
BAB 90
Emira membawa nampan berisi minuman dingin ke hadapan mama Yuna, “Minum dulu mah, biar sedikit tenang, Bisma sedang dalam perjalanan ke sini.”
Mama Yuna menerima minuman tersebut, kemudian menyesap isi nya, “terima kasih nak, kapan Juna kembali?”
Emira menatap jam tangannya, “Seharusnya sebentar lagi mah, oh … itu Bisma,” Emira melambaikan tangannya ketika melihat Bisma datang, mama Yuna menoleh pada putra bungsunya yang baru saja tiba, pemuda itu melambaikan tangannya.
“Kenapa wajah mama pucat?” tanya Bisma khawatir.
“Mama gak papa nak, gimana ujianmu.”
“Sudah selesai mah …” Jawab Bisma dengan wajah berbinar.
“Syukurlah … mama senang mendengarnya, kamu harus belajar dengan serius, tak ada waktu untuk main main, jika seseorang ingin sukses di kehidupannya di masa mendatang.”
Bisma mengangguk, tapi hatinya masih resah melihat wajah mama Yuna yang pucat dan tak bersemangat, “Mbak, Apa ada sesuatu yang terjadi selama aku dan mas Juna gak di sini?” Akhirnya Bisma bertanya pada kakak iparnya.
Emira menarik nafas berat, “Tuan Gunawan datang,’’
Bisma segera mengepalkan tangannya, wajahnya ikut merah padam, “Mau apa lagi pria itu datang? Dia tidak berbuat macam macam pada mama Kan?”
Mama yuna menggeleng, “Tidak nak, kakak iparmu luar biasa, Dia bahkan membuat Gunawan tak berkutik.”
“Jika mama tak menghalangi, mungkin aku sudah membuat pria itu patah tulang.” Desis Emira, tangannya mencengkeram gelas juice yang ada di hadapannya.
__ADS_1
“Gak papa, kalau mbak ingin marah dan menghajar pak Gunawan, perbuatannya pada mas Juna dan mbak Mira, tak bisa dimaafkan,” Bisma jadi ikut ikutan marah ketika mendengar nama pria yang pernah menjadi masa lalu mama Yuna tersebut.
.
.
.
Arjuna menarik hand rem, ketika mobilnya sudah parkir dengan sempurna, mendengar suara hand rem ditarik, Emira pun terbangun, mengerjapkan mata sesaat dan barulah menyadari jika mereka berada di parkiran apartemen.
"Lho… katanya kita ke rumah mama?"
Arjuna melipat lutut hingga kaki kirinya berada di atas kursi, kini ia duduk menatap wajah Emira yang tampak lelah, usai mereka bertugas di rumah sakit. "Seharusnya begitu, tapi aku sedang butuh kamu banget yang…" Jawab Juna dengan suara parau, telapak tangannya menyingkirkan anak rambut yang menutupi kening dan pipi istrinya.
"Duuuhhh apa emang begini yah, kalo masih pengantin baru, suka lola kalo diajak bicara ke arah sana." Arjuna mencubit gemas kedua pipi Emira, kemudian mencium bibir Emira sekilas.
Baru setelah itu Emira menyadari maksud suaminya, walau mereka sedang menghadapi masalah pelik, tapi Juna selalu menyempatkan waktu untuk mengajak istrinya bermain main di atas ranjang mereka walau sesaat, karena ia sangat menyadari hanya aktivitas ini lah, yang membuat pikirannya kembali waras.
"Biasanya di rumah mama juga gak pernah absen." Sindir Emira.
"Entahlah … tapi hari ini aku ingin privasi, aku takut ketika melihat kesedihan mama, aku jadi ingin memuntahkan amarahku, karena itulah, malam ini kita menginap di sini."
"Ada apa sebenarnya? Sejak darang dari perusahaan tadi siang mas gak fokus, bahkan beberapa kali terpancing emosi." Tanya Emira yang sejak siang memperhatikan keanehan sikap Juna yang tak tamah pada pasien seperti biasanya.
"Kamu memperhatikan yah?"
__ADS_1
Emira mengangguk.
"Nanti aku ceritakan, ayo kita masuk dulu."
Keduanya turun dari mobil dan bergandengan tangan menuju unit apartemen yang mereka tempati, walau kecil Emira mulai nyaman berada di sana, awal mula kembali berseminya cinta di hatinya untuk Arjuna yang kini resmi menjadi suaminya.
Setelah meletakkan semua barang barangnya di sofa, Emira menggulung rambutnya, hendak bersiap mandi, ia menyambar bathrobe mandinya kemudian melesat masuk ke kamar mandi, cairan bening itu terasa hangat di kulit Emira, otot ototnya yang pegal mulai terasa rileks, tiba tiba sepasang tangan memeluknya erat dari belakang, "aku bantu sabunan yah?"
Entah sejak kapan Juna diam diam bergabung dengan Emira, ia sungguh bosan menunggu, jadi tanpa pikir panjang, pria itu bergabung dengan istrinya di kamar mandi.
"Eh… apaan sih mas, kok tiba tiba nyelonong?" Seru Emira terkejut, sesungguhnya ia tak terbiasa dengan keberadaan orang asing jika sedang mandi.
"Salah sendiri pintu nya tak di kunci, kan sama seperti undangan, lagi pula kita sudah biasa melihat satu sama lain, jadi tak perlu malu kan?"
"Tapi…"
"Aku janji, hanya mandi aku tak ingin melakukannya di kamar mandi, lebih nyaman di tempat tidur kita." Ujar Juna seraya mengedipkan matanya. "Ini lebih menghemat waktu, dan kita bisa sering melakukannya jika kamu mau. " Bisik Juna yang sontak membuat pipi Emira merona merah menahan malu.
.
.
.
💖
__ADS_1