CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 121


__ADS_3

BAB 121


H-3 resepsi pernikahan Arjuna dna Emira


Alea melangkah cepat memasuki Diamond Mall, tempat Reza berkantor, mulai hari ini ia putuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai sekretaris Reza, dan lagi ia ingin melihat dari dekat siapakah gerangan Gadis yang dipilih mami Elena dan Papi Haris untuk menjadi istri Reza.


Hari sudah menjelang makan siang ketika Alea tiba di Diamond Mall, pengunjung Mall pun mulai ramai berdatangan, dan Alea melangkah dengan yakin, menuju lift khusus yang akan membawanya langsung ke ruangan Reza, dan para staf Diamond Mall berkantor, Lea di sambut senyum ramah dari dua orang security yang berjaga di depan lift, serta seorang resepsionis.


“Selamat pagi menjelang siang nona Lea.” 


“Selamat pagi menjelang siang juga pak Hendra.”Jawab Lea, dengan senyum terbaiknya seperti biasa.


Matanya memicing tajam manakala ada seseorang yang menempati meja dan kursi nya, “Siapa dia? berani beraninya, menduduki tempatku.” Gerutu Alea tak suka.


Alea berjalan semakin dekat dengan meja nya, dan setibanya di sana ia melipat lengannya di d a d a, “Selamat siang,” ucap Lea dingin, tak ada ekspresi ramah sama sekali.


Egi yang tengah sibuk di depan laptop pun mendongak, “Selamat pagi … siapa yah?” tanya Egi.


“Kamu yang siapa, berani beraninya duduk di kursi ku, bahkan menggunakan laptop dan meja kerjaku.”


Egi menatap semakin heran pada gadis di hadapannya, “Aku? asisten bos Reza, situ siapa?” 


“Asisten sekaligus sekretaris pak Reza, minggir kamu …” usir Alea.


“Enak aja, nyuruh nyuruh minggir, ini juga meja kerjaku.” Egi tak mau kalah.


Alea semakin berang, ia hendak mendekati Egi, tapi kemudian … 


“Egi … tolong bawa ini ke bagian Hu … mas …” kalimat terakhir reza terjeda, manakala melihat ada Alea di hadapannya, entah Reza harus tersenyum atau menangis, saking bahagianya kembali melihat sekretarisnya datang kembali, padahal ia sudah hampir menyerah, membujuk dan meminta maaf pada Alea, tapi itu hanya berlangsung sesaat, karena Reza ingin kembali menguji kesungguhan Lea, dan masih ingin bersikap dingin dan cuek, seperti yang sudah dua hari ini ia lakukan, Reza ingin melihat seperti apa reaksi Lea.


“Kamu sudah datang? mau lanjut kerja?” tanya Reza. 


Reza berjalan mendekat, Alea hendak menjawab pertanyaan pria itu tapi … “Kalau belum sembuh benar sebaiknya jangan masuk kerja.” 


Alea merasakan perubahan itu, Reza tak sehangat biasanya, bahkan dulu ketika pertama kali Alea datang ke ruangan ini, sikap Reza tak sedingin ini. 


“Tidak pak, kemarin dokter mengatakan kalau saya sudah sembuh total,” Jawab Lea.


Reza mengangguk, “Syukurlah … kalau begitu, lanjutkan pekerjaan Egi, dan kamu Egi ikut keruangan saya.”


“Baik pak.” Jawab Egi.


Reza kembali ke ruangannya, kemudian menghembuskan nafasnya, seakan akan melepaskan beban berat di pundak nya, “Kamu lihat tadi, dia terluka sekali, mana tega aku melanjutkan semua ini, aku bahkan sangat merindukannya …” keluh Reza sambil menarik narik rambutnya.  


Egi cukup tercengang melihat tingkah bos muda nya, semula ia mengira sang bos memang sedang bersikap formal, tak tahunya ia tengah berakting.


“Jawab …” Reza mengguncang bahu Egi, “Kenapa malah melamun?” tanya Reza tak sabar.


Egi kembali tersadar dari lamunannya, “semangat bos, tak sia sia beberapa hari ini anda bersikap tak peduli, sekarang lihat kan, kalau dia kembali, mungkin saja dia penasaran dengan sikap dingin anda selama ini.”


“Apa kamu yakin?”


“Seribu persen bos,” jawab Egi dengan cengiran.


“Kalau gagal?”

__ADS_1


“Saya sangat yakin kali ini tak akan gagal.”


