
BAB 127
"Yang… Yang… Yang… kamu yakin mau melakukan ini?" Tanya Juna memastikan.
"Yakin lah…" Jawab Emira.
Si bumil tersebut bahkan sudah berganti kostum nyaman, karena ia akan segera beraksi, setelah peredam telinga di pasang, Emira mengambil ancang ancang di garis pembatas, sementara Arjuna bergidik ngeri, Hans justru dengan telaten mengawasi dan menyiapkan peralatan pengaman yang Emira butuhkan selama menembak sasaran.
Dasar bumil … ada ada aja ngidamnya, minggu sebelumnya ia ngidam ingin menunggang kuda, karena sudah teramat sangat merindukan pingki nya yang manis, tentu saja hal itu ditentang keras oleh Arjuna dan semua orang yang ada di sekitarnya, mengingat usia kehamilan nya yang sudah menginjak lima bulan.
Dan Hari ini ia bersikeras ingin latihan menembak, karena ia tak bisa latihan taekwondo seperti hari hari sebelum kehamilannya, jika di awal kehamilannya Emira begitu manja dan lengket pada sang suami, maka di trimester kedua ini ia selalu ingin melakukan kegiatan yang menjadi hobinya sejak lama, berkuda, berkelahi, dan menembak, maha benar bumil dengan segala keinginannya.
"Silahkan pakai ini dulu tuan." Hans menyodorkan peredam suara, sementara wajah Emira nampak berseri seri bahagia kala mengotak atik senapan di tangannya, jari jari lentiknya tampak tak mengalami kesulitan, berinteraksi dengan senjata yang identik dengan mainan kaum Adam.
"Paman, apa paman yakin istriku tidak akan apa apa?" Tanya Juna khawatir.
"Tuan tenang saja, nona muda sudah sering melakukannya, bahkan kemampuannya tak kalah hebat dengan kemampuan tuan Alex, serta anak buahku."
"Hah? Daddy mertua juga jago menembak?" Tanya Juna.
"Benar tuan muda, Tuan Alex lebih mahir menggunakan senapan dan pistol, sementata Nyonya Stella mahir bela diri, dan nona muda menguasai keduanya."
Arjuna membeo, “Aku seperti berada di tengah tengah keluarga mafia.” gumam Juna yang masih terdengar di telinga Hans.
“Hahaha … anda harus tahu alasan sebenarnya kenapa tuan Alex sampai menyiapkan semua ini untuk anak dan cucu nya.”
“Oh yah? beberapa kali Emira perna cerita jika dulu Daddy pernah bercerai dengan mommy.”
Hans tersenyum mendengar pertanyaan Juna, “benar tuan, itu sejarah kelam keluarga ini, selepas tuan dan nyonya berpisah, tuan muda Kevin kehilangan sosok mommy, bahkan pernah dua kali menjadi korban penculikan, karena inilah tuan besar menyiapkan ini semua, agar anak cucu nya bisa menjaga diri mereka sendiri.”
Arjuna manggut manggut.
DOR
DOR
__ADS_1
DOR
DOR
DOR
Arjuna terperanjat, ketika bahkan ia belum sempat memasang peredam suara, Emira sudah menarik pelatuk senapan, kemudian mengarahkannya ke sasaran, dan ia kembali dibuat terperangah, ketika papan simulasi menampilkan gambar lingkaran dengan centang hijau.
“Yeaaaahhh …” seru Hans seraya bertepuk tangan.
Tak kalah bahagia dari Hans, Emira pun berteriak dengan wajah bahagia, kemudian meletakkan peralatan nya sebelum menghampiri Juna yang masih meringis memegang telinganya yang berdengung.
“Mas lihat tadi, tepat sasaran semua.” Seru Emira bahagia.
Arjuna hanya bisa mengangguk, “Iyalah sayang, asal kamu bahagia, bayi kita senang, aku pasti ikut bahagia juga.” Juna membatin.
.
.
Dan hari ini wajah Emira tampak tersenyum bahagia, ketika ia menarik nafas sembari menikmati hembusan angin dan indahnya hamparan persawahan yang memanjakan mata.
Tak berselang lama, pesta pernikahan Reza dan Lea di selenggarakan, pernikahan cucu kedua Harun Sebastian tersebut, diselenggarakan secara mewah, bahkan tak kalah mewah dari pernikahan Emira, mengingat relasi dan jaringan bisnis kedua orang tua Reza yang ada di dalam dan luar negeri.
.
.
