CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 69


__ADS_3

BAB 69


Emira belum lagi membuka matanya, tapi ia merasakan sentuhan lembut nan hangat di pipi nya, mau tak mau, kedua mata indahnya mulai terbuka, wajah pertama yang ia lihat adalah wajah tampan nan menggoda milik suami nya, benar kiranya jika Juna narsis dan mengatakan bahwa dirinya memang mempesona, karena di mata Emira Arjuna tetaplah pangeran berkuda putih yang akan datang menghampirinya, dengan wajah tampan rupawan nya.


“Selamat pagi sayang …” Sapa Juna dengan wajah segar usai mandi.


Emira mengerjapkan kedua matanya, ia menatap ke langit langit ruangan, menilik suasana yang lagi lagi berbeda dengan kamarnya, sejenak kemudian ia baru sadar jika mereka sedang berada di rumah Keluarga Arjuna, dan omo omo omo … ini sudah jam berapa? Emira segera menyibak selimut hangatnya, mencari cari ponselnya, tapi tak juga ia temukan.


“Cari apa?” tanya Juna yang keheranan dengan tingkah sang istri.


“Ponsel.” 


“Sedang di charge, tadi kehabisan daya.” jawab Juna tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik wanita yang kini menggenggam erat seluruh hatinya.


Emira menyibak rambutnya yang berantakan, “Jam berapa sekarang?” tanya nya, kedua tangannya otomatis menggulung rambut dan mengumpulkannya agar tak terlalu berantakan.


“Baru jam lima,” jawab Juna santai.


“What??!! jam lima?” tanya Emira terkejut, teringat ia jika di rumah, mommy Stella akan memarahinya panjang lebar jika ia bangun lebih dari jam lima, jadi kin ia merasa sedang mendengar omelan sang mommy, padahal suasana di rumah keluarga Dewanto masih sangat sunyi.


Tentu saja hal itu membuat Arjuna ikut panik, “Ada apa yang, ini masih hari libur kita, kamu tak perlu buru buru bangun.” Cegah Juna.


“Justru karena ini hari libur, mommy bisa memarahiku panjang lebar, jika aku bangun lebih dari jam lima.” keluh Emira. "Dan lagi ini di rumah mama, mau ditaroh mana muka ku, nginep di rumah mertua, tapi bangunnya kesiangan." 


“Tapi biasanya di apartemen kamu selalu bangun jam setengah enam?” tanya Juna terkejut, karena ada satu lagi hal baru yang ia ketahui tentang Emira.  


“Karena kamu selalu menggangguku …” jawab Emira polos.


Juna menyeringai lucu, “maaf …” ucapnya. "Gak papa, mama santai kok, lagian ada ART yang bantu mama di dapur."


“Syukurlah kalau kamu merasa bersalah, tapi tetep aja aku ngerasa gak enak." Emira mendorong Juna agar menyingkir dari hadapannya, ia harus segera mandi dan bersiap membantu sang mertua menyiapkan sarapan. “awas minggir.” titahnya, ketika Juna belum juga bergeser dari tempat nya duduk. 


Tapi Arjuna menggeleng.


Emira menyorot tajam, “Aku mau mandi mas…”

__ADS_1


Arjuna kembali dibuat tertegun, “Apa tadi?”


“Apaan? aku mau mandi.”


“Bukan yang itu, tapi kalimat sesudahnya.”


“Apa? nggak ada, aku gak bilang apa apa.” Elak Emira, yang baru saja menyadari bahwa lidahnya keseleo.


“Tadi kamu bilang aku mau mandi …”


“Iya aku mau mandi, jadi awas minggir.” Emira kembali mengelak, kali ini ia menggeser kakinya, namun Arjuna keukeuh tak mau menyingkir.


“Ulangi lagi, aku mau dengar,”


“Ulangi apa?” Wajah Emira mulai bersemu kemerahan, ingin kembali mengubur diri di bawah selimut.


“Panggilan untukku,”


Arjuna menatap kedua mata biru itu, sementara Emira sibuk menetralkan debaran jantungnya, “Ulangi atau aku cium?” 


