
BAB 49
“Baguslah kalau begitu, ayo kita selesaikan saat ini juga!!!”
Kalimat pendek itu, laksana suara petir di telinga keduanya, pelan tapi sarat akan amarah yang luar biasa, bahkan mungkin sanggup membuat Emira mati berdiri.
Yah, dihadapan Arjuna dan Emira kini berdiri tuan besar Geraldy senior dan Geraldy junior, Emra gemetar menatap dua orang pria yang kini menatap tajam pada nya dan tentu saja pada Arjuna, ‘mam pus lah aku, daddy pasti mendengar semuanya’, monolog Emira.
“Ddd … Da … ddy.”
Wajah Arjuna mendadak pucat pasi, walau ia mengatakan akan menemui orang tua Emira, tapi ternyata baru berhadapan begini saja, membuat ruh nya tiba tiba melayang meninggalkan raga nya.
Susah payah Arjuna menelan ludahnya, wajahnya pucat, dan sekujur tubuhnya gemetaran.
“Daddy … tolong dengar penjelasanku.” Emira maju dan mencoba menjelaskan, apa yang terjadi pada dirinya hari itu.
“Diam…!!! daddy ada perlu dengan lelaki itu, lelaki yang membawamu masuk ke sebuah kamar hotel.” tanpa menatap sang putri, Alexander menatap tajam wajah pucat Arjuna, Alexander benar benar seperti seorang pemburu yang sudah bersiap menerkam mangsanya.
Siang tadi Alexander menyambangi Twenty Five Hotel untuk sebuah keperluan pribadi, usai acara Andre meminta sang daddy untuk keruangannya karena Andre ingin menunjukkan sesuatu, seketika Alex murka, ketika tadi Andre menunjukkan sebuah rekaman CCTV hotel, disana terlihat seorang lelaki membawa putri kesayangannya ke sebuah kamar hotel, dan setelah dilihat hingga akhir Video, Emira baru terlihat meninggalkan kamar tersebut keesokan harinya.
Dan sekarang secara kebetulan kedua tersangka nya ada di hadapannya saat ini, bahkan ia dengan lantang mengatakan akan bertanggung jawab dengan menemuinya.
“Masuk … !!!” perintah Alexander tegas.
“Om .. izinkan saya menjelaskan …” pinta Arjuna mencoba berbicara secara baik baik.
“Baik … katakan semuanya, dan jangan berharap kalian akan lolos begitu saja dari masalah ini.”
Emira dan Arjuna terdiam, mereka hanya mengangguk lemah mendengar perintah telak dari tuan besar Alexander Geraldy.
Andre diam mengamati tanpa ikut bicara, karena sang daddy sendiri yang turun tangan, beberapa hari yang lalu ia pun ingat persis bertemu dengan Arjuna di lobi hotel, dan melihat melihat pakaian yang Juna kenakan saat itu, masih sama persis dengan pakaian lelaki yang ada di rekaman CCTV hotel, yang ia periksa bersama asistennya siang tadi.
Emira dan Arjuna berjalan beriringan kembali ke ruang tengah, keduanya merasa seperti akan masuk ke mesin penj aga lan, dengan Alexander dan Andre di belakang mereka, seolah memastikan agar kedua nya tidak melarikan diri.
Ramai suara anak anak kembali menyambut mereka, Andre memberikan kode pada istrinya begitu pula Gadisya, agar menggiring anak anak ke kamar, karena pembicaraan kali ini tak mungkin didengar anak anak.
“Katakan apa yang ingin kalian sampaikan.” daddy Alex kembali mengulang pertanyaannya, ia bahkan sudah duduk di singgasana nya.
__ADS_1
“Ada apa ini?” tanya mommy Stella heran, ia baru saja keluar kamar usai mandi untuk bersiap makan malam.
“Duduk dulu mom …” ujar Andre lembut, ia mengajak sang mommy untuk duduk bersebelahan dengannya.
“Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar besarnya pada om dan tante, karena sudah lancang membawa putri om dan tante masuk kekamar saya.” Arjuna mulai bersuara, “Itu semua karena saya menemukan Emira tertidur di dalam Lift,”
“Kenapa tak kamu bangunkan saja”
“Sudah kak, tapi Emira memang tak bisa di bangunkan, karena ia tanpa sengaja menelan obat penenang.”
Jawaban Juna cukup membuat Emira terkejut, ia menatap Arjuna dengan tajam, kenapa kamu tak mengatakan itu padaku, “apa kamu yang memasukkan obat penenang dalam minumanku?” tuduh Emira tanpa perasaan.
