CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 65.


__ADS_3

BAB 65


Mobil Juna memasuki halaman rumah keluarga Dewanto. 


Arjuna merasa heran karena suasana dari luar terlihat berbeda, bahkan ada beberapa mobil milik beberapa kerabat yang ia kenal, mereka adalah adik adik ayah Satrio, serta beberapa sepupu dari pihak ayah Satrio. 


"Lha ini… yang ditunggu sudah datang," Mama Yuna menyambut kedatangan anak dan menantunya. "Maaf kalau mama mendadak ngundang kalian." Ucap mama Yuna sembari cipika cipiki dengan Emira. 


"Kok mama gak bilang sih kalau ada keluarga  Bayu dan Om Hari?" Tanya Juna. 


"Kejutan… ayah mau mengenalkan istrimu pada adik adik nya."


Mama Yuna membimbing Emira masuk ke ruang keluarga. 


"Wah sudah datang toh, ayo sini…" Panggil Ayah Satrio yang sedang duduk berbincang dengan adik adik. 


Emira dan Arjuna menghampiri ayah Satrio kemudian mencium tangan beliau, beserta semua om om dari pihak ayah Satrio. 


"Nah yang di sana itu istri istri beliau…" Arjuna menunjuk ke ruang tengah, para ibu ibu beserta sepupu sepupu Juna sedang sibuk bercengkrama. "Ayo aku kenalkan." 


Arjuna tak melepaskan genggaman tangannya, "mas Juna…" Belum sempat Arjuna mengenalkan bibi dan tantenya, para sepupu nya berseru nyaris berbarengan, mereka pun mendekat. 


"Sebentar yah," Juna menjawab seruan adik adik sepupu nya, "Itu tante Leni istrinya om Bayu," Arjuna mejunjuk wanita dengan sanggul di rambutnya. 


"Dan itu tante Ratna istrinya om Hari." Kemudian Arjuna menunjuk wanita yang mengenakan banyak perhiasan di tangan dan lehernya. 


Emira mengangguk tersenyum ketika Leni dan Ratna menoleh sesaat. 


"Wah siapa ini mas?"


Belum selesai Arjuna mengenalkan para istri dari om om nya, salah satu adik sepupu Juna menyapa. 


"Iya nih, mas Juna gak kabar kabar kalo punya pacar."


"Berapa bulan gak ada kabar, katanya sibuk, datang datang bawa cewe, cantik lagi."


Arjuna hanya mengulum senyuman, mendengar celotehan para sepupu nya. 


"Iya, ini juga mendadak… nanti biar ayah aja yang cerita, kenalin ini Emira istri mas Juna," 


Arjuna mengenalkan Emira pada para sepupu nya, jika para sepupu nya menyambut baik berita tersebut, lain halnya dengan para bibi dan tante Arjuna, mereka serempak terdiam dan saling pandang. 


"Wah selamat mas, cepet cepet bikin resepsinya ya?" Winda langsung berseeu manja, seperti seorang adik pada kakak laki laki nya. 


"Iya mas, sudah lama kita gak ngumpul."


"Iya kami masih sibuk di rumah sakit." Jawab Juna singkat. 


"Wah dokter juga mas?" Tanya Rio, ada kekaguman pada sorot mata nya ketika Arjuna mengatakan bahwa istrinya seorang dokter. 

__ADS_1


"Foto dong mas, istri mas Juna cantik bener." Kemala berseru, salah satu sepupu Juna yang berambut panjang. 


Hidung Juna kembang kempis mendengar pujian untuk sang istri, begitupun Emira, yang sejak datang tak mau melepaskan genggaman tangan Arjuna. 


"Pinter nih mas Juna cari istri, kasih tips nya ya mas." Rio, Sepupu laki laki Juna ikut ambil suara. 


"Modelan kamu sih susah dapet istri cantik." Bisma yang baru bergabung ikut menimpali. 


"Yeee… siapa tahu aja, kan jodoh bukan kita kamu yang menentukan." 


"Iya tapi seberapa besar sajenmu buat mbah dukun, gaya pake tanya tanya cari istri, sekolah dulu di benerin, masih kelas tiga SMP juga." 


Hahahaha… tawa berderai meramaikan suasana, sudah biasa jika mereka berkumpul selalu ramai dengan gelak tawa. 


"Sudah sudah bercandanya, Juna ajak istrimu makan," Mama Yuna menengahi. "Mama gak rela menantu cantik ini pingsan." Mama Yuna mengusap pipi Emira. 


Arjuna dan Emira mengangguk bersamaan. "Hanya perasaanku aja, atau memang suasana mendadak berubah?" Bisik Emira ketika mereka berdua menghampiri meja makan. 


