
BAB 85
Sepasang suami istri itu keluar dari ruang penyimpanan dengan wajah berseri seri, namun tak berlangsung lama, karena mereka kini berhadapan dengan petugs kebersihan yang akan masuk ke ruang penyimpanan.
“Dokter sedang apa di dalam?” tanya petugas tesebut.
Emira dan Arjuna saling tatap, dengan senyum aneh di bibir mereka, Emira lebih dulu berlalu, dan membiarkan Juna yang menjawab pertanyaan tersebut.
“Rasain … siapa suruh minta ekstra ci um segala,” monolog Emira dengan senyum jahil di bibir nya.
Sreet !!!
Suara pintu bergeser membuat kedua wanita yang kini tengah berbincang akrab tersebut menoleh, kompak keduanya tersenyum melihat kedatangan Emira.
“Mom …” Sapa Emira yang tak menyangka akan menjumpai sang mommy di ruang rawat ayah mertuanya.
Emira meletakkan kantong berisi makanan diatas meja, “Sendirian mom?”
Mommy Stella mengangguk.
“Tumben gak sama daddy?”
“Daddy ada urusan bersama Hans, jadi mommy terpaksa ke rumah sakit seorang diri.” jawab mommy Stella, yang kemudian meraih tas nya untuk bersiap meninggalkan rumah sakit.
“Jadi pamit sekarang jeng?” Tanya mama Yuna.
“Iya Jeng … daddy nya anak anak tak akan makan kalau bukan istrinya yang menyiapkan.”
“Oh …”
“Ish … manjanya daddy gak ilang ilang, mirip banget sama cucunya,” Gerutu Emira yang sebenarnya masih ingin berdekatan dengan sang mommy.
“Nanti kamu juga akan merasakan itu nak …” mama Yuna ikut menimpali. “Ketika suamimu hanya menginginkan apa yang disiapkan oleh istrinya.”
“Benar sekali, jadi kamu juga harus mulai mengurangi sikap manja dan kekanakanmu.” pesan mommy Stella.
“Ish … mommy … mas Juna gak bilang apa apa.” Jawab Emira tak mau kalah.
Mama Yuna dan Mommy Stella hanya tersenyum simpul melihat ulah Emira.
“Biarkan saja jeng … Juna cukup dewasa, karena di keluarga kami ia menjadi yang tertua.”
“Ya sudah … yang penting jeng Yuna tak keberatan menerima putri saya yang apa adanya ini.”
“Mana ada gadis secantik ini di bilang apa adanya, yang pasti gadis ini akan membuat teman teman arisan saya iri … hihihi …” mama yuna terkikik senang, membayangkan teman teman arisannya yang akan terkagum kagum dengan menantunya yang cantik, dan pintar, benar benar menantu idaman.
Mendengar penuturan mama Yuna, mommy Stella bernafas lega, tak ada yang membahagiakan dirinya, selain melihat putri kesayangannya diterima dengan baik oleh keluarga sang besan.
__ADS_1
“Baiklah … saya permisi dulu, semoga Ayahnya Juna segera membaik.”
“Amin, terimakasih banyak jeng, sudah meluangkan waktu mengunjungi kami.”
Setelah cipika cipiki, mommy Stella pun meninggalkan ruang rawat inap ayah Satrio, Emira mengantar kepergian sang mommy sampai pintu depan, “Sudah … masuk dan temani mama mertua mu, hibur beliau, ini pasti berat sekali karena harus mendampingi suami yang sakit.” ingin menangis rasanya, kini mommy Stella harus mulai merelakan putri kesayangannya menyayangi ibu yang lain.
“Iya mom, mommy gak papa sendiri?”
“Kamu meragukan mommy hmm? separuh hidup mommy berada di rumah sakit,”
“Hehehe …”
“Lho … ada mommy?”
Emira dan Stella menoleh ke asal suara, Arjuna sudah berdiri di hadapan mereka.
“Iya nak, mommy harus pulang, daddy menunggu di rumah.”
“Juna antar ke depan ya mom?”
“Baiklah … sepertinya ditemani menantu bukan ide buruk.”
.
.
.
“Arjuna di sini?” ujarnya.
“Juna … Ayah sudah sadar.”
Arjuna segera berdiri, ia menutup laptop nya begitu saja, kemudian berlari menuju ruang rawat tempat ayahnya di rawat.
Rasa syukur ia panjatkan, karena akhirnya sang ayah kembali membuka mata.
Juna tiba di ruang VVIP, berpapasan dengan dokter Handoko yang menangani sang ayah.
“Eh … dok … bagaimana ayah saya?” tanya Juna.
“Sudah lebih stabil, tapi tolong tetap jaga emosi pasien, agar kondisinya tak kembali memburuk.” pesan dokter Handoko.
“Baik dok, akan saya ingat.”
