CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 102


__ADS_3

BAB 102


Suasana emergency room sungguh ramai siang ini, setelah korban tabrak lari, hingga korban kecelakaan bus di jalan bebas hambatan, sengaja pasien disebar karena rumah sakit terdekat dari tol sudah tak mampu menampung pasien.


Hal itu berimbas ke pusat bedah lantai lima, tak ada dokter dan perawat yang bersantai, bahkan yang di meja perawat kerepotan menerima telepon dan pertanyaan dari keluarga pasien.


“Pasien datang …” beberapa petugas dari emergency mendorong seorang anak remaja yang sudah bersimbah darah di kepala dan juga lengannya.


“Hah … lagi?” gerutu Emira yang bahkan belum mengistirahatkan kaki lelahnya, bahkan baju serta snelinya sudah hampir penuh dengan bercak darah pasien.


Emira bergegas menghampiri pasien tersebut, ia mengeluarkan senter untuk memeriksa kornea mata pasien, “Dok … tolong anak saya dok, dia tidak bersalah, dia hanya korban,” Keluh seorang wanita yang Emira duga adalah ibu dari pasien, di wajah, lengan dan tulang selangka wanita itu banyak bercak merah kebiruan, Emira mengira bahwa wanita itu adalah korban KDRT, tapi cepat cepat ia singkirkan pikiran buruk tersebut.


“Bagaimana kondisi korban?” tanya Emira pada petugas yang membawa pasien sejak dari ambulance.


Seorang petugas pria dengan lancar menjelaskan kondisi pasien, mulai dari denyut nadi, tekanan darah, hingga tanda vital, serta apa saja yang patut di curigai.


Emira mengangguk kemudian meminta pasien dibawa ke ruang tindakan, dokter Rebecca masih menjahit luka pasien yang mengalami luka robek di lengan dan kaki nya.


Dengan bantuan seorang perawat Emira melakukan pertolongan pertama membersihkan luka korban, sang perawat memasang cairan infus, kemudian ia melakukan tes CT scan untuk melihat apakah ada retak tengkorak serta tulang yang patah.


.


.


.


korban yang Emira tangani harus menjalani operasi karena ternyata lukanya cukup parah, selidik punya selidik, si remaja tersebut melindungi ibu nya dari KDRT yang dilakukan sang ayah yang tengah dalam kondisi mabuk, dan kini hanya ada sang ibu yang menunggu pasien di ruangan rawatnya selepas operasi, sementara sang ayah belum menampakkan diri.


Kondisi lantai lima sudah mulai tenang, karena hari sudah beranjak sore Emira pun membersihkan diri, kini bukan hanya tubuhnya yang terasa segar usai mandi, rasa lelahnya pun sedikit berkurang, dan mood nya membaik karena malam nanti ia sudah bisa memeluk sang suami, karena ini sudah hari ke tiga kepergian Juna.


Emira keluar dari ruang ganti pakaian bersama, dokter Milea, dokter Nadia dan dokter Emil.

__ADS_1


“Laparnya …” Keluh dokter Nadia.


“Rasanya aku ingin pingsan di tempat.” sambung dokter Emil.


“Mira … wajahmu pucat gini, kamu gak papa?” tanya dokter Emil khawatir.


“Iya … beberapa hari ini ku perhatikan wajahmu lebih pucat dari biasanya.” imbuh dokter Milea yang juga merasa cemas.


“Benarkah?” jawab Emira santai, diam diam ia pun merasa bahwa beberapa hari ini tubuhnya tak bisa diajak bekerja sama, ia sering lemas dan mengantuk, kemudian Emira mengeluarkan ponselnya, untuk memeriksa kondisi wajah nya. “Iya sih … mungkin hanya lelah, dan lapar kak.” jawab Emira yang juga tak tahu pasti kondisi tubuhnya, ia sudah makan banyak bahkan berlebih, mungkin kurang istirahat pikir Emira.


Aaaaaa … 


Tiba-tiba atensi keempat dokter muda tersebut teralih pada suara yang melengking dari salah satu ruang rawat inap.


keempatnya segera menghampiri kamar yang menjadi pusat suara teriakan, di sana nampak seorang pria tengah menjambak rambut dari ibu pasien yang beberapa jam lalu menjadi pasien Emira.


Wanita itu nampak kesakitan, bahkan menangis memohon ampun, namun pria itu tak menghiraukannya.