“Aku tanya, sekali lagi, kalau gagal apa jaminannya?”


“Gadis itu, buat saya saja, kalau anda memutuskan menyerah, dia sangat cantik bos, benar benar murni, saya yakin dia belum pernah memiliki kekasih …” Jawab Egi dengan wajah berbinar.


PLAK… Reza memukul bahu Egi, “Begajulan sepertimu, tak cocok untuk Lele ku, kembali kerja … awas kalau berani mendekati Lele ku.


Egi mengangguk kemudian berbalik, ia sangat bahagia, karena kini iia bisa benar benar bekerja di ruangannya.


.


.


Sore hari nya 


Arjuna sudah menunggu di lobi utama William Medical Center, hari ini adalah hari terakhir Emira sebelum kembali mengambil cuti untuk persiapan acara resepsi pernikahan yang akan diadakan tiga hari lagi. 


Arjuna tersenyum, kala melihat Emira berjalan ke arahnya, d a d a nya masih saja berdebar ketika melihat senyum cantik sang istri, Emira melambaikan tangannya kemudian mempercepat langkahnya, bahkan ketika di undakan tangga Arjuna dibuat ketar ketir karena khawatir akan terjatuh karena Emira tak mengurangi kecepatan langkahnya, "hati hati yang… jangan lari, kalau jatuh gimana?" Cecar Juna khawatir. 


"Hehehe… maaf." jawa Emira ketika jarak mereka sudah dekat.


Arjuna menggenggam bahkan sedikit m er em as kedua telapak tangan Emira, “lelah …?”  


“Sedikit … tapi langsung hilang ketika melihat wajah tampan ini sedang menungguku.”


Arjuna tersenyum senang, lagi lagi ia merasa ingin salto, jungkir balik, dan koprol kanan kiri, pujian dari istrinya memang selalu terdengar spesial di pendengarannya.


“huuuuu ….” beberapa rekan kerja mereka ikut ber huuu ria, mendengar pujian yang dilontarkan Emira.  


“Ya ini memang mau pulang dok.”


“Dok … jangan tinggi tinggi terbangnya, takut jatoh kalo ketinggian.”


“Dok … awas !!! diabetes itu bahaya.”


Begitulah kira kira godaan yang rekan kerja mereka berikan, namun Emira dan Arjuna hanya menanggapinya dengan santai.


Tak lama kemudian terdengar suara tawa dan cekikikan, semenjak hubungan kedua dokter itu terungkap, para rekan rekan Juna dan Emira tak malu lagi menggoda bahkan sesekali membuat keduanya saling cemburu, namun tak berlebihan.


“Karena kamu belum lelah, aku mau bawa ke suatu tempat,” bisik Juna ketika membukakan pintu mobilnya.


Emira tertegun, namun belum sempat bertanya karena kini Juna tengah berjalan memutari sisi mobilnya, kemudian duduk nyaman di kursi pengemudi.


“Mau kemana sih? jangan membuatku penasaran.” tanya Emira tak sabar.


“Kejutan, nanti kamu tahu.” 


Emira mencebikkan bibir nya, “Nggak seru.” 


Aruna menggenggam tangan Emira, kemudian mengecupnya, “Tahan sebentar rasa penasaranmu, aku tak mau usahaku seminggu ini sia sia, okey?” 


Emira hanya bisa mengangguk, tapi kemudian bibirnya melengkungkan senyumnya.


“Nah gitu dong … selamat menikmati rasa penasaranmu,” Arjuna mendekat kemudian mencium sekilas bibir sang istri, “sisanya nanti di kamar.” pungkasnya seraya mengedipkan salah satu matanya.

__ADS_1


Tak bisa tidak, kini wajah Emira merona karena mendapatkan perlakuan manis dari pria nya.


Arjuna menjalankan mobil dengan kecepatan sedang, seperti kebiasaannya yang sudah sudah, ia tak melepaskan genggaman tangannya sekalipun, obrolan ringan selalu mereka lakukan agar tak bosan sepanjang perjalanan, dan tak perlu waktu lama mereka tiba di sebuah bangunan bertingkat yang Emira ketahui, di banguan tersebut ada sebuah restoran yang bisa di reservasi secara private. 


“Western Restaurant, Kita mau makan malam?” tebak Emira.


Arjuna mengangguk kemudian memeluk pinggang Emira dengan posesif, tak peduli dengan kostum dan penampilan mereka yang sudah ala kadarnya usai bekerja, keduanya melanjutkan langkah nya memasuki lobi utama, kemudian seorang petugas membimbing keduanya menuju lift.