Dan akhirnya, hari yang Emira nantikan pun tiba, yakni hari belanja … ia sungguh tak sabar menantikan datangnya hari ini, di mana ia sudah tak sabar ingin membeli semua yang bayinya butuhkan.
Emira bahkan tak ada lelah nya keluar masuk baby Shop demi mencari yang sesuai dengan selera nya.
Seperti kali ini, kedua mata nya berbinar ketika melihat stroller bayi, padahal baru beberapa saat yang lalu Arjuna melakukan pembayaran sebuah stroller untuk bayi mereka. “Yang ini bagus mas, bisakah kita membeli satu lagi?” tanya Emira dengan wajah penuh harap.
“Tapi baru saja aku membayar sebuah Stroller.” jawab Juna apa adanya.
__ADS_1
Senyum di wajah Emira musnah seketika, kebahagiaannya tiba tiba layu seperti kerupuk disiram air, “Jadi nggak boleh yah?”
“Bukan nggak boleh sayang, tapi mubazir.” jawab Juna pelan, takut takut istrinya sensi dan berakibat merajuk. "Bukankah baru saja kita membeli benda itu, bahkan warna, model dan kualitasnya hampir sama."
Emira terdiam sejenak, memang begitulah, antara kebutuhan dan hasrat lapar mata nya semakin tidak sinkron dari hari ke hari, pengaruh perubahan mood akibat adanya hormon kehamilan, "Ya sudah… ayo kita lihat baju baju lagi… ini baru sepuluh pasang, aku ingin baby K punya banyak baju baju trendy dan nyaman."
"Emm yang gimana kalau kita lanjutkan minggu depan?" Usul Juna, karena mereka sudah berkeliling mall selama dua jam, dan Emira seperti belum merasa lelah.
"Kenapa?" Lagi lagi Emira memasang wajah memelas.
"Sini duduk dulu," Arjuna mendudukan Emira di sebuah kursi yang di khusus disediakan untuk pengunjung, kemudian pria itu melepas flat shoes yang Emira kenakan, "lihat apa kamu tidak merasa lelah, kakimu bahkan sudah sangat bengkak," Arjuna memijat lembut betis dan telapak kaki Emira.
"Iya, mas benar, aku terlalu bahagia, hingga tak merasakannya." Susah payah Emira mengintip kedua kakinya. "Sepertinya berendam air hangat akan membuat nya rileks."
"Setuju…" Jawab Juna sumringah, mendengar kata kata berendam pikiran pria itu mendadak traveling hal hal yang iya iya.
"Aku ingin berendam sendiri," Celetuk Emira tanpa perasaan.
Arjuna cemberut, "baiklah… kamu boleh berendam sendiri, aku hanya bantu memijat kaki mu." Jawab Juna beralasan, karena seperti yang sudah sudah, Arjuna semakin ahli dengan modus nya, awalnya memang hanya pijatan, tapi tangannya sudah sangat hafal titik titik sensitif sang istri, jadi pijatan itu berubah jadi usapan hingga naik menjadi belaian, jika sudah demikian maka berikutnya sudah bisa ditebak kemana berakhirnya kegiatan tersebut.
Setelah istirahat beberapa saat, kedua nya kembali berjalan, "mas aku lapar."
"Baiklah sayang, mau makan apa kita?"
"Aku ingin yang super pedas."
"Yaaaaannggg bisa nggak sih, kalau permintaanmu itu yang normal normal aja?" protes Juna, yang lagi lagi harus menekan sabar demi kebaikan sang istri, dan tentu saja kebaikannya sendiri.
"Memang permintaanku yang mana yang tidak normal?" Jawab Emira tak mau kalah, pasalnya dia pun tidak minta makan sambil berayun di jembatan, atau lebih ekstrim lagi, makan dengan menu daging ular.
"Jangan yang super pedas lah, kasihan baby K, bagaimana kalau dia sakit perut dan diare?" Pertanyaan Juna pun semakin tak masuk akal.
"Mana mungkin, baby K kuat, dia akan mengikuti seleraku, buktinya sekarang dia minta makanan super pedas," Emira selalu punya jawaban bantahan untuk larangan sang suami.
Dan Arjuna selalu kalah dengan keinginan Emira jika menyangkut makanan, selama Emira dan baby K sehat, semua akan dia belikan. Walau ia harus merinding sendiri, menatap betapa lahap dan nikmatnya ketika Emira menyantap sambal super pedas, beserta nasi dan lauk pauk nya.
__ADS_1