CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 118


__ADS_3

BAB 118


"Kenapa aku harus menjauh?" Tanya Reza penasaran, maklum selama ini ia benar benar konsisten menjadi pria baik, jadi tak tahu menahu urusan cinta. "Bagaimana kalau dia malah menemukan pria lain?" Tanya Reza gelisah. 


"Biar dia merindukan anda." 


Kedua bola mata Reza terbelalak, "yakin dia bakal merindukanku?" 


"Kalau anda tak yakin, silahkan buktikan, minimal gadis itu merasa kehilangan perhatian yang anda berikan selama ini." Jawab Egi. 


"Kalau sampai gagal aku akan menghajarmu." 


Egi menelan ludah nya, ia sendiri tak yakin apakah cara ini akan berhasil pada sang bos, mengingat tidak semua objek mampu ditangani dengan variabel yang sama, bisa jadi masalahnya sama, tapi solusinya berbeda. “memang saya sendiri tak yakin akan berhasil sih bos,” Jawab Egi terus terang.


Reza mendongak menatap Egi, kedua matanya membola, walau Egi sudah menjelaskan kemungkinannya, tapi ada sesuatu yang menggelitik perasaannya.


“Maaf bos, kalau begitu jangan ikuti saran saya, dari pada gagal dan saya terancam kehilangan pekerjaan, hehehehe …”


“Jadi kamu lebih rela saya yang kehilangan gadis itu, ketimbang kamu kehilangan pekerjaan?” jawab Reza dengan nada suara yang naik beberapa oktaf.


Egi sendiri jadi terkejut mendengar suara sang bos yang mendadak bernada tinggi, “Bukan begitu bos, saya berharap anda bahagia bos, hanya saja saya takut, kalau apa yang saya usulkan ternyata gagal, anda akan memecat saya, saya sudah sangat menyukai pekerjaan ini bos, sarange …” Egi mencurahkan isi hatinya kemudian menyatukan jempol dan jari telunjuknya hingga membentuk lambang hati ala ala K POP.


Reza terbengong bengong mendengar keabsurd an asisten barunya tersebut, kemudian kembali menatap kertas kertas di hadapannya. “Saya bukan orang seperti itu, kalau cara ini gagal, kita cari cara yang lain, dan pekerjaanmu tetap aman.”


“Benarkah bos? aaaahhh terima kasih bos,” saking bahagianya Egi berlari memeluk Reza yang tengah duduk di kursi kebesarannya.


Reza terdiam, sejenak kemudian ia berontak dan mendorong asistennya, hingga Egi mundur beberapa langkah. “Aku masih normal, jangan coba coba menggodaku.”


“Tidak bos, itu karena saya bahagia memiliki atasan seperti anda, hehehe …” jawab Egi tanpa dosa, kemudian melenggang keluar ruangan dengan senyum lebar di bibirnya.


“Heran sekali, bagaimana mungkin Arjuna betah berteman dengan lelaki seperti itu.” gerutu Reza, seraya mengusap kedua lengannya yang mulai meremang akibat ulah Egi.


.


.


.


TOK


TOK


TOK

__ADS_1


Ketuk palu sang hakim menandai, usainya sidang putusan, Arjuna bisa bernafas lega, karena ia dan tim kuasa hukumnya berhasil mempertahankan aset perusahaan, bahkan dua orang yang beberapa bulan lalu mencoba mencuri aset perusahaan, kini di kenakan pasal tambahan penggelapan dana, karena dari laporan keuangan akuntan perusahaan, terdapat banyak dana yang dialokasikan secara misterius, dan ketika diselidiki, barang barang tersebut tidak ada, bahkan laporan keuangan tertulis nya terkesan mengada ada.


Arjuna menatap dua pria paruh baya yang sekian lama menjadi orang kepercayaan sang ayah kini tertunduk lesu, namun Arjuna tak mau ambil pusing, yang bersalah tetap harus bertanggung jawab, “Selamat tuan muda,” Hans menjabat tangan Juna sebagai tanda ucapan selamat.


“Terima kasih paman, tak akan berhasil jika paman dan tim pengacara tak bekerja secara maksimal.”


Arjuna pun menyalami tiga orang pengacara yang ikut serta mendampinginya selama proses persidangan berlangsung. 


Arjuna dan tim kuasa hukumnya meninggalkan ruangan sidang dengan wajah bahagia, dan setibanya di kantor ia sudah disambut dengan Ayu yang menantinya dengan tak sabar.


“kenapa lama sekali sih pak?” tanya Au tak sabar.


Arjuna keheranan dengan sikap adik sepupu sekaligus sekretarisnya tersebut. “Bukannya kamu sudah tahu, hari ini aku mau kemana? dan harus nya kamu juga gak bersikap tidak sabaran seperti saat ini kan?”


“Ah … bodo amat lah, minta kartu undangan.” todong Ayu.


Arjuna masih keheranan dengan tingkah Ayu, “kamu sakit?” tanya Juna.


“Sehat mas … eh maaf pak,” Ayu meralat kalimatnya.


“Lalu?” 


“Ya sekarang aku perlu undangan mas Juna dan mbak Mira.”


“Untuk apa?”


