CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 135 (The End)


__ADS_3

BAB 135


Seperti awan yang mengikuti kemana arah angin membawanya, seperti itulah kehidupan berjalan, pasang dan surut, datang dan pergi, yang lewat pasti akan berlalu juga, yang semula ada menjadi tiada, begitulah hukum alam, pahit dan manis harus kita terima dan rasakan, agar selalu bisa berproses menuju masa depan yang lebih baik lagi, apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai, karena sejatinya sebuah kebaikan tak akan pernah salah, walau kita tak langsung mendapatkan rasa manisnya. 


Begitupun dengan sebuah kejahatan, pasti mendapatkan balasan, begitu pula dengan Gunawan, semakin hari bisnisnya semakin menciut, seperti tak ada lagi harapan, kehidupannya pun tak sesempurna seperti ketika Risna mendampinginya dengan setia, tapi karena Gun tak pernah mau membuka hatinya untuk kehadiran Risna, kini ia kesepian, karena kedua anaknya lebih memilih tinggal bersama mantan istrinya tersebut, kini sebaliknya justru bisnis bakery Risna yang berkembang pesat. 


Sementara pak kades dan bu kades muda pun, kini tengah berbahagia, karena mereka akhirnya merampungkan pembangunan pabrik berskala kecil, pabrik tersebut direncanakan akan menjadi tempat pemrosesan padi dan beras organik, kemudian dikemas dengan teknologi modern agar bisa bertahan lebih lama ketika di pasarkan, ini bukti bahwa DENt PHARMATION tak main main dengan proyek tersebut, dan karena pabrik tersebut didirikan di pedesaan, maka semuanya sudah dirancang agar tetap ramah lingkungan, bahkan limbahnya bisa diolah kembali menjadi pupuk organik, begitupun limbah kertas dan plastik akan di daur ulang pula agar tak merusak lingkungan pedesaan. 


Tak mau ketinggalan dengan Emira dan Juna pak kades dan bu kades pun kini memiliki dua orang anak yang meramaikan pernikahan mereka, sementara Reza masih ingin menikmati hari harinya bersama sang istri, jadi mereka memutuskan untuk menunda program anak kedua, karena masih ingin berpacaran dengan sang istri. 


Setelah lima tahun berlalu, Kini Juna sudah benar benar terjun kembali ke profesi lama nya sebagai seorang dokter, bahkan Juna kembali mengambil spesialis bedah Hepatobilier Pankreas, seperti dokter idola nya, yakni sang mommy mertua, Juna bahkan belajar banyak dari mommy Stella, termasuk menonton video video operasi yang beliau lakukan, sejak mulai meniti karir sebagai dokter bedah. 


Dan Emira akhirnya berhasil menyelesaikan masa residennya, kini sama seperti sang suami ia resmi menjadi dokter bedah walau belum berlanjut ke tahap berikutnya, tapi Emira masih ingin menikmatinya, bukan tak ingin melanjutkan, tapi sampai di sini saja, ia sudah kehilangan banyak waktu bersama kedua putranya Kenzo dan Leonardo, karena tahu tahu Kenzo sudah di TK A jadi Leon sang adik pun merengek ingin ikut sekolah, hingga Emira mengizinkannya ikut kelas bermain di sekolah sang kakak. 


Emira memarkirkan kendaraannya di Geraldy Kingdom, ia merindukan Pingky nya, jadi mumpung masih cuti ia ingin bermain sebentar dengan Pingky, sambil menanti anak anak nya pulang dari sekolah ia pun berkuda sejenak, menikmati matahari pagi dan hembusan angin yang bertiup pelan. 


Satu jam kemudian ia sudah keluar dari kamarnya dalam kondisi rapi dan wangi usai mandi. 


"Lagi ngapain mom?" Tanya Emira yang langsung menyeruput segelas juice pelangi buatan sang mommy. 


"Refreshing dong." Jawab mommy Stella santai, sambil menunggu daddy Alex yang sedang rapat bersama para anggota Agent AG. 


Emira mengerutkan keningnya, kemudian mendekati sang mommy yang nampak serius memperhatikan macbook di hadapannya, rupanya dang mommy sedang menonton video operasi transplantasi hati, ini adalah refreshing gaya mommy Stella. 


Dalam layar monitor, nampak kedua tangan sang dokter lincah bergerak menjahit dan menyayat dengan terampil, gerakan jari jemarinya seperti sudah terkoordinasi dengan baik, hingga membuat siapapun yang menyaksikan akan terpukau dengan kecepatan tersebut, dan mommy Stella tak henti henti berdecak kagum karena nya. 


"Siapa dokter itu mom?" Tanya Emira penasaran, karena ia pun takjub dengan kemampuan tangannya. 


