
BAB 88
Gunawan memandang setiap sudut rumah mewah nya, sudah dua hari ini rumahnya terasa kosong, biasanya ia melihat istrinya berkeliling rumah, memastikan semua yang ada seisi rumah rapi, selaras, dan teratur sesuai dengan kemauan Gun, dan Gun merasa bahwa itu memang tugas Risna sebagai istri, toh semua pekerjaan Risna dibantu oleh para ART, tapi ternyata …
Baru dua hari yang lalu pertengkaran terakhir mereka, dan akhirnya berakhir dengan kepergian Risna, wanita itu pergi meninggalkan tempatnya, tinggallah Gun seorang diri, karena anak anaknya belum menyadari kepergian mama Mereka, bahkan Gunawan sendiri tak tahu kenapa ia harus berbohong ketika anak anak nya menanyakan keberadaan mama mereka, semuanya reflek keluar dari bibirnya, seakan akan ia ingin menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya.
Dan hari ini ia mulai merasa banyak kebiasaan yang hilang, biasanya Risna tak pernah kesiangan membangunkannya, tapi sudah dua hari ini ia terbangun jam tujuh pagi, padahal seharusnya ia sudah berada di kantor jam tujuh tiga puluh, karena ada janji dengan klien penting tepat di jam tersebut, mengingat klien yang menawarkan kerja sama akan segera kembali ke negaranya, karena Gun bangun kesiangan, belum lagi ia harus menyiapkan semuanya seorang diri, kerjasama tersebut dibatalkan, karena Gunawan tak bisa memenuhi janji tepat waktu.
Hari ini ia kembali mendapatkan pukulan telak, karena imbas dari gagalnya kerja sama tersebut, membuatnya kehilangan harapan untuk membangun cabang Hotel baru di negara tetangga, dan semua itu terjadi karena tak ada RIsna yang membangunkannya di pagi hari, bahkan sarapan paginya terasa sepi, karena tak ada kopi buatan sang istri, sejujurnya Gun sudah mulai lupa dengan rasa kopi buatan Yuna, karena pasukan bakteri di pencernaannya kini hanya menyukai kopi buatan Risna, bahkan ketika ke tempat kerja, Risna selalu membawakan ekstra kopi untuk di minum di tempat kerja.
Bagaimana Bisa, wanita yang selama ini tak pernah ia anggap keberadaannya, ternyata membuatnya merasa hampa bahkan kehilangan kesempatan memperluas bisnis nya.
Yah mungkin inilah saatnya ia membawa Yuna kembali dalam hidupnya, toh saat ini kondisi Satrio semakin memburuk, bukan tidak mungkin jika Yuna akan kembali ke pelukannya, karena Risna pun sudah pergi meninggalkannya.
.
.
.
__ADS_1
Emira menatap dari balik pintu kaca, saatnya pasien diizinkan menerima kunjungan, dan mama Yuna memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengajak suaminya berbicara, walau harus berusaha keras menahan tangis.
Jam kerja Emira belum lagi di mulai, jadi ia memilih menemani mama Yuna mengunjungi Ayah mertuanya, yang kini kembali menghuni ruang intensif.
Emira melangkah keluar ruangan enggan melihat kesedihan mama Yuna, merasakan betapa berat jika harus melihat pasangan dalam kondisi tak baik baik saja.
Tak lama kemudian, mama Yuna keluar dari ruang rawat ayah Satrio, terlihat jelas beliau tengah menahan kesedihan yang teramat sangat, “Mama …” Emira segera memeluk mama mertuanya tersebut, “kok sudah keluar? masih ada beberapa menit lagi.”
“Mama tak sanggup berada di sana terlalu lama, semakin membuat mama ingin meraung raung,” jawab mama Yuna lirih, wajahnya mendung, dan kedua matanya sembab karena terlalu banyak menangis, tak ada yang bisa ia lakukan untuk menolong suaminya, selain hanya berdoa, agar ayah Satrio segera sadar.
Kemudian kedua wanita tersebut duduk, masih berpegangan tangan saling menguatkan, hingga sebuah suara membuyarkan kebisuan mereka, "Yuna…" Lirih Gun menyebut nama mantan istrinya.
"Masih berani kamu memperlihatkan wajahmu di hadapanku?" Mama Yuna langsung memuntahkan lahar amarah nya.
"Tapi Satrio kritis karena kondisi jantung yang sudah lama memburuk,"
"Yah… memanglah demikian, tapi kamu semakin memperburuk keadaannya, pergi dari hadapanku…"
"Tapi Yun… Aku bahkan belum mengutarakan maksud kedatanganku." Mohon Gunawan.
__ADS_1
"Tak ada gunanya, sungguh menyesal aku pernah mencintai pria sepertimu, pengecut yang tak bisa menerima kenyataan, bahkan tak bisa menghargai wanita yang sudah bertahun-tahun mendampinginya."
Gunawan menatap nanar, wajah cantik mantan istrinya tersebut, "aku masih mencintaimu Yun," Ujar Gunawan, yang bahkan tak peduli Yuna tengah bersama menantunya. "Kumohon kembalilah ke tempatmu di sisiku, Risna sudah pergi meninggalkanku."
Sementata itu, dari balik dinding, ada dua hati yang terluka, dialah Risna dan Alana putri keduanya, yang kebetulan hendak mengunjungi ayah Satrio di rumah sakit, tapi mereka justru mendengar pernyataan cinta yang tak layak untuk diutarakan, mengingat mama Yuna masih bersuami, dan Gunawan masih memiliki istri.
Air mata Alana mengalir begitu saja, remaja tanggung ini, memiliki kedekatan khusus dengan sang papa, kini tiba tiba ia dihantam kenyataan pahit, ia mengira kedua orang tuanya saling mencintai, rupanya sang papa tak pernah mencintai mama nya, Alana berlalu begitu saja meninggalkan sang mama yang masih diam mematung di tempat, setelah Alana menghilang, barulah Risna panik mencari cari keberadaan Alana, "Lana…" Panggil Risna, pandangannya beredar ke seluruh penjuru rumah sakit, tapi ia belum juga menemukan keberadaan putri bungsunya tersebut, jika selama ini ia bisa memahami bahkan memberi pemakluman untuk sikap dingin suaminya, tapi Lana pasti sangat kecewa.
Risna berjalan cepat ke lobi utama, benar ternyata, bayangan Alana terlihat sekilas sebelum menghilang di halaman rumah sakit.
Gadis itu berjalan tanpa menghiraukan suasana sekitar, bahkan beberapa kali ia bertabrakan dengan orang orang yang berjalan dari arah berlawanan, sampailah ia di trotoar, dengan lalu lintas yang ramai lancar oleh kendaraan yang berlalu lalang, Alana sudah berjalan hendak kembali melanjutkan langkahnya ketika tiba tiba ada seseorang yang menubruk tubuhnya, bersamaan dengan pekikan suara yang mengingatkannya serta memanggil namanya dengan penuh kekhawatiran.
"Awaaaaasss!!!"
"Lanaaaaa!!!"
💜
__ADS_1