“Oooohhh … ya sudah biar istriku saja yang memberikannya, toh nanti di rumah sakit juga mereka bertemu kan?” pungkas Juna yang masih tak memahami niat hati Ayu.


Rasa rasanya, Ayu ingin menggaruk tembok dan aspal jalan raya, kenapa kakak sepupunya tidak paham juga maksud hati nya, “Yaaa … gimana sih mas, kan aku yang pengen ketemu, jadi aku menggunakan undangan itu sebagai alibi, biar bisa ketemu pak Rio.”


Satu detik


Dua detik


Tiga detik


Akhirnya Juna menyadari apa yang kini di inginkan adik sepupunya, “kamu menyukai pak Rio?”


Ayu terdiam menunduk, ia malu, karena begitu mudah bagi Juna membaca jalan pikirannya.


“Ya … nggak gitu juga mas, eh pak, kan usaha gak ada salah nya.” jawab Ayu dengan suara pelan.


Arjuna menyodorkan selembar undangan pada Ayu, “hanya satu? kamu tak mengundang teman temanmu?”

__ADS_1


Ayu menggeleng, “Buat apa? kan ini acara acara mas Juna dan mbak Mira … nanti saja kalau aku menikah, aku akan mengundang semua teman temanku.” jawab Ayu seakan akan ia sudah benar benar melupakan perasaannya pada kakak sepupunya tersebut, tapi Juna berharap Ayu sudah benar benar bisa melupakan perasaannya.


“Baiklah, mas harap kalian berjodoh, pak Rio pria baik, keluarganya juga baik,” 


“Mas Juna mikirnya kejauhan,”Ujar Ayu sebelum meninggalkan ruangan Juna.


Arjuna melonggarkan dasi kemudian melepas jas nya, ia meraih ponsel, kemudian menghubungi sang istri, guna menyampaikan kabar bahagia tentang hasil putusan sidang, lama tak ada sahutan, tapi Juna tak mempermasalahkannya karena memang demikianlah jika bekerja di rumah sakit, sewaktu waktu, ponsel harus diabaikan agar bisa bertugas dengan baik, dan akhirnya Juna pun harus pasrah karena setelah panggilan ke lima, Emira sang istri tak kunjung menjawab, kini ia kembali fokus memeriksa laporan bulanan dari divisi Humas.


.


.


.


H-4 Resepsi pernikahan Arjuna dan Emira.


Emira sedang berada di meja perawat, beristirahat usai menjadi asisten Kevin mengoperasi pasien kecilnya, ia memeriksa ponselnya, seraya mengusap perut nya, ia lelah, tapi masih sanggup bertahan, sangat berharap semoga bayi kecilnya mengerti bahwa sang mama tengah beruang menyelesaikan perjuangannya demi menjadi seorang dokter profesional.


“Selamat sore dok …” sebuah suara mengalihkan pandangan Emira dari layar ponselnya, si bumil tersebut kemudian mendongak menatap dua wajah yang sangat ia kenali, yah mereka adalah Rio dan Alea yang baru selesai melakukan check up.


Emira berdiri dan tersenyum ramah pada kedua nya, “Selamat sore pak Rio … Alea…”


“Baru selesai operasi dok?” Tanya Lea basa basi.


“Belum … masih terlalu dini, aku hanya mendampingi dokter bedah utama.” jawab Emira ala kadarnya. 


Emira berjalan memutar, agar ia bisa keluar dari meja perawat, “Gimana? apa kata dokter?” 


“Baik dok, luka lukanya sudah sembuh dengan sempurna, dan hari ini adalah kontrol terakhir.” Jawab Lea dengan wajah berbinar.


“Lalu apa setelah ini kamu akan kembali bekerja? Reza bilang, kalau kamu mau kembali bekerja, jika dokter sudah menyatakan kamu sembuh seratus persen.” 


Alea tiba tiba murung, entah kenapa, tapi ia merasa Reza sudah menyerah untuk membujuknya kembali, padahal dua hari lalu Reza masih menghubunginya, bahkan bersedia menjemputnya di airport, tapi dua hari ini pria itu seolah olah hilang tanpa kabar, tak menelepon atau mengirim pesan singkat, apa dirinya terlalu kejam, karena selama ini selalu mengabaikan pesan singkat yang Reza kirimkan, mungkin Reza mengirimkan kabar, tapi melalui ponsel Rio.


“DOOOR … kok melamun?” tanya Emira yang melihat Alea terdiam.


“Abaikan dok, dia sudah aneh sejak kemarin siang,” Rio menjawab kebisuan sang adik.


Emira tersenyum, “Oh iya … kalan langsung kembali ke kota x? atau menginap?”


“Kami menginap dulu dok, oh iya … sampaikan salam saya untuk pak Juna.” ujar Rio, ketika hendak berpamitan.


“Hanya mas Juna saja, tidak untuk Ayu?”

__ADS_1


Wajah Rio mendadak memerah, mengingat diam diam ia sudah membuat janji temu dengan gadis itu, karena itulah ia memperpanjang masa tinggalnya di jakarta.


“Sudah selesai?” sebuah suara familier kembali menyapa Emira, Rio dan Alea, ketiga nya kompak menoleh.


__ADS_2