CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 46


__ADS_3

BAB 46


“Aunty …”


“Aunty …”


“Aunty …”


Kelima Geraldy Junior itu riuh memanggil adik dari papa dan daddy mereka.


melihat kedatangan keponakan nya, Emira buru buru mengusap air mata nya, “Aunty menangis?” tanya Luna yang segera ikut berkaca kaca.


“Katakan siapa yang sudah membuat anty menangis.” Daniel bertanya dengan wajah gembulnya yang kini terlihat garang.


“Aunty katakan, kami akan menghajar orang yang berani membuat aunty kami menangis.”


“Tidak sayang, aunty menangis karena sedih, beberapa hari ini sakit, jadi tak bisa membantu teman teman aunty bertugas di rumah sakit, mereka pasti kelelahan karena aunty.” Emira memberi pengertian kepada para keponakan kecilnya tersebut.


“Jadi bukan karena ada yang menyakiti aunty?” tanya Danesh.


“Bukan sayang … aunty baik baik saja,” Emira memasang senyum terbaiknya. “Bagaimana sekolah kalian hari ini?” 


“Darren menangis lagi karena Clara menolak pergi ke kantin bersamanya …” Daniel langsung melaporkan.


“Dan Daniel lagi lagi kalah cepat adu perkalian dengan Naya.” Darren tak mau kalah, ia pun membicarakan aib kakak kembarnya tersebut.


“Itu karena semalam aku ketiduran, dan belum belajar.” Daniel membela diri.


“Bohong aunty, semalam Daniel pergi ke kamarku dan membaca komik superhuray sampai ketiduran.” Dean membeberkan aib Daniel selanjutnya. 


“Aku rasa, Daniel memang sengaja mengalah dari Naya, supaya Naya tahu kalau Daniel suka padanya,” Dean berbisik, tapi masih terdengar jelas oleh semua orang yang berada di sana.


“Yaaaa … kenapa kalian ember sekali? tak bisa menjaga rahasia,” sungut Daniel marah ketika adik adiknya melaporkan tingkahnya pada malam sebelumnya.


“Huuuuu … jadi itu benar?” Emira mulai ikut menggoda Daniel, pipi gembul bocah itu mulai kemerahan menahan malu. “Tak apa, sesekali kalian memang perlu melakukan itu supaya gadis yang kalian sukai tahu, kalau kalian memiliki perasaan pada nya.”


“Bagaimana dengan ku aunty?” Luna yang sejatinya berbeda mulai bertanya.


“Seorang gadis harus pandai menjaga diri nya, jangan biarkan para pria mendapatkan hatimu dengan mudah, mereka harus mendapatkanmu dengan penuh perjuangan, serta dia harus mampu membuktikan bahwa dirinya layak berada di sisi mu.” Nasehat Emira, sementara di hatinya ia mengutuk ketidakmampuannya menjaga diri.


“Aunty lihat, mommy bilang ini foto aunty,” Dean tiba tiba mengeluarkan selembar foto berukuran 4x6 dari saku kemeja nya. 


Dalam waktu sekejap saja, pembicaraan mereka berganti topik dengan mudah nya, seperti membuka halaman selanjutnya pada sebuah buku. 


Emira mengamati foto dirinya, ia ingat sekali, foto itu diambil ketika ia masih kelas satu SMU, untuk ditempelkan pada buku raport nya. 

__ADS_1


“Benar ini aunty,” aku Emira.


“Kenapa aunty berpenampilan seperti ini?” tanya Daniel penasaran


“Saat itu, aunty masih berpikiran pendek, mencoba mencari pangeran yang mau menerima aunty yang penampilan membosankan.” jawab Emira getir.


“Hasilnya?”


Emira menggeleng lemah.


“Jadi aunty tak mendapatkan pangeran berkuda putih?” tanya Luna yang sering membaca dongeng princess dan cinderella.


Lagi lagi Emira menggeleng.


“Tak apa aunty … masih ada om dokter.” Seloroh Danesh.


Emira yang sudah mengetahui identitas sang om dokter kesayangan para keponakannya tersebut, kembali tersenyum masam.


“Iya aunty, om dokter bilang, dia suka gadis yang cantik hati dan perilakunya, bukan  hanya cantik fisiknya saja.” Dean menambahkan.


“Darimana kalian tahu hal itu?” tanya Emira penasaran, karena pagi hari itu, Arjuna dengan jelas mengatakan bahwa sudah lama ia mencintai dirinya, tapi saat itu ia terlalu marah, mana sempat memikirkan perasaan bahagia, setelah apa yang terjadi malam sebelumnya.