Mommy Stella tersenyum, "kamu tak mengenali tangan itu?" Mommy Stella bahkan menghentikan video tersebut. 


Emira menggeleng… "siapa mom jangan bikin penasaran."


"Itu operasi transplantasi pertama suamimu." Jawab mommy Stella. 


Emira sungguh terkejut mendengarnya, "Juna memang pernah menceritakan padanya bahwa ia sudah berhasil melakukan operasi transplantasi pertamanya, tapi ia tak menyangka bahwa kemampuan dan kecepatan Juna sudah tak bisa diragukan lagi, walau pernah cuti selama Dua tahun penuh, tak ada yang bisa menandingi kemampuan Juna untuk saat ini. 


"Gimana sih, masa tangan suami sendiri tak kenal." 


Emira cemberut, "siapa yang bisa mengenali tangan itu jika tertutup sarung tangan."


Mommy Stella tersenyum lembut, mengusap kepala putri bungsunya yang masih manja tersebut, walau sudah memiliki dua orang anak, Emira kerap terlihat manja jika berdekatan dengan kedua orang tuanya. "Mommy tetap mengenali punggung daddy kamu, setelah tujuh tahun perceraian kami."


"Benarkah? Kapan itu mom?" Tanya Emira penasaran. 


"Musim panas, malam terakhir mommy menjalani masa residen di William Medical Center Singapura, malam itu terjadi penyerangan ketika daddy hendak kembali ke Jakarta."


"Bagaimana perasaan mommy saat itu, melihat Daddy dari dekat setelah bercerai selama tujuh tahun?" 

__ADS_1


Stella menatap putri kecilnya, "Rasanya… entah bagaimana, ya rindu, ya marah, tapi tak bisa menyalahkan keadaan yang sudah terlanjur kacau, untuk pertama kalinya mommy kembali melihat wajah abangmu, setelah tujuh tahun mommy tinggalkan, menurutmu apakah perasaan mommy baik baik saja saat itu?" Mommy Stella mengusap air matanya, "tidak nak, mommy justru semakin terluka, Jika daddy merana karena tak bisa menemukan keberadaan mommy, maka mommy lebih merana karena bisa melihat tapi tak bisa menemui, pada saat itu mommy terlalu takut."


Tak akan pernah habis air mata jika Stella membicarakan masa lalu rumah tangga nya. "Tapi mommy bersyukur, masih diberi kesempatan mendampingi daddy hingga kini."


"Makasih mom… makasiiiihh banget karena mommy mau kembali bersama daddy," Emira memeluk sang mommy. 


"Kamu memiliki suami yang baik, dan bertanggung jawab, jadi jangan pernah biarkan kesalahpahaman merusak pernikahan kalian, yah? Jadikan kisah hidup mommy sebagai pelajaran berharga." Pesan mommy Stella. 


"Iya mom, akan kami usahakan untuk selalu terbuka dalam hal apapun." 


"Oh iya… jadi nanti sore penerbangannya?"


"Jadi dong, anak anak sudah aku buatkan izin langsung ke gurunya, jadi setelah ini aku jemput sekolah, langsung ke rumah sakit jemput mas Juna, makasih hadiahnya mom."


"Hanya hadiah kecil, mommy senang sayang, jadi kalian juga harus bersenang senang, nikmati bulan madu kalian, eh bukan bulan madu tapi family time." 


"Iya, lain kali kami harus menitipkan anak anak pada mommy, jadi kami bisa berbulan madu tanpa gangguan." Protes Emira, sebenarnya bukan mommy Stella tak mau dititipi cucu cucu nya, hanya saja Kenz dan Leon menolak ditinggal, mereka akan selalu memastikan ada di dekat kedua orang tuanya. 


.


.


Matahari sore semakin menampakkan keindahannya, tapi kedua bocah lelaki tampan itu tampak asyik bermain pasir di pinggir pantai, Kenz dan Leon sibuk mencari kerang yang berbentuk unik, untuk diwarnai, kemudian diletakkan di aquarium mungil yang berisi ikan ****** peliharaan mereka.


Sementara dari jarak aman kedua orang tua mereka mengawasi, sepasang suami istri itu bergandengan tangan, sambil berjalan pelan menyisir bibir pantai tanpa alas kaki, sesekali riak ombak menyapu kaki keduanya, hingga menghilangkan jejak jejak pasir yang menempel di kaki mereka.


“Senang sekali rasanya …” gumam Juna senang, bisa berlibur sesaat di tengah padatnya jadwal operasi membuat Juna sedikit rileks, terlebih ia ditemani wanita cantik yang setia menempel padanya sepanjang waktu, dan jangan lupa dua jagoan kecil yang selalu membuat suasana rumah menjadi heboh.


