CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 86


__ADS_3

BAB 86


Merah padam wajah ayah Satrio mendengar pengakuan adik adiknya, ia menarik nafas berat, bahkan Emira mulai khawatir jika sang mertua akan kembali pingsan, dan mengalami serangan jantung kedua. 


Ayah Satrio hanya mengepalkan kedua tangannya, berusaha sebisa mungkin tidak mengeluarkan amarah nya. 


"Maaf mas… kami sungguh sungguh minta maaf," Kata Hari penuh sesal, hari itu ia benar benar terlena dengan pujian dari Prabu dan Widodo, tapi ternyata pujian kedua orang itu nyatanya membawa perusahaan ke ambang kehancuran. 


Tarikan nafas nya begitu berat, tiba tiba dadanya kembali nyeri hebat dan ayah Satrio kembali pingsan. 


Emira berlari cepat, menekan tombol emergency, tangannya dengan lincah melakukan pertolongan pertama, tak sampai satu menit kemudian dokter Handoko datang, semua orang diminta keluar sementara dokter Handoko melakukan tindakan pada pasien. 


Mama Yuna menangis ketakutan di pelukan Emira. 


Sementara Hadi dan Bayu pun ikut menangis, takut, resah, karena khawatir akan terjadi sesuatu yang membahayakan pada saudara tertua mereka. 


Arjuna datang beberapa saat kemudian setelah dihubungi Bisma, lelaki muda itu segera memeluk mama Yuna yang menangis ketakutan di pelukan istrinya, Juna tak ingin menatap kedua pamannya, yang nantinya justru membuat emosinya tersulut. 


Menit menit berlalu bagai sebuah siksaan bagi Juna, karena ayah nya kini kembali dalam kondisi kritis, bahkan lebih buruk dari kondisi sebelumnya.


"Kami tak berharap perusahaan om, om sudah dapatkan perusahaan yang om inginkan selama ini, jika sekarang ada masalah, tolong jangan lagi mendatangi kami." Juna mengeluarkan apa yang beberapa hari ini ingin ia muntahkan, jika Hari dan Bayu bukan adik dari ayahnya, sudah barang tentu, Juna tak akan Lagi sanggup menahan diri. 


"Apa om pernah merasakan kasih sayang ayah pada om Hari dan om Bayu? Ayah tak pernah mengeluh pada om, ayah membiarkan dirinya lelah mengurus perusahaan, walau dari jauh, beliau mengurusnya dengan baik, dan om tinggal duduk manis dan menikmati hasil, tapi apa?? Tak Juna sangka, rupanya om masih juga merasa dengki bahkan lapar akan sebuah kekuasaan." 


Hari dan Bayu, mengkerut, pucat pasi ditempat, mereka tak berani lagi bersuara, bahkan meminta maaf pun terasa memalukan, sadar diri bahwa mereka ternyata kurang belajar, kurang ilmu, dan miskin rasa syukur. 





"Mas… Mandi dulu gih." Emira duduk di tepi tempat tidur, membangunkan Juna yang masih di kamar utama menemani mama Yuna yang tertidur setelah cukup lama menangis. 


Juna memutuskan untuk sementara mengajak Emira tinggal di rumah orang tuanya, sampai kondisi ayah Satrio membaik dan diizinkan kembali pulang ke rumah. 


Juna membuka kedua matanya, dan melihat wajah sang istri sudah segar dan memakai piyama, "biar aku yang jagain mama."


Juna mengangguk, lalu bangun dan memilih duduk sebentar menatap wajah wanitanya, tanpa aba aba  Arjuna mencium pipi Emira, "makasih yah, maaf kalo aku banyak merepotkanmu." Ujar Juna dengan suara lirih, takut mama Yuna kembali terbangun. "Jadi makin cinta." Lanjutnya. 


Wajah Emira mendadak merah, "jawab dong yang…" Mohon Juna dengan nada mendayu manja seperti biasa, yang sayangnya Emira suka melihat hal itu. 


"Love you too…" 

__ADS_1


Arjuna tersipu malu seperti anak perawan yang barusan dilamar, namun suasana romantis itu hanya berlangsung sesaat, karena tiba tiba mama Yuna terbangun. 


"Lho…  kalian masih di sini?" Tanya mama Yuna. 


Emira segera mengambil jarak aman, terlalu memalukan jika bermesraan di depan ibu mertua nya. "Eh… iya mah, barusan aku bangunin mas Juna biar bersih bersih dulu, mama aku temani gak papa yah?" Tanya Emira. 


