CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 134


__ADS_3

BAB 134


William Medical Center pukul 10.00 pagi. 


Terhitung sudah sejak sepuluh jam yang lalu Emira mengalami kontraksi, tapi hingga kini belum ada tanda tanda baby L akan segera keluar, sementara air ketuban sudah pecah sejak beberapa jam yang lalu, syukurlah masih tertahan kepala baby L, jadi masih ada cukup cairan agar baby L bertahan sampai pembukaan lengkap. 


Jangan ditanya bagaimana resah dan gelisah nya mama Yuna dan mommy Stella, mereka bahkan tak bisa memejamkan mata sejak semalam Juna mengabarkan perihal Emira yang mengalami kontraksi 3 minggu lebih awal dari HPL, sementara suami suami mereka hanya duduk diam sembari merapal doa dan harapan, karena keduanya sudah habis kata kata, tapi istri mereka tetap saja gelisah, bahkan jika salah kata sedikit saja, bisa dipastikan Ayah Satrio dan daddy Alex akan segera terkena muntahan lahar amarah dari istri istri mereka. 


Gadisya berjalan cepat dari lorong menuju ruang persalinan, mama dari Daniel, Darren, dan Luna tersebut, baru menyelesaikan sarapannya demi menjaga stamina nya agar tetap terjaga, karena sejak semalam, Gadisya pun ikut bersiaga menanti kelahiran cucu ke tujuh Alexander Geraldy tersebut. 


"Mom… jangan terlalu panik, ingat tekanan darah mommy." 


"Mommy sudah mencoba tenang Sya, tapi gak bisa, justru mommy semakin panik." Jawab Stella dengan wajah cemas. 


"Papi juga sudah bilang begitu, mommy kamu malah memarahi daddy dan pak Satrio." Adu Alex ke putri angkatnya tersebut. 


Gadisya tersenyum lembut, "mommy dan mama Yuna, yang tenang yah, kita tunggu satu jam lagi, kalau setelah ini masih belum ada peningkatan, mungkin harus di ambil tindakan cesar."


"Mama percaya padamu nak, tolong selamatkan cucu dan menantu mama ya nak." Mama Yuna menatap Gadisya penuh harap. 


"Pasti ma … sekarang mommy dan mama tunggu di cafe saja, sambil makan kudapan, yah… percayakan mereka pada ku." 




Sementara itu di ruang persalinan, Emira masih berjuang agar bisa melahirkan secara normal seperti persalinan pertama nya, wajah Emira sudah sangat pucat, bahkan infus sudah dipasang sejak dini hari tadi, agar Emira mendapat tambahan nutrisi selain dari makanan. 

__ADS_1


Sementata Arjuna sudah tak bisa lagi menyembunyikan tangisannya, ia bahkan menangis lebih keras seakan akan dirinya yang mengalami kontraksi, sudah sejak semalam ia pun tak bisa memejamkan mata, penampilannya bahkan lebih mengerikan dibanding ketika menjalani masa residen di tahun pertamanya, kedua matanya merah dan sembab, lengkap dengan kantong kelopak matanya, setiap kali Emira mer*intih kesakitan, Juna ikut merasa ngilu di sekujur tubuhnya. 


"Yang… aku tak bisa menunggu lagi." 


"Tapi… aku masih bisa nunggu mas… gak papa yah, kita tunggu sebentar lagi."


"Tapi wajahmu sudah pucat sekali, aku tak mau ambil resiko kehilangan salah satu dari kalian." Raung Juna, ketika Emira masih ngeyel ingin menunggu hingga pembukaan lengkap, padahal sejak jam sepuluh malam kemarin pembukaan hanya berhenti di angka tiga. (Pengalaman pribadi othor 🥺) 


Emira menatap wajah kusut suaminya dengan tatapan sendu, "jika itu terjadi, pastikan menyelamatkan baby L." Pesan Emira. 


Tiba tiba Juna merasakan gelegar amarah, ia sontak berdiri hingga kursi yang didudukinya terjungkal ke belakang, "lalu apa gunanya baby L lahir? Bukankah seorang bayi lahir karena ia ingin berjumpa dengan ibunya? Bagaimana mungkin kamu berpikir kamu akan pergi meninggalkan bayi yang baru saja kamu lahirkan?" Pekik Juna yang kesal dengan ucapan Emira. 


Gadisya mengusap lengan sang adik ipar, "kendalikan dirimu, anak kalian mendengar amarah yang kamu lontarkan."


Arjuna menutup wajahnya dengan telapak tangan, "bagaimana aku bisa tak marah kak, dia seenaknya saja mengatakan hal yang tak masuk akal," Juna menumpahkan tangisnya di depan Gadisya. 