“Tentu saja tidak, bagaimana mungkin aku melakukan hal keji semacam itu?” sanggah Arjuna.
“Lalu dari mana kamu tahu?”
“Tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan Voni dan teman temannya, mereka lah pelakunya,”
“Kenapa tak mengatakan padaku sejak awal.”
“Karena kamu terus menghindar dariku, bahkan kamu sengaja tak menatapku, dan suasana malam itu memang ramai sekali, aku pun tertahan bersama teman temanku, bahkan usai foto bersama kamu pergi begitu saja.”
“Tunggu dulu, aku ingat nama itu, Voni … Voni … Voni … aaaahhh gadis yang berkelahi denganmu saat itu, hingga kalian diseret ke kantor polisi, apa aku benar?”
Emira dan Arjuna mengangguk bersamaan, “Dari mana kamu tahu aku dibawa ke kantor polisi saat itu?” tanya Emira penasaran.
Arjuna tersenyum canggung menggaruk rambut nya, “dari anak anak dan dari perbincangan Voni beserta teman temannya malam itu.”
Andre mengepalkan kedua tangannya, rupanya malam itu, peringatan yang ia berikan kurang keras, hingga anak anak itu kembali berulah pada adik kesayangannya.
tapi disisi lain Andre agak terkejut, mungkinkah Anak anaknya ada yang memiliki bakat jadi seorang detektif, hingga hal hal yang terjadi sebelum kelahiran mereka saja, mereka sudah ketahui secara tak sengaja pastinya, karena tak mungkin ia menceritakan bahwa aunty kesayangan mereka pernah dibawa kekantor polisi karena perkelahian.
“Lalu mengapa kamu tak menghubungi Kevin?” tanya Andre penasaran, “kamu mengenal kami, bahkan kamu mengenal Kevin dengan baik.”
Arjuna menoleh ke Emira yang duduk menunduk di sebelahnya. “Itu karena saya tidak mengenali dia sebagai Emira, yang saya lihat saat itu adalah Mira adik kelas saya ketika SMU.” jawab Juna apa adanya, karena sebelum beberapa saat yang lalu, ia sama sekali tak tahu bahwa Mira dan Emira adalah orang yang sama.
Andre manyun tak jelas, bibirnya komat kamit mengeluarkan makian tanpa suara, “Dari dulu sudah kakak katakan, tak ada gunanya kamu berpenampilan seperti badut, sekarang lihat kan, lagi lagi penampilanmu menimbulkan banyak masalah.” ucap Andre dengan nada Tinggi.
__ADS_1
Emira semakin mengkerut di tempatnya, sementara daddy Alex memijat pelipisnya, dan mommy Stella mengusap pundak Andre, agar sedikit tenang, “marah bukan sebuah solusi, kendalikan dirimu.”
Pria tampan yang wajahnya tak limited edition itu menarik nafas perlahan, kemudian mengangguk pelan, seraya mengusap punggung tangan sang mommy.
Belum selesai ketegangan di ruangan itu, tiba tiba ponsel Juna Berdering, Arjuna semakin panik karena sang Ayah yang sedang menunggu di seberang sana.
“Maaf saya angkat telepon sebentar.” Arjuna berpamitan, kemudian berjalan mendekati pintu keluar.
“Iya Ayah …”
“ARJUNAAAA !!!”
Arjuna menjauhkan ponsel dari telinganya, terkejut manakala mendengar teriakan sang ayah, terakhir kali ia mendengar teriakan sang ayah adalah ketika ia menjadi penyebab Bisma mengalami luka parah di kepalanya.
“Kenapa ayah berteriak?”
“Pulang sekarang juga sebelum Ayah coret namamu dari kartu keluarga !!!” perintah ayah Satrio tanpa ingin di bantah.
“Tapi yah, Juna belum bisa pulang sekarang, Juna masih harus …”
“Putra anda harus bertanggung jawab, karena sudah berani membawa putriku masuk ke sebuah kamar hotel.”
Tanpa diduga, daddy Alex menyambar ponsel Juna, kemudian menyambung kalimat Juna tanpa permisi.
“Jadi malam ini juga, saya mengundang anda datang ke kediaman saya, dan kita bicarakan masalah ini.”
Daddy Alex mematikan panggilan tersebut, kemudian mengembalikan ponsel tersebut ke tangan Arjuna, “Kirimkan alamat rumah ini pada kedua orang tua mu.”
.
.
.
makin kisruh gaeeess …
.
tapi daddy Alex tetap tidak berubah sejak dulu, ia selalu gercep sebelum masalah menjadi semakin besar.
__ADS_1
❤❤