia-nyiakan kesempatan.
"Mas… pelan pelan… aku… masih takut."
Juna kembali melabuhkan ciuman, "baiklah sayang… asal kamu merasa nyaman, aku jamin setelah ini kamu akan semakin kecanduan."
__ADS_1
Kedua pipi Emira merona, jantungnya berdegup kencang tak karuan, beginikah rasanya malam pertama, walau ini bukan pertama kalinya bagi mereka, tapi ini pertama kalinya mereka melakukannya dalam keadaan sadar, tanpa ada pengaruh obat apapun, selain dorongan hasrat dalam diri keduanya, yang berteriak dan meronta, menginginkan sebuah pelepasan.
Des ah an berikutnya lolos begitu saja bibirnya, ketika Arjuna menyempurnakan permainan mereka, "tenang sayang jangan tegang, rileks… ini tidaklah sakit dibandingkan ketika melakukannya untuk pertama kali." Bisik Juna ketika melihat Emira meringis menahan sakit, tangannya mengusap dan membelai rambut dan pipi sang istri, kemudian kembali menyatukan bibir mereka.
Dengan lihai pria itu membimbing istrinya menemukan kenikmatannya, bahkan membuat tangan Emira ikut menjelajah resah, ingin segera bermuara di satu titik yang bernama kenikmatan.
Dalam waktu sekejap saja, atmosfer dingin di dalam ruangan itu berubah menjadi panas, bercampur suara len guh an manja lagi memabukkan, adrenalin keduanya semakin terpacu seiring dengan semakin panas dan memabukkannya aktivitas mereka.
"Mas… aku…" Pekik Emira di tengah rasa nikmat yang semakin membuainya.
"Iya… aku tahu sayang… tahan sebentar."
Juna menaikkan tempo permainannya, hingga rasa nikmat itu dirasa keduanya, seiring dengan terpancarnya benih yang siap ditanam di tempat yang seharusnya, rasa yang begitu indah dan nikmat, bertabur bahagia karena mereka kembali melakukannya setelah menjadi pasangan sah dengan cinta yang siap disemai agar tumbuh semakin subur dan berakar kuat.
.
.
.
yang belum like, silahkan balik lagi ke eps sebelumnya plis... karena itu penyemangat banget buat othor.
💖
__ADS_1