Mendengar tangisan Arjuna, Emira jadi ikut berurai air mata, dirinya pun tak dapat membayangkan jika posisi mereka di balik, hidupnya dan anak anak di masa depan pun tak akan sempurna tanpa kehadiran Juna. 


"Nggak yang aku gak mau lihat, nanti kamu akan buat permintaan aneh aneh lagi." Juna terpaksa menolak panggilan sang istri, ia takut jika nanti Emira memintanya membuat pilihan yang sama sama sulitnya. 


"Dok… air ketuban keluar lagi dok, kali ini sangat banyak!!!" Suster yang menjadi Asisten Gadisya melapor. 


Seketika Atensi Juna beralih, ia menatap wajh Emira yang sudah terpejam, "Sayaaaaaanggg… !!!" Juna menepuk wajah Emira yang sudah tak sadarkan diri. "Yang… bangun yang, jangan bikin aku takut..!!!" Jjna mengguncang pundak Emira, tapi wanita cantik itu tak jua membuka mata. 


"Juna… tidak bisa ditunda lagi…"


"Lakukan kak… bila perlu aku sendiri yang akan melakukan operasinya!!" Pekik Juna di tengah kepanikannya. 

__ADS_1


"Emira tidak apa apa, ia hanya kelelahan, dan sebenarnya aku sudah meminta suster menyiapkan ruang operasi sejak satu jam yang lalu." 


Usai menyelesaikan kalimatnya, dha orang perawat bergegas memindahkan Emira ke ruang operasi, semuanya dilakukan dengan cepat, karena berburu waktu, berharap Baby L mampu bertahan 20 menit lagi. 


Arjuna bahkan tak menunggu izin dari siapapun, ia langsung mencuci tangan dengan cairan antiseptik dan mengenakan pakaian operasi, hari ini ia sendiri yang akan menjadi asisten dokter Kandungan, memastikan baby L dan sang bunda selamat tanpa kekurangan apapun. 


Usai memimpin doa, Gadisya segera mulai operasinya, "mes…" Perawat menyerahkan pisau bedah pada Gadisya, kemudian mulai membuat sayatan melintang di perut Emira, "suction…" Dengan sebuah selang kecil, Juna menyedot Darah yang mengalir dari bekas sayatan, ia ingin menangis tapi sekuat tenaga ia tahan, melihat dan merasakan betapa besar pengorbanan istrinya demi melahirkan anak mereka. "Richardson…" Juna mengambil sebuah alat yang menyerupai huruf L, gunanya adalah menahan kedua sisi Kulit agar bisa terbuka sementara Gadisya membuat sayatan di lapisan bagian dalam. "Richardson out." Juna melepaskan alat penahan tersebut, kemudian mulai mendorong perut Emira perlahan, agar kepala Baby L keluar terlebih dahulu, lagi lagi Juna kedua mata Juna dibuat basah oleh air mata manakala melihat dengan mata kepalanya sendiri, betapa rupawan wajah putera kedua nya, ingin rasanya ia segera memeluk baby L, tapi Gadisya masih harus menarik pundak baby L, agar bisa keluar dengan sempurna dari tempat ternyamannya selama 38 minggu. 


"Selamat datang ke dunia anakku sayang…" Tangis bahagia Juna beriringan dengan tangis baby L yang membahana meramaikan ruang operasi, "iya… ayah tahu, kamu pasti ingin memberitahu ayah, kalau kamu baik baik saja kan?" Juna memeluk erat bayi kecilnya, ia tak peduli dengan kondisi baby L yang masih berlumuran air ketuban bercampur darah sang bunda, "terima kasih nak, terima kasih karena mempercayai kamu menjadi orang tuamu."


"Dok… izinkan kami membersihkan putera anda terlebih dahulu." Seorang perawat meminta baby L dari pelukan hangat sang ayah, dan dengan berat hati Juna pun membiarkan perawat melakukan tugasnya. 


Semua yang berada di ruang operasi pun tak mampu menahan air mata bahagia mereka. 


"Dok … istri anda sudah sadar…" Seorang perawat mengabarkan pada Juna tentang kondisi Emira. 


Arjuna Bergegas menghampiri Emira, "mas… baby L gimana? Kenapa aku tak bisa merasakan apa apa?" Tanya Emira khawatir. 


Arjuna menghujani wajah Emira dengan ciuman sayang, "baby L baik baik saja, kita di ruang operasi, karena tadi kamu tiba tiba pingsan, dan air ketuban keluar semakin banyak."


Emira menangis, "syukurlah baby L baik baik saja."


"Jangan bilang begitu, syukurlah baby L dan bundanya baik baik saja, aku senang kalian berdua selamat," 


Tangisan itu berganti senyum bahagia ketika baby L di bawa ke pelukan Emira agar bisa segera mendapatkan ASI pertamanya. 


.

__ADS_1


.


besok eps terakhir yah 🥰🥰


__ADS_2