“Apaan … dikit dikit ngancam, apa gak bisa kalau nggg…” 


“Cerewet sekali istriku, aku hanya ingin mendengarmu memanggilku dengan kalimat mesra, dengan panggilan sayang, seperti yang disematkan keluargaku untukku, kenapa banyak sekali alasanmu,”


“Em … itu … aku …” kembali emira menjawab dengan gugup, namun lagi lagi Juna membungkamnya, kali ini terasa berbeda dengan yang pertama, Juna semakin bersemangat karena Emira tak menolaknya, bahkan membalas, hingga Emira yang semula duduk kini sudah berbaring karena Arjuna merebahkannya kembali tanpa menghentikan aksinya, kedua lengannya sudah melingkar di leher Juna, kepasrahan itu membuat Juna semakin bersemangat, tangannya mulai menyelinap di balik piyama Emira, membelai dan mengusap kulit punggung sang istri, tak berani bergeser ke tempat lain, karena ia tahu pasti tak akan bisa berhenti, karena saat ini pun sekujur tubuhnya mulai terbakar, ingin berhenti, tapi insting lelakinya menginginkan hal yang lebih, nafas Juna memburu ketika ciuman mereka kembali terjedah.


Netra kedua nya bertatapan, Emira merasa hampa ketika Juna melepaskan tautan bibir mereka, “boleh ku lajutkan?”  bisik Juna dengan suara parau.


Akal sehat Emira lumpuh seketika, karena itulah ia mengangguk pelan, membuat Juna kembali tersenyum senang, “trust me, I love you so much,” bisik Juna sebelum kembali melanjutkan ciuman nya.


"Lalu Ayunda?"


"Dia hanya adik bagiku." Jawab Juna lirih, sementara bibirnya tak bisa berhenti men****bu, kini leher dan pundak Emira yang jadi sasarannya. 


Emira cukup kewalahan menghadapi keagresifan Juna, tapi tak bisa menolak rasa bahagia yang tiba tiba hadir tanpa permisi, "Pelukan itu?" Emira kembali bertanya, di sela sela rasa nikmat yang tengah menghujaninya. 

__ADS_1


"Hanya sebatas kakak adik, aku tak pernah meletakkan perasaan cinta di sana," 


Juna kembali menghentikan aktivitasnya, di tatapnya wajah cantik yang kini menantikan jawaban nya, "hanya denganmu, perasaanku menggila, jungkir balik seperti roller coaster, egoku menolak kehadiranmu, tapi mataku tak bisa berpaling darimu, bahkan setelah kejadian malam itu, aku blingsatan mencari keberadaan Mira, tapi justru hati dan perasaanku tertuju padamu, marah karena kamu mangkir dari jadwal jaga tanpa kabar, aku mengkhawatirkanmu, bahkan aku merasa benar benar brengsek karena menyingkirkan keinginanku mencari Mira dan memilih mendatangimu, gadis yang kurindu, mana tahu bahwa ternyata sore itu aku justru berhadapan dengan kalian berdua."


Perlahan Gunung es itu mulai mencair, rasa cemburu Emira semalam, membuatnya kembali posesif, ia ingin memiliki suaminya untuk dirinya seorang, 


"Sebesar itukah kamu mencintai Mira?"


"Mira yang manis terlihat menggemaskan, sekaligus rapuh, hingga aku takut, tak berani mendekatimu, karena khawatir mereka akan menyakitimu, tapi rupanya Emira yang cantik dan suka berkelahi, juga mampu membuat jantung dan hatiku berantakan." 


Othor : gombalanmu Juun 🤪


Emira memiringkan wajahnya, karena kini entah sudah semerah apa warna kulitnya, tak bisa lagi ia menyembunyikan perasaan nya, karena nyatanya Juna terang terangan menggoda hatinya, memaksanya mengeluarkan apa yang selama ini ia pendam. 


"Hei lihat aku, jangan berpaling." Pinta Juna. 


"Aku … malu…" Jawab Emira pelan, nyarir berbisik. 


"Kenapa malu, aku suamimu sekarang," Juna kembali mengarahkan wajah Emira, agar berhadapan dengannya, "ya ampuunn gemes banget sih, cium lagi boleh?" 


"Ish … pake nanya." Dengan gerakan ringan Emira meninju pundak Juna. 


"Hahaha  …" Arjuna tertawa senang. 


Mereka kembali larut dalam manisnya gelombang madu asmara, cecepan cecapan mesra kembali terlaksana, namun tak berani melebihi batas, mengingat masih ada penghalang diantara mereka. 


Arjuna kembali menghentikan ciumannya, "nanti kita lanjutkan di apartemen, aku kekamar mandi dulu, menenangkan sesuatu dibawah sana." Arjuna bergerak cepat, melompat ke kamar mandi, sementara Emira sibuk menenangkan debaran jantungnya. 





Tanda cinta nya jangan lupa gaes… 

__ADS_1


Sarangeeeee 


💛💛


__ADS_2