Mama Yuna tersenyum, kemudian menggeleng, "mama gak papa nak, sana temani suamimu, mama akan istirahat sendiri,"


"Tapi mah…" Elak Emira. 


Mama Yuna mendorong tubuh Emira, dan Arjuna agar segera keluar dari kamar utama. "Sudah sana, kalian juga pasti sangat lelah, setelah seharian bekerja di rumah sakit, kalian juga harus beristirahat." 


Juna tersenyum, ia sih senang senang aja di temani Emira, apalagi jika mama nya memaksa, bahagianya berlipat lipat. "Bener mama gak papa?" Tanya Juna memastikan. 


"Gak papa, mama akan istirahat, biar besok pagi bisa menemani ayahmu di rumah sakit," Mama Yuna meyakinkan Juna. 


Akhirnya Arjuna dan Emira kembali ke kamar mereka, memilih memberi ruang agar mama Yuna bisa beristirahat seorang diri. 


Juna memeluk pinggang Emira, sepanjang perjalanan menuju kamar mereka, bahkan sengaja menjatuhkan kepalanya di pundak Emira, hingga membuat Emira merinding disco, karena Arjuna mulai mengecup leher dan tengkuknya. 


"Mas… jangan begini, nanti ada yang lihat, aku malu." 


"Tenang aja, para ART pasti sudah pada tidur, gak akan ada yang lihat kita." Bisiknya. 


"Ehemmm…" 


 


Mendengar ada suara mengejutkan, Emira reflek mendorong tubuh suaminya, keduanya kompak menoleh, dan ternyata Bisma sedang berada di belakang mereka, tengah membawa segelas air putih. 


"Maaaass… jangan bikin yang jomblo ngiri dong…" Gerutu Bisma, kemudian berlalu mendahului langkah Emira dan Juna. 


"Dasar jomblo ngenes…" Olok Juna, yang hanya di balas lambaian tangan oleh Bisma. 


Beberapa saat kemudian, Juna sudah segar dengan rambut basah yang tertutup handuk, melihat Emira masih duduk santai di sofa, Juna pun mendekat, dan duduk di karpet tepat di depan istrinya. 


"Keringin rambutku dong." Pinta Juna. 


Emira meletakkan ponselnya, kemudian meraih handuk, dari tangan suaminya, pelan perlahan ia mulai menggosok rambut Juna yang masih basah dengan menggunakan handuk, sesekali ia memberi pijatan layak nya pegawai salon memanjakan customer nya. 


"Nyamannya…" Gumam Juna seraya memejamkan mata, menikmati sensasi nyaman dari pijatan tangan Emira, kemudian ia merebahkan kepalanya di pangkuan Emira. 


"Benarkah? Lain kali kita pijat di spa mau?" Emira menawarkan. 

__ADS_1


"Memang di spa ada tamu laki laki juga?" Tanya Juna mendongak menatap wajah Emira. 


"Ada sih… tapi gak banyak." 


Emira menatap wajah Juna yang ah nampak sangat menawan dalam pandangannya,  Arjuna tersenyum lembut, seraya mengulurkan punggung tangannya ke pipi Emira. 


"Aku ingin bicara serius."


"Soal?"


"Aku."


Emira menyatukan kedua alisnya, penasaran dengan apa yang hendak Juna sampaikan. 


"Apa?!!" Pekik Emira, ia terperanjat mendengar pengakuan jujur Arjuna. 


"Tapi kamu sebentar lagi menyelesaikan masa residen mu? Bagaimana mungkin secara tiba tiba memutuskan cuti?"


"Ini keinginan ayah yang, beliau tak ingin hasil kerja kerasnya selama ini hilang begitu saja," 


"Walaupun dengan mengorbankan anaknya sendiri?" 


Emira sungguh tak percaya dengan pengakuan Juna. 


"Yang… aku tak mungkin lepas tangan begitu saja, saat ini perusahaan membutuhkan bantuanku, apalagi ada aset berharga yang dirampas begitu saja oleh pihak tak bertanggung jawab." 


"Tapi bagaimana denganmu?"


"Aku akan melanjutkan nya nanti, setelah Bisma siap menggantikan posisi ayah,"


"Lalu om Hari dan om Bayu?" 


"Mereka tak bisa diharapkan." Jawab Juna putus asa. 


Emira menghela nafas perlahan, berat memang, kini mereka akan mulai dengan ujian pertama rumah tangga mereka, "baiklah… aku akan menunggumu, jadi nanti kita bisa lulus bersama."


"Terima kasih sayangku…"


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2