CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 82


__ADS_3

BAB 82


Malam seolah berjalan lambat bagi seisi keluarga Dewanto, walau ayah Satrio dirawat di ruang VVIP dengan berbagai fasilitas kesehatan yang memadai, tapi tetap saja yang namanya sakit, dirawat di ruangan semewah apapun, rasanya tetap membuat cemas dan deg degan tak karuan.


Emira dan Juna bahkan menolak pulang, mereka ikut menginap di ruangan ayah Satrio, dan baru dini hari mereka kembali ke Apartemen untuk bertukar pakaian, sekaligus menyiapkan pakaian ganti mereka agar tak perlu lagi bolak balik ke apartemen.


“Apa tak apa apa,kalau kami terus menerus merepotkanmu dan keluargamu nak …” kata mama Yuna ketika melihat Arjuna dan Emira kembali tiba di ruang rawat ayah Satrio.


“Nggak ma … aku dan mas Juna baik baik saja, iya kan mas?” Tanya Emira pada Juna yang juga tengah memakai snelinya.


Juna menghampiri Emira dan sang mama, didekapnya pundak mama Yuna dengan sayang, “Iya ma … kami baik baik saja,” 


“Jadi mama juga harus jaga kesehatan mama yah?” Emira ikut memeluk mama Yuna dari belakang.


Mama Yuna mengangguk, ia mengusap pipi Emira, “Terima kasih nak … mama sangat menghargai ini semua, maaf jika mama belum bisa memberimu rasa nyaman selama menjadi menantu mama.” 


“Kalau begitu mama harus memastikan mama tetap sehat, agar bisa melakukan semua keinginan mama padaku, gimana?” 


Mama Yuna menatap wajah menantu nya, “Baiklah … mama akan memastikan mama akan sehat, hingga kalian memberi mama banyak cucu cucu kecil yang lucu.” 


Emira dan Arjuna saling tatap, wajah Emira bahkan sudah merah menyala, lagi lagi pembahasan soal anak membuat dirinya canggung, tapi tidak dengan Arjuna yang tampak santai dengan senyuman, menatap wajah istrinya.


“Eh … i … i … iya ma, cucu … hooh … cucu.” 


Emira bahkan belum menginginkan hamil, ia ingin menyelesaikan masa residennya dahulu, tapi kini ia mulai resah karena kemarin pagi baik Juna ataupun dirinya sama sekali tak memakai pengaman, entah bagaimana kelanjutan masa residennya jika ia benar benar hamil.


Emira membalas senyuman Juna dengan senyum canggung, yang sudah pasti disadari oleh pria itu, tapi ia belum ingin menampakkannya.


Sementara itu, di Geraldy Kingdom, sang pemilik Twenty Five Hotel tersebut tengah dibantu sang istri bersiap, dengan pakaian terbaiknya.


Mommy Stella selesai memasang kancing jas suaminya, “mau kemana sih, pagi pagi sudah rapi?” tanya mommy Stella.


Daddy Alex tersenyum, namun senyumnya sungguh aneh di mata sang istri, “aku akan bersenang senang hari ini, menikmati wajah pecundang menjijikkan yang sudah menjebak putri kita dalam permainannya.”


“Apa yang akan kakak lakukan?” tanya mommy Stella.


“Itu akan menjadi urusanku sayang, kamu cukup duduk manis di sisiku, melihat dan menikmati hasil kerja keras suamimu.” jawab daddy Alex tenang.


Mommy Stella mencengkram kedua sisi jas suaminya, seraya tersenyum kecil. “Semakin tua, rupanya kakak semakin pandai merayu,” 


“Jika aku tak pandai merayu, mana mungkin kamu mau kembali ke pelukanku.” 


“Ciiiih bukannya Kevin yang merayuku.”

__ADS_1


“Heiii mana ada, aku bahkan langsung melamarmu usai kencan pertama kita saat itu.” 


“Ahhh lamaran tak resmi dengan modal sepasang boneka gajah murah dari mesin capit boneka.”


“Tapi kamu tahu kan seberapa besar perjuanganku mendapatkan kedua boneka gajah tersebut.” daddy Alex tak ingin usahanya malam itu dianggap tak berarti.


“Iya … aku tahu, mantan suamiku saat itu benar benar bekerja keras untuk kembali mendapatkan hatiku, serta memaafkan kesalahannya di masa lalu.” 


Perdebatan itu terus berlanjut tak ubahnya sepasang anak muda yang sama sama tak ingin mengalah, jika sudah demikian keduanya sungguh memiliki kemiripan dengan kelima cucu mereka.


#ada yang belum baca kisah mereka? silahkan mampir ke Sepasang Mantan ✌️


.


.


.


Seorang pria paruh baya sedang duduk di kursi kebesarannya, senyumnya mengembang lebar, sarapan paginya terasa lebih nikmat, usai mendengar kabar dari ajudannya, bahwa rival terberatnya semalam dilarikan ke rumah sakit, karena serangan jantung, bahkan hingga pagi ini Satrio belum sadarkan diri.


