CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 106


__ADS_3

BAB 106


Selalu ada cerita di ruang VVIP William Medical Center.


Berita tentang Emira menyebar dengan cepat di seantero rumah sakit, dan menjadi buah bibir di kalangan perawat serta staf rumah sakit.


Dan pagi menjelang siang ini ruangan Emira sudah ramai oleh kehadiran keluarga besar tuan Geraldy, padahal baru saja Steven pamit undur diri karena akan segera ada rapat dengan dewan direksi rumah sakit.


“Hai Boys and pretty Little girl …” Sapa Juna ketika menyambut kedatangan kelima keponakan istrinya, Luna yang mendapatkan pujian seketika langsung merona malu, sementara keempat calon pria muda Geraldy segera berfisfingger dengan Juna.


“Selamat yah …” Ucap Bella dengan senyuman tersungging di bibirnya.


sementara Andre tak mengucapkan apa apa, ia hanya menghadiahkan pelukan hangat seorang kakak ipar pada sang adik ipar, “Terimakasih kak.”


Tanpa dipersilahkan masuk, sepasang suami istri tersebut langsung masuk, dan nampak suasana santai di dalam ruangan tersebut, Emira bahkan sudah berpindah ke pelukan sang daddy, sementara Daniel terlihat biasa, tak nampak rasa cemburu di wajahnya seperti hari hari sebelum nya ketika melihat Emira memeluk sang opa kesayangan.


“Uncle …” panggil Darren yang langsung membawa Arjuna duduk di dekat nya, Jelas sekali bahwa ia memonopoli sang uncle, keduanya terlibat perbincangan rahasia antar sesama pria, apalagi jika bukan soal game terbaru.


“Selamat yah …” Bella langsung memeluk sang adik ipar kesayangan, “kakak ikut senang.” 


“Makasih kak …” jawab Emira membalas pelukan Bella, sebuah kecupan ringan ia hadiah kan untuk sang kakak ipar.


“Kakak tak ingin memelukku?” tanya Emira pada Andre.


“Kemarilah …” Andre merentangkan kedua tangannya, dengan senyum ceria nya Emira berpindah ke pangkuan Andre seperti ketika ia kecil dahulu, Emira kecil yang kesepian, karena selalu berada di rumah bersama para pengasuh, jadi ketika kedua kakak nya pulang sekolah, ia langsung minta dipeluk, bahkan ingin digendong kemanapun. “Kenapa kamu cepat sekali menjadi besar, anak bawang yang manja,” oceh Andre di tengah pelukan hangatnya, tangannya mengusap kepala Emira.


Tiba tiba Emira menjauh dari pelukan Andre, ia mengernyit heran, “Kenapa kakak dan abang selalu memanggilku anak bawang?” protes Emira, “Mom … dad … apa kalian yakin aku tak tertukar di rumah sakit?”


“Bagaimana bisa tertukar di rumah sakit, jika kamu lahir di jet pribadi daddy.” Jawab daddy Alex tak terima, jika putri kesayangannya dianggap putri yang tertukar.


“Apa warna mata dan rambutmu masih belum cukup menjadi bukti?” jawab Stella santai seperti biasa, wanita yang sudah berusia lebih dari separuh abad itu, kini sangat santai dan menikmati masa tua nya dengan bahagia, tak ingin lagi ada tekanan seperti ketika masih muda dan dikurung pekerjaan yang tiada habisnya.


“Lalu kenapa kakak dan abang selalu memanggilku anak bawang.” lanjut Emira dengan wajah cemberut.


“Karena setiap kali aku dan abang bermain, kamu selalu datang dan ingin ikut, jadilah kami menjadikanmu anak bawang.” jelas Andre, “Lagipula kamu juga tidak bisa bergabung dengan salah satu diantara kami,”

__ADS_1


Gelak tawa seketika menggema, ketika mereka mengetahui alasan dibalik panggilan anak bawang yang kadung menempel pada Emira. 


