CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 71


__ADS_3

BAB 71


Pluk!! 


Mama Yuna melempar serbet bersih ke wajah Bisma. "Usil aja sama urusan orang, tuh mending lap piring piring itu," Mama Yuna menunjuk beberapa piring yang baru selesai dibilas. 


Dan tanpa bertanya lagi Bisma pun menuruti perintah sang mama. 


Emira sedikit bernafas lega, karena mama Yuna sengaja memberinya bantuan. 


"Gak usah malu, wajar kalau masih pengantin baru, mama ngerti kok, biar mama dan ayah cepet punya cucu, hihihi…" Bisik mama Yuna tepat di telinga Emira, mama Yuna juga pasti mengira ada hal lain yang terjadi, karena melihat rambut menantunya yang masih setengah basah pagi ini. 


Duuuuhh malu bukan main Emira, bagaimana bisa sang mama mertua justru terang terangan memberinya kode. 


"Eh… i… iya mah," Jawab Emira kikuk. 


Mama Yuna kembali tersenyum menatap wajah Emira, yang sudah memerah menahan malu. 


“Eh mbak … beneran yah, kalo mbak Mira tuh adik kandungnya dokter Kevin?” Bisma kembali berceloteh di tengah aktivitasnya. 


“Iya … kenapa?” Emira menanggapi tanpa mengalihkan perhatianya.


“Mas Juna tuh ngefans banget sama dokter Kevin, makanya ia sampai berjuang mati matian agar bisa lolos seleksi magang di William Medical Center.”


“Oh Iya?” Emira mulai penasaran, “Memang sejak kapan Mas Juna kenal abangku?” 

__ADS_1


“Sudah lama banget,” 


“Lama nya kapan?” 


“Sejak tragedi tawuran tahun ….” Jawab Bisma dengan lancar menyebutkan tahun kejadian ia harus masuk ruang operasi karena ada pendarahan di dalam kepalanya, demi menyelamatkan Juna.


Emira tiba tiba menjatuhkan pisau nya, pikirannya kembali ke masa itu, ketika Arjuna mangkir dari janji temu mereka. “memang kamu kenapa? sampai dibawa ke rumah sakit.”


“Dia sok sok an jadi pahlawan, ikut masnya tawuran, akhirnya kepalanya sendiri yang terluka sampai harus masuk kamar operasi, dan malam itu yang bertugas adalah Dokter Kevin.” Sambung mama Yuna.


“Ayah dan eyang kakung murka mbak, sampai sampai malam itu juga, mas Juna diberangkatkan ke London, sementara mama yang harus pulang ke Jakarta menggantikan Mas Juna menjagaku.”


Emira diam dan hanya mendengar cerita tentang kenakalan Arjuna dan Bisma di masa lalu, bahkan Emira dibuat kembali tercekat mendengar penuturan polos Bisma.


“Yo jelas wis lali … bisa puyeng dokternya kalau ia harus mengingat satu persatu pasiennya,” mama Yuna terkekeh sendiri, begitupun Emira.


“Trus … trus … lanjutan mas Juna tadi gimana?” Emira semakin penasaran, rupanya itulah penyebab menghilangnya Juna saat itu, misteri yang ia cari cari, akhirnya berhasil terpecahkan.


“Oh itu, ya udah … malam itu juga mas Juna terbang ke London, bahkan ponselnya disita oleh kakung, dan sebagai hukuman, mas Juna disuruh ayah belajar bisnis, mas Juna setuju dengan dua syarat, yang pertama ayah harus  membatalkan perjodohan nya dan yang kedua mas Juna ingin melanjutkan pendidikannya di sekolah kedokteran seperti cita cita mbak Mira,”


“Ayah setuju?” 


“Ya nggak lah, Ayah menolak kedua syarat mas Juna, mas Juna anak Sulung ayah, ia memikul tanggung jawab berat sebagai penerus keluarga, serta bertanggung jawab pada perusahaan,”


“Sampai hari ketujuh, mas Juna masih tak mau mengubah pendiriannya.”

__ADS_1


“Apa mabak tahu kenapa, mas Juna begitu ngeyel mempertahankan keinginannya?” Bisma mengamati wajah.


Emira menggeleng. 


“Karena mbak Mira, dia hanya ingin Mbak Mira yang jadi pendampingnya, dia berharap dengan menjadi dokter, suatu saat bisa membawanya kembali menemukan keberadaan mbak Mira.”


“Akhirnya ayah setuju, dengan syarat lagi, mas Juna tak boleh kembali ke Indonesia, sebelum menyelesaikan pendidikan dokter sekaligus menguasai seluk beluk perusahaan.”


Emira tak tahu, ternyata jalan yang harus Arjuna lalui begitu berliku, hanya untuk kembali ke indonesia saja ia harus melalui sebuah perjuangan yang berat, sementara dirinya selalu memaki Arjuna setiap kali wajah Arjuna melintas di kepalanya.


“Maaf mas …” lirih Emira berbisik seorang diri, sementara tangannya otomatis menyuapkan potongan mangga ke mulut nya.


“Eh…. makan nasi dulu … nanti mules kalau makan buah duluan.”


Emira tersenyum, “Justru aku kebalik ma … sudah seperti ini sejak bayi, harus sarapan buah di pagi hari, kalo nggak lambungku yang akan protes.”


“Ooohh … mama baru tahu, syukurlah kalo gitu, Juna juga gak suka sarapan berat pagi pagi, buah dan sepotong roti sudah cukup,” ujar mama yuna lega.


.


.


.


🧡

__ADS_1


__ADS_2