CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 112


__ADS_3

BAB 112


Pagi itu Emira membuka mata, walau masih lelah karena menempuh perjalanan jauh kemarin siang hingga sore, tapi ia sadar diri, karena sedang menginap di rumah orang jadi minimal ia harus menunjukkan sikap baik. 


Emira beranjak keluar kamar sementra Juna masih terlelap, yah semalam Arjuna dan rombongan sudah pamit akan mencari hotel, tapi Rio dan Reza mencegah kepergiannya, karena perlu waktu tiga jam untuk menemukan hotel terdekat, jadi dengan berat hati Juna menerima tawaran Rio untuk menginap di rumah besar ini.


Benar dugaan Juna, Rio bukanlah pria sembarangan, ia adalah seorang S1 teknologi pertanian, orang tuanya adalah seorang yang sangat terpandang di desa tersebut, Rio sendiri adalah seorang Kades termuda yang pernah ada, dedikasi nya di bidang pertanian pun tak perlu diragukan, usai menamatkan pendidikan S2 di bidang bisnis, Rio kembali ke desa nya melanjutkan apa yang sudah dirintis oleh kakek, dan papa nya, bahkan dengan latar belakang pendidikannya, kini desa tersebut semakin dikenal luas karena produksi beras organiknya yang digemari masyarakat perkotaan.


Emira membuka pintu kamar yang ia tempati, suasana masih sunyi, bahkan belum nampak aktivitas, selain suara suara beberapa orang yang sedang sibuk di dapur menyiapkan jamuan, karena di rumah ini sedang kedatangan banyak tamu, salin rombongan EMira dan Arjuna, rupanya keberadaan Reza di rumah tersebut pun bukan tanpa alasan.


“Selamat pagi Emira.” sebuah suara mengagetkan Emira, segera saja ia menoleh ke asal suara.


“Eh … selamat pagi mami.” Jawab Emira ketika melihat mami Elena sedang berjalan ke arahnya.


“Gimana istirahatnya? semoga nyaman yah? maaf kalau seadanya, maklum ini di desa,”


“Gak papa mi, ini pertama kalinya aku main ke sebuah desa, unik aja rasanya.”


“Yah … kamu benar, setelah menjalani setahun dengan kesibukan yang padat di negara orang,datang ke desa ini ternyata menyenangkan, dan rasanya begitu damai.”


“Oh iya? jadi mami memang rutin kemari?”


Mami Elena tersenyum, kemudian mengangguk, “makam Ibu kandung mami ada di dekat daerah ini, jadi setahun sekali mami sempatkan merayakan ulang tahun sekaligus ziarah ke makam, kebetulan tahun ini momennya bertepatan dengan musibah yang menimpa Alea beberapa waktu lalu, dan Reza masih merasa bersalah dengan apa yang menimpa Lea, jadi tahun ini kami menginap lebih lama di desa ini.”


Yah Rio adalah kakak kandung Lea, sekertaris Reza, kedua orang tua Rio dan Alea sudah bersahabat dengan kedua orang tua Reza sejak mereka mahasiswa, dan spesial hari ini mereka semua berkumpul.


Mami Elena mengajak Emira berkeliling rumah besar tersebut, berkenalan dengan beberapa orang yang kebetulan berada di sana, termasuk berkenalan dengan sang nyonya rumah. 


"Oh iya… Sudah berapa lama menikah, apakah lagi lagi om Alex tak membuat pesta pernikahan untuk anaknya?"


"Eh belum lama kok mi, baru 2 bulan, resepsinya sedang dibicarakan, ketika memutuskan pernikahan, kami masih sama sama sibuk di rumah sakit." Jawab Emira kikuk. 


"Waahhh lagi anget angetnya nih," Goda mami Elena, "apakah sudah ada calon penerus di sini?" Tanya mami Elena. 


Emira tersenyum mengangguk. 


"Aaahhh senangnya, om Alex pasti senang sekali."


"Yah begitulah… padahal sudah punya lima cucu, tapi masih bersikeras ingin jadi yang pertama menggendong anakku ketika lahir nanti." 


"Hahahaha… Begitulah orang tua nak," Tawa mami Elena berderai. 


Tiba tiba dari arah halaman belakang, muncul Alea dan Reza, yang berjalan terpisah, "Le…" Panggilan Reza menggantung ketika melihat Emira sedang berbincang dengan sang mami. 

__ADS_1


Alea pun tersenyum canggung ketika berpapasan dengan Emira dan mami Elena. "Eh… selamat pagi dok," Sapa Alea, Selama di rumah sakit Emira sering mengunjungi Alea, bahkan Alea ada di bawah pengawasannya pasca operasi. 


"Pagi juga Lea, gimana luka lukamu?"


"Bagus dok, sama sekali sudah hilang rasa sakitnya." Jawab Lea. 


"Syukurlah… jangan lupa loh, kamu masih ada jadwal kontrol untuk USG,"


"Siap dok… aku akan pastikan pasien tiba di rumah sakit minggu depan." Reza menggantikan Lea menjawab perkataan Emira. 


Tapi Lea hanya melengos kesal, karena hingga hari ini ia masih enggan berbincang dengan Reza,  dan setelah pamit pada mami Elena dan Juga Emira  Lea pun kembali masuk ke kamarnya, sepeninggal Lea, Reza kembali murung. 


"Lea masih marah mi…" Keluhnya pada sang mami. 


