CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 61


__ADS_3

BAB 61


"Kamu bilang dia bukan kekasihmu."


"Memang bukan, tapi kan aku tak bisa menghalangi perasaan Reza padaku, aku dan Reza sudah seperti saudara, karena itulah aku menyebut dia lebih dari sekedar teman, aku pernah melewati banyak hal indah dengannya, ia mengerti semua tentang hidupku, tadi pagi kamu dengar sendiri kalimat menyakitkan yang diucapkan daddy, dia lelaki terhebat dalam hidupku, cinta pertamaku, tempat aku bergantung sejak kecil, tapi tadi pagi tiba tiba daddy mengatakan padaku bahwa tempatku bukan lagi di sisinya, melainkan di sisimu, daddy bahkan mengirimkan barang barangku, tanpa aku tahu," Mata indah itu mulai basah, " Aku merasa seolah olah sudah dibuang oleh keluargaku sendiri, lalu melihat sikap dingin Reza, membuatku merasa jatuh sekaligus tertimpa tangga." 


Arjuna merengkuh Emira, menyesal sekali rasanya ia mendebat perihal Reza.


"Maaf …" Arjuna mengusap lembut kepala Emira, menciumi rambut dan puncak kepala wanitanya tersebut, "aku sudah berjanji akan menunggu, dan ternyata aku mengingkari janjiku.”


Mendengar pengakuan Juna membuat tangis Emira semakin kencang, bahkan di dalam hatinya ia pun merasa bersalah karena menuntut pengertian dari suaminya tentang pria lain yang ada di hidupnya. 


Cukup lama mereka berpelukan, keduanya sedang meresapi rasa baru dalam kehidupan pernikahan mereka yang baru berusia beberapa jam saja.


“Kalian pacaran?” 


Sebuah suara membuyarkan adegan romantis tersebut, dan tanpa komando keduanya saling melepaskan pelukan, bahkan Emira sedikit mendorong dada suaminya, agar ada jarak diantara mereka.


Tatapan permusuhan itu sangat terlihat dari kedua mata dokter Rebeca, dokter residen yang seangkatan dengan Juna.


“Kalau iya kenapa?” Jawab Juna tak kalah sengit, ia sengaja pasang badan di depan istrinya.


“Ya gak papa sih, gak ada larangan juga kan sesama dokter berpacaran, cuma yaaa gitu deh … jangan asal bermesraan di sembarang tempat.”  


Setelah mengucapkan kalimat sindirannya, dokter Rebeca berlalu menuju bilik untuk berganti pakaian.


“Ya sudah, kamu ganti baju gih.”


Emira mengangguk, “Tunggu …” Juna menhan lengan Emira, “Hati hati, kalau Rebeca menyindir dengan kalimat pedasnya, abaikan saja.” bisik Juna.


Emira mengangguk paham.


Rupanya benar yang di khawatirkan Juna, sindiran pedas itu segera meluncur bebas dari bibir Rebeca.

__ADS_1


“Ditunggu sejak tiga puluh menit yang lalu, tak tahunya lagi mesra mesraan, yang serius dong, kami kami yang sejak pagi siaga, juga pengen segera istirahat,”


Begitulah kira kira yang Emira tangkap, tapi seperti kata Arjuna, kalimat Rebeca tak ia hiraukan. 


“Mira sayang kuuuu … maaf aku ter … lambat …” suara keras Febiola menggantung ketika melihat ada Rebeca di ruangan tersebut. “Maa kak, telat dikit.”


“Telat banyak … pada gak tahu diri yah kalian, baru juga junior udah pada belagu.” setelah puas mengutarakan isi hatinya, Rebeca pun berlalu pergi.


Febiola menatap cuek tak peduli, “dia kenapa sih?”


Emira hanya mengangkat bahu nya, terlalu malas juga menanggapi ocehan Rebeca, “lo juga kena sindiran dia?”


“Hu um …” Jawab Emira yang sudah siap dengan sneli nya, ia membuka ponselnya sembari menunggu Febiola bersiap.


“Abaikan aja, dokter Rebeca emang gitu, jutek orang nya, dia tuh gak bisa lihat ada seseorang yang lebih baik dari pada dirinya, pasti auto di jadikan rival, kaya dokter Juna,”


“Oh iya?” tanya Emira penasaran ketika Febiola menyebut nama sang suami.


“Terima kasih penjelasannya dokter Febiola, akan selalu ku ingat.” 


“Tapi elo sih gak perlu khawatir, posisi lo aman di rumah sakit maupun disisi dokter Juna, dia begitu menjagamu,”


“Apa itu terlihat sekali?”


“Yaaa … dokter Juna belum pernah seperti itu


sebelumnya,” 


“Itu karena abangku yang menitipkanku padanya,” Jawab Emira santai.


“Ish … kenapa kamu tak percaya kata kataku.”


Emira tersenyum saja mendengar penuturan Febiola.

__ADS_1


Keduanya tiba di meja perawat, dan melihat Arjuna sudah mulai sibuk membicarakan status pasien, Emira dan Febiola pun demikian, mereka segera bergerak kesana kemari memeriksa pasien, dan memastikan kondisi mereka sesuai dengan status yang tertera di catatan para perawat, bahkan Emira tak lagi bertemu Arjuna karena suaminya harus mendampingi dokter Hendrawan di ruang operasi.


Waktu sudah hampir dini hari ketika Febiola keluar dari ruang istirahat, “Istirahatlah sebentar, kamu bahkan belum memejamkan mata sejak datang sore tadi.” Febiola menguap dan melenturkan otot tubuhnya sesaat.


“Baiklah …” kini Emira yang menguap, karena matanya pun sudah terasa lengket, ia bahkan melupakan makan malam, lalu bagaimana dengan Juna yang kini berada di ruang operasi? pasti Arjuna juga lapar, karena suhu dingin di ruang operasi. “Aku harus ke cafe, kamu mau sesuatu?” Emira menawarkan.


“Apa saja, asal mengenyangkan,”


“Baiklah …” Emira pun berlalu, meninggalkan Febiola.


.


.


.


Arjuna tersenyum lembut ketika masuk ke ruangan dokter residen dan mendapati Emira tidur menelungkup di meja, nuku buku berserakan dan laptop nya masih menyala, bahkan di hadapannya ada dua porsi makanan yang bahkan belum terbuka bungkusannya, pasti Emira membeli untuk dirinya juga.


Arjuna mengambil tempat di sisi Emira, kemudian ikut menelungkup hingga mereka kini saling berhadapan, “maaf sayang, malam pertama kita harus kita lalui seperti ini,” Arjuna mengusap pipi Emira, “Aku janji sayang suatu saat akan membawamu honeymoon ke tempat yang indah.” Bisik Juna sesaat sebelum akhirnya mereka berdua terlelap.


Sungguh hari yang luar biasa bagi keduanya, mereka melewati hari pertama sebagai sepasang suami istri dengan berbagai macam drama yang menguras emosi dan air mata.


.


.


.


tarik nafas lagi gaees … drama pasutri baru, baru menyelesaikan hari pertama mereka. 


hahahahaha … masih panjang periode bucinnya


💜💜

__ADS_1


__ADS_2