
BAB 91
De s ah an sepasang insan itu nyaring terdengar, hawa kamar pun terasa panas sepanas aktivitas mereka, keringat yang sudah membanjir seperti tak henti mengalir, hentakan demi hentakan membuat keduanya semakin terlena dalam lautan kenikmatan, lelah yang mendera tubuh keduanya tak lagi terasa berganti dengan rasa nikmat, seperti nikmatnya hidangan utama yang tak pernah bosan untuk disantap.
Usai banyak menit mereka lalui dalam nikmatnya gelombang madu cinta, er an g an panjang itu pun tercipta, menandakan mereka telah sampai pada inti permainan, nafas yang memburu, bercampur aroma cinta yang makin melenakan kedua insan yang tengah dimabuk asmara, Arjuna menjatuhkan tubuhnya di sisi Emira, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
Juna membawa Emira ke pelukannya, tapi dibalik selimut, telapak tangannya mengusap perut Emira yang rata, “Aku berharap di sini segera ada duplikat kita.”
Emira mendongak terkejut, haruskah ia bahas sekarang jika ia belum ingin memiliki anak dalam waktu dekat, “emmm … mas aku ingin mengatakan sesuatu,”
Juna menatap wajah Emira, “Hmm … katakan.”
Emira sangat gugup, ia tahu Juna sangat ingin segera memiliki anak, Entah bagaimana perasaan Juna jika mengetahui istrinya belum ingin memiliki anak. “kenapa diam?”
“Emmm … bisakah kita tak memiliki anak dahulu?” tanya Emira cemas.
Juna sedikit terkejut mendengar pertanyaan Emira, jika memang tak ingin memiliki anak dahulu, kenapa sejak awal Emira tak mengatakan apa apa? walau tak sepenuhnya setuju dengan keinginan Emira, tapi Juna juga tak ingin memaksa, karena pernikahan mereka masih sangat muda, bahkan belum seumur jagung, masih banyak waktu bagi mereka untuk merencanakan kehamilan, bukan masalah besar jika mundur beberapa tahun, setidaknya hingga Emira menyelesaikan masa residennya, tapi masalahnya sekarang sejak Emira usai datang bulan, mereka kerap berhubungan tanpa pengaman, dan jika sekarang Emira tiba tiba ingin menunda kehamilan, tentu sudah terlambat, kecuali tuhan memang belum berkehendak memberi mereka keturunan dalam waktu dekat.
"Baiklah… senyamannya kamu aja sayang, aku sudah janji akan menunggu kan?? Jadi kamu tak perlu khawatir." Juna mengusap kepala Emira yang masih lembab karena keringat, yah Juna memilih pasrah menunggu dan berharap, walau kemungkinannya kecil, tak berdosa kan bila dirinya berharap, mengingat hari ini dan hari hari sebelumnya, mereka berhubungan tanpa pengaman.
Emira tersenyum senang, seraya mengeratkan pelukannya, "makasih mas…" Bisiknya.
Arjuna pun mendaratkan kecupan sayang nya di puncak kepala Emira, "sama sama yang, Love you more."
"Me too…" Balas Emira. "Oh iya mas belum cerita tentang kunjungan ke perusahaan hari ini."
Arjuna menghela nafas perlahan, sebelum mulai bercerita, "ternyata Kondisi perusahaan sungguh memprihatinkan, padahal baru sebulan om Hari dan om Bayu mengambil alih, tak hanya aset utama yang hilang, keuntungan pun mulai menurun, karena pasokan bahan baku untuk produksi mulai terhambat, melihat laporan keuangan perusahaan, membuat beberapa investor mulai menarik kembali dana investasi mereka, akibatnya perusahaan kehilangan modal cukup signifikan."
Emira mengambil jarak sesaat, "bukankah, kita bisa mencari supplier baru untuk memasok bahan baku?"
"Gak semudah itu sayang… bahan baku sangat berperan penting di sini, mencari supplier baru sesuai standar kita, berarti harus mengajukan kriteria bahan baku yang kita inginkan, tanaman obatnya harus sesuai standar perusahaan, cara menanam, pupuk nya harus seratus persen organik, ditanam di suhu sekian derajat, serta pelatihan pegawai yang bertugas di sana."
Emira mencebikkan bibirnya, "ternyata mengurus perusahaan itu sulit." Ujarnya, kemudian kembali ke pelukan suaminya.
Arjuna tersenyum kecil, "karena kamu ditakdirkan untuk menjadi tuan putri saja," Arjuna mencubit gemas hidung Emira. "Dicintai, disayangi, dan dimanjakan,"
__ADS_1
"Ish… tapi aku mandiri loh."
Arjuna kembali mengeratkan pelukannya, "iya aku tahu, terimakasih karena sudah berusaha menjalankan peranmu dengan baik, sebagai istriku, dan sebagai menantu bagi kedua orang tuaku, aku sangat bersyukur, tak cukup rasanya jika hanya ucapan terima kasih saja."