"Heh…? Nggak kok yang, itu hanya perasaanmu aja." Jawab Juna mencoba menutupi kegugupannya. 


Bukan tanpa Alasan Emira bertanya demikian, pasalnya setelah Juna memperkenalkan dirinya sebagai istri, para bibi dan tante Juna terdiam, bahkan mendadak bicara dengan berbisik, seolah olah tak ingin didengar oleh Emira. 


Dan kini, para orang tua tersebut seperti sedang mendiskusikan sesuatu yang penting, dan Emira semakin tak nyaman berada di antara keluarga besar Arjuna. 


Kegelisahan itu, membuat Emira bahkan tak sanggup menelan makanannya dengan baik, ia terpaksa makan karena sudah terlanjur mengisi piring nya dengan makanan. 


Kalimat tengil itu, biasanya memantik celotehan Emira, tapi tidak kali ini, Emira hanya memasang senyum canggung, karena firasatnya mengatakan ada yang tidak biasa. 


"Aku suapi yah?" Arjuna berinisiatif, manakala melihat Emira hanya memainkan puding yang ada di hadapannya. 


Emira menggeleng kemudian tersenyum canggung, "nggak usah … aku bisa sendiri kok." Lagi lagi Emira menolak. 


Arjuna tersenyum, "makan yang banyak yang, biar anak anak kita nanti lahir dalam keadaan sehat." 


Akhirnya Emira terpancing, "anak? Anak apaan? Anak siapa?"


"Ya anak kita yang,"


"Kan aku gak hamil?" Tanya Emira masih tak sadar dengan maksud Juna. 


Arjuna mendekat, menyingkirkan anak rambut dari wajah Emira, tak peduli dengan keberadaan para sepupu nya yang jelas jelas bisa melihat kearah dirinya, "Iya memang, tapi sebisa mungkin kamu harus mulai makan makanan yang bergizi, jadi nanti pas hamil anak kita memiliki cukup untuk cadangan nutrisi."


Emira masih bengong mendengar penuturan Juna, "besok beli susu untuk promil yuk?" Juna mencetuskan sebuah ide, yang bahkan sebelum sebelumnya tak pernah terpikirkan olehnya. 


"Iiih…  nggak… nggak usah … nggak mau, kamu pikir  aku penderita stunting?" Tolak Emira, selama ini ia makan dengan baik, gizinya pun seimbang, bahkan berlebih, jika hanya untuk promil Emira merasa gizinya saat ini sudah cukup tanpa perlu tambahan susu untuk promil. 


"Ya nggak sih yang, biar lebih afdhol aja, lagian aku gak mau menunda lebih lama lagi,"


"Kenapa jadi bicara kehamilan sih?"

__ADS_1


"Aneh yah?" Tanya Juna, "aku rasa nggak, kita sudah menikah, jadi wajar kalau membicarakan program kehamilan, gimana? Ideku brilliant kan?" Tanya Juna dengan seringai di bibirnya. 


Barulah Emira menyadari Arjuna sedang menggoda nya. 


"Ih… dasar… kamu lagi ngerjain aku yah?"


"Hahahaha… ini baru istriku."


Plak 


Plak 


Plak


Emira memukul lengan Juna beberapa kali, "aduh yang… ampun, ini namanya KDRT, kan aku cuma bercanda yang." 


"Siapa suruh jahil," 


Kini Emira ganti memberikan cubitan, di pinggang Juna, bukannya marah, Juna semakin keras tertawa, "ampun yang iya iya aku ngaku salah." 


Melihat wajah Juna yang memerah, Emira pun menghentikan aksinya. 


Arjuna masih mengulum senyuman melihat wajah kesal Emira. 


"Dooohh yang lagi mesra… bikin kita kita iri aja." Teriak adik dan para sepupu Juna, yang diiringi gelak tawa.


Mau tak mau, wajah Emira pun merona. 


Namun tawa di antara anak anak, tak sejalan dengan ekspresi para orang tua yang nampak masih serius di ruang tamu, entah apa yang mereka bicarakan. 


Tiba tiba dari pintu utama muncul seseorang yang seketika menyedot perhatian semua orang, termasuk para orang tua yang sedang serius berbicara. 


"Selamat malam semua…" Sapanya riang. 


Ia segera bersalaman dengan para orang tua, kemudian bergabung dengan para sepupu, wajah nya semakin berbinar manakala melihat keberadaan Arjuna di ruangan tersebut. 


"Mas Junaaa…" Panggilnya dengan suara riang nan manja, seperti sudah biasa demikian. 


Gadis itu berjalan cepat, dan langsung memeluk Arjuna tanpa ada rasa risih sedikitpun


.


.


.


🫣mas Juna itu siapa??🫢


🧡🧡🧡

__ADS_1


__ADS_2