Namun demikian Emira tetap menyayangi kedua kakak kembarnya tersebut.


Dikamar yang sama hanya di sudut yang berbeda, Arjuna tengah duduk dikelilingi lima bocah yang terlanjur menjadi penggemarnya.


“Hey boy … kenapa sejak tadi kamu murung?” Tanya Juna ketika mengamati Daniel yang sama sekali tak bersemangat selama mereka bermain bersama.


Keempat adik Daniel saling pandang saling melempar senyuman yang membuat Daniel semakin keki.


melihat gelagat mencurigakan Arjuna mulai tebak menebak apa gerangan yang membuat mood sang si sulung memburuk.


“Apa ini ada kaitannya dengan Naya?” tebak Juna pelan, takut membuat Daniel tersinggung.


Keempat adik Daniel kompak mengangguk, “kemarin Naya memaksanya untuk ikut main rumah rumahan, Daniel menjadi ayah, Naya menjadi ibu, Dan aku menjadi anak mereka.” Luna menjelaskan dengan lancar, nampak sekali bahwa si cantik yang satu ini sangat suka bercerita.


Flashback on


“Ayolah … kamu temani kami bermain,” Daniel yang sedang merakit robot dengan Dean, jadi uring uringan karena ia dipaksa menemani para gadis bermain rumah rumahan.


“Iiiih … gak mau, aku malas … apa kata teman teman sekolahku, jika mereka tahu aku bermain rumah rumahan?” rengek Daniel, ketika tangannya ditarik paksa oleh Luna.


Daniel gelagapan, tak tahu lagi harus menjawab seperti apa, pikiran polosnya memang demikian, ia menganggap Naya sebagai pacar, tapi tak tahu pacaran itu seperti apa.


“Tapiii …”


“Ah … sudahlah, ayo cepat, kamu tahu kan Naya sangat galak, dia bisa marah kalau kita terlambat.”


“Nggak mau, aku mau merakit robot sama Dean.” Daniel berbalik, hendak berlari meninggalkan Luna, tapi karena tubuhnya agak berisi, Luna bisa dengan cepat menangkap Lengannya, adik bungsu Daniel tersebut segera menyeret Luna ke tempat ia bermain rumah rumahan bersama Naya.


Kedua anak kembar tersebut melewati pagar yang sengaja diberi pintu penghubung, agar anak anak bisa datang dan pergi tanpa melewati gerbang utama. 


Di komplek perumahan mewah tersebut ada tiga rumah mewah spesial, dua rumah mewah milik si kembar Kevin dan Andre, bersama anak dan istri mereka masing masing, dan satu lagi rumah seorang profesor ahli Kimia dan Bioteknologi, dialah papinya Naya.


Naya adalah anak terakhir yang pindah ke perumahan tersebut, setelah papinya di pindah tugaskan ke ibu kota, mereka menempati rumah yang sudah mulai di bangun setahun sebelum kepindahan keluarga Naya, walau sebelumnya kelima anak yang selalu membuat kehebohan di rumah mewah kedua orang tuanya tersebut tak tahu apa apa, tapi satu hal yang mereka tahu, kini mereka memiliki kawan baru seorang gadis cantik, pandai berhitung, dan galak, Daniel memberinya julukan mawar berduri. 

__ADS_1


Hari hari sejak kedatangan tetangga baru tersebut, circle pertemanan mereka bertambah ramai, Luna semakin bahagia karena kini di bukan menjadi satu satunya anak perempuan di antara saudara laki lakinya, di pagi hari mereka pergi ke sekolah bersama sama, dan sepulang sekolah mereka masih bermain bersama, hingga akhirnya Kevin dan papinya Naya memutuskan membuat pintu penghubung, agar anak anak mereka leluasa bermain, tanpa harus keluar melewati gerbang utama.


