
BAB 95
"Aunty… kapan main lagi?" Wajah ceria Luna mulai sendu kala Emira berpamitan, karena hari sudah mulai senja.
"Nanti kalau aunty dan uncle tidak sibuk, kami menginap."
"Nanti itu kapan?" Tanya Dean polos.
Membuat Bella yang ada di belakang sang putra hanya bisa mengulum senyuman.
"Kapan yah? Aunty juga belum tahu, karena sekarang, aunty kerja di rumah sakit, dan uncle kerja di kantornya."
"Kenapa dokter harus ke kantor? dokter kan kerja nya di rumah sakit kaya papa dan mama." Lagi lagi pertanyaan anak anak tersebut membuat Emira mati gaya, karena kehabisan kata kata.
Padahal sepanjang siang hingga sore, mereka tak henti henti bertanya, bahkan mereka membicarakan banyak hal, dan kini saat berpamitan, masih juga belum tuntas semua pertanyaan di benak si kembar.
"Karena kakek Satrio sedang sakit, jadi uncle yang menggantikan pekerjaan beliau,"
"Kenapa kakek Satrio lama sembuhnya? Kalo aku lagi flu dua hari juga sudah sembuh." Dean berseloroh.
"Iya sayang, kakek Satrio sakit parah di sini." Emira menunjuk dada kiri Dean. "Jadi perlu waktu lama untuk sembuh."
Dan masih banyak lagi pertanyaan serta celotehan yang mereka lontarkan, hingga membuat Emira semakin berat meninggalkan mereka.
Tapi dengan sedikit bujuk an dari Bella, mereka pun mengalah, dan merelakan aunty mereka pergi.
Jam enam tepat Emira tiba di lantai lima, suasana rumah sakit tak lagi sama, karena kini tak lagi ia lihat sang suami berada di sekitarnya, yang ada adalah para dokter residen senior yang kini menggantikan posisi Arjuna, tentulah hal ini membuat Rebeca senang karena ia tak perlu bersaing dengan Arjuna, yang selalu berhasil satu langkah di depannya.
Suasana bangsal lantai lima sudah tenang, karena mayoritas pasien rawat inap mulai beristirahat, Emira masih sibuk membolak balik status pasien yang kini berada di tangannya.
Beberapa saat yang lalu ia baru menyelesaikan panggilan penuh rindu dari suaminya, betapa pria itu tengah merana karena malam ini harus tidur seorang diri, tanpa memeluk istrinya, dan hanya dengan mengingat hal itu membuat Emira tak henti tersenyum.
Hingga tak menyadari ada panggilan dari emergency room.
“Dok … dok …” panggilan dari suster Juwita membuyarkan lamunan Emira.
“Iya suster?” jawab Emira.
“Ada pasien dengan 3 luka tusuk serius di perutnya.” jawab Suster Juwita.
“baiklah,” Emira bergegas lari ke lantai dasar.
__ADS_1
Beberapa petugas sedang melakukan pertolongan pertama pada pasien tersebut, salah seorang dokter melaporkan keadaan pasien pada Emira, termasuk memperlihatkan hasil USG.
Emira bergegas menghubungi dokter Purbo yang malam ini sedang bertugas.
“Dapatkan persetujuan keluarga segera …” jawab dokter Purbo.
“Baik dok …” Emira mematikan panggilannya, kemudian menghampiri beberapa orang yang menemukan gadis itu di pinggir jalan dekat rumah sakit.
“Kami tak menemukan apapun yang menempel pada tubuh gadis itu dok,”
“Kalau ponsel?” tanya Emira lagi, karena ia harus segera mendapatkan persetujuan keluarga korban untuk melakukan tindakan penyelamatan di ruang operasi.
“Ponselnya hancur terlindas mobil,”
“Sepertinya ia baru saja di rampok,”
“Benarkah?”
Tak lama beberapa polisi datang menghampiri Emira, “selamat malam dok.”
“Selamat malam.”
“Benar sekali pak, dan kami kesulitan menghubungi keluarganya.”
“Kami juga masih melacak keberadaan keluarganya, dan sepertinya ia adalah pendatang yang kebetulan bekerja di kota ini.”
Emira menghembuskan nafas nya perlahan, kemudian kembali ke bilik gadis malang itu menerima pertolongan pertama.
Emira mengamati wajah Gadis itu, ia merasa pernah bertemu dengannya tapi entah dimana Emira lupa, taipi sementara Emira harus melupakan nya karena kini harus fokus menjadi asisten dokter Purbo.
Beberapa petugas medis segera membawa gadis itu ke ruang operasi, akhirnya dengan izin dari petugas gadis itu tetap dibawa ke ruang operasi untuk kepentingan penyelidikan.
.
.
.
Sementara itu di rumah besar milik keluarga Sebastian, Reza masih termenung sendiri, sejak siang tadi ia mencoba menghubungi Lea, namun banyak sekali panggilan darinya tak ada satupun yang di hiraukan oleh Lea, hingga sore hari Reza masih juga gagal menghubungi Lea, dan kini Reza harus pasrah karena nomor ponsel Lea sudah non aktif.
