
BAB 111
Setelah perjalanan singkat dengan pesawat, hangat nya sisa mentari hari itu menyambut kedatangan rombongan tim DENt PHARMATION yang dipimpin oleh Arjuna sebagai DIRUT pengganti, yang mewakili sang ayah yang mungkin akan pensiun.
Ada Arjuna, Ayunda, serta dua orang tim pengembangan produk, yang baru saja dibentuk oleh Ayu selaku penanggung jawab proyek baru kali ini, yah … selepas makan siang hari itu serta mencicipi lezat dan pulennya beras organik yang biasa dinikmati oleh eyang Suryo, Arjuna memiliki ide untuk memasarkan beras organik tersebut, dan ide itu bak gayung bersambut, karena Ayu pun memikirkan hal serupa, entah seperti apa nanti kesepakatannya, yang Juna inginkan sekarang adalah mendatangi desa tempat budidaya beras organik tersebut, yang kabarnya budidaya tersebut sudah dimulai sejak dua puluh tahun yang lalu.
Rombongan Juna yang datang sore itu, disambut oleh sang putra dari pemilik persawahan, tempat budidaya beras organik.
Seorang pemuda berusia akhir duapuluhan menyambut kedatangan mereka, “Selamat datang tuan Arjuna?”
“Iya saya sendiri,” jawab Juna yang segera menyambut uluran tangan pria itu, “Tuan …?”
“Perkenalkan Aryo Ardiwilaga, panggil saja Rio.” jawab nya ramah, senyumnya tampak tulus, rambutnya terlihat berantakan ketika ia menurunkan topi koboi dari kepalanya, ia memakai jeans serta kemeja yang tak dikancingkan, sungguh maskulin, ditambah dengan kulitnya yang kecoklatan hingga membuat penampilannya sangat sempurna sebagai seorang petani tampan. “ini bu Ayunda?” tebak Rio menatap Emira yang berdiri di samping Juna.
“Oh … bukan, ini istri saya Emira, nah itu Ayunda adik sepupu saya, dialah yang mencetuskan ide kerja sama kita.” Tunjuk Juna pada Ayunda yang baru kembali dari toilet.
Emira tersenyum mengangguk kearah Rio.
“Maaf… lama menunggu?” tanya Ayu, ia mengusap tangannya berkali kali sebelum menerima uluran tangan Rio. “Ayu …” Ayu lebih dulu mengulurkan telapak tangannya.
Rio terdiam, tiba tiba wajah nya menegang, untuk sesaat ia gugup, begitulah yang ia rasakan bila berdekatan dengan seorang gadis, ia sendiri tak mengerti kenapa selalu merasakan perasaan ini, jika berdekatan dengan seorang gadis, “Rio …” dengan susah payah Rio melawan perasaannya, kemudian menerima uluran tangan Ayu.
Usai basa basi sesaat, rombongan bergerak menuju tempat parkir, dua buah mobil dakar dengan bak terbuka menyambut mereka, Ayu lebih memilih semobil dengan Rio dan tim nya, karena tak ingin lebih sakit melihat Arjuna yang terlihat mesra dengan istrinya, terlebih sepanjang perjalanan menuju tempat parkir, Arjuna tak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Emira, sementara tangan yang satunya menyeret koper, padahal selama di pesawat mereka pun terlihat seperti lem dan kertas yang tak terpisahkan.
Dalam sekilas pandang, Arjuna bisa menyimpulkan bahwa Rio bukanlah petani sembarangan, terbukti dengan alat transportasi yang ia miliki, serta tutur kata nya sepanjang perbincangan singkat mereka menuju tempat parkir.
Sepanjang perjalanan, mereka ditemani hembusan angin sore yang masih menyisakan sensasi hangat, namun demikian Ayu sangat menikmatinya, tiba di perbatasan desa, Rio menghentikan mobil nya.
“Lho kenapa berhenti?” tanya Ayu.
“Mau berpindah ke belakang?” Rio menawarkan.
“Heh?” tanya Ayu dengan wajah heran.
“Iya ke belakang.” jawab Rio dengan sedikit senyum di wajahnya.
Mau tak mau, Ayu mengikuti Rio keluar dari mobil, kemudian Rio meminta sopir pengganti, menggantikan nya mengemudikan mobil.
Dengan gerakan lincah Rio menaiki bak terbuka di mobilnya, Ayu tercengang melihat pemandangan di hadapannya, semakin terpesona manakala Rio mengulurkan telapak tangannya agar Ayu ikut naik bersamanya.
__ADS_1
Walau ragu, Ayu menerima uluran tangan Rio, ini pertama kalinya Ayu naik mobil bak terbuka.
“Kenapa? kok kaget gitu?”
Ayu tersenyum canggung, “Iya … ini pertama kalinya naik mobil seperti ini.”
“Hahaha … Wah saya beruntung dong menjadi orang pertama yang memberi anda pengalaman pertama.” jawab Rio, sebenarnya ia cukup canggung berhadapan dengan seorang gadis, tapi apa boleh buat, kali ini ia adalah tuan rumah, yang sedang memikat seorang investor, agar hasil beras di desanya bisa masuk ke pasaran perkotaan, karena itulah, Rio berusaha keras melawan kecanggungannya.