Kedua matanya bahkan tak bisa berpaling dari ponsel, berulang kali ia membaca pesan tersebut, membuatnya semakin bahagia bahkan mungkin kini imunnya pun ikut meningkat secara drastis, keberadaan Risna sang istri pun seolah tak lagi nampak di matanya, wanita yang sudah hampir dua puluh tahun mendampinginya tersebut, begitu sabar dan nrimo sikap dingin yang selalu Gunawan tunjukkan manakala berhadapan dengan dirinya, mau bagaimana lagi Gunawan memang tak pernah mencintainya, karena hingga kini Gunawan masih menganggap kehadiran Risna dalam hidupnya semata mata hanya sebagai sosok raga yang melayani kebutuhan batin dan melahirkan anak untuknya.


“Bahagia sekali pagi ini mas, apa ada berita baik?” tanya Risna yang tak biasanya melihat sang suami tersenyum sepanjang mereka menikmati sarapan bersama.


Mendengar perkataan Risna, Gun menghentikan tawanya, kemudian ia menggeleng, ekspresinya berubah menjadi dingin, begitulah sikap Gun Jika berhadapan dengan sang istri, cintanya pada mantan istrinya membuat kedua mata hatinya selalu tertutup dengan ketulusan dan cinta kasih yang Risna persembahkan untuknya.


Seorang security tergopoh gopoh masuk dan menghampiri Gunawan, “Permisi tuan, ada tamu yang ingin bertemu anda.”


“Siapa Man?” tanya Gunawan.


“Katanya sih tuan Alexander Geraldy.” lapor Mantri sang security.


Gunawan menghentikan kunyahan nya, apa telinga nya tak salah dengar, “siapa tadi katmu?”


“Ada tamu tuan?” jawab Mantri apa adanya.


Gunawan menarik nafas sabar, “Iya tau mantri … maksudku siapa yang datang?” ulang nya.


“Oh yang datang, tuan Alexander Geraldy.” 


Gunawan meletakkan sendok dan garpu dari genggaman tangannya, bergegas bangkit, tak lupa menyambar tissue, siapa tahu masih ada sisa makanan yang menempel di bibirnya, mimpi apa dirinya semalam, hingga pagi hari begini ia didatangi oleh si raja bisnis di dunia perhotelan, tuan besar Alexander Geraldy.


Alex berdiri di salah satu sudut ruangan, memperhatikan lukisan besar yang menjadi hiasan dalam ruangan tersebut, dengan Hans yang setia mendampinginya dari jarak yang aman, agar tak mengganggu pembicaraan Alex dan Gun.

__ADS_1


Tak lama Gun datang dari dalam ruang makan, “Selamat pagi tuan …” sapa Gunawan, yang kemudian menarik atensi dari Alex.


Gunawan memasang senyum sangat lebar.


Alex berjalan menghampiri Gunawan, kemudian mengulurkan tangannya, dan disambut ramah oleh Gunawan, “Silahkan duduk tuan,” Ujar Gunawan sebagai basa basi, dari dalam ruang makan Risna datang membawa nampan berisi kudapan ringan dan cangkir berisi teh hangat.


“Terima kasih Nyonya …” Ucap Alex ketika Risna meletakkan cangkir berisi teh di hadapannya.


“Sama sama tuan, silahkan di cicipi,”


Alexander mengangguk kemudian menyesap teh hangatnya begitu pun Gunawan.


“Kalau begitu, saya permisi mau kedalam.” pamit Risna, karena tak ingin mengganggu pembicaraan sang suami dan tamunya.


“Oh … anda bisa tetap di sini nyonya, tak masalah jika anda mendengar pembicaraan kami.” cegah Alexander.


Risna menatap Gunawan, meminta persetujuannya, ia sangat lega ketika gunawan menjawab dengan kedipan matanya.


"Ada perlu apa gerangan, hingga membuat tuan besar Geraldy datang menemui saya?" Tanya Gunawan, yang mulai menduga duga maksud kedatangan Alex. 


Alex meletakkan cangkirnya kembali di meja, wajah Alex nampak santai namun tatapan matanya penuh ancaman dan amarah yang terpendam. 


"Saya rasa, tak perlu ada banyak penjelasan, karena anda pasti sudah tahu kenapa pagi ini saya menemui anda." 


Rupanya benar dugaan Gunawan, Alexander pasti ingin ikut campur masalah antara dirinya  dengan Satrio yang kini merupakan besan Alexander. "Waaaahh… sungguh tak pantas saya berprasangka, dan saya juga tak bisa menebak pikiran anda tuan Geraldy."


"Baiklah kalau anda memaksa." Alex menatap Hans, dan memberikan kode, tanpa perlu bicara Hans sudah memahami apa yang Alex inginkan. 


Hans meletakkan amplop coklat yang sejak tadi berada di genggamannya. "Silahkan anda buka isinya." 


Kedua mata Risna ikut membola manakala menatap Foto foto yang berada di dalam amplop tersebut, sungguh foto yang memalukan, karena di dalam foto tersebut ada foto sepasang manusia berbeda jenis, tengah memadu kasih di dalam sebuah kamar hotel, Risna bahkan bergidik ngeri menyaksikannya. 


"Apa maksud semua ini tuan, kenapa anda menunjukkan gambar gambar yang tak pantas untuk dilihat ini?" Pekik Risna. 


"Ini hanya gambar nyonya, asisten saya men screenshot gambar tersebut dari video, yang dikirimkan oleh suami anda kepada besan saya."





Enaknya di ganyang model apa nih orang, laki tapi bertarung dengan cara yang gak gentleman. 

__ADS_1


.


❣️


__ADS_2