“Om dokter sendiri yang bilang.” jawab Darren.


“Kami mengatakan bahwa kami ingin mencari calon suami untuk aunty.” Daniel dengan polosnya menjabarkan misi rahasia mereka.


“Yaaaa … kalian masih anak anak, mana tahu soal cinta?” pekik Emira kesal.


Malu sekali rasanya, dirinya kini terlihat seperti gadis tak laku di hadapan Arjuna.


“Tapi om dokter baik aunty, dia bilang dia akan berkenalan dengan aunty, kalau aunty sudah kembali dari Singapura.” Danesh membela Juna.


“Iya dan dia menepati janjinya.” Luna pun demikian.


Walau kesal dengan tingkah para keponakannya, rasanya Emira sudah kehabisan tenaga untuk meluapkan amarah. 


“Aunty … bolehkah kami mendandani aunty seperti foto ini?” sebuah ide tiba tiba tercetus dari bibir Luna.


“Nggak …” tolak Emira.


“Kenapa?” tanya Luna berkaca kaca.


“Ya … nggak aja.” jawab Emira ketus.


“Ayolah aunty, ini hanya untuk bersenang senang di rumah saja, aunty tak perlu berpenampilan jelek seperti ini jika keluar rumah.” 

__ADS_1


“Yah? yah? yah? yah?” tanya Luna penuh semangat.


Emira menarik nafas pelan sebelum kemudian mengangguk menyetujui permintaan mereka.


“Yeay …” seru kelima bocah itu, mereka bergegas berlari menuju meja rias Emira, mengambil beberapa peralatan yang diperlukan, kemudian kembali dengan sisir pensil alis, mereka bahkan menanyakan letak kaca mata Emira.


Luna bertugas mengikat rambut Emira, sementara Daniel menggambar lingkaran hitam yang di pipi kanan Emira, terbiasa melihat lingkaran pada papan sasaran anak panah serta papan sasaran peluru, membuat Daniel bisa melakukan tugasnya dengan sempurna.


Kini selesai sudah tugas para bocah tersebut, kelima bocah itu sungguh terkagum kagum pada kerja sama mereka, kini mereka melihat Emira benar benar berubah menjadi orang lain.


“Wah … aunty benar benar jelek.” decak Dean tanpa perasaan.


“Hahaha … iya … aunty benar benar jelek.” Danesh ikut ikutan menambahi.


Sementara Daniel, Darren dan Luna hanya tertawa keras, “kalian berani mengatai aunty jelek?” Emira menatap Dean dan Danesh. 


“Dan kalian berani menertawakan aunty?” kini ganti menatap tiga yang lainnya.


“Awas kalian aunty akan menggelitik pinggang kalian sampai kaku.” ancam Emira.


Kelima bocah itu segera berlari keluar kamar dengan Emira yang mengikuti mereka. 


Suasana rumah yang semula tenang, kembali ramai dengan gelak tawa, sejenak Emira benar benar melupakan kesedihannya, keponakannya adalah hiburan tak ternilai bagi dirinya saat ini.


Tawa itu lenyap ketika Emira menangkap suara yang tak asing di telinga nya. 


“Mira …” 


“Om dokteeeeeeerrrrr !!!” seru kelima bocah itu menyambut kedatangan Arjuna.


Walau bocah bocah itu meneriaki nya, tapi Juna yang sedang dalam mode melamun, sama sekali tak mendengar teriakan tersebut, yang ada dalam pikiran dan pendengarannya saat ini hanya lah gadis itu, gadis manis berkacamata itu, gadis yang beberapa hari ini ia cari keberadaannya, bahkan ia nyaris gila memikirkan banyak kemungkinan buruk menimpa gadis itu, atmosfer di sekitarnya mendadak berubah, sayup sayup bayangan malam itu melintas, bagaimana ia begitu menikmati tubuh molek di hadapannya saat itu, bahkan Arjuna sempat melihat air mata menetes dari sudut mata Mira, kala ia dengan penuh semangat melakukan penyatuan untuk pertama kalinya, nikmat, sungguh melenakan, membuat nya merasa terbang melayang, namun disisi lain ia merasa sangat bersalah, karena menyentuh tubuh seorang gadis tanpa izin pemilik nya. 


Emira sendiri tiba tiba diam mematung, entah selanjutnya akan seperti apa, setelah Arjuna mengetahui identitas aslinya.


.


.


.


komennya gaees ramaikan


sarangeee


❤❤

__ADS_1


__ADS_2