“Kenapa Lama sekali?” tanya Naya yang wajahnya sudah memerah karena kepanasan di dalam tenda yang kini beralih fungsi menjadi rumah mereka.


Gadis itu memakai gaun putih dengan bando bunga, cantik, dengan lesung di kedua pipinya, yang akan terlihat jelas ketika ia sedang marah atau tertawa, kedua tangannya bersedekap di dada, karena menahan kesal.


“Daniel tak mau … jadi aku harus sedikit memaksa.” jawab Luna yang langsung memaksa Daniel duduk di sebelah Kursi Naya, walau wajahnya cemberut, tapi Daniel menurut, jika tidak Naya akan semakin marah.


Selanjutnya bermain peran pun dimulai, “mama masak apa?” Seru Luna, ketika mereka mulai bermain.


Di Meja berwarna pink tersebut, ada berbagai macam miniatur peralatan makan, mulai dari piring, gelas, cangkir, teko, sendok, garpu, nampan berisi tanah liat yang sudah dicetak menyerupai tumpeng mini, dan berbagai macam bunga dan daun sebagai kondimen dari tumpeng mainan tersebut. 


“Mama masak tumpeng, hari in ulang tahun papa.” Jawab Naya sambil menatap wajah Daniel yang masih cemberut ditekuk, sama sekali tak nampak senyuman di wajah chabi nya.


“Ah iya lupa,” seru Naya, ia melupakan topi kerucut yang sebelumnya ia buat, kemudian memasang topi tersebut di kepala Daniel, yang sejak awal memang terpaksa menjadi korban.


“Aaahh tampan sekali papa…” seru Naya kegirangan, gadis itu tertawa riang. “Baiklah ayo tiup dulu lilinnya,” pinta Naya pada Daniel,” 


Daniel meniup lilin mainan tersebut, kemudian Naya memotong tumpeng dan meletakkannya di piring yang ada di hadapan Daniel, kemudian memotong lagi untuk diisikan ke piring Luna dan piringnya sendiri.


“Yeee … selamat ulang tahun papa, waaahhh nasi tumpeng buatan mama memang enak, aaammm …” Luna berseru bahagia sambil berpura pura makan nasi tumpeng di piringnya.


Dan Daniel ?? si tampan berpipi chabi tersebut mengaduk aduk tanah liat di hadapannya, ia hendak mulai menyendok dan pura pura memakannya seperti yang Luna dan Naya lakukan, tapi kemudian ia melihat ada yang bergerak gerak di piringnya, semakin lama semakin jelas terlihat, makhluk kecil bertubuh panjang tersebut terus menggeliat hingga membuat wajah Daniel pucat pasi, kemudian … 


“Huwaaaa …” Daniel berteriak seraya melempar piring yang ada di hadapannya, detik berikutnya tumpeng beserta peralatan makan yang semula tersusun rapi di meja, kini berhamburan, dan Naya menatap marah ke arah Daniel.


“Daniel … kenapa merusak mainanku, aku menyusunnya rapi dengan susah payah, dan kamu menghancurkannya.” teriak Naya yang tiba tiba marah karena mainannya berhamburan.


“Harusnya aku yang marah, kalian memaksaku bermain permainan konyol ini, lalu marah hanya gara gara aku terkejut melihat cacing di piringku.” Balas Daniel.


Luna mulai kebingungan melihat kakak dan teman nya bertengkar, ia tak tahu bagaimana cara mendamaikan keduanya


“Aku gak akan marah kalau kamu hanya teriak, tapi kamu menghancurkan apa yang sudah aku susun rapi, ternyata kamu memang benar benar pria menyebalkan,”


“Dan kamu gadis galak menjengkelkan, aku yakin tak ada yang akan menyukai gadis galak sepertimu.” balas Daniel, yang kemudian segera berlalu pergi dengan wajah merah menahan amarah.

__ADS_1


Tanpa mereka tahu bahwa itu adalah pertengkaran terakhir mereka.


Flashback end


__ADS_2