
BAB 79
Dua pasang netra itu saling bertatapan, wajah mereka bahagia walau sedikit lelah, bahkan tubuh mereka bersimbah keringat, nafas mereka pun masih memburu, seirama dengan detak jantung yang masih berdenyut cepat.
Arjuna melempar tubuh lelahnya di sisi sang istri, ia menatap wajah Emira yang masih bersemu merah dengan mata terpejam, mencoba mengatur kembali tarikan nafasnya yang tak beraturan selepas kegiatan panas mereka beberapa saat yang lalu, Arjuna cukup terkejut karena tiba tiba Emira bangkit, "yang mau kemana?" Tanya Juna yang dengan sigap menghalangi pergerakan Emira.
"Tarik selimut… Aku malu…" Jawabnya dengan wajah bersemu yang coba disembunyikan.
"Sudah buka bukaan dan saling melihat, masih juga malu." Gumam Juna yang tertangkap oleh telinga Emira.
Wanita itu segera menatap garang wajah suaminya yang tengah menyeringai jahil menatap dirinya yang masih malu malu manja.
"Laki laki emang gitu yah? Udah dapet enaknya, tapi masih juga gak peka dengan perasaan wanitanya." Balas Emira, ia melepaskan diri dari belitan lengan suaminya kemudian menarik selimut untuk menutup tubuh polosnya, bahkan sebagai wujud protesnya Emira sudah berbalik memunggungi Arjuna yang masih terkejut dengan sikapnya yang tiba tiba merajuk.
Arjuna jadi serba salah, mau bicara takut salah ucap, tak bicara berujung salah paham makin merajalela, akhirnya ia hanya ikut menyusup di bawah selimut yang sama dengan sang istri, kemudian memeluknya manja, "maaf kalau aku tak peka, tolong ingatkan jika aku salah, aku masih harus banyak belajar bagaimana menyenangkan hati seorang wanita,"
Emira hanya diam tak merespon apa apa, inginnya sih terus merajuk, tapi sebenarnya tadi ia tak sungguh sungguh merajuk marah, hanya ingin menguji seberapa tangguh suaminya bila menghadapi istrinya yang sedang merajuk.
"Apa sih, ngapain deket deket, sana jauhan, gerah nih." Seru Emira sembari mencoba melepaskan diri dari pelukan Juna, namun pria itu tak kunjung menjauh, justru kian merapat manja.
“Kalau gerah mari kita buka saja selimut ini.” Jawab Juna santai, bahkan dengan santai mulai mengecup punggung polos sang istri, tentu Emira sekuat tenaga menahan desakan dari dalam tubuhnya, ia seperti merasa kembali bangkit dan menginginkan sesuatu yang lebih.
“Nggak mau, kamu aja yang keluar dari selimut.” tolak Emira.
Dengan gerakan cepat, Arjuna membuat Emira berbalik menatap nya, bahkan Juna dengan sengaja mengunci kedua tangan Emira, “kamu bilang apa tadi?”
“Apa?” jawab Emira sengit.
“Beberapa saat yang lalu aku mendengarmu menyebutku dengan sebutan ‘Kamu’”
“Iya … KAMU benar sekali.” jawab Emira dengan sengaja menekankan kata ‘kamu’ dalam kalimatnya, jelas itu seperti sebuah tantangan bagi Juna.
__ADS_1
Pria itu menyeringai seperti baru saja mendapatkan sebuah tantangan, dengan cepat ia menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya, menghhhiiisap sangat kuat bahkan nyaris membuat Emira kehabisan nafas, terlihat dari gerak tubuhnya yang semakin gelisah.
Arjuna melepaskan pagutannya, “Yaaaa … kamu mau membuatku kehabisan nafas?”
Juna menyeringai, “maaf sayang …” bisiknya lembut, “Tapi itu hukuman karena sudah tak sopan pada suamimu sendiri, “sekali lagi kamu menyebutku dengan sebutan ‘KAMU’, maka aku menganggap kamu sedang meminta hukuman.”
Emira tercengang, “Apa apaan ini, kenapa tiba tiba membuat peraturan aneh begitu?” tanya Emira tak terima.
