
BAB 38
Semakin malam, acara berlangsung semakin akrab, padahal sebagian peserta sudah memilih kembali kerumah masing masing, Emira bahkan merasa sudah sangat mengantuk, dan ingin pamit agar bisa segera memejamkan mata, tapi setiap kali hendak pamit teman temannya, berdalih bahwa ini belum terlalu malam.
Arjuna pun demikian, ia sudah harus pamit untuk beristirahat, karena esok ia harus kembali ke rumah sakit, tapi lagi lagi ia tak bisa berpamitan karena masih ada Mira di ruangan ini, ia ingin segera berbincang dengan gadis itu, terutama sekali bertukar nomor ponsel.
Salah seorang waiters kembali datang membawa senampan air mineral kemasan, kemudian menyajikan ke meja Arjuna, dan teman temannya.
“Mohon maaf, saya mengganggu,” seorang petugas hotel yang masih berpakaian rapi, menghampiri meja Juna. “dengan terpaksa kami mengingatkan, karena jam sewa ruangan ini sudah berakhir sejak satu jam yang lalu, maka dengan berat hati kami persilahkan anda semua untuk meninggalkan ruangan ini, dikarenakan para petugas kami harus segera membersihkan ballroom untuk persiapan acara besok pagi.”
Sungguh girang hati Juna, baru kali ini ia merasa bahagia karena ada seseorang yang mengusirnya, “oh … maaf kalau begitu pak, kami akan segera mengosongkan ruangan ini.”
Petugas hotel tersebut mengangguk, ia segera berlalu meninggalkan ballroom.
Arjuna berdiri kemudian berbicara dengan suara lantang, “Teman teman, hari sudah larut, dan jam pakai ruangan ini pun sudah berakhir, maka sebagai acara penutup, sebelum kita pulang, yuk kita foto bersama lagi.”
Usai mendengar Instruksi Juna, semua peserta yang tersisa di ruangan tersebut berdiri, Emira merasa sungguh lega mendengarnya, ia tak tahu jika menahan kantuk ternyata sungguh menyiksa, padahal ia sudah terbiasa menahan kantuk ketika berjaga di rumah sakit, tapi malam ini seolah kantuknya tak bisa lagi di ajak bekerja sama.
__ADS_1
Acara foto bersama berlangsung beberapa kali dengan berbagai pose dan gaya, tapi Emira benar benar tak dapat menyembunyikan rasa kantuk nya, hingga ia pun langsung berpamitan, hendak kembali ke kamar nya, Emira melangkah cepat menuju Lift, sebelum ia tertidur di lobi, karena tak kuasa menahan kantuk.
Arjuna yang sejak tadi melihat gerak gerik Mira yang mencurigakan, langsung mengikuti arah langkah gadis itu, "woii… Juna mau kemana lo? Belum beres nih,"
Arjuna hanya melambaikan tangan, tanda berpamitan, tak peduli lagi protes, dan panggilan dari teman temannya, setidaknya ia harus memastikan Mira dalam keadaan aman, terlebih setelah ia mendengar sendiri rencana jahat Voni dan teman temannya.
Emira masuk ke lift yang sudah terbuka pintu nya, tepat ketika Arjuna hendak menghampiri nya, pintu lift sudah menutup sempurna, Arjuna hanya mengikuti arah tujuan lift mengarah ke lantai berapa, setelah memastikan Angka yang tertera di sana, Arjuna segera menghampiri lift lain yang berada di sebelah lift yang membawa Mira, agar bisa menyusul gadis itu, tapi usahanya sia sia karena sesampainya di lantai yang ia tuju, jejak Mira sudah tak terlihat.
Arjuna menghembuskan nafas kecewa, menyesal sekali rasanya, seharusnya sejak tadi ia mengajak Mira bicara berdua, tapi rasanya ia sendiri cukup canggung dan pasti mereka akan jadi pusat perhatian teman teman Juna, dan bahkan lirikan tajam dari Voni dan teman temannya, bagaimana jika Voni kembali merundung Mira? itulah yang Juna takutkan.
Dan Alangkah terkejutnya Juna ketika pintu lift terbuka, Mira masih berada di sana duduk bersandar di sudut kotak besi tersebut dengan mata terpejam, Arjuna bergegas menghampiri Mira, ditepuknya perlahan pipi gadis itu, “Mir…”
“Mir…” sekali lagi Arjuna memanggil Mira. “Mira…”
Jari tangannya segera memeriksa denyut nadi dari pergelangan tangan Mira, dengkuran halus terdengar di telinga Juna, Arjuna lega karena Mira hanya tertidur, dan bukan pingsan, “gadis si Alan, berapa banyak obat penenang yang ia berikan, sampai sampai Mira tak bisa dibangunkan.”
Arjuna melirik jam di pergelangan tangannya, tadi ia sudah antisipasi jika acara reuni pasti akan berlangsung lebih lama, karena itulah ia sudah memesan kamar untuk ia pakai istirahat, karena besok ia harus berangkat pagi pagi ke rumah sakit, Arjuna menyelipkan botol air mineral yang ia bawa sejak dari ballroom ke saku celana jeans nya, kemudian menggendong Mira agar bisa beristirahat di kamar nya, sementara ia nanti akan tidur di sofa.
__ADS_1
Arjuna menekan tombol lift menuju lantai lima tempat kamar nya berada, kemudian menggendong Mira, aroma parfum yang sangat familiar menguar dari tubuh Mira, tapi Arjuna mengabaikan semua itu, ia justru sangat menikmati wajah manis Mira yang kini tertidur pulas di pelukannya, ‘imut banget … cium lagi boleh gak sih?’ gumam Juna dengan seringai tipis di bibirnya.
.
.
.
senin gaes... jangan lupa tinggalkan vote sebagai tanda cinta...
.
.
sarangeeee
❣️❣️
__ADS_1