“Yah …”
Mobil mulai bergerak, sementara itu di mobil belakang, Arjuna tersenyum melihat kedekatan Ayu dan Rio, “Kenapa senyum senyum?” tanya Emira.
“Lihat mereka, bukankah tampak serasi?” Juna menunjuk, Ayu dan Rio yang nampak akrab berbincang selagi mobil melaju di jalanan.
Emira tersenyum, “Semoga jodoh ya mas,”
“Iya kalau pak Rio belum punya istri,”
“Ya … nanti kita carikan pria lain, bagaimana kalau Reza saja?” Usul Emira.
Arjuna menatap Emira yang nampak serius dengan kalimatnya.
tanpa Emira sadari, kalimatnya menerbitkan aroma kecemburuan di hati suaminya, "gimana?" Tanya Emira penuh semangat, wajah nya nampak berbinar manakala menceritakan perihal Reza sahabatnya.
"Eheemmm…" Juna hanya melengos tak menanggapi kalimat Emira.
"Mas… denger gak sih Aku ngomong?"
Arjuna diam tak menanggapi, "mas… ngambek yah? Cemburu?" Tanya Emira. "Duuuhh… gemes deh, kalo lagi cemburu gini, kelihatan makin ganteng ribuan kali lipat." Emira mengeluarkan Jurus andalan Arjuna ketika merayu dirinya yang sedang cemberut seperti beberapa jam yang lalu, sebelum keberangkatan mereka.
Arjuna masih diam menikmati gombalan sang istri, bahkan dua orang yang tengah duduk didepan, mendadak kikuk sendiri, "stop yang, ada yang lihat tuh." Ujar Juna.
"Makanya gak usah pake drama sok sok an cemburu,"
"Makanya… kamu jangan mancing mancing dong, udah tahu aku sensian kalau menyangkut Reza."
Emira menyentuh dagu Arjuna, kemudian membuat wajah mereka berhadapan, "I love you." Ujar Emira hanya dengan gerak bibirnya saja.
Tentu saja kalimat itu kembali membuat Juna tersenyum.
__ADS_1
Dan Emira tersenyum senang, kembali meringsek ke palukan suaminya, sementata dua orang pria yang duduk di depan hanya berusaha tenang menarik nafas perlahan, karena sudah sejak di pesawat mereka disuguhi pemandangan mesra sang atasan bersama istrinya.
Hamparan persawahan yang mulai menguning, menyambut kedatangan mereka, kanan kiri jalan dipenuhi pemandangan serupa, sejauh mata memandang, hanya itu yang terlihat hingga mereka memasuki sebuah perkampungan, beberapa pasang mata menatap kedatangan mereka, karena hari sudah menjelang maghrib, jadi tak banyak anak yang berkeliaran diluar rumah.
Tujuan mereka berakhir di sebuah rumah besar, sekilas pandang rumah itu memang terlihat paling megah dan mewah di desa tersebut, halaman rumah tersebut luas, dengan ditumbuhi beberapa pohon besar di kiri dan kanannya, setelah mobil berhenti sempurna Rio melompat turun lebih dulu kemudian membantu Ayu turun dari mobil.
“Mari … silahkan masuk.”
Dengan ramah Rio mempersilahkan para tamunya untuk masuk, “tamunya sudah datang mas?” tanya seseorang yang tiba tiba muncul dari dalam rumah.
“Iya … yang lain pada kemana? kok sepi?” tanya Rio lagi.
“Biasa … lagi nongkrong di belakang, bakar ikan, kalo lagi ngumpul kan emang suka gitu.”
“Aku panggil papa dulu yah?” pamit Rio.
Lelaki itu berjalan ke pendopo bermaksud menyambut kedatangan para tamu agar mereka duduk terlebih dahulu, namun kemudian ia berhenti, seolah tak mempercayai siapa yang kini berada di hadapannya, berkali kali iaya mengedip dan mengucek kedua matanya demi memastikan bahwa penglihatannya baik baik saja.
“Reza …” Seru Emira tak percaya. “Ngapain di sini.”
“Kamu yang ngapain di sini.” balas Reza dengan wajah sumringah, tak menyangka ia bertemu dengan Emira di desa ini, Reza pikir desa ini jauh dari peradaban, hingga sudah yakin tak akan mungkin dia bertemu dengan Emira.
“Biasa … tugas istri siaga.” Jawab Emira tenang, karena ia sudah mulai merasa bahwa Reza sudah move on dengan perasaannya. “Oh iya sini, kalian harus berkenalan secara resmi,” Emira menarik lengan Arjuna.
“Ini suamiku, Arjuna, yang dulu sering ku ceritakan.” Emira memperkenalkan Arjuna pada Reza.
“Ini Reza mas,”
Sebenarnya Arjuna agak enggan menerima uluran tangan Reza, tapi ia tak ingin kehilangan muka dihadapan Reza, serta bawahannya.
“Reza.”
“Arjuna.”
Akhirnya kedua pria tampan itu berjabat tangan, walau sedikit canggung tak masalah.
.
.
__ADS_1