Pria itu menatap bengis kearah empat orang dokter yang kini berada di ruang rawat inap anaknya. “sebaiknya kalian diam, dan jangan ikut campur dalam urusan rumah tangga kami.” hardiknya tajam.


“Akan menjadi urusan kami karena ini di rumah sakit, dan lihat sekeliling anda, para pasien dan keluarganya merasa terganggu,” Emira menambahkan, ponsel yang masih berada di genggamannya kini menarik perhatian pria itu.


“Jangan coba coba menghubungi keamanan !!!” teriak pria itu.


Emira maju beberapa langkah, ia melemparkan ranselnya begitu saja ke lantai, “tidak, anda salah jika berpikir saya akan menghubungi security, saya akan langsung menghubungi polisi, karena yang anda lakukan adalah tindak kejahatan serius, karena hampir menghilangkan nyawa seseorang."


“Apa katamu,” Pria itu melepaskan cekalannya di rambut sang istri, kemudian berjalan menghampiri Emira yang mulai menyalakan ponselnya. 


“Halo … polisi …” Ujar Emira tanpa rasa takut,  ia menatap tajam ke wajah pria itu, sebagai tanda bahwa dirinya tak takut sama sekali dengan ancamannya. 


“Gadis kurang a j a r …” Maki pria itu, tangannya terangkat hendak menjatuhkan tinjunya, tapi dengan lincah Emira menghindar, hingga pria itu tanpa sengaja menabrak meja, hingga membuat apa yang ada di atas meja, jatuh berantakan.

__ADS_1


Aaaaaa … semua mata yang menyaksikan kejadian itu berteriak ketakutan, tapi wajah Emira nampak datar tanpa rasa takut, justru tersenyum miring sebagai tanda ejekan. 


“Iya pak, ini dokter Emira dari William Medical Center, saya melaporkan seorang pelaku KDRT tengah berbuat kerusuhan di ruang rawat inap pasien.” rupanya Emira benar benar membuktikan ucapannya, hingga membuat emosi pria itu semakin naik pitam.


Pria itu kembali maju dengan beringas kali ini bukan hanya tangan tapi kakinya pun ikut menendang, namun lagi lagi Emira dengan mudah menghindarinya, hingga di pukulan terakhir, Emira menangkap kedua lengan pria itu, ketika ia hendak melayangkan bogem mentahnya, BINGO bagi Emira, karena pria itu masih terus melakukan perlawanan, hingga membuat Emira memakai trik yang diajarkan mommy Stella, sudah lama sekali ia ingin mempraktekkan gerakan tersebut, karena ia hanya bisa mempraktekkan gerakan tersebut di ruang latihan, bersama Hans sang pelatih. 


Braaak … suara dentuman keras terdengar, ketika Emira membanting tubuh pria itu dengan sisa sisa tenaganya, kemudian dengan mudah membalik tubuh kekar nya, dengan salah satu lututnya ia menahan tubuh pria itu, agar tak melakukan gerakan mendadak, kemudian ia menahan kedua tangan pria yang sudah tak berdaya tersebut ke belakang, “Carikan apa saja yang bisa digunakan untuk mengikat.” 


Semua mata yang ada di ruangan tersebut, dibuat tercengang dengan aksi Emira, bahkan mereka tak masih tak sanggup menutup mulutnya karena baru pertama kali menyaksikan adegan laga yang biasanya hanya mereka lihat melalui layar televisi.


Walau masih panik, salah seorang keluarga pasien yang berada di ruangan tersebut mengangsurkan tali rafia yang kebetulan ada di lacinya. 


Dengan cekatan Emira mengikat kedua tangan pria itu ke belakang punggung, kemudian memaksa pria yang sudah tak berdaya tersebut untuk berdiri.


“Awaaaaaasss.” Teriak salah seorang keluarga pasien.


Rupanya ia masih dalam kondisi mengupas apel ketika tragedi terjadi, dan terkejut karena tiba tiba pisau yang ia genggam sudah berpindah tangan.


Emira yang tak siap, secara reflek mendorong tubuh pria itu, 


Dan …. 


Sreeeet ….


Tragedi tak diharapkan terjadi, Emira menatap telapak tangannya yang kini berlumuran darah, tiba tiba alam semesta di sekitarnya menjadi gelap dan semua terasa tenang tanpa ada suara apalagi suara keributan.


.


.


.

__ADS_1


nah lo … kenapa neng Mira, apanya yang berdarah?


__ADS_2