"Ya benar, karena itulah aku akan mengikat tangan dan kaki mu, agar selamanya berada di sisiku, dan jika berani lari atau berkhianat, aku pastikan akan mematahkan seluruh tulang tulangmu, bahkan menghancurkan wajahmu, hingga para wanita enggan mendekat padamu."
Arjuna merinding mendengar kalimat Emira, "tak akan, mungkin aku yang harus sangat waspada, karena memiliki istri secantik dirimu, mungkin akan membuatku ketakutan sepanjang waktu,"
"Takut apa?"
"Takut kamu tergoda pada pria yang lebih tampan dan lebih kaya dari aku."
"Hahahaha … padahal ketika aku berwajah culun, mereka bahkan tak pernah melirik, atau menganggapku ada, yang selalu memperlakukan aku dengan baik hanya Febiola dan teman teman di club MIPA."
"Dengan baju gembel sekalipun, kamu tetap terlihat cantik di mataku,"
"Bohong."
"Mau bukti?" Tantang Emira.
"Tentu…"
Wajah Emira kembali merona, jika lampu kamar terang benderang, tentu Arjuna akan melihat dengan jelas rona merah di pipi istrinya, mereka kembali larut dalam ciuman panjang, pelan perlahan, karena hasrat sudah mereka tuntaskan beberapa saat yang lalu.
.
.
.
Pagi itu Emira bangun lebih dulu, tubuhnya sudah segar usai mandi, rambut basah nya masih terlilit handuk, usai memakai pelembab di wajahnya, kemudian ia menghampiri Arjuna yang masih terlelap dengan selimut yang hanya menutupi pinggang hingga kaki nya, Emira mulai memaklumi kebiasaan tidur suaminya, toh hanya di kamar mereka, bukan di depan umum.
"Mas… bangun, mandi dulu."
"Jam berapa sekarang?" Tanya Juna tanpa membuka mata.
__ADS_1
"Sudah hampir jam tujuh,"
"Bangunkan aku setengah jam lagi." Pinta nya.
Emira melotot, "maaasss…" Rengek nya lagi, "aku lapar."
Arjuna pun membuka mata, "apa gak ada buah buahan di lemari es?"
Emira menggeleng.
"Baiklah… aku mandi dulu yah?" Arjuna menyibak selimutnya, kemudian duduk di tepi ranjang dan menatap Emira yang sudah segar usai mandi, Arjuna tersenyum menatap wajah cemberut Emira, walau cemberut Emira tetap terlihat cantik di mata nya.
Cup
Dengan nakal, Arjuna mencium leher Emira, "Wangi yang… jadi mau lagi," Bisiknya
"Mass!!! kita harus ke rumah sakit nih, jangan macam macam."
"Sekali aja…" Mohon Juna yang hasratnya mulai bangkit karena melihat Emira masih mengenakan bathrobe, "habis itu, aku bantu kamu mandi." Arjuna semakin gencar melakukan aksinya, bukan hanya leher yang jadi sasarannya, karena tangannya mulai nakal menyingkap kain yang menutup pundak Emira, kemudian menghujani pundak putih mulus itu dengan ciumannya.
"No…"
"Yaaaanng masa kamu tega sih, nanti kalo 'dia' gak mau tidur gimana? Kan gak enak dilihat orang." Juna memasang tampang memelasnya.
"Ckckck… bukannya dulu mas bisa menidurkan 'dia' dengan air dingin." Emira mulai risih mendengar permohonan Juna, melihat reaksi istrinya, Arjuna menyeringai tanpa sepengetahuan Emira, ia tahu, Emira mulai goyah.
"Ya … bisa sih bisa yang, tapi gak enak, kan udah ada kamu, pasti lebih enak kalo kamu yang membuat 'dia' tidur." Masih dengan wajah cemberut yang di buat buat, Juna menatap kedua mata istrinya, tapi sejujurnya dalam hati ia jingkrak jingkrak tak karuan.
Emira menatap wajah Juna yang masih kusut, dengan rambut menutupi dahi, sementara si 'dia' sudah kembali on, membuat Emira menelan ludah, kembali jedag jedug jantungnya, antara lapar dan tak tega melihat suaminya menahan hasrat, untung saja Juna meminta padanya, kalau meminta pada wanita lain… oh no no no… Emira tak sanggup membayangkannya, akhirnya ia pun mengangguk, "janji hanya satu kali."
"Siap yang, satu kali," Jawab Juna dengan semangat empat lima.
"Semalam juga bilang sekali, tapi minta nambah juga." Gerutu Emira.
"Lho bener kan? Cuma satu kali,"
__ADS_1
Juna mulai menarik tali bathrobe yang dipakai Emira, "kalo nambah kan gak dihitung satu yang." Lanjutnya tak mau kalah, kedua matanya berbinar melihat pemandangan indah di balik bathrobe istrinya, kalau gak ingat tugas, Arjuna rela terkurung sepanjang hari di kamar mereka.
Walau lapar melanda, Emira tetap memberikan service terbaiknya, membiarkan dirinya larut dalam lautan asmara, berselimut getar getar cinta.