Setelah dokter Handoko dan para perawat berlalu, Juna segera menghampiri kedua orangtuanya, “Ayah …” Ujarnya yang langsung memeluk Ayah Satrio, “Syukurlah ayah sudah sadar, bunda sudah pergi, aku takut sekali jika ayah akan pergi juga meninggalkanku.”
tangis Juna meledak seketika, malam kemarin ia sungguh sungguh ketakutan, tapi ia tak ingin menangis di hadapan mama dan adiknya, kini seakan tak ada lagi yang bisa menahan tangisnya, karena hanya di hadapan ayahnya ia bisa menangis sepuasnya.
__ADS_1
Ayah Satrio kini sudah bisa duduk walau harus bersandar, wajahnya masih pucat, hingga membuat rasa was was belum juga hilang dari hati Juna, ayah Satrio juga sudah bisa makan walau masih nasi lembek dan dengan telaten mama Yuna menyuapi suaminya.
“Ada yang ingin ayah minta darimu nak, ayah sungguh terpaksa mengatakan ini.” kata Ayah Satrio dengan suara lemah.
Juna menggenggam kedua tangan ayah Satrio, “Kita bicara nanti setelah ayah sehat dan pulang ke rumah lagi.” jawab Juna khawatir.
Ayah Satrio menggeleng, “Tidak nak, ayah takut akan terlambat, ini penting sekali.”
Arjuna memejamkan kedua mata nya, masalah penting apa yang membuat ayah Satrio enggan menunda pembicaraan mereka, mengingat pesan dokter Handoko maka Arjuna pun mengangguk.
“Ini masalah perusahaan nak, sejujurnya ayah khawatir dengan om kamu, mereka tak tahu menahu masalah perusahaan, dan apa yang mengancam masa depan perusahaan.”
“Ayah ingin Juna melakukan apa?”
Ayah Satrio segera mengutarakan kegelisahannya, serta apa saja yang selama ini di jaga dan dilindunginya, demi masa depan perusahaan, aset, serta kepercayaan para konsumen DENt PHARMATION.
"Bukan berarti ayah berharap ada masalah di perusahaan kita, tapi ayah ingin kamu segera ambil alih kepemimpinan, jika perusahaan bermasalah, uhuk… uhuk… uhuk…" Ayah Satrio batuk batuk usai mengutarakan kegelisahannya.
Juna membantu Ayah Satrio meneguk minumannya, sementara mama Yuna memijat tengkuk suaminya, beberapa saat kemudian, ayah Satrio kembali tenang.
"Ayah sebaiknya istirahat dulu, begini akibatnya jika banyak bicara saat makan, jadi keselek kan?" Gerutu mama Yuna cemas.
"Iya ma… cuma itu yang mau ku sampaikan pada Juna." Ayah Satrio kembali berbaring, sementara Juna mendadak diam tak banyak bicara, sejujurnya ia sama sekali tak berminat menduduki posisi utama di perusahaan, apalagi jika harus berebut dengan dengan para pamannya, tapi demi menyenangkan hati sang ayah, Arjuna terpaksa menyanggupi permintaan ayah Satrio.
"Juna akan pikirkan dan diskusikan dengan Emira yah, boleh kan?"
Ayah Satrio mengangguk, "tentu… jangan menyimpan rahasia dari istrimu, karena bukan tidak mungkin jika suatu saat rahasia tersebut akan menjadi bumerang dalam rumah tangga kalian."
Hari beranjak senja ketika Emira mendatangi ruangan Ayah Satrio, Bisma yang masih memakai seragam sekolah pun nampak berada di sana, begitupun Bayu, Hari, beserta istri mereka.
Suasana mendadak berubah ketika Emira tiba, nampak sekali bahwa empat orang tamu tersebut sangat canggung manakala berhadapan dengan Emira.
Tapi Emira mencoba bersikap sewajarnya, ia bahkan menyalami keempat orang tersebut dengan sopan, tak lupa menanyakan kabar mereka.
"Kami sehat nak… terima kasih sudah menanyakan kabar kami," Jawab Bayu mewakili Hari beserta istri istri mereka.
Tentu mereka gugup salah tingkah sedemikian rupa, pasalnya baru saja mereka mengetahui bahwa Ayah Satrio tak mengeluarkan uang sepeserpun untuk membayar biaya perawatan, termasuk kamar yang saat ini ia tempati, karena rumah sakit ini adalah milik keluarga sang besan.
Bayu dan Hari seakan di tampar oleh kesombongan mereka sendiri, karena sempat meremehkan menantu sang kakak, dan kini mereka hanya bisa tertunduk malu, apalagi mereka datang untuk mengadukan masalah perusahaan, beberapa hari lalu mereka salah menandatangani dokumen, hingga berakibat fatal, yakni kehilangan aset besar milik perusahaan.
.
.
.
💜
__ADS_1