
BAB 128
BRAK!!!
Arjuna menatap pintu mobilnya, seperti yang sudah sudah, karena kini sang istri sudah full di rumah setelah cuti dari rumah sakit, maka setiap minggu Arjuna tak pernah absen membawa Emira keluar, sekedar melihat aktivitas di luar rumah, agar Emira tidak jenuh, yang nantinya berimbas meningkatnya kadar stress.
Arjuna mengeluarkan selembar syal dari dalam saku celananya, kemudian menggunakannya untuk menutup mata Emira. "Mas… harus banget yah pake tutup mata segala?" Protes Emira.
"Ya iya lah, aku punya kejutan buat kamu." Jawab Juna.
Mendengar kata kata kejutan membuat pipi gemoy Emira melebar, ia tersenyum lebar, “Kejutan apa mas? rumah baru?, mobil baru?, apartemen baru?, atau kita mau jalan ke suatu tempat?” tanya Emira antusias.
Arjuna mencebik kesal, “Yaaaaang … bisa nggak kalo ga menebak? aku sudah susah payah mengurus semua ini, biar spesial,”
“Hahahaha … apakah salah satu tebakanku benar?” Emira kembali jahil bertanya pada suaminya.
Dan Juna, bukannya segera menjalankan mobilnya, tapi malah melipat kedua tangannya di depan dada, “jadi gak seru lagi deh.” Gerutunya kesal.
Emira mengerti suaminya sedang mode merajuk, ia kembali melepas belt kemudian memeluk lengan Juna dan mencium pipi pria tersebut, “maaf … kalau aku mengacaukan kejutannya,”
Arjuna membalas tatapan Emira, karena efek hormon kehamilan, wajah Emira kini terlihat berlipat lipat kali lebih cantik, tentu saja semakin membuatnya tak bisa berpaling kelain hati, “Jangan ngambek lagi dong, nanti berkurang tampannya, aku gak mau kalau suamiku tak lagi tampan.” bujuk Emira, yang kemudian berhasil menerbitkan senyum di bibir Juna.
__ADS_1
“Cium dulu,” perintah Juna pada Emira, sembari menyodorkan bibirnya, dengan senang hati Emira menuruti keinginan Arjunanya, niatnya hanya ciuman sekilas, tapi kemudian dengan gerakan cepat, Juna menahan tengkuk Emira dan membalas ciuman tersebut dengan liar dan penuh semangat seperti yang biasa mereka lakukan ketika di kamar, cukup lama keduanya bertukar saliva, rasanya masih sangat memabukkan seperti ciuman pertama mereka, hingga alarm Juna berbunyi, itu pertanda ia harus mengakhirinya, karena jika tidak, mereka terpaksa harus kembali lagi ke kamar untuk melepaskan hasrat yang sudah terpancing keluar.
Emira mengulum senyum, sementara Juna mengusap kasar wajahnya yang sudah memerah, pertanda ia tengah mati matian menahan dirinya, padahal semalam mereka mengulang aktivitas tersebut sebanyak dua kali, dan itu hampir setiap hari mereka lakukan, tapi tetap saja, kini Juna merasa sedang menginginkannya lagi.
Emira menyentuh lengan Juna, “Mas baik baik saja? mau ke kamar dulu?” tanya Emira, tapi Juna menggeleng. “Baiklah … kalau begitu e hotel saja, mas ingat kan, kalau aku punya kartu emas?”
Arjuna mengangkat wajah nya, kemudian menghembuskan nafas kasar, “baiklah … kalau itu yang kamu inginkan, tapi nanti, setelah melihat kejutan dariku.” pungkas Juna.
“Oke.”
Arjuna melanjutkan kegiatannya menutup kedua mata Emira sepanjang perjalanan, “sekarang tidurlah dulu, perjalanan kita empat puluh lima menit.”
CUP … Arjuna mencium salah satu pip Emira, dan dengan riang Emira menuruti keinginan suaminya, walau pada kenyataannya mereka kembali berbincang ringan diselingi canda tawa.
Emira mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, kedua matanya butuh beradaptasi kembali dengan cahaya, dan ketika kedua matanya bisa melihat dengan jelas, yang nampak di hadapannya adalah sebuah tanah luas, di tengah tengah tanah tersebut tengah di bangun rumah tidak terlalu besar, tapi tak bisa juga dibilang kecil, “Ini rumah kita sayang.”
