CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 36


__ADS_3

BAB 36


Mobil mewah Emira berhenti di parkiran khusus dewan direksi dan keluarga pemilik Twenty Five Hotel.


Akhirnya setelah melewati pergolakan batin yang hebat, serta banyak pertimbangan dan larangan dar Febiola, Emira memutuskan datang, tapi ia pastikan tak kali ini ia tak akan jadi gadis lemah, ia akan bersikap seperti dirinya yang asli, hanya dengan penampilan dan wajah sedikit berbeda.


Emira memeriksa kembali penampilannya, gaun mini yang hanya menutupi sebagian p*h* nya, dibalut long coat berwarna kuning cerah, wajahnya dibalut make up sedikit tebal, dan jangan lupakan heels setinggi tujuh centi yang melengkapi pesona kaki jenjangnya.


Membuat penampilannya semakin bersinar maksimal, sungguh siapapun akan dibuat terpesona oleh putri bungsu Alexander Geraldy tersebut.


Emira keluar dari mobil dan segera memakai kacamata hitamnya, setelah menarik nafas perlahan, ia berjalan dengan penuh percaya diri masuk ke lobi utama yang langsung terhubung dengan ballroom di lantai dasar, tiba di tengah aula Emira menoleh ke arah Ballroom, beberapa orang yang ia kenal berseliweran di pintu masuk, Emira sengaja menghampiri Lift yang di khususkan untuk tamu, agar ia bisa melihat lebih dekat ke arah ballroom, rupanya Arjuna sudah berada di sana, ia ikut sibuk dengan segala persiapan, penyambutan tamu, padahal acara baru resmi dibuka jam lima sore. 


Emira tetap berjalan santai, walau berdebar, karena ternyata beberapa kawan baik Arjuna nampak terpesona pada penampilannya, ia hanya menganggukkan kepala ketika Arjuna tersenyum dan mengangguk ke arahnya, kemudian kembali berjalan menuju lift.


Hari ini Emira dan Arjuna libur jaga, sementara Febiola bertukar jaga dengan dokter Kenan, Febiola meminta dokter Kenan menggantikannya hingga jam sebelas malam, agar Febiola bisa ikut acara reuni.


Emira menutup pintu lift yang akan membawanya ke lantai 3, kemarin ia sudah bersepakat dengan Febiola, mereka akan bertemu di kamar tersebut, dan disana Emira akan merubah penampilannya, sebelum menghadiri reuni.


Emira menempelkan kunci pass ruangannya, Wajah Febiola sumringah menyambut kedatangannya.


“Gue kira lo gak datang?” sambut Febiola.


“Atas dasar apa aku gak berani datang? aku gak pernah berbuat salah sama mereka, justru mereka kaum pembully itu yang meminta maaf padaku.”


Febiola mengusap pundak Emira, “Iya … gue cuma takut lo trauma karena harus kembali berhadapan dengan mereka.”


Emira melemparkan tubuhnya ke tempat tidur, kemudian menendang Hells nya, benda malang itu pun tergeletak di sudut ruangan, dan entah pasangannya berada di mana. “eh gue tadi lewat di depan ballroom,”


Febiola mengeluarkan micellar water dari tas nya, kemudian mulai membersihkan wajahnya dengan cairan bening tersebut,  hal itu rutin ia lakukan agar wajahnya tetap bersih terawat, walau tak menggunakan make up dengan harga fantastis. “trus? lo ketemu Arjuna.”


“Ya iya lah … hahaha, dimana mana ketemu dia, mungkin gak lama lama dia bosen liat gue?” gurau Emira.

__ADS_1


“Mana bisa dia bosan lihat gadis secantik elo, gue yakin seratus persen, dia malah gak bisa tidur karena wajah lo menari menari di pelupuk mata nya.” jawab Febiola sebelum menutup pintu kamar mandi.


Sepeninggal Febiola, pikiran Emira kembali menerawang, suka atau tidak, setiap membicarakan Arjuna ia jadi teringat Reza yang sudah hampir seminggu ini tak ia jumpai, Emira memang sengaja mendiamkannya agar amarah Reza sedikit reda, tapi tiga hari lalu, ia mencoba mengirim pesan, namun tak ada balasan, padahal Reza membaca pesannya.


Dan dua hari lalu, Emira tak sengaja melihat Reza tengah makan malam bersama seorang gadis, Walau wajah Reza terlihat datar menanggapi gadis yang tengah bersamanya, tapi Emira berharap semoga gadis itu bisa mengobati luka patah hati Reza.


.


.


.


Pukul 18.30 malam, Arjuna semakin gelisah berdebar tak jelas, walau ia sudah berusaha bersikap senatural mungkin di hadapan teman temannya, tapi tetap saja ia tak bisa menutupi rasa gugup yang tengah melanda hati dan perasaannya, kini bahkan mendadak ia ingin ke toilet untuk buang air, padahal seingatnya sepanjang pagi hingga sore hari ia tak makan makanan yang memicu rasa mual atau mulas.


