CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 80


__ADS_3

BAB 80


“Terima kasih sayangku, Aku mencintaimu Emiraku, jangan lupakan itu.” bisik Juna.


Emira tersenyum, “Aku pun mencintaimu mas, aku bahagia jika itu membuatmu bahagia, terima kasih juga sudah membawaku pada petualangan yang sangat indah lagi berkesan.”


“Jadi mau coba sekali lagi?” goda Juna.


“What??!!!” pekik Emira tak percaya.


"Bercanda sayang, maaf jika aku terlalu lahap memangsamu, kamu benar benar membuatku bahagia." Arjuna menggesekkan hidung mereka. "Mau mandi sekarang? Atau istirahat dulu, kita masih punya waktu tiga jam sebelum jam dua belas."


"Tidur dulu mas, masih lemes banget, kamu benar benar menguras habis energiku, mana semalam aku belum makan." 


Arjuna terkesiap, "Astaga… aku lupa sayang, maaf, aku delivery makanan aja yah, jam segini kamu sudah bisa makan selain buah buahan?" 


Emira menggeleng lemah, "jam sebelas keatas." Jawabnya. 


Arjuna segera bangkit dari kasur, pria itu kembali memakai celana pendeknya sebelum meninggalkan kamar, "aku siapkan sarapan kita yah, istirahatlah dulu sebelum mandi."


Emira mengangguk, sungguh bahagia di manjakan oleh pasangan. 


Sesaat kemudian… 


Isi piring itu sudah bersih tandas tak bersisa, buah mangga potong, apel dan pear yang tersisa di lemari pendingin semuanya Arjuna kupas dan potong agar sang istri bisa segera memulihkan energinya yang telah terkuras habis karena harus melayani nya, kini tak ada salahnya Arjuna ganti melayani sang istri, menjaga agar hubungan mereka semakin harmonis. 


"Kulkas kita sudah kosong, bagaimana jika malam nanti kita ke supermarket?" Juna menawarkan. 


"Baiklah…" Emira mengangguk setuju dengan usul suaminya. 


"Mandi yuk…" 


"Mas aja duluan."

__ADS_1


"Bareng aja, hemat waktu."


"Mas pikir aku percaya?"


"Suwer sayang hanya mandi, ayolah… aku gak akan setega itu kembali meminta hakku."


"Janji yah…  hanya mandi saja."


"Iya…" Jawab Juna sumringah, Karena mendapatkan lampu hijau dari sang istri. "Sini ku gendong kamu pasti susah jalan."


"Iya… pegal sana sini… mas Juna terlalu semangat sih."


"Hehehe maaf sayang…  khilaf." Kekeh Juna tanpa rasa berdosa. 


Mereka kembali berdansa bersama nikmatnya cinta di bawah guyuran air hangat, sesekali Arjuna menggoda, dan tak jarang Emira pun melakukan hal yang sama, sebisa mungkin mereka menyingkirkan segenap rasa malu satu sama lain, mengganti rasa cemburu dengan gelak tawa, hingga waktu mandi yang awalnya direncanakan singkat menjadi lebih lambat berlipat lipat, karena mereka seakan enggan mengakhiri interaksi manis tersebut. 


Emira melipat bibirnya di depan cermin, "katanya hat waktu, ini mah ngaret namanya." Gerutu Emira. 


"Hehehe… jangan manyun gitu dong, kan aku jadi pengen cium lagi."


"Gimana lagi yang, pada awalnya iseng mencuri ciumanmu, tapi sesudahnya aku seperti tersiksa karena begitu rindu… jadi maaf kalau kini aku seperti tak bisa berhenti." 


Emira berbalik, kini mereka berhadapan, "mas belum cerita, kapan mas pertama kali menciumku?" 


Arjuna mengulum senyuman, "sore itu, ketika kita terjebak di antara riuh suara hujan deras, dan sunyinya suasana sekolah."





Sepasang pengantin baru itu tiba di rumah sakit tepat tiga puluh menit sebelum jadwal mereka dimulai, keduanya sepakat mampir ke cafe dahulu, kembali recharge energi yang sempat habis terkuras. 

__ADS_1


Mereka berjaga hingga malam kembali menyapa, lelah dan penat tak sempat mereka rasa, karena menjadi dokter adalah pilihan mereka. 


Menjelang jam sepuluh malam Emira baru bisa mengistirahatkan kedua kakinya, sementara Arjuna masih berada di ruang operasi, karena sudah di tahun terakhir masa residen bedah umum, Arjuna lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang operasi, demi meningkatkan jam terbangnya, terlebih kini ia sudah menjadi cucu menantu dari pemilik rumah sakit, maka Juna semakin bersemangat menjalani masa akhir residennya. 


Sambil menunggu Arjuna menyelesaikan operasinya, Emira berselancar di laman sosmednya, bertukar pesan dengan teman teman seangkatannya dahulu ketika kuliah di negeri singa. 


Tiba tiba ponselnya bergetar menampilkan wajah sang mama mertua, "mama? tak biasanya mama menelpon di jam seperti ini?" Tiba tiba Emir Merasa khawatir. 


"Halo mama?"


"Sayang…  mana Suamimu? Mama berkali kali menghubunginya, tapi tak ada jawaban." Tanya mama Yuna, dari nada bicaranya ia terdengar panik dan bingung. 


Emira bangun dari posisinya semula. "Mas Juna sedang di ruang operasi ma, sepertinya ponselnya sengaja di silent, mama baik baik saja kan?" 


Emira mendengar suara isak tangis, "maa…" 


"Mama baik baik nak, tapi ayah…" Mama Yuna tercekat, tak mampu melanjutkan kalimatnya. 


"Ayah kenapa mah?" Emira mulai yakin ada yang tidak beres. 


"Ayah pingsan setelah menerima telepon." 


"Apa mah? Trus sekarang mama dimana?" 


"Mama sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, Bisma yang bawa mobil nya." 


"Oke… sekarang mama tenang, Mira tunggu di depan emergency room yah." Jawab Emira yang langsung berjalan cepat ke lantai dasar. 


.


.


.

__ADS_1


jangan lupa vote like komennya gaeeeesss 😘


💕


__ADS_2