Emira menatap takjub bangunan yang sudah hampir selesai di bangun tersebut, “Kapan mas menyiapkan semua ini?” tanya Emira dengan kedua bola mata berkaca kaca.
“Sebenarnya bukan aku yang menyiapkan, tapi ini tanah hadiah dari ayah dan daddy, pada awalnya daddy dan Ayah juga menawarkan sekalian di bangun rumah, tapi aku tolak, aku siapkan saja bangunan utama, sisanya akan aku sesuaikan dengan keinginanmu, aku bisa pastikan bangunan itu adalah uang tabunganku selama mengelola DENt PHARMATION, gaji selama jadi dokter residen, dan uang penjualan apartemen,”
“Terima kasih mas,”
__ADS_1
“pikirkan pelan pelan saja, sambil menanti kelahiran baby K.”
Emira kembali mengangguk, “oh iya, bagian terbaiknya adalah, jarak perumahan ini, ke rumah sakit, hanya lima belas menit,”
Emira semakin tak bisa menahan tangis nya, kemudian memeluk pinggang Juna, “Suka mas, aku suka semua yang kamu siapkan untukku dan anak kita, aku juga punya tabungan, sisa uang jajanku selama ini,”
Tapi Juna menggeleng, “Tidak … itu uangmu, aku adalah kepala keluarga, maka izinkan aku saja yang membangun rumah ini untuk keluarga kita.” tolak Juna tegas, karena ia ingin dilihat dan dihargai sebagai kepala keluarga, bukan pria yang aji mumpung memanfaatkan harta kekayaan mertua dan orang tuanya.
“Ayo … mau berkeliling melihat kedalam?” tawar Juna.
“Tapi … apa gak masalah?”
“Aman, sudah tinggal finishing saja.” Arjuna menggenggam tangan Emira melewati jalan setapak, menuju ke bangunan utama.
“Untuk sementara ada satu kamar utama, dua kamar anak, satu kamar tamu dan kamar asisten di belakang.” Juna memulai penjelasannya, kini mereka tengah berada di ruang tengah yang menyatu dengan ruang tamu.
“Aku ingin ada kolam renang mas, seperti rumah kakak, ada tempat BBQ party di dekat kolam renang, bahkan si kembar sering mendirikan tenda dan menginap di sana, jika libur sekola.” Emira mulai antusias mengungkapkan keinginannya, membayangkan keluarga kecil mereka menghabiskan malam minggu di sebuah tenda dekat kolam renang, sambil menyantap makan malam bersama.
Arjuna mengangguk, “Baiklah, tapi pelan pelan saja yah, kita selesaikan bangunan utama dulu, setelah baby K lahir, baru kita selesaikan taman dan beberapa bangunan di area terbuka,” Jawab Juna ketika Emira merbah manja di pelukannya.
Mereka lanjut berkeliling, memeriksa kamar utama yang sengaja Juna buat dengan ukuran Luas, plus ada pintu penghubung ke kamar anak, kamar anak sengaja diletakkan di sisi kiri dan kanan, hal ini memudahkan mereka memantau keadaan anak di malam hari.
__ADS_1
Emira melanjutkan berkeliling seorang diri, sementara Juna tampak berbincang dengan beberapa pekerja yang sedang menyelesaikan tugas mereka, tiba tiba saja Emira jatuh cinta pada bangunan yang masih didominasi warna putih tersebut, ia mulai membayangkan masa depan yang akan ia jalani bersama suami dan calon anak mereka, bahagia …. yah itulah satu satunya kalimat yang saat ini bersarang di benaknya, Bahagia menjalani perannya sebagai seorang istri, yang sebentar lagi akan berganti menjadi seorang ibu.
Dan siang menjelang sore itu, usai makan siang … kedua nya benar benar mewujudkan keinginan mereka untuk singgah sesaat di hotel, merampungkan apa yang mereka inginkan sejak keberangkatan mereka meninggalkan rumah, anggap saja babymoon, karena mereka tak mungkin bepergian, mengingat uang tabungan Juna sudah terkuras untuk pembangunan tempat tinggal mereka.