Reza merasa tingkahnya pagi tadi sudah sangat keterlaluan, walaupun seandainya benar benar Lea pelakunya, tentu ikan seharga 10 juta itu tak lebih berharga jika dibandingkan dengan dengan keselamatan Lea, gadis itu pergi begitu saja pagi tadi, biasanya ia akan meminta sopir mengantarkannya, tapi entah karena apa pagi tadi ia pergi menggunakan taxi, dan kini Reza dibuat frustasi hanya karena gagal mencari tahu keberadaan Lea.
__ADS_1
Tak ingin lagi menunggu lebih lama lagi, Reza segera menyambar kunci mobilnya, tak bisa ia bayangkan bagaimana murka nya mami Elena ketika putri dari kawan baiknya celaka karena di abaikan oleh putranya sendiri.
“Oh tidak. itu tak mungin terjadi, Lele gadis kuat, bukankah ikan Lele bisa hidup di mana saja? yah itulah Lea …” Reza mencoba berbaik sangka, dengan berbicara pada dirinya sendiri.
Reza berkeliling kota, bahkan di setiap keramaian ia berhenti dan bertanya pada siapapun yang ia jumpai, menunjukkan foto Lea pun sama sekali tak membawa hasil membahagiakan, justru Reza dibuat semakin ketakutan, karena ketika melintasi William Medical Center, ia mendengar dari para pedagang, bawa beberapa jam yang lalu, terjadi penjambretan dan penyerangan, gadis yang menjadi korban, bahkan mengalami luka tusuk sangat parah.
Reza bergegas membawa mobilnya ke William Medical Center, lalu berlari sekencang yang ia bisa untuk mendapatkan informasi.
“Benar sekali tuan, tadi ada korban perampokan dan penyerangan, yang saat ini masih ditangani oleh tim dokter kami di ruang operasi.” Jawab salah seorang resepsionis yang bertugas di emergency room.
Reza kembali mengeluarkan ponsel, kemudian menunjukkan foto Lea yang ada di dalam galeri ponselnya.
“Apakah gadis ini yang anda maksud?” Tanya Reza yang kini semakin ketakutan.
“Entah saya tidak tahu, sebentar saya tanyakan pada dokter yang tadi menangani gadis itu,” perawat itu menghampiri dokter yang ia maksudkan, nampak berbincang singkat ketika ia menunjukkan foto Lea.
“Bagaimana suster?”
“Benar sekali tuan, gadis ini adalah korbannya, apakah anda keluarga pasien?”
Sekujur tubuh Reza bergetar hebat, bahkan kini ia lemas seperti tak bertulang, “Benar suster saya keluarganya, tolong katakan pada saya jika dia baik baik saja.”
“Maaf tuan, kami belum bisa memastikan kondisinya, karena saat ini pasien masih berada di ruang operasi,”
“Terima kasih suster,” ucap Reza, kemudian ia bergegas menuju ruang operasi, ia tak tahu ternyata menjadi keluarga pasien rasanya egitu menakutkan, menanti detik detik penuh siksaan dan ketidakpastian.
Reza tiba di depan pintu gerbang ruang operasi dan bertemu dengan beberapa petugas kepolisian yang masih berada di sana.
“Selamat malam tuan, apa anda keluarga korban penjambretan dan penyerangan, yang terjadi beberapa jam lalu.
Reza menatap nanar pada petugas dari kepolisian tersebut, “Benar sekali pak, gadis itu adik saya.” jawab Reza.
“Syukurlah kami akhirnya bisa menjumpai keluarga nya, adik anda mencoba merebut tas nya yang telah berpindah tangan, kedua penjambret itu melukai korban karena panik akan dikejar massa,” Polisi tersebut mengeluarkan ponsel Alea yang sudah ringsek tak berbentuk. “ini ponsel korban, tak sengaja terlempar ketika terjadi aksi tarik menarik.”
Bibir Reza bergetar menahan tangis, ketika ia menerima ponsel Lea yang sudah hancur tersebut, hatinya mencelos begitu saja membayangkan Lea ketakutan seorang diri ketika mencoba mempertahankan tas miliknya.
“Ini rekaman CCTV di lokasi kejadian, rumah sakit ini dikelilingi ratusan unit CCTV canggih di setiap sudut bangunan, jadi dengan mudah pula kami mengetahui kejadian sebenarnya.”
Reza meraung keras seperti anak kecil, usai melihat secara langsung apa yang Lea alami, ia kini sangat ketakutan, tak tahu siapa yang harus ia hubungi untuk mengabarkan kondisi Lea.
Bayangan kedua mata Lea yang berkaca kaca akibat tuduhan kalimat pedasnya, kemudian pergi dalam keadaan marah, kini berputar dalam ingatannya serta mulai menghantui dirinya, bagaimana jika Lea tak selamat? Apa yang harus ia sampaikan pada kedua orang tuanya, serta om Priyo yang sudah seperti saudara kandung bagi kedua orang tuanya.
__ADS_1