"Ya… coba lagi, lama lama pasti luluh."


Reza mengangguk kemudian berlalu pergi. 


Emira hanya mengamati situasi, 'mungkin kah Reza sedang Jatuh cinta?' pikir Emira. 


“Ayo duduk di belakang,” 


Emira mengangguk, kemudian mengikuti langkah mami Elena menuju halaman belakang, mereka duduk di sebuah bangku menatap hamparan kolam ikan.


“Hari itu, Reza senang sekali, ia seperti memiliki seorang adik perempuan, karena tak pernah ada anak perempuan di rumah kami, mereka berlarian kesana kemari, bahkan mandi bersama, hari itu juga kolam di depan kita sedang panen ikan lele, mereka berebut jaring ikan hingga keduanya terpeleset dan masuk kolam,” mami Elena tertawa mengingat memori tersebut.


Emira mengangguk anggukkan kepalanya, “ah … jadi Reza mengenal Alea sejak kecil, pantas saja Reza terlihat sangat terpukul ketika Lea terluka beberapa waktu yang lalu.”


“Iya … itu bahkan belum seberapa, ketika mami dan papi Haris datang, dia benar benar menangis keras seperti anak anak kehilangan mainan kesayangannya.”


“Mungkin Reza belum menyadari perasaannya mam.”


“Maksudmu?”


“Kayanya Reza mulai mencintai Lea.” Guman Emira di susul dengan senyum diwajah mami Elena.


.


.


.


Satu bulan berlalu sejak berita kehamilan Emira, dan kunjungan ke desa demi mewujudkan proyek terbaru yang sedang di garap oleh Arjuna dan Ayu sebagai penerus DENt PHARMATION.

__ADS_1


Berbagai drama kehamilan ia alami, termasuk merasakan pusing dan mual di pagi hari, syukurlah bayinya sangat pengertian, ia tak sampai mengalami gejala morning sick yang ekstrim, hanya agak malas makan atau membaui aroma tertentu, tapi ditengah kesibukan Juna menangani proyek terbaru serta mengurus perusahaan, ia masih mampu berperan sebagai suami siaga, disela sela kesibukannya di perusahaan, ia selalu menyempatkan diri menelepon Emira ketika jam makan siang, bahkan jika Emira bertugas di Shift malam, Arjuna sengaja menginap di rumah sakit demi menemani, mendukung, dan mendampingi sang istri melalui kehamilan pertamanya, serta Arjuna masih bisa ikut belajar di Rumah sakit, serta sesekali menggantikan tugas perawat mendengarkan keluh kesah pasien, jadi ketika nanti ia kembali pada tugasnya, ia tak lagi merasa canggung.


Seperti malam ini, usai pulang ke rumah membersihkan diri, Arjuna bergegas ke rumah sakit tak lupa membelikan kari puff serta martabak telur pesanan Emira, spesial untuk kari puff, Arjuna sampai mendatangi salah satu mall untuk membeli panganan khas negeri jiran tersebut, sementara martabak telur Juna beli di salah satu pedagang yang mangkal di depan rumah sakit.


“Selamat malam dokter Juna …” sapa suster Juwita menyambut kedatangan Juna. 


Arjuna tersenyum menyambut sapaan suster Juwita, kemudian meletakkan beberapa kantong kresek berisi makanan spesial untuk sang istri, serta Arjuna melebihkannya agar para perawat serta beberapa dokter yang bertugas malam itu, bisa ikut menikmati.


“Selamat malam suster.” 


“Tugas negara lagi?”


Arjuna terkekeh, mendengar kalimat suster Juwita. “Iya… tugas negara demi kelanggengan rumah tangga, serta demi mencetak generasi hebat.”


“Setuju dok, ibu hamil harus senantiasa bahagia, agar janinnya ikut bahagia, Semangat !!!” ujar suster Juwita seraya mengepalkan tangannya demi memberikan semangat pada dokter muda yang sedang cuti tersebut.


“Semangat apa nih?” Tanya Emira yang mendadak ikut bergabung dengan obrolan Arjuna dan suster Juwita.


“Tuh kan … lihat wajah dokter Emira, sejak datang sore tadi hingga saat ini belum berubah sama sekali, pastilah ini efek bahagia karena memiliki suami siaga seperti dokter Juna.” 


“Ahahaha … Benar begitu yang?”


“Auuuccchhh … dok, boleh saya jujur?” tanya suster Juwita.


“Boleh …” Jawab Juna usai memulas tangannya dengan Hand sanitizer.


“Saya sudah sering mendengar panggilan sayang dari seorang suami terhadap Istrinya, tapi entah kenapa, mendengar anda menyebut kata ‘YANG’ selalu membuat hatiku berdebar…” aku suster Juwita.


“Hahahaha …” Emira tergelak di tengah kegiatannya mengunyah camilan malamnya, begitu pun Juna.


.


.


.


curcol yah …


othor agak galau nih, mau melanjutkan kisah para second lead, (Reza dan Alea) serta (Rio dan Ayu), sudah mulai jenuh, takutnya kalian para reader juga jenuh dengan cerita ini, akan terkesan di panjang panjangin atau keluar dari tema dua pemeran utama, jadi plis komen … enak nya gimana,


ditamatin dulu Juna dan Emira baru lanjut ekstra part para second lead.


atau tamat dan end kisah ini, fokus ke novel baru si kembar  

__ADS_1


__ADS_2