Usai menyelesaikan keperluannya, Arjuna membersihkan tangannya dengan sabun, dan setelah di bilas dengan air bersih, ia kembali memulas hand sanitizer ke seluruh permukaan telapak tangannya, seperti kebiasaannya ketika di rumah sakit, Arjuna hendak kembali ke ballroom namun langkahnya terhenti ketika sayup sayup ia mendengar pembicaraan beberapa gadis di toilet wanita, suara para gadis itu melengking keras jadi Arjuna bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.


“Eh menurut lo, si culun bakal datang tidak?” 


“Entah, tapi kalo dia masih punya nyali sih pasti datang, aku masih dendam kesumat ama si culun si Alan itu.”


“Eh … lebih parah gue dong, dua hari gue sesak nafas karena si culun nendang da da kiri gue, kalo aja gak jaga gengsi, gue udah nangis meraung raung di kantor polisi.”


“Kalo lo?”


“Rambut gue botak, ampe dua bulan gue baru berani lepas wig, untuk nutupin tuh botak.”


“Hahaha …” mereka semua tertawa, menertawakan nasib miris mereka kala itu.


“Gua migrain seminggu, gara gara jidat gue kena tendangan si culun.”


Usai tertawa bersama, mereka kembali muram merenungi nasib sial mereka saat itu.

__ADS_1


“BTW … lo ngerasa aneh gak, waktu gue coba bujuk nyokap bokap gue untuk ngelaporin tuh orang ke kantor polisi, yang ada gue malah di omelin sehari semalam ama bonyok, aneh banget kan, padahal seak kecil, kalo gue kalah berantem, nyokap langsung bikin perhitungan sama orang tua lawan gue.” 


“Eh kok sama sih, malah waktu gue tanya alasan bonyok gue, mereka diam dan kaya ketakutan gak berani jawab, yang ada gue disuruh ngelupain aja masalah itu.”  


Rupanya keluhan Voni dan Ranti tak jauh beda dengan keluhan keempat gadis lainnya, mereka tak pernah mendapat alasan kenapa kasus saat itu tak diproses dengan hukuman lebih lanjut, atau minimal denda.


Saat itu, Andre langsung membereskan semuanya, ketika ia bertanya pada Emira tentang apa yang sebenarnya terjadi, ia merasa sangat marah, karena ternyata Emira dikeroyok beramai ramai, tapi ia tak menunjukkan hal itu di depan Emira, Andre justru bersikap sebaliknya, seolah olah perbuatan Emira adalah sebuah kesalahan, agar Emira tak menjadi tinggi hati, tapi dibelakang Emira Andre berbicara secara pribadi dengan orang tua keenam gadis yang mengeroyok adik kesayangannya, jika ia mau ia bisa menuntut apa yang dilakukan anak gadis mereka, tapi hal itu tak Andre lakukan, karena akan berpengaruh buruk pada reputasi keluarga mereka, Andre hanya meminta para orang tua untuk menutup rahasia ini rapat rapat, jika sampai atau bahkan mereka dan anak anak mereka berani berulah, maka mereka akan merasakan akibat yang setimpal, karena berani mencari masalah dengan keluarga Geraldy.


“Gimana kalau kita kerjain si culun, gue masih sakit hati banget nih.”


“Nggak ah gue gak mau cari masalah,”


“Iya ih, geu takut, bokap bakal coret nama gue dari KK kalo gue berani cari masalah sama si culun.”


“Tenang aja, gak akan ketahuan kok, kita kasih obat tidur aja, biar dia tertidur di ballroom, udah deh habis itu kita tinggal pulang.”


Kelima gadis yang lainnya nampak tersenyum miring, sepertinya mereka menyetujui usulan tersebut.


“Tapi dapat obat tidur darimana, harus keluar hotel dulu dong.”


“Tenang, gue ada, ini titipan obat penenang nyokap gue yang kadang susah tidur.” 


Arjuna mengepalkan kedua tangannya, tega sekali para gadis itu, bisa bisa nya mereka berencana memberikan obat penenang pada Mira, hanya karena mereka membenci gadis manis itu, dan Arjuna sangat mengenal suara gadis yang mengusulkan ide gila tersebut, dia adalah Voni, gadis yang kata mama Yuna Baik dan cantik, rupanya hatinya penuh dengan kedengkian, syukurlah Juna tak begitu saja menerima usulan mama Yuna agar ia mendekati Voni.


Amarah yang menguasainya, membuat Juna melupakan celetukan si kembar, seandainya Juna menyadarinya. 


  


.


.

__ADS_1


.


💜🧡


__ADS_2