Juna mencubit kecil hidung Emira, “Seperti kamu tidak pernah saja,”


“Tapi kan gak sesering kamu mas, yang bahkan kalau operasi memakan waktu lebih dari lima jam.” 


Juna menatap wajah cemberut Emira, “coba lebih maju lagi bibirnya.” goda Juna.


Tapi emira justru mencubit perut suaminya, “berani cium, satu tendangan.”


“Berani menendang aku lempar kamu ke air, dan nanti malam ku mangsa habis, sampai pagi.”


Emira mendesis kesal, ingin rasanya ia menghajar suaminya sendiri saat ini, tapi ada anak anak mereka, dan pasti tak terima jika sang bunda menghajar ayah mereka.


“Dasar curang…”


“Siapa suruh nakal … dah gitu cantik lagi, mana tahan kalo di anggurin, tentu saja harus dimanfaatkan semaksimal mungkin, hahaha …” Arjuna tertawa senang, istrinya kini benar benar sudah jadi kucing kecil yang penurut, tapi juga menggemaskan di waktu bersamaan.


“Maaaaass …” Emira semakin kesal mendengar perkataan suaminya, ia pun berlari kecil menghampiri anak anak nya. “Awas kamu mas.” 


“Emira Alexandra aku mencintaimu … sangat …” teriak Juna dari kejauhan.

__ADS_1


Emira tersenyum, lagi lagi ia menerima kata kata cinta, walau sudah sering didengar, tapi rasanya masih tetap mendebarkan, riak riak kecil di hatinya selalu bahagia manakala Arjuna mengucapkan kata kata cinta, setiap pagi ketika bangun tidur, atau sebelum pergi bekerja.


Arjuna merentangkan kedua tangannya, Emira yang paham maksud suaminya segera berlari masuk ke pelukan hangat sang suami, keduanya berpelukan erat seakan akan tak ada anak mereka di sana, “Aku juga mencintaimu hei Arjunaku.”


“Boleh cium di sini gak sih?” bisik Juna.


“Jangan mas, lihat anak anak sudah ngeliatin kita.”


Juna melonggarkan pelukannya, “terima kasih sayang, hampir tujuh tahun ini aku bahagia, karena setiap bangun tidur melihatmu di sampingku, hidupku sangat sempurna berkat kehadiranmu, sekali lagi aku ingin menjadi egois, jangan pernah meninggalkan ku yah, walaupun sudah tak ada lagi rasa cinta di hatimu untukku.”


“Iiiiih … kok gitu ngomongnya.” 


“Habisnya aku terlalu takut kehilanganmu yang,”


“Bagaimana kalau ku katakan aku pun takut kehilanganmu,”


“Aku senang sekali yang, rasanya dadaku hampir meledak saking bahagianya.”


Emira berjinjit kemudian mencium pipi Juna.


“Tuh kan nakal, mulai deh mancing mancing, gitu aku gak boleh cium.”


“Hahaha itu deritamu mas.”


Juna tersenyum masam.


“Ayah … mau sampai kapan peluk bunda, katanya mau bikinin istana pasir?” Protes Kenz pada Juna.


Emira dan Juna kompak menoleh, rupanya kedua anak mereka tengah mengawasi adegan mesra keduanya, dengan wajah cemberut di tekuk garang.


“Oh … iya maaf, ayah terlalu mencintai bunda kalian, sampai lupa ada anak anak tampan ayah yang butuh perhatian.” 


Juna memeluk dan menciumi kepala Kenz dan Leon secara bergantian, “Ayo sekarang, matahari semakin gelap,” rengek Leon.


“Oke … ayo …”Juna bergegas menuruti permintaan kedua jagoannya, sementara seperti biasa Emira bertugas mengabadikan momen suami dan anak anak mereka.


“Mas … aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu, aku pun bahagia bersamamu dan anak anak kita.” Gumam Emira yang tentu saja kalimatnya terekam di dalam video yang sedang ia buat kala mengabadikan momen tersebut.


Dah yah ??? 


Udah dong … terlalu panjang ini, bahkan lebih panjang dari novel emak bapak nya, tapi memang banyak tokoh yang othor ceritakan di novel ini.


Terima kasih sudah mengikuti setiap episodenya, kalian luar biasa.


Othor hanya manusia biasa, yang mencoba mewujudkan rasa suka, dan hobi menulis sejak SMU, dan othor sangat berterima kasih buat yang masih setia membaca halu nya othor. 


Terima kasih juga buat yang sudah like komen bahkan vote, othor sangat menghargainya.

__ADS_1


saranghamnida 💚💚💚


...The End...


__ADS_2