“Nggak aneh sayang, tapi tu memang bagian dari kewajiban seorang istri menghormati suaminya,” jawab Juna sesimpel itu, “Lagi pula apa kamu pernah mendengar, mommy memanggil daddy dengan sebutan kamu? gak pernah kan? sama seperti mama, yang hingga kini masih menyematkan kata ‘mas’ setiap kali memanggil Ayah.”
Emira diam tak lagi menjawab, beginilah resiko menjadi orang timur, bahkan panggilan untuk suami pun ada aturan, “Maaf.” ucap Emira tak lagi membantah.
“Good … manis begini, istri siapa sih?”
“Istri Arjuna,” Jawab Emira tersipu.
“Sekali lagi sayang,”
“Istri Arjuna,”
Beberapa saat kemudian Emira tersadar, bahwa ia tengah merajuk, tapi apa ini kenapa ia begitu mudah dialihkan, bahkan yang seharusnya meminta maaf justru memberinya hukuman, Emira mendorong dada bidang suaminya, “Kenapa lagi sayang?”
“Kan aku lagi marah sama mas.”
Arjuna hanya tersenyum simpul, “Iya … aku minta maaf, tapi kamu tak perlu malu di hadapanku, aku sudah melihat semuanya, begitu pun kamu yang juga sudah melihat tubuhku, hilangkan saja rasa malu jika sedang berada di kamar bersamaku, tubuhmu terlalu nikmat untuk dilewatkan, sekarang saja aku sudah bangkit kembali.”
“Oh no … sudah cukup! aku lelah, kita harus bertugas di rumah sakit siang nanti, jangan aneh aneh, apalagi minta nambah.” Emira menginterupsi.
“Gak bisa sayang, sepertinya aku mulai sakau, dan hanya tubuhmu penawarnya,” Juna tak mengindahkan peringatan Emira, ia justru menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Emira, menghirup dan kembali membuat karya indah di sana.
“Maaass … jangan di daerah yang terlihat.” rengek Emira, aku malu jika ada yang bertanya padaku.
__ADS_1
Arjuna mendongak, “Apakah itu artinya aku boleh membuat di tempat yang tak terlihat?”
Emira gelagapan, “bbb…bu … bukan itu maksudku,” elak Emira.
“Kan tadi kamu bilang jangan di tempat yang terlihat,”
“Tttt … tapi …”
Belum sempat Emira menyelesaikan kalimatnya, Arjuna sudah mulai melancarkan aksinya, lidah dan bibirnya mulai menjelajah, begitupun telapak tangannya membuat Emira tak mampu menolak nya, karena tubuhnya merespon dengan baik.
Bak gayung bersambut, Arjuna kembali melanjutkan kegiatannya dengan semangat empat lima, karena Emira tak menolak, bahkan mulai me nde $ ah manja, niat hati ingin menggoda, namun mereka justru kembali mengulang kembali aktivitas panas berikutnya.
Suara suara teriakan merdu kembali ramai terdengar, gelombang asmara mereka kembali bergejolak, manisnya madu cinta kembali terasa, bukan hanya Arjuna yang merasa demikian, Emira pun merasakan hal yang sama, bahkan Arjuna membimbing kedua tangan Emira agar ia juga bebas leluasa menjelajahi tubuh nya, menciptakan sensasi berbeda, hingga pagi hari mereka kembali terasa indah, Arjuna begitu lembut membuai wanitanya, begitu selaras, melambungkan hasrat hingga merasa puas, kemudian kembali meledak dalam kenikmatan bersama.
Arjuna menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya, keduanya mengatur nafas bersama.
“Terima kasih sayangku, Aku mencintaimu Emiraku, jangan lupakan itu.” bisik Juna.
Emira tersenyum, “Aku pun mencintaimu mas, aku bahagia jika itu membuatmu bahagia, terima kasih juga sudah membawaku pada petualangan yang sangat indah lagi berkesan.”
“Jadi mau coba sekali lagi?” goda Juna.
“What??!!!” pekik Emira tak percaya.
.
.
jangan lupa like komen dan vote nya gaes
💙
__ADS_1