Mereka menuju lantai lima, dan disambut buket besar mawar merah, “Silahkan nona …” petugas wanita tersebut memanggil emira dengan sebutan nona. “Ini dari kekasih anda.”


Emira menoleh menatap Juna yang tersenyum intens ke arahnya, “Maaf … aku bahkan belum pernah memberikan bunga untukmu.”


Emira tersenyum geli, kemudian mengangguk, “Ini cantik sekali mas,” 


“Tidak … bukan bunganya yang cantik, bunga ini hanya pelengkap yang membuat kecantikan dan kebaikan hatimu semakin bersinar.”


Kejutan belum berakhir, karena kini mereka dibimbing menuju ke sebuah ruangan private, restoran tersebut memang hanya menerima pengunjung dalam jumlah terbatas setiap harinya, karena kenyamanan pengunjung adalah yang utama, mengingat konsep restaurant private yang mereka usung.


Emira tercengang menatap ruangan luas di hadapannya, ruangan dengan pencahayaan remang remang, karena hanya ada dua buah lilin diatas meja yang sengaja diletakkan di dekat kaca tembus pandang, agar terlihat pemandangan ibukota di malam hari yang memukau di mata siapa saja, ruangan tersebut memang sengaja di dekorasi sesuai permintaan Juna minggu lalu, bahkan ada lilin lilin kecil berjajar di sisi kanan dan kiri jalan setapak yang mereka lewati, serta bertaburan bunga mawar dimana mana.


Arjuna menarik kursi untuk Emira duduki, “Suka?”


“Banget … berapa lama mas siapkan semua ini?”


Arjuna jadi malu sendiri, “cukup lama … aku bukan pria romantis, aku bahkan searching google, beberapa kali datang ketempat ini demi menyiapkan konsep yang ku inginkan, maaf kalau banyak kurangnya.”


“hahaha …” Emira tertawa keras, “Aku suka mas, bahkan tanpa ini semua aku tetap suka, dan bahagia bersamamu, terima kasih yah.” 


Wajah Juna lagi lagi dibuat memerah mendengar kalimat Emira.


Tak lama kemudian datanglah seorang pramusaji membawa senampan hidangan pembuka, tak berselang lama pramusaji berikutnya datang, meletakkan nampan berisi sebuah kotak beludru berwarna gold, pramusaji tersebut membuka kotak tersebut sebuah kalung dan gelang ada di dalam sana, “mas … apa lagi ini?” tanya Emira dengan wajah berbinar.


Arjuna beranjak dari kursinya, kemudian pramusaji berjalan keluar meninggalkan dua sejoli tersebut, Arjuna berlutut, “maaf … tapi aku baru ingat, belum pernah melamarmu, sebentar lagi perayaan pernikahan kita, jadi sekarang izinkan aku mengulang lagi kisah awal pernikahan kita, maukah kamu menikah dengan ku? berbagi suka, dan bahagia denganku?”


“Duka nya mana?” tanya Emira dengan air mata berlinang haru.


“Tidak aku tak ingin membagi duka denganmu, hanya bahagia yang akan ku berikan padamu.”


Emira mengangguk cepat, “pakaikan rantai rantai ini, sebelum aku kabur meninggalkanmu.”


“Hahahaha …” Arjuna tergelak mendengar perumpamaan Emira.


Emira mengulurkan pergelangan tangannya, kemudian Juna memasangkan gelang berwarna keemasan dengan kelap kelip berlian di atasnya, “Cantik sekali tangan istriku,” ujarnya kemudian.


Berikutnya Arjuna memposisikan diri di belakang Emira, untuk memudahkan memasang kalung di leher Emira, “Maaf semua ini gratisan, karena kak Bela menolak ketika aku hendak membayarnya.”


“Hahaha …” Emira tertawa keras mentertawakan kepolosan sang suami, “tentu saja kak Bella menolak, uangnya lebih banyak dari uang kita.” 


Usai kalung terpasang Arjuna memeluk emira dari belakang, “Aku mencintaimu istriku,”


Emira mendongak, “Aku juga mas, bahkan mungkin semakin tumbuh besar setiap hari.”


Tak perlu lagi banyak kata untuk mengungkapkan perasaan keduanya, karena nyatanya mereka sudah sama sama bisa menyelami dalamnya hati masing masing.


Arjuna memutar tubuh sang istri hingga mereka berhadapan saling merapat manja, menyatukan kedua indera pengecap mereka dengan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2